Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Pergi kemana ?


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


Zion menangis didalam pesawat. Baru saja ia merasa memiliki keluarga, kini ia harus dipisahkan lagi dengan orang yang sudah peduli padanya. Kapan ia bahagia jika begini?


"Nona sudah jangan menangis," hibur Felix sambil mengusap punggung Zion.


"Hiks Kak Felix. Aku takut terjadi sesuatu pada Kak Vincent Kak," renggek nya. "Hanya Kak Vincent yang peduli paskah Kak," sambungnya sambil menyeka air matanya.


Zion tidak tahu saja. Jika awalnya Vincent berniat menikahi nya secara diam-diam dan menjadikan wanita ini pemuas nafsunya. Namun dengan waktu yang terus berjalan. Semua perasaan jahat itu berubah jadi perasa kasihan. Vincent jadi tidak tega menyakiti Zion sejauh yang dia rencanakan.


"Tuan Muda pasti baik-baik saja Nona. Anda tenanglah," ucap Felix. "Jangan berpikir keras Nona, tidak baik untuk kesehatan bayi anda," ucap Felix memperingati.


Zion menurut dan menyeka air matanya. Ia akan kemana? Ia pun tak tahu


Zion melamun sambil menikmati penerbangan yang cukup memakan waktu ini. Harapannya semoga Vincent baik-baik saja dan mereka kembali dipertemukan didalam ruang dan waktu yang panjang. Semoga saja Tuhan masih memihak pada kebahagiaan yang ingin ia perjuangkan.


Semua orang jahat. Tidak ada yang peduli. Ia dijadikan sebagai alat balas dendam. Padahal ia tidak ada hubungan nya sama sekali dengan orang-orang yang telah melakukan kesalahan. Bahkan ia tak tahu apapun.


"Kak kita akan kemana?" tanya Zion.


"Kita akan ke London Nona. Disana Bibi Nona Vincent yang akan menjaga Nona. Jangan khawatir Nona," ucap Felix.


Zion manggut-manggut. Ia tak tahu bagaimana kehidupan nya nanti di negara orang. Ia hanya ingin menikmati rasa sakit yang menghantam dadanya ini.


.


.


.


"Huffhhhh. Kemana lagi kita harus cari Zion," keluh Chole.


"Entahlah," Lina merebahkan tubuhnya di sofa. "Apa mungkin Zion pindah yaa?" ucao Lina sambil menatap langit-langit ruangan apartemen Chole.


"Pindah? Pindah kemana?" tanya Chole heran dan juga penasaran.


"Entahlah. Ini hanya prediksi ku saja," sahut Lina.


Tok tok tok tok


"Siapa itu?" tanya Lina.


"Tidak tahu. Aku buka sebentar," Chole berdiri lalu membuka pintu.


Cekreeeeeeeeeekkkkk


Kening Chole berkerut heran saat melihat dua orang pria berjas berdiri tepat di pintu apartemennya

__ADS_1


"Maaf siapa yaaaa?" tanya gadis itu menyelidik dari ujung kaki sampai ujung rambut.


"Siapa Cloe?" Lina ikut keluar karena penasaran.


"Tidak tahu," jawab Chole


"Kami orang suruhan Tuan Vincent. Kami disuruh menjemput anda Nona," jawab salah satunya.


"Tuan Vincent?" gumam Chole dan Lina bersamaan.


"Ayo ikut kami," keduanya menarik tangan Chole dan Lina bersamaan.


"Heiii jangan pe_ umphhhhhhh,"


Keduanya tergeletak ketika mulut mereka ditutup dengan kain yang sudah diberi obat bius.


"Ayo," masing-masing mereka mengangkat tubuh Chole dan Lina.


.


.


.


"Lepaskan aku brengsek," Juanse memberontak.


"Hahaha melepaskan? Jangan bercanda Juanse, kau sudah berani-berani mencari masalah dengan Tuan Vincent, sekarang bersiaplah menjemput ajal mu," ucap salah satu nya menatap Juanse dengan haus dan lapar.


"Baik Tuan,"


Pria itu tersenyum licik. Ia mengangkat kapaknya dan menatap Juanse dengan lapar.


"Arghhhhhhhhhhhhh,"


Lelaki itu langsung membelah dua tubuh Juanse. Dia memang ditugaskan oleh Vincent untuk mengeksekusi Juanse.


Darah membanjir dengan deras seperti air hujan. Otak kepala Juanse berceceran ditanah. Jantungnya terbelah dia.


"Bereskan," dia melempar begitu saja kapak yang ia gunakan untuk membunuh Juanse


"Baik Tuan," beberapa anak buah menyatukan kembali tubuh Juanse lalu memasukkan potongan-potongan itu kedalam kandang harimau peliharaan mereka.


Juanse kehilangan nyawanya Karsan keegoisan dan ketamakan. Ia menyalahkan Zion atas kematian sang istri. Padahal itu adalah takdir Tuhan. Tidak ada yang salah atau disalahkan semua kembali kepada takdir yang Tuhan tentukan untuk umat ciptaan-Nya.


Sekarang ia harus menerima ganjaran dari segala perbuatannya. Tak peduli seperti apa Juanse melawan ia takkan bisa lepas dari jeratan hukum Vincent.


.

__ADS_1


.


.


Terlalu lama mengoceh bergumam akhirnya Zion tertidur dengan memegang perut buncitnya. Ia kelelahan sendiri.


Felix menatap wajah damai Zion. Ia harus menjaga wanita ini sesuai perintah Vincent.


"Nona, anda adalah orang beruntung karena Tuan Vincent menyayangi anda. Walau anda tidak memiliki perasaan apapun padanya. Saya berjanji Nona sehidup semati saya, saya akan menjaga anda," ucap Felix sambil mengusap kepala Zion yang bersandar dibahu nya.


Felix tak hanya sebagai asisten pribadi Vincent. Tapi ia juga sahabat yang setia menemani tuan-nya.


Felix adalah saksi hidup betapa rapuh nya Vincent ketika orang-orang yang dia cintai dibantai habis tak bersisa satu pun. Itulah yang membuat jiwa mafia Vincent berkobar-kobar. Hingga kini, ia pun terlibat sebagai pembunuh bayaran yang sudah menghabisi ribuan nyawa.


Pesawat itu mengudara dengan tinggi diatas langit London, tidak lama kemudian mendarat disebuah Kanisonbmewah yang diyakini rumah mewah Vincent di London.


Vincent tak kalah kaya seperti Zoalva. Sama hal nya seperti Zoalva ia pun ikut memperdagangkan manusia dan obat-obatan. Bedanya, Vincent tidak turun langsung. Ia menepikan diri disebuah pulau dan hanya para anak buah nya saja yang ia tugaskan untuk melakukan pekerjaan itu.


Felix menggendong tubuh Zion keluar dari pesawat. Mereka disambut oleh anak buah Vincent yang bertugas disana.


"Selamat datang Tuan," sambut mereka.


Felix mengangguk lalu membawa Zion masuk.


"Felix," panggil seorang wanita paruh baya.


"Bik," Felix membungkuk hormat.


"Apakah dia yang di maksud Vincent?" tanyanya menatap Zion yang terlelap didalam gendongan Felix. Perut membuncit menandakan bahwa wanita tersebut sedang mengandung.


"Mari ikut Bibi," ajak wanita itu.


Felix mengekor wanita itu dengan menggendong tubuh munggil Zion. Kasihan sekali wanita ini, ia tampak kelelahan. Harusnya ia tak boleh lelah karena sedang menggandung buah hatinya.


Felix meletakkan Zion dengan pelan. Dengkuran halu terdengar dari bibir munggil wanita itu. Dia kelelahan karena kebanyakan menangis dan berceloteh sendiri tadi didalam pesawat.


"Felix, perintahkan pelayan membuatkan bubur untuknya," perintah Ariana, Ibu Vincent, Ibu angkat .


"Iya Bi," sahut Felix lalu keluar dari kamar Zion.


Ariana menatap Zion. Tangannya terulur mengusapa kepala Zion. Wanita hamil ini tampak kurus dari biasanya. Ada apa dengannya? Apa yang terjadi? Harusnya di usia kehamilan seperti ini ia wajib menjaga dirinya dengan ekstra agar pertumbuhan bayi nya sehat.


"Mulai sekarang kau adalah anakku, karena kau wanita yang dicintai oleh anakku," ucap nya tersenyum


Ariana merindukan sosok kehadiran seorang anak perempuan. Ia teringat pada putrinya yang meninggal dibunuh secara strategis.


Bersambung....

__ADS_1


hai guys...


Jangan lupa ikutin terus yaaaaaa kisahnya Zion dan Zoalva.. Jangan lupa dukungan teruss...


__ADS_2