Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Apa yang terjadi?


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


"Tuan, bangun," Zion menepuk-nepuk pipi Zoalva berharap tepukkan diwajah lelaki itu bisa membangunkan lelaki tersebut.


Langkah Zion lebar bersama brangkar Zoalva yang di bawa masuk kedalam ruang pemeriksaan. Lelaki itu tampak pucat seperti tak berdarah. Entah apa yang terjadi sehingga membuat Zoalva seperti mayat hidup.


"Silahkan Anda tunggu diluar Nona," suruh perawat sambil menutup pintu.


Zion menutup kedua wajahnya. Dia ketakutan melihat lelaki itu tiba-tiba pingsan. Zion tidak tahu kenapa ia bisa panik ketiga melihat Zoalva terjatuh.


"Zion, bagaimana keadaan Al?" cecar Zevanya.


"Masih diruangan pemeriksaan Kak," sahut Zion mengusap air matanya.


"Duduklah, Zion. Tenangkan dirimu. Zo pasti baik-baik saja," ucap Myron.


"Iya Kak," Zion duduk dengan gelisah.


Entah kenapa air mata Zion tak bisa berhenti menetes takut. Ia tak pernah melihat Zoalva serapuh ini. Biasa nya Zoalva selalu menampilkan wajah sanggar datar tanpa ekspresi. Kenapa wajahnya sangat pucat? Apa yang terjadi pada lelaki itu?


Myron dan Grabielle juga tampak tak tenang. Mereka sudah tahu penyebab Zoalva jatuh pingsan, pasti itu akibat luka yang masih basah lima tahun yang lalu. Apalagi Zoalva banyak bergerak.


Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruang pemeriksaan.


"Dok, bagaimana keadaan nya?" cecar Zion.


"Luka yang ada di dada Tuan mengalami infeksi dan sedikit mengeluarkan nanah. Tapi kami sudah mengobati luka nya dan memberi obat," jelas Dokter.


Semuanya bernafas lega, dalam hati sudah takut jika terjadi sesuatu pada Zoalva.


"Apakah saya boleh melihat nya Dok?" pinta Zion.

__ADS_1


"Tentu Nona, silahkan," ucap sang dokter mempersilahkan Zion masuk.


Wanita anak satu itu masuk kedalam. Ia menatap Zoalva yang terbaring diatas brangkar. Awalnya dia membenci lelaki ini. Tapi saat melihat Zoalva terbaring tak berdaya membuat hati Zion terenyuh sakit.


Zion melangkah menuju ranjang Zoalva. Matanya berkaca-kaca, dia masih dalam keadaan panik. Untung saya Riley masih tidur, kalau tidak sudah pasti pria kecil itu akan panik melihat Ibu nya menangis.


Zion duduk dibangku dekat ranjang Zoalva. Wanita itu menatap Zoalva dengan tatapan sulit diartikan. Meski lelaki ini jahat dan telah membuat hidupnya menderita. Namun, ada perasaan aneh yang Zion rasakan saat melihat tatapan sendu Zoalva. Dulu, dia menatap Zoalva bagai jelmaan iblis. Namun, ketika melihat Zoalva terpejam dengan wajah pucat ia merasa ketakutan luar biasa.


"Tuan," lirih wanita itu. "Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?" cecar Zion sambil menggenggam tangan Zoalva yang terpasang infuse.


Bayangkan saja lelaki yang biasanya tegas dan berani serta dingin. Kini terbaring lemah dengan wajah pucat dan kaku.


"Bangun, Tuan," ujar Zion. "Maaf, aku tidak bermaksud membohongi mu Tuan. Riley anak mu. Dia anak kita. Dia darah dagingmu. Dia sering menanyakanmu Tuan," ungkap Zion sambil bercerita pada lelaki yang tengah tidur itu. "Kamu berdua sering bertengkar jika dia membahasmu. Dia sangat terluka saat tahu jika Kak Felix bukan Ayah nya," Zion mengusap kepala Zoalva. "Walau aku sering membohongi nya tapi dia anak yang cerdas dan tidak bisa di kelabui dengan ucapan-ucapan," jelas Zion.


"Tuan, bangun. Ray ingin bertemu dengan mu. Dia ingin bermain serta bercerita padamu," lelehan bening lolos dipelupuk mata wanita cantik itu.


"Aku minta maaf karena sudah egois menyembunyikan dia dari mu, Tuan. Aku hanya takut kau mengambilnya dariku. Aku tidak memiliki siapa-siapa lagi selain dia,"


Zion terdiam ketika merasa ada yang mengusap kepalanya. Wanita itu sontak menghapus air matanya dan melihat Zoalva yang tersenyum padanya.


"Tuan," panggil Zoalva.


"Hai," sapa Zoalva tersenyum lirih.


"Tuan," Zion langsung memeluk lelaki itu dengan menangis tersedu-sedu.


Zoalva sedikit terkejut. Namun, ia membalas pelukkan Zion, sambil mengusap punggung wanita itu. Zoalva ikut menangis terharu. Ia tak menyangka jika Zion memeluknya seperti ini. Pelukkan yang begitu dia rindukan selama kurang lebih lima tahun. Pelukkan yang membuat hatinya menghangat.


Perpisahan dengan Zion memberikan Zoalva pengertian arti rindu. Ia menyadari banyak hal yang tak seharusnya ia lakukan. Ia mulai terbiasa menjauhi dunia gelap nya sebagai mafia. Mulai meninggalkan perbuatan-perbuatan kejam yang tak berperikemanusiaan.


"Tuan, maafkan aku," Zion melepaskan pelukan nya.

__ADS_1


"Aku yang harus minta maaf," sahut Zoalva sambil menyeka air mata dipipi cantik wanitanya ini.


Zion tak berubah sama sekali. Tetap cantik dan menawan dengan senyum yang membuat Zoalva tak bisa berpaling Zion. Usia mereka terpaut 15 tahun. Tapi Zoalva tidak pernah menganggap Zion sebagai wanita muda. Bagi nya, Zion sudah dewasa karena bisa membesarkan dan merawat anaknya seorang diri.


"Aku merindukan mu," ucap Zoalva mengusap kepala Zion. "Maaf, atas perbuatanku dulu. Aku menyesal telah menyakiti mu. Maafkan aku Zion. Sejak kau pergi, aku merasakan separuh jiwaku ikut pergi bersamamu. Aku mencintaimu," ungkap Zoalva. Ia sangat mencintai Zion. Gadis kecil yang sudah ia tangkap sebagai alat balas dendam. Gadis yang ia ambil mahkota nya demi memuaskan nafsu semata.


Air mata Zion semakin luruh ketika mendengar bahwa lelaki ini mencintai nya. Dia tidak dapat berkata apa-apa. Bahkan Zion sendiri tidak paham apa itu cinta. Yang jelas, sejak ia dan Zoalva menjadi orang asing, Zion merasa ada yang kosong didalam hatinya. Merasa ada yang hilang.


"Tuan, aku juga merindukanmu. Tapi aku tidak tahu apakah aku mencintai mu Tuan," jawab Zion polos.


Zoalva setengah terkekeh. Wajah nya masih pucat fasih seperti tak memiliki darah. Ia tersenyum gemes mendengar jawaban wanita ini. Zion tidak tahu apakah dia mencintai Zoalva, tapi Zoalva yang akan menbaut Zion jatuh cinta padanya.


"Tidak apa kau tidak mencintaiku. Tapi aku mencintaimu, Zion," ucap Zoalva. "Bolehkah aku mengelus wajah mu?" pinta Zoalva.


Zion mengambil tangan Zoalva lalu menempelkan diwajahnya.


"Kau boleh mengelus wajah ku. Sepuas mu, Tuan," ucap Zion sambil tersenyum hangat pada Zoalva.


Air mata Zoalva berjatuhan dipipinya. Rasa sakit di dadanya seolah terobati saat menyentuh pipi mulus wanita yang dia cintai ini.


"Tuan, kenapa dada mu bisa terluka?" tanya Zion membuka sedikit baju Zoalva.


"Biasalah, laki-laki," jawab Zoalva terkekeh.


"Tuan, aku serius," Zion merenggut kesal.


Zoalva lagi-lagi tersenyum. Ini pertama kalinya mereka berdua sedekat ini. Dulu mereka bagai orang asing yang saling mendinginkan satu sama lain.


"Ini hanya kecelakaan kecil yang kebetulan meninggalkan luka," jelas Zoalva.


Zoalva tak mungkin menceritakan jika luka ini adalah penyebab penyerangan lima tahun silam. Dia tidak mau membuat Zion takut lagi padanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2