Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Saling kenal


__ADS_3

**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**


Chole dan Lina telah sampai ke Indonesia. Perjalanan yang cukup panjang dari New York menuju Jakarta.


Saat kedua gadis itu turun dari pesawat keduanya menjadi pusat perhatian. Wajah kebarat-baratan mereka jelas terlihat mencolok dari wajah-wajah wanita Indonesia.


"Hem, apa Zion sudah meminta supir menjemput kita?" Chole celinggak-celinguk sambil menunggu.


Jika orang Indonesia takut panas. Maka tidak dengan bule seperti mereka. Bahkan kulit hitam manis adalah warna kulit eksotis yang menarik bagi mereka.


Tidak lama kemudian datang sebuah mobil Lamborghini berwarna merah menyala berhenti tepat didepan mereka. Turun seorang pria berbaju hitam yang di yakini sebagai pengawal pribadi suruhan Zion untuk menjemput kedua sahabat nya.


"Selamat siang Nona. Saya ditugaskan oleh Nona Zion untuk menjemput Anda," ucap lelaki berpakaian hitam itu.


"Iya Paman," jawab Lina.


"Mari Nona. Biar saya masukkan kopernya ke dalam bagasi," sang supir memasukkan koper kedua gadis itu.


Chole dan Lina masuk ke dalam mobil. Cukup lama mereka meninggalkan Indonesia dan menetap beberapa waktu ke New York.


"Aku tidak sabar bertemu Ray," seru Chole tidak sabar.


"Sama," sahut Lina.


Chole dan Lina sudah merasa nyaman tinggal di Indonesia. Selama lima tahun mereka menetap disini. Banyak pelajaran hidup yang mereka dapatkan selama bersama Zion.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat didepan sebuah rumah mewah.


"Lho, ini Mansion siapa?" tanya Chole heran.


"Ini tempat tinggal baru Nona Muda, Nona," jawab supir itu.


Keduanya mengangguk dan turun dari mobil. Kedatangan mereka disambut dengan hangat oleh oleh para pengawal Zoalva yang berbaris rapi didekat pintu masuk.


"Selamat datang Nona," sambut mereka dengan senyuman.


Chole dan Lina merasa sedang berada di istana di mana mereka diperlakukan seperti ratu.


"Di mana Zion?" tanya Chole.


"Nona, ada didalam Nona," sahut salah satunya. "Silahkan masuk,"


Terdengar suara ramai di taman belakang Mansion mewah tersebut. Mansion Fillipo yang terdiri diatas dua hectar persegi tersebut terlihat mencolok dan indah dari yang lainnya.

__ADS_1


"Aunty Lina. Aunty Chole," teriak Riley dari jauh.


Mereka semua menoleh kearah dua gadis cantik yang baru saja datang dari Indonesia itu.


"Ray," sapa kedua nya.


Riley berhambur memeluk kedua gadis yang berjongkok menyambut kedatangan nya.


Sedangkan ketiga lelaki yang baru juga sampai ke Indonesia itu saling melihat satu sama lain saat menyambut kedatangan Chole dan Lina.


'Dia ada disini?' batin Remnick melihat kearah Chole dengan intens.


Sementara Chole dan Lina belum juga menyadari kehadiran empat lelaki yang begitu mereka kenal selama kembali pulang ke New York


"Apa kabar Son?" Lina mencium pipi Riley dengan gemes


"Ray baik Aunty," jawab Riley sumringah. Dia juga merindukan kehadiran dua wanita yang sudah dia anggap sebagai ibu kandungnya itu.


Zion menghampiri kedua sahabat nya. Ketiganya saling berpelukan rindu. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama mereka memang sudah bersahabat. Meski kala itu hidup Zion selalu dalam kurungan sangkar sang Ayah. Namun, tak menjadi penghalang bagi mereka untuk menjalin persahabatan yang mereka bina sajak kecil itu.


"Apa kabar kalian berdua?" Zion melepaskan pelukan nya.


"Ya seperti yang kau lihat dan kamu terkejut ketika mendengar kabar kau akan menikah," seru Chole.


"Kasihan selalu begitu. Kalau aku tidak menikah mungkin kalian tidak akan datang kesini," Zion memutar bola matanya malas.


'Apa aku tidak salah lihat?' batin Chole sambil mengusuk-gusuk matanya.


"Kenapa Ch_" begitu juga dengan Lina dia terkejut ketika melihat keempat lelaki itu ada disini. "Ehhh kok mereka ada disini?" Lina menunjuk keempat pria itu.


"Mereka siapa?" tanya Zion.


"Itu," tunjuk Lina.


Zion ikut menoleh kearah empat orang pria yang tidak lain adalah sahabat dari calon suaminya.


"Ohh itu, sahabat Kak Zo," jelas Zion. "Ayo gabung," ajak Zion.


Kedua gadis itu berjalan kearah taman belakang. Tak menyangka dunia sempit ini. Ternyata Darwin, Remnick, Norton dan John adalah orang-orang kepercayaan dari Zoalva. Dan bisa-bisa nya mereka di pertemukan ke Indonesia.


.


.

__ADS_1


.


"What's jadi kalian saling kenal?" pekik Zion setengah berteriak.


"Aishh pelan-pelan Zion. Tidak perlu teriak," protes Chole mengusap telinganya.


"Habisnya, kalian ini membuatku ingin lompat saja," Zion geleng-geleng kepala. "Bagaimana bisa kalian bertemu dengan mereka? Apa kalian tahu mereka siapa?" cecar Zion tak habis pikir. Sebab anak buah calon suaminya itu memiliki wajah menyeramkan.


Zion masih ingat saat pertama kali bertemu mereka di sebuah club. Tatapan lapar para pria itu membuatnya bergidik ngeri jika mengenang masa lalu.


"Cerita nya panjang," Chole menghela nafas panjang.


"Iya. Kalau diceritakan tidak akan cukup sampai 100 episode," keluh Lina.


Zion terkekeh pelan. Dia tak menyangka jika kedua sahabat nya mengenal orang-orang kepercayaan calon suami nya.


"Biar ku tebak. Kalian melewatkan malam panaa dengan salah satu dari mereka?" tuding Zion menatap keduanya curiga.


Chole dan lina bergidik ngeri mendengar tudingan Zion. Walau penampilan mereka somplak dan berisik tapi mereka adalah wanita baik-baik. Jangankan melakukan one night stand, pacaran saja keduanya belum pernah.


"Aishh, sembarangan," Chole memukul pelan lengan Zion.


"Aw. Kasar," rintih Zion mengusap lengannya.


"Makanya kalau bicara itu jangan seperti kentut yang asal keluar saja," Lina ikut protes. Zion masih saja tak berubah, dia kalau bicara memang suka asal keluar saja dan terkesan blak-blakan.


"Habisnya kalian ditanya malah bilang ceritanya panjang," gerutu Zion.


"Baiklah. Aku akan menceritakan bagaimana kami bisa bertemu dengan mereka. Terutama si tampan Nick," Chole kesem-kesem saat membayangkan wajah Remnick. Bagaimanapun pesona lelaki dingin itu tak bisa membuat ia berpaling


"Iya cepat ceritakan karena aku penasaran bagaimana kalian bisa bertemu dengan para Mafia itu," seru Zion.


"Mafia?" ulang Chole dan Lina.


"Aish, cepat ceritakan semuanya. Nanti aku akan kasih tahu," Zion memutar bola matanya malas. Ibu anak satu itu melipat kedua tangannya didada.


"Jadi begini....."


Lalu Chole dan Lina menceritakan awal pertemuan mereka dengan empat sekawan tersebut. Namun, mereka tidak tahu jika keempat orang itu adalah mafia. Pantas saja kemana pun mereka pergi selalu membawa senjata.


"Astaga, Chole," Zion langsung menatap sahabatnya. "Kau tidak apa-apa kan?" ia panik mendengar jika Chole di tembak karena menyelamatkan Remnick.


"Aku baik-baik saja Zion," Chole tersenyum. "Hanya hatiku yang tidak baik," Chole menunduk. Ia tak bisa sembunyikan perasaan nya pada Remnick. Ia menyukai lelaki itu dipertemuan pertama mereka. Hingga ia rela tertembak demi melindungi Remnick.

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa like komen dan vote nya guys..


__ADS_2