
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Mobil Felix berhenti didepan sebuah sekolah taman kanak-kanak. Felix turun duluan untuk membuka pintu agar anak kecil itu bisa keluar dari sana.
Ia menggendong Riley turun dari mobil. Anak ini memang manja padanya.
"Anak Ayah ini berat sekali," celetuk nya memasang ekspresi seolah-olah Riley memang berat.
"Kan Ray sudah besar Ayah," jawabnya melingkarkan tangannya dileher sang Ayah.
Riley memang cepat tanggapan. Bicara juga sudah lancar padahal usianya baru menginjak lima tahun. Tak hanya itu dia pandai sekali membuat mulut orang bungkam.
"Ayah, kenapa Ray tidak pernah melihat Ayah memeluk Mommy?" tanya Riley polos. Hingga kini ia masih menganggap bahwa Felix adalah Ayah kandungnya.
Felix mendelik. "Hem, begini Son. Ayah dan Mommy itu bu_"
"Ray," kedua teman Riley memanggil bocah kecil itu.
"Haiii Dicky. Hai Rino," balas Riley membalas lambaian tangan kedua bocah yang berjalan kearah nya itu.
"Turunkan Ray Ayah,"
"Iya Son," Felix menurunkan Riley dari gendongan nya.
"Apa kalian sudah lama datang?" hanya Riley sumringah. Ia meneteng bekal ditangannya. Taman kanak-kanak ini di haruskan membawa bekal.
"Baru saja," sahut Rino.
"Terima kasih Ayah," tak lupa Riley mencium pipi Felix.
"Belajar yang benar ya Son. Nanti Ayah jemput," Felix berjongkok dan menyamakan tingginya dengan Riley.
"Siap Ayah," seru Riley.
Felix menatap punggung Riley yang berjalan bersama Dicky dan Rino. Lelaki itu menghela nafas panjang. Riley selalu mengira bahwa ia adalah Ayah nya. Mau dijelaskan bagaimana pun, anak itu tetap menolak. Ia mau Felix jadi Ayah nya, itu saja.
"Semoga kau menjadi anak kebanggaan Mommy, Son. Ayah menyanyangimu," ucap Felix masuk kedalam mobil nya.
Felix sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada Zion. Ia sudah menganggap wanita anak satu itu sebagai adik nya sendiri. Apalagi perbedaan usia yang sangat jauh, semakin tak memungkinkan untuknya mendampingi hidup Zion.
__ADS_1
Sudah sering Ariana memberi saran pada Felix agar mendekati Zion. Namun lelaki hanya menganggap Zion sebagai adiknya. Ia sadar bahwa ia tak pantas menjadi bagian terpenting dalam hidup Zion. Bisa menemani Zion saja ia sudah merasa bahagia.
.
.
"Ray, apakah Paman Felix itu Ayah mu?" tanya Rino.
"Iya kenapa?" Sahut Riley sambil menyantap makanan nya.
"Kenapa wajah nya beda dengan mu?" ujar Rino sambil memperhatikan Riley. "Kalian tidak seperti Ayah dan anak," sambung nya.
"Ehem," Riley berdehem. Ia baru menyadari jika wajah nya dengan Felix jauh berbeda. "Itu pikiranmu saja. Bagaimana bisa aku tidak mirip Ayah?" kilah Riley, tiba-tiba nafsu makan bocah itu hilang.
"Benarkan Ky?" ujar Rino meminta pendapat pada Dicky.
Dicky mengangguk setuju. Wajar saja jika wajah mereka berbeda. Mereka memang bukan Ayah dan anak. Bahkan tak memiliki hubungan darah sedikit pun.
Riley tampak terdiam. Ia mencerna ucapan kedua teman kecilnya. Meski badannya kecil ia bisa memahami apa yang di katakan oleh keduanya.
Lelaki kecil itu melamun. Ia mengingat kembali kebersamaannya dengan Felix. Ia merasa nyaman berada didekat Ayah nya itu, tapi tak pernah merasa hangat. Memang sangat berbeda.
Riley kembali bermain bersama teman-teman nya. Meski hati kecilnya terus bertanya, apakah ia anak dari Felix atau bukan? Kenapa wajah mereka berbeda? Bukankah Ayah dan anak itu memiliki ikatan batin yang kuat, tapi Riley tak merasakan hangat pada Felix.
.
.
.
"Hem, jadi itu anak nya?" tanpa sepengetahuan dan sepegawasan Felix dan Zion ada yang diam-diam mengawasi Riley.
"Iya Tuan. Namanya Riley Smithsonian," sambung sang asisten yang menyetir didepan. Mereka menatap Riley yang tampak bermain kejar-kejaran bersama kedua sahabat nya.
"Apakah dia memang anak dari pria brengsek itu?" tanya sang Tuan sambil menyesap rokok yang terselip di kedua jarinya.
"Iya Tuan," sahut sang asisten singkat.
"Apakah dia tahu jika itu putranya?" lelaki itu masih penasaran dan menatap Riley dalam. "Wajah mereka benar-benar mirip," seru nya.
__ADS_1
"Tuan Zoalva tidak tahu masalah kehadiran putranya Tuan," jelas Simone.
"Ehem, bagus," lelaki itu tersenyum devil. "Apakah Ibu nya cantik?"
"Ibunya sangat cantik Tuan. Masih muda," jelas Simone
Lelaki itu mengangguk sambil menghembuskan asap rokok nya. Tatapan tak beralih dari Riley. Anak itu adalah senjatanya untuk mengalahkan Zoalva. Luar biasa, Zoalva saja tidak tahu tentang kehadiran putranya.
"Jalan Simone," perintahnya pada sang asisten.
"Baik Tuan," Simone menjalankan mobilnya meninggalkan sekolah Riley.
"Cari tahu semua informasi tentang Ibu dari anak itu. Pastikan kau menemukan informasi yang filed. Jangan terlewatkan satu pun," titah nya.
"Siap Tuan," sahut Simone.
Lelaki itu duduk melamun menatap kosong keluar jendela kaca mobil. Bertahun-tahun ia mencari kelemahan Zoalva dan baru ini dia menemukan titik kelemahan raja Mafia itu. Masih terpatri di kepala nya bagaimana kekejaman Zoalva membunuh keluarga nya tanpa sisa.
"Lihatlah Tuan Zoalva. Aku adalah pemenang dari permainan ini. Kau akan kehilangan mereka untuk yang kesekian kali nya," ia tersenyum miring membayangkan bisa membunuh Zoalva melalui anak dan Ibu dari anaknya
Zoalva adalah pembunuh bayaran yang sudah banyak menghabiskan nyawa manusia. Tidak hanya dalam medan perang tapi juga dalam hal-hal bisnis. Sebab itulah ia ditakuti. Tidak ada yang mampu mengalahkan kekuatan dan kekuasaan lelaki itu. Bahkan Vincent kalah dalam pertarungan hebat yang menghanguskan pulau pribadi nya.
Sampai disebuah ruang besar lelaki itu langsung turun dari mobil. Ia memang pindah ke Indonesia untuk mengamankan diri nya sebelum ia pun dihabisi oleh lelaki itu.
"Bagaimana keadaan markas?" tanya nya pada para anak buahnya.
"Aman Tuan. Ada beberapa senjata kiriman dari Tuan Edward untuk anda. Apa anda ingin melihat nya sekarang?" sahut sang anak buah sambil membungkuk hormat.
"Tidak perlu. Amankan saja Markas. Pastikan tidak ada lagi penyusup yang berani masuk dan menyerang," perintahnya. "Dan tolong awasi anak kecil itu. Pastikan kalau Zoalva tidak tahu tentang anaknya. Aku akan menjadikan anak dan wanita itu sebagai umpan untuk nya datang ke Indonesia," ia lagi-lagi tersenyum devil membayangkan berhasil membuat Zoalva datang ke Indonesia.
"Baik Tuan,"
Lelaki itu masuk kedalam ruangan kerjanya. Tinggal di Indonesia hanya sebagai peralihan. Membangun kelompok Mafia sebagai kubu pertahanan. Ia memang tak kan mampu melawan Zoalva tapi ia pastikan kali ini Zoalva akan kalah jika tahu anaknya menjadi umpan.
Bersambung...
Hai guys makasih buat yang masih ikutin kisah perjuangan Zion....
jika ada saran dan masukan kalain boleh komen dibawah yaa guys...
__ADS_1
mohon maaf banyak Typo bertebaran hehehe..