Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Menemukanmu


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Zoalva masih mencari keberadaan Zion. Tadi wanita itu sedang berbincang-bincang dengan para rekan bisnis nya. Sekarang tidak terlihat lagi. Kemana ia pergi?


"Robin, bantu aku mencari mereka? Aku harus menemukan mereka," ucap Zoalva.


"Baik Tuan,"


Tatapan Zoalva tertuju pada seorang wanita dan seorang pria serta anak kecil yang tengah makan di salah satu meja VVIP. Tampak wanita itu seperti menyuapi putra semata wayangnya.


"Mommy mau lagi," pinta nya.


"Ray mau yang mana?" sang Ibu mengambilkan beberapa menu makanan di piring nya


"Semuanya," seru Riley


"Iya Son," ia tersenyum simpul.


Zion menyuapi anaknya dengan telaten. Sedangkan Felix menatap kedua orang itu dengan senyuman manis. Banyak yang salah paham mengira jika Zion adalah istrinya. Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan bahwa mereka pasangan yang serasi.


Jika Zion menanggapi dengan senyuman. Maka Felix menanggapi dengan hati bergetar. Namun sekali lagi, ia tak mau berharap banyak. Bukankah sadar diri itu jauh lebih penting dari pada berimajinasi tinggi?


Zoalva masih berdiri ditempatnya tatapannya tertuju pada Riley. Wajah anak kecil itu begitu mirip dengan wajah kecilnya. Ia semakin yakin jika bocah itu adalah putra kandung nya. Ia saja yang belum menyadari kehadiran anaknya.


Zion tak sengaja menoleh kearah Zoalva. Tubuh wanita itu langsung membeku ditempatnya. Jantungnya kembali berdegup kencang. Apakah ia salah lihat? Bagaimana bisa pria itu ada ditempat ini? Bukankah Zoalva tinggal di Amerika dan bukan di Indonesia?


"Mommy, kenapa?" panggilan Riley langsung menyadarkan wanita itu.


"Ohhh tidak Son," sekali Zion melirik Zoalva, lelaki itu menghilang.


Zion bernafas lega. Ia yakin jika dirinya tengah berhalusinasi, pasti tidak mungkin jika lelaki itu ada disini. Bisa saja itu bayangan matanya karena terlalu takut bertemu dengan Zoalva.


"Kak, aku ke toilet sebentar,"


Saking gugup nya wanita itu sampai ingin buang air kecil.


"Iya Nona. Hati-hati," pesan Felix penuh perhatian.

__ADS_1


Zion melangkah menuju toilet sambil menghela nafas panjang. Ia benar-benar gugup. Takut sekali jika bertemu lagi dengan lelaki itu. Semoga saja itu tidak nyaman.


Tiba-tiba saja seseorang menarik tangan nya. Hingga wanita itu terjatuh kedalam pelukan orang yang menarik tangannya.


"Ka_" Zion langsung membeku ketika menatap mata lelaki itu.


Begitu juga dengan lelaki yang memeluk pinggang nya. Tatapan keduanya bertemu. Tangan Zion menempel didada bidang lelaki itu takut jika dadanya mengenai dada sang lelaki.


Lama keduanya saling tatap. Jika tatapan laki-laki itu penuh kerinduan. Maka berbeda dengan tatapan mata Zion yang menatap dengan kebencian kekecewaan dan ketakutan.


"Lepaskan aku Tuan," Zion memberontak.


Namun lelaki itu sama sekali tak bergerak ditempat nya. Ia menatap puas wanita yang sudah lama ia rindukan ini. Wanita ini tak berubah sama sekali tetap cantik meski sudah lima tahun tak bertemu.


"Aku menemukan mu," ucapnya.


Zion menggeleng. "Lepaskan aku. Lepaskan," paksanya.


"Tidak akan pernah," tegas lelaki itu. "Aku tidak akan membiarkan mu pergi lagi. Kau milikku," ucapnya penuh penekanan.


Namun percuma bagaimana pun Zion memberontak ia tetap tak bisa mengalahkan kekuatan dari lelaki yang memeluknya dengan erat ini.


"Apa mau mu?" lelehan bening lolos di mata Zion. "Apakah kau ingin membalaskan dendam mu padaku lagi?" tanya nya menatap lelaki itu dengan marah.


Lelaki itu malah menggeleng. "Aku ingin menebus semua kesalahanku padamu," ucapnya menyelipkan anak rambut Zion. "Kau sudah terlalu lama meninggalkan ku. Sekarang takkan kubiarkan lagi kau pergi," ia menarik Zion kedalam pelukannya.


Zion memberontak. Tapi tetap tak bisa lepas dari pelukkan lelaki itu. Akhirnya Zion menyerah dengan air mata berlinang membiarkan lelaki ini memeluknya. Sudah cukup semua rasa sakit yang dia rasakan selama ini.


"Maafkan aku. Maafkan aku. Jangan pergi lagi," ucap Zoalva memeluk Zion dengan erat. "Aku mohon jangan tinggalkan aku lagi. Aku, aku mencintai mu," ungkap Zoalva mengakui semua perasaan nya.


Perasaan gengsi dan kejam nya yang dulu kini hilang saat berhadapan dengan wanita yang dia cintai. Ia seperti kehilangan wibawanya saat berada didekat Zion.


"Mommy," panggil Riley.


Sontak pelukan kedua orang itu terlepas. Keduanya menatap Riley yang digendong Felix.


"Mommy, kenapa menangis?" tanya Riley bingung.

__ADS_1


Segera Zion menjauh dari Zoalva dan menyeka air matanya dengan kasar.


"Mommy tidak apa-apa Sayang," jawab Zion.


Sementara Zoalva menatap Riley tak berkedip. Tuhan benarkah itu anaknya? Kenapa rasanya hati Zoalva langsung menghangat saat melihat wajah polos Riley. Ia ingin memeluk anak itu.


"Ayo Kak,"


"Tunggu," Zoalva mencengkram tangan Zion.


"Ada apa lagi Tuan?" tanya Zion dingin.


Felix pun tak bisa berkata apa-apa lagi. Seperti kata Ariana kemana pun mereka pergi, pertemuan itu pasti akan tetap terjadi.


"Apakah dia anakku?" tanya Zoalva menatap Riley berkaca-kaca.


"Bukan. Aku sudah menikah," jawab Zion.


Deg


Sontak tangan Zoalva terlepas dari tangan Zion. Aliran darah dalam tubuhnya seolah berhenti mengalir. Tubuhnya serasa disentrum oleh listrik


"Ayo Kak," Zion menggandeng tangan Felix dan melenggang pergi meninggalkan Zoalva.


Zoalva masih membeku ditempatnya. Hatinya. Hidupnya. Sekarang ia tak baik-baik saja. Kepedihan membawa jari-jarinya mengepal dinding berbatu terjal. Ia gantungkan rasa perih itu pada tembok penyangga. Apakah benar wanita yang ia cari selama lima tahun ini telah menikah dengan pria lain? Apakah benar cinta yang ia perjuangkan kini kandas sampai disini?


Lelaki itu begitu dalam mencintai Zion. Ia menyerahkan perasaannya. Menanam harapan setinggi mungkin. Berharap pertemuan menyatukan mereka dalam sebuah ikatan cinta yang membawa pada kebahagiaan. Namun tidak, setelah pertemuan itu terjadi ia harus dihadapkan dengan sebuah kenyataan pahit. Bahwa wanita itu telah menikah dan memiliki anak dengan pria lain.


Tapi kenapa wajah anak kecil itu begitu mirip dengannya? Bahkan duplikat wajah kecilnya melekat sepenuhnya diwajah bocah itu. Apakah Zion menikah ketika sudah menggandung anaknya? Atau bagaimana. Berbagai pertanyaan berlarian di kepala lelaki itu. Ia menyeka air matanya dengan kasar. Untung saja tidak ada orang yang melihat dia menangis serapuh ini. Jika ada yang melihat wibawanya sebagai mafia dan CEO ternama akan hilang.


"Zion," gumamnya. "Kenapa Zion? Setelah aku menemukanmu, kenapa kau malah menjadi milik orang lain?" lirihnya menahan pedih yang menghantam dadanya.


Tak pernah ia merasakan patah hati sehebat ini bahkan ketika kedua orang tua nya meninggal. Ia biasa-biasa saja. Tapi kenapa rasanya begitu sakit ketika mendengar wanita yang dia cintai telah menikah dan menjadi milik orang lain.


"Begini kah rasanya patah hati?" gumamnya mengumpulkan kekuatan nya untuk kembali melanjutkan langkah kaki nya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2