
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Zion bersiap-siap mengantar anaknya ke sekolah. Hari ini ia sendiri yang akan mengantar Riley. Sebab Felix sedang mengurus beberapa masalah tentang perusahaan Vincent yang ada di Indonesia.
Felix yang ambil alih dalam menangani perusahaan Vincent. Semua asset kekayaan Vincent ia yang urus di bantu oleh Ariana dan beberapa orang dalam suruhan Vincent sebelum ia meninggal.
"Jangan lupa dimakan ya Nak," Zion menenteng tas kecil tempat kotak nasi putranya.
"Iya Mom," sahut Riley patuh.
"Ayo,"
Anak dan Ibu itu masuk kedalam mobil. Zion memang tak biasa menggunakan jasa supir pribadi. Kemana-mana ia selalu sendiri.
"Mom," panggil Riley.
"Iya Sayang. Kenapa?" tanyanya melirik putranya
"Apa kita tidak bisa bertemu Daddy Mom?" pinta Riley penuh harap. Ia penasaran seperti apa Daddy nya itu. Benarkah Daddy nya mafia seperti film-film Holywood yang dia tonton.
Zion memejamkan matanya menahan emosi. Jangan sampai ia marah pada anaknya. Anak kecil pikiran mereka selalu sensitif sekali saja salah bicara. Ia bisa menangis.
"Ray, sudah berapa kali Mommy katakan. Jangan pernah bermimpi untuk bertemu Daddy. Karena Mommy tidak akan pernah bertemu dengannya lagi. Kau paham?" ucap Zion penuh penekanan agar anaknya paham.
"Tapi kenapa Mom?" mata Riley berkaca-kaca.
Mobil Zion terhenti tepat didepan sekolah Riley.
"Karena Mommy tidak mau bertemu dengannya," jawab Zion tanpa melihat anaknya. Pipi nya mulai panas menahan lelehan bening.
"Hiks hiks Mom. Ray ingin bertemu Daddy. Ray ingin peluk Daddy, Mom," renggeknya menangis.
"Ray stop," bentak Zion memukul stir mobil. "Kau harus paham bahwa kita tidak akan pernah bertemu Daddy. Tidak akan pernah Ray. Kau harus paham itu," sentak Zion.
"Mom," Riley terkejut saat wanita itu membentak dan meneriakinya.
Zion langsung tersadar saat melihat anaknya menangis.
"Son ma_"
"Mommy, jahat," pria kecil itu langsung membuka pintu mobil dan keluar.
"Ray," Zion menyusul putranya.
__ADS_1
Namun Riley berjalan masuk kedalam gerbang sekolah tanpa mau menjawab panggilan sang Mommy.
Badan Zion melemah. Wanita itu bersandar di mobil. Ia memejamkan matanya sejenak. Entahlah, ia tak bisa membahas Zoalva. Dalam hidupnya ia benar-benar tak ingin bertemu Zoalva lagi apapun alasannya. Ia tidak mau.
"Maafkan Mommy Son," ucap Zion penuh penyesalan. "Tidak seharusnya Mommy menbentakmu. Mommy hanya...." Zion menggeleng dan tak mampu melanjutkan kata-kata nya. Ia menyeka air matanya dengan kasar.
"Huffhhhh,"
Sudah beberapa hari ini dia dan Riley sering bertengkar jika membahas tentang Zoalva. Zion tak sanggup membahas pria itu. Tapi putranya masih saja ingin mengetahui keberadaan Ayah nya. Padahal sudah di jelaskan berulang kali bahwa Zion takkan pernah bertemu dengan lelaki itu lagi.
Zion kembali masuk kedalam mobilnya. Sesekali wanita itu menoleh kearah gerbang sekolah Riley. Barang kali anaknya itu mau kembali atau sekedar menghirup menatapnya. Zion tidak tahu kenapa Riley ingin sekali bertemu Ayah nya. Padahal Felix sudah memberikan kasih sayang penuh pada Riley.
"Maafkan Mommy, Son," ucapnya sebelum akhirnya menjalankan mobilnya.
Riley adalah satu-satunya alasan Zion bertahan hidup ditengah kekejaman dunia ini. Hidup di negeri orang asing tidak lah mudah. Ia harus belajar berinteraksi tata krama dan kehidupan yang jelas jauh berbeda dari negara asalnya. Semua itu Zion lalui dengan tetesan air mata. Dan Zion tak ingin lagi mengingat lelaki yang sudah membuat nya ada pada titik ini. Ia ingin melupakan semua rasa sakit itu. Tapi Riley masih saja membahasnya dan keukeh ingin bertemu dengan pria yang jelas-jelas tak menginginkan kehadiran nya.
.
.
.
"Tangkapan baru kita," ucap Norton sambil mendorong dua pria hingga keduanya tersungkur ditanah.
"Berani juga," sambung Remnick.
Ketiga orang itu ditugaskan untuk menjaga markas dan pelabuhan selama Zoalva ke Indonesia dalam perjalanan bisnis serta misi mencari keberadaan gadis-nya.
"Apa kau akan membunuhnya?" tanya Norton saat melihat Darwin mengusap belati ditangannya.
"Yup. Mumpung Tuan Zoalva tidak ada. Jadi aku ingin mencoba membunuh dulu, siapa tahu menyenangkan," Darwin tertawa lebar.
"Seperti berani saja," Cibir Remnick.
"Jangan merendahkan ku kawan," sahut Darwin.
"Ck, mau apa?" John datang menghampiri mereka bertiga. John ditugaskan untuk menjaga perusahaan selama Zoalva tidak ada di New York.
"Kau menganggu saja John," Darwin memutar bola matanya malas.
"Ingat jangan membunuh sebelum Tuan Zoalva yang menyuruh," ucap John memperingati.
Pernah mereka asal membunuh tanpa sepengetahuan Zoalva. Dan ketika pria itu tahu mereka berempat malah dihukum habis-habisan karena ulah Darwin yang nakal.
__ADS_1
Darwin mendengus kesal. Padahal dia sudah membayangkan membelah perut kedua pria yang ada didepannya. Lalu memasak hari dan jantung setelah itu memberikannya pada ikat dilaut.
"Aku berikan hukuman singkat saja. Aku tidak akan membunuhnya," ucap Darwin beralasan. Ia penasaran bagaimana rasanya membunuh orang dengan darah seperti yang sering Zoalva lakukan dulu.
"Kau seperti orang haus darah?" John mendelik menatap Darwin jijik.
"Seperti yang kau katakan," Darwin berdiri dari duduknya sambil memegang pisau ditangannya.
Lelaki itu meniru kebiasaan Zoalva saat hendak membunuh.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Darwin menatap keduanya dengan tatapan nyalang.
Sedangkan John, Remnick dan Norton geleng-geleng kepala. Darwin memang sangat nakal. Namun tak bisa dipungkiri jika lelaki itu memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi.
"Ma-maaf Tuan," jawab salah satu nya dengan keringat dingin yang mengucur dipelipisnya
"Ehem," Darwin memainkan belati di diwajah salah satunya persis seperti yang selalu dilakukan oleh Zoalva.
"Kau tahu kan apa akibatnya jika berani masuk ke daerah kekuasaan ku?" ucapnya mengelus-eluskan belati itu ke wajah sang pria yang sudah setengah mati menahan takut.
Badan kedua nya bergetar ditempatnya. Bahkan tanpa sadar yang satu sampai kencing di celana nya saking takutnya.
"Cihhh menjijikkan," Darwin menendang yang kencing di celananya. "Kalau mau kencing itu bilang-bilang," ketusnya
Sedangkan John, Remnick dan Norton menahan tawa. Apalagi bau kencing lelaki itu tersiur kemana-mana.
"Kau... Cepat katakan siapa yang menyuruhmu?" tatapan Darwin tajam
"Ampuni saya Tuan. Saya mohon jangan bunuh saya," mohon yang satunya dengan wajah pucat.
"Kalau kau mengatakan siapa yang menyuruhmu, mungkin aku akan memberikan toleransi," ucap Darwin tersenyum miring.
"S-saya di-di suruh Tuan Barry Schwartz, Tuan,"
"Barry Schwartz?" gumam John, Remnick dan Norton bersamaan.
"Siapa Barry?" Darwin melihat ketiga sahabat nya. "Aku baru pertama kali mendengar nya? Apa dia munsuh baru Tuan Zoalva?"
John, Remnick dan Norton juga tampak berpikir. Nama itu asing mereka belum pernah dengar sebelumnya.
"Di mana dia sekarang?" tanya Darwin menatap lelaki itu tajam. Awalnya tadi iseng-iseng tapi sekarang ia tampak marah.
"Indonesia,"
__ADS_1
Bersambung...