Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Pergi


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Zion membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa berat dan masih sakit. Pandangan nya juga masih kabur dan tidak jelas. Pantulan cahaya matahari malah memaksa nya bangun.


Mata gadis itu terbuka sempurna saat melihat sekeliling kamar yang terasa asing baginya. Ia terduduk dan mendapati dirinya berada disebuah kamar mewah yang disuguhkan langsung dengan pemandangan laut. Ditepi pantai banyak pohon kelapa yang berjejer rapih.


"Aku di mana?" gumam nya sambil menyimak selimut nya.


Ia turun dari ranjang dan hal pertama yang dia tuju adalah jendela yang transparan dengan fatamorgana keindahan alam. Gadis itu menatap dari jauh suara gemuruh ombak dan gelombang laut yang menenangkan seketika.


Tidak pernah ia melihat pantai sebagus ini. Tapi ini dimana, ia sama sekali tak mengenal tempat ini dan bahkan belum pernah ke tempat asing seperti ini?


"Ini dimana?" Zion menelisik kamar mewah ini. Kamar ini sangat besar dengan fasilitas lengkap.


Kaki munggilnya membawa nya menyisiri luas kamar. Entahlah, apakah sekarang ia berada di surga berbentuk rumah? Atau mungkin ini hanya roh nya, siapa tahu tubuhnya sudah di cabik-cabik oleh kejamnya ular sanca itu.


Zion menghela nafas panjang. Kaki nya masih berjalan untuk melihat-lihat kamar mewah ini. Ia menuju balkon kamar. Ia disuguhkan dengan sebuah taman yang terletak tidak jauh dari sana. Yalan yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang tumbuh memekar disana.


Senyum nya terbit di bibir nya. Sudah lama sekali senyum ini tak terterlihat. Hilang sejak ia menjadi budak lelaki itu. Tunggu, iya dimana lelaki itu.


"Apa aku masih berada di markas nya? Tapi markas nya tidak seperti ini?" gumamnya tampak berpikir keras.


Ia melangkah masuk kembalu kedalam kamar. Lalu memberanikan diri membuka handle pintu. Pintu kamar terbuka. Zion keluar dari kamar.


"Ini dimana sih?" tanyanya pada diri sendiri.


"Selamat pagi Nona," sapa beberapa wanita berseragam hitam dan putih serta rambut yang disanggul rapi.


"Pagi," balas Zion, keningnya berkerut heran melihat pelayan asing ini. "Maaf, ini di mana yaaaa?" tanya nya.


"Mari Nona, ikut kami. Tuan Muda sudah menunggu anda," ajak salah satunya sambil mengulurkan tangan dan mempersilahkan Zion mengikuti nya.


"Tuan?" kening nya masih berkerut heran. "Tuan siapa?" tangannya masih tak mengerti. Apakah Tuan kejam yang selalu menyiksa nya itu.

__ADS_1


"Mari Nona," para pelayan itu tak menjawab dan malah meminta Zion mengikuti mereka.


Zion berjalan sambil sesekali menoleh kearah para pelayan yang memantau nya dari belakang. Ia merasa tak nyaman di ikuti seperti ini. Serasa bahwa dirinya ratu saja.


Zion melihat seseorang yang sudah duduk dengan tenang sambil sarapan seorang diri di meja yang ukurannya memuat sepuluh sampai dua puluh orang.


Zion tak mengenal siapa pria itu. Itu bukan Zoalva atau lelaki yang selalu menyiksa nya selama ini.


"Selamat pagi Tuan, Nona sudah bangun," lapor salah satunya.


Lelaki itu mengangkat pandangan nya. Ia langsung tersenyum pada Zion yang menatap nya dengan bingung karena terpisah dari wajah gadis itu yang tampak kebingungan.


"Silahkan duduk Nona," ucap nya mempersilahkan.


Salah satu pelayan menarik kursi untuk Zion dan mempersilahkan wanita itu duduk.


"Terima kasih," Zion duduk dengan hati-hati. Ia belum cuci muka atau gosok gigi.


"Makanlah," ucap lelaki itu menawari.


"Tidak perlu Bik. Saya bisa ambil sendiri," tolak Zion saat salah satu pelayan itu ingin mengambilkan dia makanan.


"Tapi_"


Lelaki yang duduk disamping Zion menahan dengan tangan nya agar membiarkan wanita ini mengambil makanan sendiri.


Zion langsung mengambil banyak makanan. Ia begitu lapar. Jika bisa ia ingin dibantu makan agar perutnya yang terasa kosong cepat terisi kembali.


Lelaki itu meletakkan sendoknya. Ia menganggap dagu nya lalu menatap Zion yang makan dengan lahap bahkan tanpa sendok. Wanita ini seperti tidak makan selama tiga tahun saja.


Pelayan yang lain hanya tersenyum melihat cara Zion makan. Meski terkesan tidak sopan namun terlihat apa adanya tanpa menjaga image.


"Kau sangat lapar?" tanya lelaki itu sambil menunggak air dalam gelasnya.

__ADS_1


Zion mengangguk. "Aku sangat lapar Tuan. Entah berapa hari aku tidak makan, aku lupa. Terakhir aku makan, saat dimana ya...." Zion tampak terdiam sambil berpikir dengan mulutnya yang penuh makanan hal itu membuat ia terlihat imut dan menggemaskan di mata pria yang ada disampingnya. "Entahlah aku lupa Tuan," sambung Zion cenggesan.


"Makanlah yang banyak!" seru lelaki itu.


"Ohh tentu Tuan. Bila perlu aku ingin memakan dengan piringnya, sekalian," celetuk Zion.


Lelaki itu tertawa lebar mendengar ucapan Zion.


"Jangan tertawa Tuan, kau membuatku salah tingkah," goda Zion.


"Sudah. Jangan berbicara sambil makan," sergah lelaki itu.


Zion mengangguk dan kembali melanjutkan makanannya. Ahh ia merasa harus makan banyak untuk mengembalikan tenaga nya terasa habis selama beberapa hari ini. Apalagi makanan ini sangat enak dan pas di lidah nya.


Sang pria memberi kode kepada para pelayan agar meninggalkan mereka berdua. Ia ingin menemani Zion makan tanpa gangguan yang lainnya. Kecantikan Zion terlihat natural karena ia belum mandi dan belum gosok gigi.


"Tuan, makanan ini enak sekali. Ahh rasanya aku ingin makan ini setiap hari," Zion menyeruput mangkuk yang berisi sup kesukaan nya. "Kau tahu Tuan, ini adalah sup kesukaan ku. Kakak ku sering memasak ini untukku!" serunya. Ia terus berceloteh sambil makan. Kosa kata dikepala nya seolah tak habis.


Lelaki itu tersenyum gemes. "Kalau kau mau, kau bisa makan setiap hari atau setiap saat," ucap nya menatap gadis imut ini dengan senyuman manis.


"Wahh terima kasih Tuan. Kau baik hati sekali," goda Zion sambil mengerlingkan matanya jahil.


Lagi-lagi lelaki itu tertawa lepas tanpa beban. Seperti nya mulai sekarang Zion akan menjadi permata dalam hidupnya. Karena hanya wanita ini yang bisa membuatnya tertawa.


"Tuan, bolehkah aku coba kebab nya?" pinta Zion. Rasanya air liurnya ingin menetes melihat kebab-kebab segar itu.


"Ohh tentu boleh. Makan saja yang kau mau. Kalau kurang atau mau yang lain, pelayan bisa menyediakan nya untukmu," ucapnya sambil menawar.


"Hem, tidak Tuan, ini sudah cukup. Buat besok saja. Aku takut besok tidak makan lagi," jawab Zion sambil mengigit daging kebab itu.


Wajah sang pria langsung berubah masam. Apa ada sesuatu yang ia lewatkan tentang gadis kecil nya ini. Awas saja jika selama ini, gadis-nya melewati hal-hal sulit. Ia akan memberi perhitungan pada orang yang sudah membuat gadis nya dalam kesulitan.


"Tuan, kebab nya enak sekali. Rasanya pas di lidah. Aku ingin belajar resep nya," seru Zion.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2