
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
Seorang pria tampan tampak duduk dikursi kebesarannya. Ia menatap kosong kearah jendela transparan yang menunjukkan kepadatan salju di kota New York.
Lima tahun telah berlalu. Ia masih duduk disini dalam kesendirian. Menikmati segala rasa sakit yang menghantam dadanya. Ia mencari wanita yang telah lama mencuri hatinya namun hingga kini tak ada jejak yang wanita itu tinggalkan sebagai petunjuk untuk bisa menemukan dimana wanita itu berada.
"Zion," gumamnya.
Ia memejamkan matanya. Ahh tubuh wanita itu adalah candu nya. Zion wanita terakhir yang dia sentuh. Sejak menyentuh wanita itu, ia tak tertarik lagi pada wanita lain.
"Kau di mana? Sampai kapan kau akan bersembunyi? Di mana pun kau pergi, aku akan menemukanmu. Aku akan mendapatkan mu kembali. Kau adalah milikku," ucap nya yakin. Menyakinkan dirinya bahwa wanita itu adalah miliknya.
Ia bisa gila jika kali ini gagal lagi menemukan wanita itu. Sudah lebih dari lima tahun ia bertemu namun hingga kini pun tak ada jejak dari wanita itu. Entah kemana pergi nya?
"Tuan, Tuan Zehemia dan Tuan Zehekiel ingin bertemu anda," lapor Robin.
"Suruh mereka masuk," sahutnya tanpa melihat Robin. Ia masih asyik menatap salju yang berjatuhan memenuhi jalanan.
"Baik Tuan,"
Zehemia dan Zehekiel masuk kedalam ruangan Zoalva. Mereka memang selama ini bekerja sama dan saling mendukung untuk membantu Zoalva mencari keberadaan Zion.
"Bagaimana Kiel?" tanya Zoalva duduk disofa menyusul kedu saudara kembar itu.
"Belum," sahut Zehekiel.
"Zo, apa kau pernah berpikir jika Zion bersembunyi di Indonesia?" sambung Zehemia.
"Indonesia?" gumam Zoalva. "Maksudmu?" tanya Zoalva tak mengerti. Ia sama sekali tak terpikirkan pada satu negara itu.
"Kita sudah menelusuri semua negara. Kecuali Indonesia. Aku curiga dia ada disana," jelas Zehemia.
"Bagaimana bisa?" tanya Zoalva tak habis pikir. "Zion tidak tahu negara itu," sambungnya.
"Iya. Tapi jangan lupa assisten Vincent yang membawanya," timpal Zehemia.
__ADS_1
"Sebentar. Aku akan lacak daftar penduduk Indonesia," Zehekiel sibuk mengotak-atik laptop dipangkuannya.
"Benar apa kata mu Kak. Seperti nya memang yang menyembunyikan Zion adalah orang dalam suruhan Vincent. Aku bahkan tak bisa melacak data apapun disana. Identitas nya sengaja disembunyikan," jelas Zehekiel.
"Apakah ada orang-orang suruhan Vincent yang masih selamat selain asisten nya?" gumam Zoalva tampak berpikir keras. Setahu dia semua anak buah Vincent habis tak tersisa dalam perang yang terjadi lima tahun yang lalu.
"Tentu saja ada. Banyak malah," jawab Zehemia.
"Sekarang apa rencana kita selanjutnya?" Zehekiel menutup laptopnya.
"Tuan, anda memiliki agenda perjalanan bisnis ke Indonesia menghadiri peresmian perusahaan Adijaya Group. Anda di undang sebagai salah satu tamu yang memberikan kata sambutan," ucap Robin.
"Zo, pakai kesempatan ini untuk mencari Zion. Kita bisa mengelabui munsuh dengan alasan perjalanan bisnis," saran Zehemia.
"Baik," Zoalva mengangguk. "Bin persiapkan keberangkatan ku ke Jakarta. Siapkan semua pasukkan untuk menjaga pelabuhan dan markas selama aku tidak ada," titah Zoalva. "Minta Darwin, Norton dan Remnick untuk berjaga-jaga," sambungnya.
"Baik Tuan," Robin mengangguk.
Sejak lima tahun terakhir, Zoalva tidak lagi terlibat dalam perdagangan manusia dan perdagangan obat-obatan terlarang. Semua yang terjadi membuat ia belajar banyak hal. Ia tak ingin lagi melakukan kesalahan. Sudah cukup yang terjadi memberinya pelajaran.
Zoalva juga sudah jarang membunuh. Jika ada yang mengkhianati nya, maka akan dihukum sesuai dengan perbuatan yang mereka lakukan. Kecuali dalam tanda kutip, menganggu hidup dan ketenangan nya apalagi menganggu orang-orang yang dia sayangi.
.
.
.
Zion masuk kedalam kamarnya. Ia menutup pintu kamar lalu bersandar dan menangis dengan hebat sambil terduduk dilantai.
"Hiks hiks hiks.. aaaaaaaaa," ia mengusar rambutnya dengan kasar. Frustasi. Marah. Kecewa.
"Maafkan Mommy Son. Maafkan Mommy, hiks hiks hiks, maafkan Mommy,"
Zion merasa gagal menjadi orang tua karena anaknya itu masih sibuk dan memaksa dirinya untuk bertemu dengan Daddy yang belum pernah ia lihat.
__ADS_1
"Aaaaa huahuaaaaa hikssss," ia memukul dadanya berulang kali.
Dalam hidup Zion ia tak pernah berpikir bertemu dengan lelaki itu lagi. Ia tidak mau. Ia takut. Bayangan siksaan dan pembunuhan secara nyata didepannya masih terpatri di kepala Zion. Saat Zoalva memenggal kepala tahanannya darah muncrat dan mengenai wajah Zion. Kala itu Zion menangis histeris ketakutan. Neraka secara langsung itu memang ia lihat dan saksikan didepan matanya. Ia tak bisa melihat adengan langsung itu lagi. Ia tak mau bertemu Zion lagi. Takkan mau.
"Ibu, hiks hiks. Ibu," ia memangil nama wanita yang belum pernah ia lihat sama sekali. "Apa yang harus aku lakukan Bu?" isaknya terdengar menggema didalam kamar miliknya.
Tok tok tok tok
"Zion," Ariana mengetuk pintu kamar wanita itu.
Tangis Zion terhenti ketika mendengar panggilan Ibu angkatnya. Secepatnya wanita itu mengusap pipinya lalu berdiri. Ia tak boleh terlihat lemah apalagi menangis didepan Ariana.
"Zion, ini Ibu, Nak," ucap Ariana dibalik pintu.
"Iya Bu. Tunggu sebentar," wanita itu berusaha menetralisir emosinya.
Zion membuka pintu untuk Ariana. Wanita itu tersenyum melihat Ariana yang berdiri didepan pintu.
"Boleh Ibu masuk?"
"Silahkan Bu," ucap Zion tersenyum.
Ariana masuk lalu menutup pintu kembali. Kedua wanita itu duduk dibibir ranjang.
"Felix sudah menceritakan semuanya pada Ibu," ucap Ariana mengenggam tangan Zion.
"Bu_"
"Ibu tahu ini berat untukmu. Tapi sampai kapan kau akan menyembunyikan kebenaran ini. Cepat atau lambat Tuan Zoalva akan menemukan kita. Kita tidak bisa lari lagi Zion. Kita harus siap menghadapi semuanya," ucap Ariana. "Perasaan Ray itu wajar. Tidak salah dia ingin bertemu dengan Ayah kandungnya. Pahamilah apa yang dia inginkan," tutur Ariana mengusap pipi Zion yang basah. Zion sudah seperti anak nya sendiri.
"Bu, aku belum siap. Aku takut pria itu mengambil anakku Bu. Aku takut pria itu kembali menjeratku. Aku masih trauma Bu," ungkap Zion jujur. Yang paling Zion takutkan adalah saat Zoalva menemukan keberadaan mereka. Lelaki itu malah merebut anaknya dan membawa Riley pergi jauh dari nya.
Ariana menggeleng. "Siap tidak siap. Kau harus siap. Kau harus menghadapi ini. Tuan Zoalva bukan orang sembarangan yang bisa selalu kita hindari. Ibu rasa dia sudah tahu keberadaan kita," jelas Ariana berusaha memberikan pengertian pada Zion. "Jangan takut, ada Ibu dan Felix yang akan menemani mu melewati ini. Tidak akan ada yang berani menyakiti kalian berdua," ucap Ariana tulus. Zion dan Riley adalah cahaya bagi Ariana dan Felix. Kehadiran dua orang itu membuat hidupnya berwarna.
**Bersambung**
__ADS_1