
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Tuan, ayo," Robin dan John memaksa tubuh Zoalva untuk meninggalkan tempat ini.
"Zion," lelaki itu masih menoleh kearah markas yang sudah hancur lebur tak berbentuk.
Markas ini menyimpan banyak kenangan dalam hidupnya. Disinilah dia tumbuh menjadi pria tangguh dan dewasa. Ia telah melewati segala hal yang paling sulit dimarkas ini setelah kehilangan Ayah dan sang Ibu.
Dan kini Zoalva menyadari satu hal. Ia ternyata benar-benar kehilangan semua hal baik dalam hidupnya. Yang menjadi bagian hidupnya lagi. Semua yang pernah ia jaga dengan baik, ternyata hanya kesia-siaan saja. Kini semua menjelma menjadi pergi dan tak kembali. Semua telah menjadi asing untuk hal-hal yang dia inginkan. Semua telah menjadi tertinggal dan tertanggal untuk sesuatu yang dengan susah payah dia tinggalkan. Hal-hal yang dengan sungguh ia perjuangan.
Baru saja ia tahu, jika gadis yang ia siksa dan menjadi tawanan nya bukan gadis bersalah. Baru saja ia ingin meminta maaf dan memperbaiki semua seperti sediakala. Baru saja ia ingin mengatakan kata maaf pada gadis yang sudah dia renggut dengan paksa keperawanan nya.
Kini semua itu tak lagi menjadi bagian apa pun dari dirinya. Selain, kenangan sedih yang masih melekat dihatinya. Atau ia biarkan berlalu bersama terbunuhnya rindu.
"San," Zoalva menangis lagi mengingat hewan buas peliharaan nya itu. "Maafkan aku San. Maafkan aku. Harusnya aku menjaga mu hingga akhir. Tapi aku gagal San. Aku gagal," ia beberapa kali memukul kepalanya.
"Hentikan Zo," cegat John.
"Bagaimana aku bisa berhenti John? Aku kehilangan mereka. Aku kehilangan San dan Zion," teriak Zoalva sambil mencengkram kuat kerah baju John.
"Aku tahu dan kau tidak perlu mengatakan itu," bentak John menatap Zoalva marah. "Bukankah kau sendiri yang menginginkan kematian gadis itu. Kau menyiksa nya tanpa ampun. Kau mengambil kesucian nya. Kau memaksanya sebagai pemuas nafsu. Kenapa sekarang kau merasa kehilangan, harusnya kau merayakan kemenangan mu malam ini bukan malah menangisi seseorang yang takkan mungkin kembali karena ulahku sendiri,' John keluar dari mobil sambil membanting pintu mobil dengan kuat.
John marah. John kecewa. Zoalva adalah iblis yang menjelma menjadi manusia. Ia tak menggunakan perasaan sama sekali. Harusnya, ia tak menyiksa Zion seperti itu, memasukkan gadis itu kedalam kandang ular raksasa. Jelas tubuhnya akan dicabik habis-habisan atau ditelan hidup-hidup.
"Arghhh brengsekkkk," pekik John menendang apa saja yang ada didepannya.
John teringat kembali pada wajah sendu Zion ketika ia memberikan gadis itu makan. Betapa senangnya gadis itu ketika John masuk kedalam jeruji besinya. Senyuman sumringah dan menggembang ia tampilkan menyambut kedatangan John ditengah katakutannya.
"Zo, kau benar-benar orang jahat. Bagaimana bisa kau tega memaksa gadis itu masuk kedalam kandang San," teriak John menggema menyusuri jalanan kota New York yang dipenuhi kabut salju yang memenuhi jalanan.
__ADS_1
Mereka kembali ke New York. Markas kedua Zoalva memang terletak ditengah-tengah kota. Para munsuh tak bisa mengelabui Markas tersebut. Sementara markas yang terletak ditengah hutan seketika di ratakan dengan tanah.
"Seperti nya aku butuh asupan," ujar John mengusar wajah frustasi nya.
Ia tahu jika Zion adalah gadis yang baik. John sudah berniat menyelamatkan Zion dan membujuk Zoalva agar tak menghukum gadis itu. Namun sekarang terlambat. Zion pergi entah kemana? Bisa jadi meledak didalam perut San. Atau gadis itu dibawa kabur oleh penyusup yang menyerang markas mereka.
.
.
.
Ucapan John bagai sambaran petir disiang bolong tepat mengenai ulu hatinya dan terasa meledak bersama Markasnya yang rata dengan tanah.
Benarkah dari awal ia menginginkan kematian gadis itu? Tapi sungguh itu hanya gertakkan. Sedangkan memasukkan Zion kedalam kandang San karena Zoalva tahu bahwa San takkan mungkin melahap gadis itu. San bukan ular liat yang sembarangan melahap mangsanya. Ia sudah merawat ular itu selama belasan tahun.
Robin melirik sejenak Zoalva yang tampak lusuh dibelakang. Penampilan nya berantakkan. Tubuhnya bau dan tak terurus. Apalagi tadi dia memeluk tubuh San yang berlumuran dengan darah, sudah pasti akan menyebabkan bau yang menyengat dan amis.
"Maafkan aku Zion," lirihnya dengan lelehan bening yang lolos dipelupuk matanya.
Zoalva masih ingat dengan tatapan rapuh Zion saat ia mengambil mahkotanya. Beberapa kali gadis itu memaksa dia untuk membunuh nya agar semua rasa sakit dan penderitaan nya hilang bersama kematian.
Semakin ia ingat semua kejahatan yang pernah ia lakukan kepada Zion, semakin luka terasa menyayat di dada. Ia benar-benar tak mampu lagi menahan sesak yang menghantam dada. Luka yang begitu pedih seorang menajamkan rindu yang dulu tak pernah ia miliki. Sekarang Zoalva menyesali apa yang pernah ia perbuat. Untuk melupakan kesalahan itu, Zoalva takkan bisa. Ia berjanji dalam hidupnya akan menemukan Zion dan mengembalikan gadis itu kedalam pelukannya.
Zion adalah miliknya. Selama nya akan begitu. Ia akan cari siapa dalang dibalik kekacauan ini. Ia akan hancurkan orang itu dan mengambil kembali Zion kedalam dekapannya.
Tangan Zoalva mengepal kuat. Rahangnya mengeras dan wajah merah padam. Ia yakin, ini bukan ulah orang sembarangan, sebab tak ada yang bisa menembus markas tersebut jika tidak ad orang dalam. Zoalva mencurigai orang-orang didekatnya.
Sampai dikediaman nya, Zoalva langsung turun. Jika biasanya wajahnya dingin dan sanggar. Namun sekarang yang terlihat hanyalah kerapuhan dan kehancuran. Tak pernah ia sehancur ini dan hidupnya bahkan saat kepergian kedua orang tuanya.
__ADS_1
Tapi kali ini hidup Zoalva terasa hampa. Ia bahkan tak memiliki hobby lagi untuk membunuh. Biasanya dalam keadaan hancur dan patah, ia akan membunuh sampai hatinya merasa puas
"Selamat datang Tuan Muda," sapa para pengawal dan pelayan yang berjaga didepan pintu masuk.
Ia tak menjawab. Ia berjalan dengan tatapan kosong dan hampa. Setelah ini ia tidak tahu akan seperti apa hidupnya.
"Robin," panggil nya terhenti.
"Iya Tuan Muda," sahut Robin membungkuk hormat
"Cari dalang dibalik semua ini. Hubungi Darwin, Remnick dan Norton. Kerahkan semua anak buah untuk berjaga dipelabuhan," titah nya tampak lelah.
"Baik Tuan Muda," ucap Robin.
Zoalva melenggang masuk kedalam kamarnya. Ia bahkan sudah tak peduli dengan penampilan hancurnya.
Bersambung...
Jangan lupa like komen dan vote ya guys...
Jika ada saran dan masukkan kalian boleh coret-coret dibawah...
Yuk yang mau kenal author lebih dekat. Kepoin akun medos author...
FB ; Fitriani Yuri Kwon (FB baru yang profilnya penulis Noveltoon (
IG : _fitrianiyurikwon_ (Tolong ramaikan karena belum ada pengikut nya)
Sekali lagi terima kasih buat kalian yang masih setia menunggu kisah nya Zoalva dan Zion.
__ADS_1