
Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡
"Son," panggil Zion pada putranya. Namun Riley malah memalingkan wajah nya.
Sepanjang perjalanan Ibu dan anak itu tak saling bicara. Riley yang memang keras kepala. Masih saja keukeh ingin bertemu dengan Daddy nya. Ia penasaran seperti apa wajah Ayah nya.
Pikiran anak kecil seperti nya hanya ingin memiliki orang tua lengkap seperti yang lain. Meski Zion sudah jelaskan bahwa ia dan Zoalva tidak ada ikatan pernikahan. Kehadiran Riley hanya karena keegoisan Zoalva yang memaksanya melayani lelaki bajingan itu. Zion bahkan tak memiliki perasaan apapun pada Zoalva selain perasaan benci dan kecewa karena lelaki itu telah menjadi penyebab dari segala penderitaan nya.
"Son, masih marah?" Zion melirik anaknya.
"Ehem," Riley hanya berdehem sambil melipat kedua tangannya didada.
Zion terkekeh pelan. Duplikat Zoalva tak hilang dari wajah putranya. Sifatnya. Keras kepalanya dan wajahnya. Beginilah Zoalva kalau lagi marah dan merajuk. Ia takkan bicara selain berdiam diri tanpa ucapan apapun.
"Maafkan Mommy yaaa," tangannya terulur mengusap kepala Riley. Sedangkan tangan yang satu masih sibuk menyetir. "Jangan cemberut begitu dong, nanti tampannya hilang," Zion terkekeh.
"Mommy," Riley menatap Zion berkaca-kaca. Ia tak bisa marah lama pada Ibunya ini. "Apa salah, jika Ray ingin bertemu Daddy?" tanyanya.
"Son, nanti kita bahas dirumah yaa," pinta Zion. Ia harus menenangkan hatinya dulu baru bisa membahas tentang lelaki itu.
"Ayo Mommy, cepat," Riley menarik tangan Zion agar wanita itu segera masuk. Ia tak sabar jawaban sang Ibu.
"Sabar Sayang," Zion menggeleng saja.
"Cucu Oma, baru pulang," sambut Ariana.
"Oma," Riley melepaskan tangan Zion dan berlari kearah Ariana. "Aduhh berat sekali cucu Oma ini," sambil mengangkat tubuh Riley.
"Iya dong Oma. Kan Ray sudah besar," serunya dengan semangat. "Oma, Ray ingin bertemu Daddy. Tapi Mommy..." Riley menunduk. Ia menahan lelehan bening di pelupuk matanya.
"Bu, ajak Ray duduk dulu. Aku ingin bicara dengannya," ucap Zion.
"Iya Nak," Ariana mengajak bocah itu duduk disoffa ruang tamu mereka.
"Son, sini Sayang," Zion melambaikan tangannya agar Riley mendekat kearah nya.
__ADS_1
"Iya Mommy," lelaki kecil itu menurut.
"Ray," Zion mengusap rambut putranya dengan lembut. "Apa yang membuat Ray ingin bertemu Daddy?" tanya nya lembut.
"Ray ingin melihat wajah Daddy Mom. Ray penasaran Daddy seperti apa," jawab Riley. Ia sudah membayangkan hidupnya akan bahagia jika memiliki orang tua yang lengkap. Meski Felix bisa memberi nya kasih sayang seperti Ayah kandung namun tetap perasaanya berbeda.
Zion menghela nafas panjang. Lalu ia melihat kearah Ariana yang tersenyum sambil mengangguk. Bagaimana pun ia mencoba lari dari kenyataan hidupnya. Ia tak bisa menolak jika tiba waktu pertemuan itu terjadi. Seperti percakapan nya dengan Ariana tempo hari bahwa Zoalva lambat laun akan menemukan keberadaan mereka.
"Selamat sore anak Ayah," sapa Felix masuk sambil membawa kantong kresek ditangannya sehingga membuyarkan percakapan ketiga orang itu.
"Ayah," seru Riley berdiri.
"Haiii Son. Lihat Ayah bawa apa?" Felix menunjukkan kantong di tangannya.
"Apa ini Ayah?" Riley mengambil kantong itu dan membuka isinya. "Es cream," serunya.
"Makanlah Son,"
"Terima kasih Ayah," sambil mengecup pipi Felix.
"Sama-sama jagoan Ayah," Felix mengacak rambut Riley dengan gemes. Lelaki kecil itu masih memakai seragam sekolah nya.
"Ayah, enak sekali. Ray suka," serunya menjilat es cream yang dibelikan oleh Felix tadi.
"Iya Son. Tapi tidak boleh terlalu banyak yaaaa," timpalnya.
"Iya Ayah," ucap Riley sambil menikmati es cream nya
"Nona, malam ini ada peresmian perusahaan baru Adijaya Group. Anda di undang untuk hadir sebagai perwakilan dari Kaminski Corp," jelas Felix.
"Harus yaa Kak?" Zion menghela nafas panjang. "Apa tidak bisa diwakilkan oleh Kakak saja?"
Felix tersenyum. "Tidak bisa Nona. Anda tidak perlu khawatir, saya akan menemani anda. Tuan Kecil, juga boleh ikut bersama kita," sambung Felix
Seluruh asset kekayaan Vincent di pindahkan atas nama Zion. Namun wanita itu malah menolak harusnya warisan Vincent di berikan pada Ariana selaku Ibu angkat Vincent. Makanya Zion sama sekali tidak mau terlibat dalam mengurus perusahaan, ia menyerahkan sepenuhnya masalah perusahaan pada Felix dan kadang juga di bantu oleh Ariana. Ia paling benci pertemuan. Entahlah, trauma masa lalu membuat nya sedikit berhati-hati melihat dunia luar.
__ADS_1
"Pergi lah Nak. Sesekali tidak apa," Ariana mengusap bahu Zion.
Zion mengangguk. Mau menolak juga percuma. Sebenarnya ia memang harus turun tangan mengurus perusahaan itu kasihan Felix dan Ariana yang terus bekerja keras agar perusahaan nya berkembang
"Seperti nya aku juga harus turun tangan mengurus perusahaan Bu, Kak," Zion mendesah pelan. Terpaksa, ini demi masa depan Riley.
Felix tersenyum mengangguk. "Saya akan bantu Nona. Anda tidak perlu khawatir. Semua akan baik-baik saja," ucap Felix.
"Son, ayo mandi," Felix mengangkat tubuh Riley. "Huh, bau asem," ia berpura-pura menutup hidungnya. Padahal mau tidak mandi pun, Riley tetap wangi.
"Masih wangi kok Ayah," Riley menciumi baju nya.
"Hehehe Ayah bercanda. Ayo mandi," Felix membawa lelaki kecil itu masuk kedalam kamarnya. Felix memang kadang mengurus keperluan Riley membantu Zion. Karena Zion tak pernah memakai jasa babysiter untuk membantu mengurus putranya. Ia tak mau anak semata wayangnya itu malah kekurangan kasih sayang.
Zion bernafas panjang. Ia kadang bingung memilih antara ia dan anaknya. Jika boleh egois, Zion sama sekali tak mau membahas tentang lelaki itu. Namun Riley masih terus menanyakan tentang Ayahnya.
"Bu," Zion mendesah pelan.
"Iya Nak. Kenapa?" Ariana tersimpul.
"Apa aku Ibu yang jahat?" tanyanya. Matanya berkaca-kaca. Ia merasa gagal menjadi seorang Ibu. Karena jika ia berhasil membahagiakan anak nya pasti Riley takkan mencari sang Ayah.
Ariana menggeleng. "Tidak Nak. Kau Ibu terbaik bagi Riley. Jangan berkata begitu," ucap Ariana.
"Tapi Bu, aku takut jika nanti pertemuan ku dengan pria itu malah membuat Riley meninggalkanku Bu," ujar Zion. Ia memang khawatir jika nanti Riley malah memilih Ayah kandungnya dari pada sang Ibu.
"Ray tidak begitu. Percaya pada Ibu, dia hanya penasaran seperti apa wajah Ayah nya," jelas Ariana. "Sudah jangan bersedih. Sebaiknya mandi dan bersihkan dirimu. Ibu akan siapkan makan malam untuk kita," ujar Ariana.
"Iya Bu,"
Zion menuju kamarnya dan membersihkan diri. Hari ini terlalu banyak emosi yang dia keluarkan.
"Maafkan Mommy Nak," Zion menyesal telah membentak Riley tadi. Ia tak bisa menahan emosinya.
"Tak seharusnya aku membentak Ray tadi," ucap Zion penuh penyesalan.
__ADS_1
Wanita itu sejenak membaringkan tubuh nya di kasur king size miliknya. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong. Rekaman kejadian lima tahun yang selalu terekam jelas di kepalanya. Ia mencoba melupakan segala kesakitan yang pernah ia rasakan. Namun sekeras apapun ia berusaha, ia tetap tak bisa melupakan segalanya dengan begitu mudah.
Bersambung...