
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Lina menyuapi Chole dengan sabar dan telaten. Kondisi Chole sudah mulai membaik. Ia sempat koma beberapa Minggu akibat tembakan yang mengenai dadanya.
Darwin dan John setiap hari menemani kedua gadis itu. Mereka seperti pengawal yang memastikan keselamatan tuan-nya.
"Tuan, di mana Tuan Nick?" tanya Chole.
Chole merasa Remnick dekat dengannya. Ketika dia koma, ia bisa rasakan jika lelaki itu mengenggam tangannya. Namun, saat dia bangun. Dia tak mendapati Remnick disampingnya. Apakah ia hanya bermimpi? Atau memang saat ini itu Remnick ada, hanya saja dia yang tidak sadar.
"Hem, dia sedang ada pekerjaan," jawab Darwin singkat.
Darwin tak suka saat Chole selalu menanyakan di mana Remnick. Tentu saja ia cemburu, karena Chole adalah wanita yang dia incar secara diam-diam. Lalu bagaimana bisa wanita incarannya itu menanyakan pria lain pasangan.
Chole mengangguk kecewa. Entah kenapa Chole tertarik dengan kepribadian Remnick yang sederhana dan terkesan dingin. Meski laki-laki itu jarang bicara. Namun itulah yang membuat Chole penasaran akan sifat Remnick.
"Susah, ayo lanjut makan," ucap Lina. "Ohh ya Chole, setelah kondisi mu membaik. Kita akan kembali ke Indonesia, Zion ingin bertemu," sambung Lina.
"Astaga, aku sampai lupa. Ahh aku rindu sekali pada Ray!" seru Chole.
Darwin dan John saling melihat. Apakah Zion yang di maksud oleh kedua gadis ini, sama dengan Zion yang mereka cari selama ini?
"Makanya cepat sembuh," seru Lina. "Minum dulu," sambil memberikan segelas air putih pada Chole.
Chole menunggak isi gelas yang diberikan oleh Lina hingga isinya tandas.
"Bagaimana keadaan mu? Apakah sudah lebih baik?" tanya Darwin lembut. Mata coklat Chole sungguh mampu menghipnotis dirinya. Tatapan damba ia lemparkan pada Chole. Pikiran nya sudah traveling kemana-mana. Membayangkan Chole mendesah dibawahnya.
"Aku sudah sehat Tuan," jawab Chole memaksakan senyum. "Tuan, bisakah Anda menelpon Tuan Nick, dan menyuruh nya datang kesini?" pinta Chole.
Senyum Darwin memudar. Selalu saja yang di tanyakan oleh Chole adalah Remnick. Apa wanita itu tidak bosan. Dan apa Chole tahu bahwa pertanyaan gadis itu membuat hatinya sakit dan patah. Harapannya untuk bisa bersama Chole seolah tenggelam oleh waktu.
"Iya," sahut Darwin menahan perih di hatinya.
__ADS_1
John hanya bisa menghela nafas panjang. Nasib mereka berdua sama. Menyukai seorang gadis yang sama sekali tidak memiliki perasaan apapun pada mereka. Harusnya sadar diri lebih baik. Dari pada berimajinasi terlalu tinggi, namun apalah daya hati tak bisa memilih untuk jatuh cinta pada siapa. Begitu lah yang sedang dirasakan oleh kedua pria tersebut.
"Lin, kapan kita berangkat ke Indonesia? Bagaimana kalau Minggu depan saja? Kebetulan Mommy dan Daddy juga sedang ada perjalanan bisnis ke Jepang. Jadi aku bisa beralasan pergi karena mereka tidak ada dirumah!" seru Chole.
"Baiklah. Aku akan menyuruh Ema mempersiapkan keberangkatan kita,"
Hari ini Chole sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Kondisi nya juga mulai membaik dan stabil. Namun untuk sementara dia tidak boleh banyak bergerak karena luka bekas operasi mengeluarkan peluru didalam tubuhnya belum benar-benar pulih.
Hampir dua Minggu Chole di rawat ke rumah sakit. Selama ini juga Remnick menjaga gadis itu secara diam-diam. Remnick tak mau salah paham karena ia tahu bahwa Darwin menyukai wanita itu. Dia tidak mau gara-gara wanita dan perasaan yang tak seharusnya ada persahabatan mereka jadi hancur.
.
.
.
Dor dor dor dor dor
Remnick dan Norton tengah mengeksekusi tawanan nya secara bergantian. Sesuai dengan perintah Zoalva agar memberikan hukuman mati bagi siapa saja yang mengkhianati nya.
"Giliran mu kawan," Norton memberikan pelatuk nya pada Remnick.
Remnick mengangguk, lalu mengambil alih untuk mengeksekusi kelima orang yang masih tersisa.
Penyiksaan yang mereka berikan tidak seperti dulu. Jika dulu Zoalva membunuh dengan memutilasi tangkapannya. Maka sekarang, cara dia membunuh orang-orang yang telah menghancurkan kepercayaan nya adalah dengan menembak jantung. Sekali tembak langsung putus dan meledak tidak di beri kesempatan untuk bernafas atau sekedar mengucapkan kata selamat tinggal.
Apalagi peluru itu menggandung racun mematikan. Apabila mengenai tubuh atau bagian kulit yang lainnya akan menyebabkan kelumpuhan.
Dor dor dor dor dor dor
Dengan lima kali tembakkan kelima orang itu tergeletak ditanah dalam keadaan tak bernyawa dengan darah yang keluar dari bagian jantungnya.
"Bereskan," titah Remnick.
__ADS_1
"Baik Tuan," sahut para anak buahnya melaksanakan perintah Remnick.
"Gadis itu meminta mu ke rumah sakit," ucap Norton sambil berjalan sejajar dengan Remnick dan melepaskan jas ditubuh nya
"Untuk apa?" tanya Remnick dingin.
"Ehem, kau masih tak paham?" Norton memutar bola matanya malas.
Remnick cuek saja sambil duduk di sofa. Dia bukan tak tahu apa maksud Chole. Hanya saja dia tidak mau bermain-main dengan hati. Apalagi Darwin menyukai Chole, bisa terjadi kesalahpahaman di antara mereka nanti nya.
"Apa kau tak ingin merespon gadis itu?" tanya Norton menatap Remnick yang memejamkan matanya sambil bersandar.
Remnick menggeleng, "Aku sama sekali tidak tertarik," kilah Remnick.
Norton menatap curiga kearah Remnick. Mustahil jika lelaki ini tak tertarik pada Chole. Apalagi Remnick lelaki normal.
"Kau tidak tertarik, atau memang memikirkan perasaan Darwin?" ucap Norton.
"Tidak dua-duanya," sahut Remnick santai
"Baiklah. Kau orang yang memang selalu bisa menyembunyikan perasaan," Norton menepuk pundak Remnick. "Aku kembali ke markas duluan. Ada beberapa senjata yang harus aku periksa," pamit Norton.
Remnick mengangguk. Lelaki yang satu ini memang kaku dan irit bicara. Sifatnya dingin seperti tak ada yang bisa menyentuhnya. Mau wanita secantik apapun dia sama sekali tak tertarik untuk menaruh hati.
Setelah kepergian Norton. Remnick menghela nafas panjang. Tanpa sadar lelaki itu tersenyum. Ia pria normal. Mustahil bila ia tak tertarik pada Chole. Hanya saja dia sadar siapa ia dan siapa gadis itu.
Remnick tak mau Chole tahu siapa dirinya. Dia adalah seorang mafia dan pembunuh. Pekerjaannya bukan pekerjaan yang baik dan mudah di tinggalkan. Ia merasa tak pantas bersanding dengan gadis sebaik Chole.
"Kau merindukan Girl?" ia terkekeh seperti orang gila.
Remnick berdiri dari duduknya dan menyambar ponselnya. Lalu ia keluar dari pelabuhan dan menghampiri mobil.
Mereka berbagi tugas. Remnick dan Norton menjaga pelabuhan. Sedangkan Darwin berjaga di markas dan John sibuk mengambil alih perusahaan Zoalva selama lelaki itu berada di Indonesia untuk melakukan perjalanan bisnis yang entah kapan akan selesai. Seperti nya Zoalva betah berada di Indonesia.
__ADS_1
Remnick masuk kedalam mobil. Lelaki itu menjalankan mobilnya meninggalkan pelabuhan. Tak mudah bagi Remnick menjalani hidup seperti ini. Bekerja sebagai seorang pembunuh, bukan ia tak takut jika suatu saat Tuhan memberikan hukuman padanya.
**Bersambung....... **