
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
John dan Darwin sedang bersiap-siap. Tak lupa parfum semprot sana-sini. Malam ini keduanya akan menemui Chole dan Lina di restourant untuk makan malam sebagai ganti rugi dari mobil yang tidak sengaja di tabrak oleh kedua gadis itu.
"Apa aku sudah tampan?" seru Darwin menyisir rambutnya ke belakang.
"Biasa saja," sahut John. "Tetap aku yang paling tampan," ucapnya penuh percaya diri. "Semoga Lina terpesona melihatku malam ini," serunya terkekeh membayangkan gadis itu terpesona saat melihat wajah tampannya. "Lalu dia menerima cintaku dan bla bla...." sambil bersiul dengan riang
"Ya sudah ayo," ajak Darwin.
Remnick dan Norton tak tertarik sama sekali. Keduanya malah asyik dengan senjata api persiapan mereka berjaga-jaga di pelabuhan.
Sejak Zoalva bertobat dalam perdagangan manusia dan penjualan obat-obatan terlarang. Mereka pun tobat juga sebagai anak buah. Sekarang tugas mereka menjaga markas dan senjata Zoalva yang lain nya.
"Kami pergi dulu," Darwin menepuk bahu Remnick.
"Hem," Remnick hanya berdehem. "Semoga berhasil," ujar Remnick.
"Iya pasti. Secara siapa yang bisa menolak pesonaku," Darwin menyisir rambutnya ke belakang.
Remnick dan Norton saling melihat lalu memutar bola mata mereka malas.
"Sudah. Sudah. Sana berangkat," usir Norton.
"Selamat menikmati jomblo kalian," ledek John.
Remnick dan Norton terkekeh saja. Keduanya memang sama-sama dingin dan tidak playboy seperti kedua sahabat nya itu.
"Kau tertarik Nick?" tanya Norton sambil mengelap senjata kesayangan nya.
"Sama sekali tidak," sahut Remnick. Lelaki itu sejenak menghela nafas panjang. "Melihat kedua orangtuaku berpisah, aku jadi tidak tertarik dengan wanita. Aku takut mengalami hal yang sama," ucap Remnick.
Norton mengangguk. "Aku juga. Ibu menikah lagi dan meninggalkan aku dengan Ayah. Setelahnya Ayah meninggal dan aku hidup sebatang kara," Norton tersenyum miris.
Kedua pria ini sama-sama kehilangan figure orang tua di usia mereka yang masih terbilang muda. Sehingga hal tersebut membuat mereka trauma dengan hubungan asmara. Bukan tak ada niat untuk membangun hidup berumah tangga. Hanya saja trauma itu membawa mereka pada luka mendalam.
"Sudahlah. Tidak usah dipikirkan. Ayo kita ke pelabuhan," ajak Remnick menepuk bahu sahabat nya.
Keduanya masuk kedalam mobil dan menuju pelabuhan. Markas Zoalva terletak ditengah kota. Namun tak ada yang tahu jika itu Markas kecuali anak buah dan orang-orang kenalan Zoalva.
"Apakah ada yang mencurigakan?" tanya Norton sambil fokus menyetir.
"Entahlah. Kurasa begitu," sahut Remnick. "Aku penasaran, siapa Barry Schwartz. Aku baru pertama mendengar nama itu," ujar Remnick melirik sahabat nya.
"Hem, seperti nya orang yang memiliki masa lalu dengan Tuan Zoalva," sahut Norton.
Sampai di pelabuhan keduanya turun. Hari ini mereka juga akan mengurus beberapa senjata dan bom yang akan di kirim ke beberapa negara. Untuk bisnis yang satu ini, Zoalva tidak bisa meninggalkan nya. Dia juga belum bisa bekerja sama dengan negara.
__ADS_1
"Selamat malam Tuan," sapa para pengawal yang berjaga didepan markas.
"Malam. Bagaimana pengiriman senjata?"
"Senjata yang kita kirim sudah sampai ke Jepang, Korea dan Australia, Tuan," sahut salah satu dari mereka.
"Bagus. Pastikan data pengiriman di kirim ke email ku," ujar Remnick.
"Baik Tuan,"
.
.
.
Darwin dan John turun dari mobil. Kedua pria itu sudah tampan dengan harum parfum yang menyeruak ke mana-mana. Sang buaya darat berstatus mafia ini memang ahli nya dalam merayu wanita. Semua wanita bertekuk lutut dikaki mereka.
"Ayo,"
John dan Darwin melangkah masuk kedalam restourant. Sontak saja para pengunjung menatap damba pada keduanya. Keduanya terlihat mencolok dari yang lainnya.
"Hem, mereka sudah datang," seru Darwin tersenyum devil ketika melihat Chole dan Lina sudah menunggu di meja yang mereka pesan.
"Selamat malam," sapa Darwin memasang wajah dingin seolah-olah ia biasa saja. Padahal hati nya sudah ketar-ketir kesenangan.
"Malam Tuan," balas Chole dan Lina berdiri.
"Maaf apakah kalian sudah lama menunggu?" tanya John duduk disamping Lina. Dia tak bisa berkedip menatap Lina yang sangat cantik malam ini.
"Tidak Tuan. Kami juga baru sampai," sahut Chole.
Dorrrrrrrrrr
"Aaaaaaaaaaa,"
Tiba-tiba suasana riuh. Lina dan Chole terkejut bukan main. Sontak kedua gadis itu berteriak.
"Ada apa?" tanya Darwin panik.
"Entahlah. Ayo kita lihat dulu," ajak John.
Dor dor dor dor dor
Suara pistol terdengar keras mengenai benda-benda yang ada direstourant.
"Letakkan semua barang kalian," ucap seorang lelaki bertopeng hitam untuk menutupi bagian wajah nya.
__ADS_1
"Chole, siapa itu?" Lina dan Chole saling memeluk ketakutan.
"Kalian tenang tidak perlu takut," ucap Darwin menenangkan.
Darwin dan John menatap beberapa pria berbaju hitam itu. Kondisi restourant rusak parah. Para pengunjung yang terkenal tembakkan tergeletak tak bernyawa diatas lantai dengan darah yang mengalir dibagian kepala, dada dan bagian tubuh yang lainnya.
"Siapa kalian?" tanya orang itu pada John dan Remnick.
"Ck, kalian mengagalkan acara makan malam kami," gerutu Darwin.
"Hahaha, kalian adalah anggota dari The Blood of the Silence," salah satu dari mereka tertawa menggema sehingga membuat Chole dan Lina semakin ketakutan.
"Sayang, tutup mata dan telinga kalian yaaaa?" seru Darwin menatap Chole dan jahil sambil mengedipkan matanya.
Chole tak sempat protes gadis itu mengangguk lalu menutup telinga dan matanya secara bersamaan. Keringat dingin membasahi dahinya. Wajahnya pucat dan badannya bergetar.
"Sayang kau juga yaa," John membuka jas nya dan memasang ditubuh Lina.
"T-terima kasih," ucap Lina. Matanya berkaca-kaca dan badannya bergetar.
Lalu para penyerang itu bertambah banyak memasuki restourant.
"Hem, mereka bertambah banyak. Apa kita mampu?" bisik John.
"Tentu saja," sahut Darwin menyombongkan diri. "Cepat hubungi Norton dan Remnick untuk mengirim bantuan," suruh lekaki itu.
John mendengus kesal. Tapi ia tetap menghubungi kedua sahabat nya itu agar membantu dia dan Darwin
"John, siap," Darwin memberi kode.
John mengangguk. Keduanya tersenyum licik menatap para lawan yang berada didepannya.
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
"Aaaaaaa," Lina dan Chole memeluk saling bertangisan
Para pengunjung yang lain bubur dan keluar dari restourant. Sedangkan Darwin dan John masih terus menembak lawan mereka dengan kekuatan secepat kilat. Keduanya memang sudah terlatih dalam hal tembak menembak.
Dor dor dor dor dor
Dor dor dor dor dor
Para munsuh yang terkena tembakkan tak diberikan kesempatan untuk merasakan rasa sakit karena peluru yang dipakai John dan Darwin mengandung racun mematikan yang bila terkena kulit atau bagian tubuh lainnya membuat tubuh membeku seketika.
Bersambung...
__ADS_1
.Jangan lupa like komen dan vote ya guys...
Makasih buat kalian yang sudah ikutin kisah mereka.