Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Persiapan


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Siapkan semua anggota," titah Zoalva. "Bawa semua senjata perang. Kita hancurkan pulau Vincent," tegasnya. Sebab ia akan merebut kembali miliknya.


"Baik Tuan," sahut semua anak buahnya.


Zoalva memakai baju anti peluru. Disetiap saku baju nya terdapat senjata api baik belatuk atau pun pisau-pisau kecil.


"Zo," Zehemia dan Zehekiel masuk kedalam ruangan senjata milik Zoalva.


"Kenapa?" tanpa melihat kedua saudara kembar itu.


"Kau yakin ingin menghancurkan pulau itu?" tanya Zehemia.


Zoalva tersenyum sinis. "Meragukan ku?" sambil memasang beberapa alat pengaman ditubuhnya.


"Bukan," Zehemia menggeleng dengan cepat. "Vincent bukan lawan yang bisa kau serang begitu saja. Dia licik,"


"I know. But i don't care," jawab Zoalva mengisi ranselnya dengan senjata api yang lain seperti nya ia memang sudah siap berperang melawan Vincet dan merebut Zion kembali.


Zehemia dan Zehekiel melihat satu sama lain. Keduanya tahu begitu kejamnya Vincent. Dia bisa membunuh orang yang merasakan rasa sakit.


"Tuan, semuanya sudah siap," lapor Robin.


Zoalva mengangguk sambil memanggul tas ranselnya.


"Kalian ikut?" tanyanya menatap kedua saudara kembar itu. "Tapi tidak usah. Aku akan menghubungi jika butuh bantuan. Terima kasih," Zoalva menepuk bahu Zehemia lalu beranjak keluar.


Tampak helikopter terparkir dengan rapi dipelabuhan. Masing-masing memiliki tempat khusus disini. Zoalva sebagai pemimpin pasukkan.


"Apakah semuanya sudah siap?" tanyanya pada semua anak buahnya.


"Sudah Tuan," jawab mereka serentak.


"Baik," ia tersenyum devil. "Utamakan keselamatan kalian. Jangan lupa pakai baju anti peluru. Tembak apa saja yang bergerak disana. Pastikan kedatangan kita belum diketahui oleh pria brengsek itu," titahnya.


"Siap Tuan," jawab mereka lagi serentak.


"Robin," panggilnya.

__ADS_1


"Iya Tuan,"


"Perintahkan anak buah untuk mengawasi pelabuhan. Jangan lenggah. Jangan berikan celah bagi penyusup masuk lagi. Kau paham?"


"Baik Tuan. Segera saya laksanakan," jawab Robin.


"Ayo," Zoalva masuk kedalam salah satu helikopter diikuti oleh Remnick, Darwin dan Norton .


"Win, retas sistem keamanan nya," titah Zoalva.


"Baik Tuan," jawab Darwin sibuk dengan laptop dipangkuannya.


Zoalva melamun ia menatap kosong kearah jendela helikopter. Helikopter ini berukuran besar sehingga memuat sampai lima orang didalamnya termasuk pilot yang menggemudikan helikopter tersebut.


'Zion, sebentar lagi kita akan bertemu. Aku tak sabar ingin melihat mu. Semoga aku baik-baik saja,' batin Zoalva.


Tiga bulan lamanya ia mempersiapkan semua alat perangnya agar bisa melawan Winner King 2.


"Kita menuju wilayah selatan dengan ketinggian 19.000 kaki," jelas Darwin.


"Berapa jarak tempuhnya?"


"Sekitar 4-6 jam Tuan," jawab Darwin.


Kekejaman nya dalam dunia Mafia seolah telah di uji oleh keadaan. Dulunya ia pria kejam tak terkendali. Tapi sejak beberapa bulan terakhir ia bahkan tak mengerti mengapa jiwanya selemah ini. Sudah tiga bulan ia tak lagi hobby membunuh. Orang-orang yang mengkhianati nya ditangkap lalu dipenjara tanpa melalui siksaan seperti biasanya.


Tanpa Zoalva sadari ia telah jatuh cinta pada sosok gadis yang ia jadikan sebagai alat balas dendam itu. Saat ia jatuh cinta, saat kepedihan menghembuskannya, Zion lah orang yang selalu ia pikirkan. Saat ia tenggelam dalam luka ia ingin sekali memeluk gadis itu dan mengatakan bahwa ia lelah. Menenangkan tangsi yang terlepas begitu saja. Pada saat yang sama ada gores yang memedih didadanya. Demi Tuhan, Zoalva menyesali segala perbuatannya. Tak pernah ia merasa menyesal dalam menyakiti seseorang. Tapi kali ini, perasaan bersalah itu tak bisa ia hindari.


.


.


.


"Kak kita mau kemana?" tanya wanita hamil itu heran saat dirinya diajak pergi.


"Kita akan pergi ke tempat yang aman. Disini tidak cocok untukmu. Ikutlah dengan Felix, aku akan menyusul jika keadaan disini aman," ucap sang lelaki sambil memasukkan beberapa barang penting kedalam tas miliknya.


"Tapi Kak kenapa tidak sama-sama saja?" tanya wanita itu dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak ingin pisah dengan lelaki ini.

__ADS_1


"Zion, dengarkan Kakak. Sebentar lagi peperangan akan terjadi. Kakak akan menghadapinya dan tempat ini tidak cocok untuk mu. Sebab itulah kau harus pergi bersama Felix ke Inggris," jelas Vincent.


"Kak," mata Zion berkaca-kaca. "Aku takut Kak. Apa itu Tuan Zoalva?" tanya Zion memegang tangan Vincent yang menempel di wajahnya.


"Iya Zion," jawab Vincent. Sebenarnya ia pun tak ingin membiarkan Zion pergi tanpa dirinya. Tapi ia tak bisa membiarkan pulau nya di hancurkan.


"Kakak," air mata zion menetes. "Aku takut terjadi sesuatu padamu Kak. Ayo kita pergi bersama. Kalau Kakak tidak pergi, aku juga tidak akan pergi Kak. Aku tidak aku kehilanganmu," ucap Zion menolak.


Vincent menggeleng. "Ini demi dia," sambil mengusap perut buncit Zion. "Dia takkan aman disini," jelasnya. "Kakak berjanji, setelah semua aman Kakak akan menyusul kaliam berdua yaa," bujuk Vincent. Rasa yang dulu ingin dia miliki hilang begitu saja ketika mengetahui kehidupan tak baik yang dia alami oleh gadis nya dan sialnya penyebab penderitaan itu adalah Juanse, Ayah kandung Zion. Namun sayang, Vincent belum bisa menyingkirkan Juanse selama Zion bersamanya. Semua perasaan itu berubah menjadi kasihan dan ingin melindungi. Meski perasaan cinta yang ada didadanya tetap lah ada.


"Kak," Zion menggeleng tidak mau.


"Tuan mereka sudah memasuki area selatan. Dua jam setelah ini mereka akan sampai," lapor salah satu anak buahnya.


Vincent mengangguk. Demi melindungi gadis ini, ia rela kehilangan apa saja termasuk nyawanya. Wanita ini berarti dalam hidupnya meski ia harus menelan pil pahit.


"Zion, pergilah,"


"Kak,"


"Ayo Nona," Felix adalah orang kepercayaan Vincent


"Kakak," tangan Zion ingin menggapai Vincent. "Kakak," tangisnya


Felix setengah memaksa Zion masuk kedalam jet pribadi yang terparkir di balkon mansion. Ia terpaksa sedikit kasar karena waktu nya tidak banyak.


"Kakak," Zion memberontak saat jet ini mengudara


"Kakak,"


Vincent melambaikan tangannya. Ia menyeka air matanya yang jatuh.


"Kakak akan melindungi mu Zion. Untuk kali ini, tidak akan ada lagi yang boleh menyakitimu," ucapnya yakin.


Kehadiran Zion didalam hidupnya mampu memberi warna. Dunia nya yang dulu gelap gulita, putih dan abu-abu kini sedikit berwarna dengan kehadiran Zion. Sudah lama ia hidup dalam kesepian dan kesendirian dan sekarang ia sudah menemukan di mana jiwanya harus berlabuh dan sayang nya itu hanya sebatas Kakak dan adik.


"Josh, persiapkan pertahanan," titahnya.


"Baik Tuan,"

__ADS_1


Vincent juga sudah menyiapkan segalanya untuk menerima serangan Zoalva.


bersambung....


__ADS_2