Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Pasrah


__ADS_3

Happy Reading yang 🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Zion meringguk sambil membenamkan wajahnya didalam lutut yang ia teluk. Sedangkan ular sanca berukuran raksasa itu terus berdesir melihat santapan nikmat didepan nya.


Sitttttttttttttttttttttt


Sitttttttttttttttttttttt


Ular itu berdesir dengan lidah yang keluar seperti hendak menyantap tubuh mungkin Zion. San mengelilingi tubuh munggil Zion. Dia berpikir bagian mana dulu yang akan dia nikmati.


Zion mengangkat kepalanya dan tatapan nya dengan ular besar itu saling beradu. Pasrah, ini adalah takdir dari hidupnya. Ia akan mati sia-sia ditangan ular menyeramkan yang sudah menatap nya dengan tak sabar.


"San, kau lapar yaaa? Kau benar-benar ingin memakanku?" ucapnya sambil terisak. Ketakutan mungkin sudah pergi dari jiwa Zion. Sebab takut pun takkan bisa membuat ular ini kasihan padanya. "Lahaplah aku San. Aku lelah dengan hidupku. Aku capek San. Aku ingin pergi. Bawa aku pergi San," ucap nya pasrah.


Tak hanya lelehan bening yang mengalir dipipi nya tapi juga keringat yang membasahi pelipisnya. Wajahnya pucat fasih tampak tak berdarah. Tubuhnya sudah panas dingin ketakutan.


"Ayo makan aku San," ucap Zion pasrah. "Agar aku bisa lepas dari semua rasa sakit ini," ujar nya.


Ular itu tampak seperti mengejek gadis yang ada didepan nya. Seperti manusia yang mengerti ucapan Zion.


Pandangan mata Zion mulai kabur. Dia benar-benar kelelahan. Apalagi tidak makan. Tidak ada makanan yang masuk kedalam perut nya, walau hanya selembar roti.


Brughhhhhhhhhhhhhh


Zion terjatuh ditubuh San. Sontak ular raksasa itu terkejut. Ia ingin segera melahap tubuh Zion. Namun melihat air mata yang jatuh dipipi wanita itu, ia mengurungkan niat nya.


Ular ini memang sudah jinak karena dirawat dan dilatih dengan baik oleh Zaen dan Zaen pada masanya. Ia seperti manusia yang mengerti jika diperintah.


San menatap wajah polos Zion yang terlelap. Beberapa kali ular itu berdesir dengan keras ditelinganya agar Zion terbangun. Namun tetap wanita ini kelelahan.


Zion lelah dengan hidupnya. Semua jalan yang ia lewati terasa gelap. Ia sungguh tak berharga bagi siapapun. Tidak ada yang mencintainya. Hidupnya malang dan tak diinginkan. Ayah nya yang bersalah tapi dia yang menjadi korban dari kesalahan itu. Tak hanya batin nya yang lelah namun juga tubuhnya seperti ingin menyerah.


Pergulatan panas mereka tadi malam masih terbayang-bayang dikepala Zion. Ia teringat bagaimana ia menangis histeris meminta agar lelaki itu menghentikan hujaman ditubuh nya, namun Zoalva seperti menganggap itu sebuah godaan agar permainan mereka tetap berlanjut.


"Astaga, Nona," ucap beberapa pengawal yang berjaga didepan kandang San.

__ADS_1


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya salah satu nya panik ketika melihat Zion yang terbaring ditubuh San. Aneh nya ular besar bertubuh raksasa itu malah terdiam tanpa terganggu sama sekali. "Kita tidak mungkin masuk kedalam kandang San. Bisa-bisa kita yang ditelan," sambungnya bergidik ngeri.


"Cepat hubungi Tuan Robin," titah salah satunya.


"Baik," lelaki yang satu meronggoh ponselnya dan menghubungi Robin. "Tidak diangkat," jelasnya.


"Tuan John saja," suruh yang lain nya.


"Tuan John, sedang ada perjalanan bisnis ke Jerman," sahut yang lain.


"Ck, kita tidak bisa membiarkan Nona disana," ucap yang lainnya.


San menatap hangat wajah polos Zion yang berbaring dibagian tubuhnya. Ia menggulung tubuh wanita itu lalu menjadikan tubuh nya sebagai kasur agar Zion tidur dengan nyaman. Para pengawal yang berjaga disana saling melihat tak percaya ketika menyaksikan apa yang San lakukan pada Zion. Biasanya, siapa pun yang dilempar kedalam kandang nya, pasti langsung dicabik-cabik dan bahkan ada yang ditelan hidup-hidup.


Namun kali ini San sama sekali tak menyakiti Zion. Tadi dia menakuti gadis itu seperti hendak melahapnya. Tapi saat melihat Zion pingsan ia malah merasa iba, apalagi saat lelehan bening itu keluar dari pelupuk mata Zion.


"Nona," panggil mereka.


Sitttttttttttttttttttttt


"Mundur," ucap salah satu nya.


"Nona," panggil mereka lagi.


Sitttttttttttttttttttttt


San semakin marah. Matanya tampak merah. Jika saja dia tidak dalam kandang, pasti dia akan mencabik-cabik tubuh keempat pria itu.


Keempat nya ketakutan dan sontak berjalan mundur. Apalagi melihat pagar besi itu digoncang oleh San. Bagaimana jika San berhasil keluar dari sana, pasti mereka berempat akan tinggal didalam perut ular raksasa itu.


Namun Zion sama sekali tak terganggu. Ia tetap nyaman dengan mata terpejam dan wajah yang pucat tanpa darah. Ia tak terusik dengan suara San atau tubuh ular itu yang bergerak-gerak mengeset tubuhnya.


"Biarkan saja," ucap yang lainnya. "Jangan ganggu dia. Kita tunggu sampai Tuan kembali. Seperti nya dia tidak akan menyakiti Nona," tukas nya.


"Baik," ketiga teman nya menurut.

__ADS_1


.


.


.


"Lin, ayo kita kerumah Zion," ajak Chole menyambar tasnya dan langsung berdiri.


"Ayo," sahut Lina ikut berdiri.


Kedua gadis itu berjalan menyusuri koridor kampus. Keduanya memang dari kemarin mencari Zion, namun hingga kini tak ada kabar tentang gadis itu. Dan mereka memutuskan untuk pergi kerumah Zion, mencari informasi disana. Barangkali Zion ada dirumah. Ini sudah beberapa minggu Zion tak masuk kampus. Para dosen juga mencari nya karena dia ketinggalan banyak mata kuliah.


"Kira-kira Zion kemana yaaa?" ujar Chole sambil menyetir. Chole memang begitu dekat dengan Zion. Ia sering sekali menghabisi waktu bersama sahabat nya itu dikampus.


"Aku tidak tahu. Tapi aku curiga.." Lina menghela nafas panjang.


"Curiga apa?" Chole melirik Lina.


"Kalau Zion dikurung oleh Ayah nya. Kau tahu sendiri 'kan kalau Ayah nya sama sekali tidak memberi Zion kebebasan?" Ujar Lina.


Chole mengangguk. Zion memang sering menceritakan tentang Ayah nya. Bahkan tentang dirinya yang dianggap sebagai pembawa sial karena sudah membuat Ibu dan Kakak nya meninggal.


Sampai dirumah Zion kedua gadis itu langsung turun. Rumah ini dijaga begitu ketat seperti sebuah istana. Di mana-mana ada pengawal yang berjaga.


"Maaf Nona anda siapa?" tanya salah satu nya menatap Chole dan Lina dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Maaf Tuan, apakah Zion ada?" Chole celingak-celinguk melirik kedalam. Namun tatapan matanya malah dipagari oleh para pengawal itu.


"Ada urusan apa dengan Nona Muda kami?" tatap yang lain nya curiga.


"Kami mencari nya karena sudah beberapa minggu Zion tidak masuk kuliah. Apakah dia baik-baik saja?" ujar Lina.


Chole dan Lina terkagum-kagum melihat rumah mewah Zion. Tentunya rumah itu lebih besar dari rumah mereka. Ternyata Zion memang anak orang kaya, meski selama ini dia selalu tampil sederhana.


Bersambung.... .

__ADS_1


__ADS_2