Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Ingin menemui


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Myron, Grabielle dan Felix masuk kedalam ruang kerja Myron. Tak lupa dia mengunci pintu agar tak ada yang mendengar percakapan mereka.


"Ada apa anda memanggil saya Tuan?" tanya Felix heran. Ia sedikit was-was jika Myron dan Grabielle mencecarnya dengan pertanyaan yang tidak akan bisa di jawab oleh Felix.


"Duduklah, Felix," suruh Myron.


"Baik Tuan," lelaki itu duduk disofa ruang kerja Myron sambil menunggu apa yang akan di tanyakan atau dibicarakan Myron dan Grabielle padanya.


"Felix, apa saja yang terjadi selama lima tahun terakhir?" tanya Myron. "Kenapa Zion tampak ketakutan ketika mendengar nama Zoalva?" ujar Myron menatap Felix.


Felix menghela nafas panjang, "Saya tidak tahu pastinya Tuan. Tapi sepertinya Nona Zion pernah mengalami siksaan batin. Ketika kami menculik Nona. Nona di kurung kandang ular sanca. Untung saja ular itu tidak mencabik-cabik tubuh Nona," jawab Felix.


Myron dan Grabielle mendelik mendengar penjelasan Felix. Selama ini mereka tidak terlalu mencari tahu kehidupan di masa lalu Zion. Yang lebih banyak tahu itu Zevanya dan Zie.


"Maksud mu Zoalva memasukkan Zion kedalam kandang ular Sanca?" tanya Myron sekali lagi. Siapa tahu dia salah dengar.


"Iya Tuan," jawab Felix.


Terdengar helaan nafas panjang dari mulut Myron. Pantas saja Zion terlihat ketakutan saat mendengar nama Zoalva. Ia ternyata melewati banyak hal yang membuat ia ketakutan bukan main.


"Apakah Zion mengalami serangan panik?" tanya Myron sekali lagi.


"Tidak Tuan. Nona seperti nya trauma atas kejadian itu. Sehingga dia selalu berpikir kalau Tuan Zoalva akan menyakiti nya," jelas Felix.


"Apakah perlu kita bawa Zion ke psikiater?" saran Grabielle.


"Tidak perlu Bielle. Zion hanya trauma dia tidak depresi dan serangan panik. Semoga ini tidak berakibat fatal bagi mental nya," jelas Myron.


.


.


.


Zoalva duduk dikursi kebesarannya. Mendengar bahwa wanita dan anak nya tinggal di mansion Myron membuat lelaki itu ingin sekali menemui wanita yang sangat dia rindukan selama lima tahun terakhir.


"Bin, aku ingin menemui mereka," ucap Zoalva berdiri dari duduknya.


"Tuan," cegah Robin, "Jangan gegabah Tuan. Anda tahu jika Nona belum siap dengan pertemuan anda dengannya?" ujar Robin lagi.

__ADS_1


Zoalva menghela nafas panjang. Sampai kapan ia akan terus menunggu dalam kepastian. Ia ingin sekali memeluk Zion dan anaknya. Sekali saja, Zoalva ingin merasakan betapa hangatnya saat tangan munggil itu mengusap punggung nya.


Zoalva kembali duduk dikursi kebesarannya. Kepalanya benar-benar pusing dan sakit. Apalagi baru saja anak buah nya mengabari tentang gagalnya pengiriman senjata yang ia kirim ke China.


"Bagaimana dengan Barry?" tanya Zoalva tanpa melihat sang asisten.


"Tuan Barry Schwartz belum mengambil tindakan apapun Tuan," jelas Robin.


"Apa dia sudah mengetahui kedatangan ku ke Indonesia?"


"Hem, sudah Tuan. Kita harus memperketat penjagaan pada Nona dan Tuan Kecil sebab seperti nya Tuan Barry mengincar Nona," jelas Robin lagi.


Zoalva memejamkan matanya sejenak. Saat ini banyak sekali masalah yang berlarian di pikiran kepalanya. Sampai kapan masalahnya ini akan berakhir. Kenapa semakin hari semakin bertambah rumit.


"Kau boleh keluar Bin. Aku sedang ingin sendiri," usir Zoalva sambil mengibaskan tangannya.


"Baik Tuan," Robin segera melenggang dan keluar dari ruangan Zoalva.


Zoalva meringgis menahan sakit didadanya. Tusukkan Vincent lima tahun yang lalu masih terasa sakit di bagian dadanya. Sangat sakit, saat dia merasakan jantungnya berdebar karena memikirkan Zion.


Kata maaf telah bosan ia ucapkan. Kata-kata itu takkan mengembalikan Zion kedalam pelukannya.


.


.


.


"Maafkan Mommy Ray," ucapnya menatap wajah polos Riley yang tertidur. "Kelahiran mu seperti tak diinginkan oleh Ayah mu sendiri. Maafkan Mommy," ia mengecup kening anaknya itu.


Zion keluar dari kamarnya. Ia melangkah gontai mengelilingi mansion mewah Fillipo. Tak ada senyuman diwajah wanita anak satu ini yang ada hanya kehampaan saja. Hidupnya tak pernah benar-benar baik-baik saja.


"Aku ingin menemuinya," entah kenapa tiba-tiba hatinya ingin sekali bertemu Zoalva. Tapi kadang juga ia takut terjadi sesuatu padanya.


Zion berjalan menuju taman, menikmati kegemerlapan bintang yang berjejer di langit malam. Hampa. Kosong. Tak ada tujuan hidup yang membuatnya memiliki alasan untuk bertahan jika bukan karena Riley.


"Zion," tubuh wanita itu menegang ketika mendengar panggilan dari seseorang yang begitu ia kenali.


Zion sontak berdiri. Wanita itu langsung menoleh kebelakang tempat sumber suara yang memanggilnya.


"T-tuan," Zion setengah berjalan mundur ketika melihat lelaki itu berjalan kearahnya.

__ADS_1


"Zion," Zoalva berjalan pelan hendak menghampiri wanita itu.


"Stop," Zion menahan lelaki itu. "Stop, jangan mendekat," ucapnya. Matanya berkaca-kaca. Benar-benar tak mudah melupakan kejahatan lelaki ini. Ia diculik dan ditawan. Setelah itu di siksa sepuas hati lalu di ambil sesuatu yang sangat berharga yang begitu Zion jaga dengan susah payah.


Langkah kaki Zoalva terhenti. Ia menatap Zion yang sudah berlinang air mata sambil menutup matanya. Apakah benar dia tidak pantas dilihat oleh perempuan itu. Perempuan itu malah menutup mata seolah dia makhluk tak kasat mata yang tak boleh dilihat oleh wanita itu.


"M-maaf," ucap Zoalva termangu.


Zion menutup kedua wajahnya lalu membungkuk. Ia menangis hebat karena ketakutan dan rasa sakit yang selalu terbayang-bayang. Bagaimana pun, ia manusia yang tak mudah lupa terhadap apa yang sudah ia lewati selama ini. Ia tak baik-baik saja. Hidupnya penuh dengan lika-liku cerita yang bersimpang siur.


"Hiks hiks hiks hiks," tangis wanita itu pecah.


Tubuh Zoalva seketika melemah. Tatapannya kosong. Dadanya terasa perih dan sesak. Pandangan nya mulai kabur dan perlahan matanya tertutup.


Brughhhhhhhhhhhhhh


Lelaki itu tergeletak ditanah dengan mata terpejam.


Zion membuka matanya. Ia menyeka pipinya lalu melihat kearah Zoalva yang terbaring ditanah.


Wanita itu berdiri dan menghampiri Zoalva. Ia sedikit takut. Namun penasaran.


"Tuan," panggilnya.


Zion langsung memangku kepala Zoalva saat ia menyadari jika lelaki itu pingsan.


"TOLONG,"


"TOLONG,"


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan vote nya guys.


Makasih buat yang selalu setia ikutin kisah mereka.. Mohon maaf jika author belum bisa update banyak.. Jaga kesehatan kalian. Jangan lupa siapkan hati dan mental untuk mengahadapi hidup yang baru.


Yuk mampir ke karya author yang lainnya.


Cinta Setelah Penyesalan


Istri Tuan Muda Delvano

__ADS_1


Love Me Please....


__ADS_2