Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Belum siap kehilangan


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Zoalva melangkah lebar masuk kedalam markas. Langkah kaki nya terhenti saat melihat semua pengawal yang bertugas didepan markas tergeletak tak bernyawa.


"Brengsek. Apa yang terjadi?" pekik nya masuk dengan setengah berlari.


John dan Robin menyusul dari belakang, keduanya juga merasa heran melihat para pengawal yang berserakan didepan markas.


Mereka masuk kedalam. Suasana markas tampak hancur. Disetiap sudut ada mayat memenuhi masing-masing ruangan.


Zoalva segera masuk kedalam ruang penyiksaan.


"Zion," teriak nya.


Dia menuju kandang San. Tubuh Zoalva seketika membeku ketika melihat ular sanca peliharaan nya tergelatak ditanah tak bernyawa.


"San," lelaki itu langsung memeluk kepala San. "San, kau kenapa? Bangun San?" tangis Zoalva pecah. Tidak. Ia tidak mau kehilangan ular kesayangan nya ini. "San bangun," ia mengguncang kepala ular itu beberapa kali sambil membangun kan San. Namun San tak bergerak sama sekali.


Tangis Zoalva pecah. San adalah bagian dari jiwanya. Ia sungguh sangat menyanyangi ular ini. Meski hany bintang tapi Zoalva San adalah sosok yang bersedia menemani dirinya dalam keadaan sedih. San, sudah lama hidup dengannya. Apa yang akan ia katakan nanti pada Paman Zean dan Paman Zaen nya tentang San.


"San, bangun," Zoalva terduduk ditanah sambil memeluk tubuh San.


John dan Robin tak percaya melihat kondisi markas yang hancur. Siapa yang sudah berani menyerang markas ini. Tidak ada satu pengawal pun yang tersisa.


Tit tit tit tit

__ADS_1


"Suara apa itu Bin?" tanya John mencari sumber suara.


"Tuan, ada bom," pekik Robin.


"Bin, ayo keluar. Bawa Zo,"


John dan Robin memaksa Zoalva keluar dari markas sebelum markas itu meledak.


"Lepaskan aku. Aku tidak mau pergi. Aku mau bersama San," pekik Zoalva memberontak. Namun John dan Robin tetap memasung tubuh Zoalva agar keluar.


"Kita harus keluar Zo. Kita bisa mati jika bertahan didalam," tegas John.


"Tidak mau,"


DOR


Markas itu meledak seketika. Gumpalan api membakar seluruh bangunan mewah.


"SAN,"


"SAN,"


Teriak Zoalva hendak masuk melabrak gumpalan api. Namun John sama Robin dengan kuat memasung pria itu.


"Jangan gila Zo," pekik Zoalva

__ADS_1


"San," Zoalva terduduk ditanah sambil menangis hebat.


San adalah sosok yang begitu berarti dalam hidup Zoalva. Sosok yang ia miliki satu-satunya. Ia tidak akan bisa hidup tanpa ular Sanca berukuran raksasa itu. Takkan pernah bisa.


"Tuan, bagaimana dengan Nona Zion?" tanya Robin pada John.


"Zion,"


Seketika tangis Zoalva terhenti. Ia baru ingat pada wanita itu. Bukankah wanita itu dimasukkan kedalam kandang San? Apakah, Zion juga ikut terbakar disana?


"ZION,"


"ZION,"


Zoalva kembali memberontak. Ia menggeleng tak percaya. Tidak. Tidak mungkin. Tidak mungkin Zion juga pergi meninggalkan nya.


"Aku mohon jang tinggalkan aku Zion,"


Zoalva tersungkur dilantai. Sekuat apapun jiwanya, ia tetaplah manusia biasa yang takkan siap jika dihadapkan dengan kehilangan. Ia baru saja mengetahui jika Zion bukanlah putri dari orang yang telah menghabisi nyawa kedua orang tua nya. Namun kenapa, disaat dirinya sudah sadar dan mengetahui hal itu. Zion malah pergi meninggalkan nya.


"Zion, maafkan aku," ucapnya penuh penyesalan.


Zoalva yakin jika Zion tak berasa didalam markas yang meledak itu karena ia tak melihat Zion tadi disana. Lalu dimana wanita itu? Kemana ia pergi?


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2