Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Kehidupan Baru


__ADS_3

Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡


5 tahun kemudian.


"Sini Son, biar Mommy pasang dulu seragamnya," ucap seorang wanita cantik pada anaknya yang sedari tadi main kejar-kejaran seorang diri.


"Iya Mommy," sahut bocah berusia empat tahun lebih itu.


Sang wanita memasang seragam di tubuh putra semata wayangnya. Setiap hari inilah kegiatan nya di pagi hari, mengurus putranya sebelum berangkat ke sekolah.


"Terima kasih Mommy cantik," bocah itu mengecup pipi sang Ibu.


Wanita itu terkekeh pelan. "Sama-sama kesayangan Mommy," ia membalas dengan mengecup kening putranya dengan sayang.


"Ayo," ia menggandeng tangan bocah itu keluar dari kamar mereka.


Keduanya berjalan menuju meja makan sambil berbincang-bincang dan diselingi tawa singkat. Apalagi anak itu memang pintar dalam hal bicara hingga membuat Ibu nya gemes sendiri.


"Selamat pagi Aunty Lina. Selamat pagi Aunty Chole. Selamat pagi Ayah," sapa nya pada ketiga orang yang duduk di meja makan menunggu mereka. "Selamat pagi Oma," sapa nya juga pada seorang wanita paruh baya yang baru bergabung dengan mereka.


"Pagi kesayangan Aunty," Lina berdiri dan mengangkat tubuh bocah ini. "Sayang Aunty nya dulu," seru nya sambil menunjuk pipi nya.


"Tidak mau, Riley sudah besar, bukan anak kecil lagi," tolak nya sambil melipat kedua tangannya didada dengan bibir menggerecut.


"Ck, besar dari mana?" Lina memutar bola matanya malas.


Sang Ibu hanya tersenyum sambil menggeleng. Tak terasa putranya sudah besar dan pintar. Anaknya itu baru menginjak usia 5 tahun tapi sikapnya dewasa.


"Ayo Sayang, sarapan dulu," ajaknya mengambilkan makanan untuk anaknya "Rey mau yang mana?" tanya sang Ibu


"Hem, semuanya," seru nya dengan menampilkan rentetan gigi putihnya.


Mereka sarapan pagi bersama dan diselingi oleh obrolan dan celetukkan dari anak kecil itu.


"Pelan-pelan Son makanya," ia mengusap bibir anaknya yang belepotan.


"Masakkan Mommy selalu enak. Riley suka," serunya.

__ADS_1


"Makanlah yang banyak Nak," sahut wanita itu menatap anaknya dengan senyum.


Selesai makan sang anak bersiap-siap berangkat ke sekolah. Ia sudah duduk dibangku taman kanak-kanak. Meski usianya terbilang muda tapi ia memiliki kecerdasan dan kemampuan diatas anak rata-rata.


"Kak, titip Ray yaaa," ucap nya pada seorang lelaki tampan.


"Iya Nona," sahut nya. "Ray, ayo Son," ia mengulurkan tangan agar bocah itu menyambut tangan nya.


"Iya Ayah," sambutnya dengan senyumnya sumringah sambil menyambut tangan sang Ayah.


"Dia semakin pintar," ucap Chole bangga. "Tidak terasa dia sudah sebesar itu. Rasanya baru kemarin aku melihat mu kesakitan melahirkan nya," sambung Chole terkekeh.


"Iya Chole. Kau benar. Aku tak menyangka putraku akan tumbuh menjadi pria gagah seperti itu. Ahh aku menyesal dulu pernah ingin membuangnya," sahut wanita itu merasa bersalah karena pernah berpikiran ingin membunuh darah dagingnya sendiri. Hanya karena tidak ingin memiliki anak dari pria yang dia benci.


"Sudah. Jangan dipikirkan lagi," sanggah Ariana. "Kalau begitu Ibu pamit dulu ke yayasan," pamit Ariana pada ketiga wanita itu.


"Hati-hati Bu," ketiganya menyalami Ariana secara bergantian.


"Chole. Lina. Kalian yakin ingin kembali ke New York, hari ini?" tanya Ariana merasa kehilangan kedua wanita yang sudah menemani nya selama lima tahun ini.


"Iya sudah kalau begitu Ibu pamit,"


Chole dan Lina melambaikan tangan saat Ariana masuk kedalam mobil.


"Zion," panggil Lina.


Zion tersenyum. "Kenapa Lina?" tanyanya.


"Maaf kami tidak bisa menemani mu lebih lama disini," ucap Lina. Sebenarnya ia tak ingin berpisah dari Zion tapi karena ia anak tunggal ia harus kembali mengurus kedua orang tua nya di New York


"Ahh aku malah berterima kasih karena kalian sudah menemani aku selama lima tahun ini. Terima kasih sekali lagi," Zion memeluk kedua sahabat nya. "Aku berharap kalian bisa datang kesini lagi," Zion melepaskan pelukan nya.


"Ya semoga saja ada waktu kesini lagi. Aku sangat menyukai Indonesia," jawab Chole. "Andai bisa berlama-lama disini aku pasti jadi orang Indonesia sungguhan," ia menghela nafas panjang lalu terkekeh.


"Tidak akan terlihat seperti orang Indonesia Chole. Sekali pun kau menggunakan bahasa Indonesia. Wajahmu itu terlihat beda dari orang-orang pribumi," Lina ngakak.


"Sudah, ayo aku bantu kalian siapkan barang-barang," ajak Zion.

__ADS_1


"Ayo," ketiga wanita itu masuk kedalam kamar.


Indonesia adalah tempat persembunyian paling aman. Setelah ia menjadi salah satu buronan yang keberadaannya dicari. Ariana dan Felix memutuskan membawa Zion dan putranya ke Indonesia. Disini aman tidak ada peperangan atau sesuatu yang perlu ditakutkan.


"Aku akan merindukan kalian berdua," Zion memasukkan barang Lina kedalam koper.


"Hufhhhhhh," Lina bernafas panjang. "Aku juga. Ahh disini terlalu enak," ucap Lina. Ia sudah jatuh cinta dengan Indonesia.


"Kapan-kapan kan kita bisa kesini," sambung Chole sambil tersenyum.


Setelah membereskan barang-barang yang akan dibawa kembali ke New York, ketiga wanita itu memasukkan koper-koper nya kedalam bagasi mobil.


"Ayo," Zion masuk diikuti oleh Lina dan Chole.


Tak mudah bagi Zion melewati lima tahun hidupnya. Ia harus berperang dengan hatinya sendiri untuk tak selalu mengingat pria yang telah membuat ia hancur. Walau terkadang Zion ingin sekali bertemu Zoalva. Ia tak tahu kenapa ia begitu ingin bertemu dengan lelaki itu.


"Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi," pesan Lina sambil mengeluarkan barang-barang nya.


"Iya kalian tenang saja. Disini ada Kak Felix dan Ibu yang selalu menjaga ku," balas Zion. Ia senang kedua sahabatnya ini begitu peduli padanya.


"Ya sudah kalau begitu kami berangkat dulu," ketusnya memeluk Zion secara bergantian.


Zion melambaikan tangan nya saat Lina dan Chole masuk kedalam pesawat.


Zion menghela nafas panjang. Ia tersenyum ketika mampu melewati hidup yang tak mudah ini. Ia percaya segala yang terjadi ada maksud baik yang Tuhan mau genapi dalam hidupnya.


Sekarang ia bahagia memiliki Riley, sebagai kekuatan nya dalam menjalani hidup.


"Kak Vincent," Zion mencengkram dengan kuat stir mobil. "Terima kasih Kak. Berkat Kakak aku ada disini,"


Zion terpukul saat mengetahui lelaki yang sudah menyelamatkan nya ternyata mengorbankan hidup demi dirinya. Ia merasa bersalah. Namun ia yakin jika Vincent sudah tenang di alam sana.


Tak bisa Zion bayangkan jika saat itu Vincent tak menyerang markas Zoalva pasti hingga kini ia akan terjebak dengan lelaki yang membalaskan dendam padanya itu. Lebih tepatnya ia di jadikan balas dendam.


"Tidak Zion. Kau harus kuat. Demi Ray. Kau tidak boleh lemah," gumamnya menguatkan diri melalui ucapan yang keluar dari mulut nya. "Ray Mommy berjanji akan menjadi Ayah dan Ibu yang baik untuk mu. Mommy akan menjaga mu Nak. Kita akan hidup bahagia meski hanya berdua."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2