
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Zion masih menatap bingung Zevanya dan Zie yang sudah duduk di sofa sambil menikmati cemilan yang disediakan. Kedua wanita ini malah asyik makan.
Begitu juga dengan Felix. Ia malah menatap aneh Zevanya dan Zie. Apa kedua wanita ini tak malu sama sekali saat makan dengan cara seperti itu.
"Kak, kalian siapa yaaa?" tanya Zion.
"Tunggu sebentar Zion. Aku habiskan makanan ini dulu," Zevanya menahan Zion dengan tangannya. Wanita tiga anak ini memang sangat hobby makan. Baginya makan adalah cara mengekspresikan diri terhadap karya otak lain.
Zie mengusap perut nya. Lumayan, sebelum bereaksi dirinya mengisis daya dulu. Begitu juga dengan Zevanya. Meski keduanya hobby makan tapi aneh nya tubuh mereka tidak melar atau gemuk seperti wanita yang selesai melahirkan pada umumnya.
"Zion, perkenalkan saya Zevanya. Sepupu nya Zoalva. Dan ini adik ipar saya suaminya Casanova, bernama Grabielle _"
"Kak," Zie merenggut kesal. "Hubby itu dulu saja yang Cassanova sekarang sudah tidak lagi," ketus Zie membela suaminya. Dulu memang suaminya itu suka celap-celup segala lobang tapi sekarang suaminya adalah pria yang takut istri.
"Ck, kau ini. Kakak belum selesai bicara kau main potong-potong saja," protes Zevanya.
"Iya. Tapi Kakak bilang Hubby Cassanova," cemberut Zie. Wanita ini sedang hamil dengan usia kandungan 4 Minggu, jadi dia sedikit sensitif.
"Terserah mu," ketus Zevanya. "Kau dan Bielle sama saja. Sama-sama tidak waras," ucap Zevanya dengan kesalnya.
Felix dan Zion malah mendengar perdebatan kedua manusia didepan mereka. Masalah begitu saja bisa mereka perdebatkan. Sungguh diluar nalar.
"Zion, intinya kami adalah Kakak ipar mu," ucap Zevanya. "Walau kami tahu, kau dan Al belum menikah," jelas Zevanya.
Zion terkejut dari mana kedua wanita ini tahu jika dia belum menikah dengan Zoalva. Perasaan yang tahu siapa Zoalva hanya dirinya dan kedua sahabat nya serta Felix dan Ariana. Lalu wanita ini, Zion bahkan tak kenal sama sekali.
"Kak dari mana kalian tahu tentang aku?" tanya Zion bingung.
Zevanya tersenyum simpul. "Kami bahkan tahu siapa kau Zion. Kami tahu kau berasal dari mana. Kami tahu kau bersembunyi di Indonesia," jelas Zevanya. "Tapi tidak usah takut. Kami tidak ada niat jahat. Kami hanya ingin melindungi mu dan Riley," sambung Zevanya.
Zion semakin terkejut saat Zevanya menyebut nama putranya begitu juga dengan Felix. Benar-benar mencurigakan.
"Kedatangan kami kesini, untuk meminta agar kau segera tinggal bersama Zoalva. Kemungkinan besar akan ada hal berbahaya yang terjadi. Kami tidak mau kau kenapa-kenapa," jelas Zevanya lagi menatap Zion serius. "Zion, Kakak tahu kau masih trauma atas perbuatan Al. Tapi percaya lah sekarang dia sudah berubah. Dia berubah karena kau. Dia ingin kau dan Riley bahagia. Berikan dia kesempatan sekali lagi untuk memperbaiki kesalahannya," sambung Zevanya.
"Iya Zion. Apa yang di katakan Kak Zeva itu benar," Zie ikut menimpali.
__ADS_1
Zion tampak terdiam sejenak. Tinggal bersama Zoalva, hal itu sama sekali tidak ada didalam pikiran nya.
"Nona, apa yang mereka katakan benar. Sebaik nya Nona kembali saja pada Tuan Zoalva," ucap Felix sambil tersenyum. Meski sebenarnya hatinya sakit sekali mengucapkan kata-kata itu.
"Kak, aku_"
"Ini hanya masalah waktu Nona. Percayalah suatu saat nanti, Nona akan bisa memaafkan semua kesalahan Tuan," ujar Felix berusaha menyakinkan Zion bahwa semua akan baik-baik saja.
"Begini saja Zion. Jika kau masih belum bisa menerima Al. Untuk sementara tinggal lah bersama kami di Mansion. Disana aman," saran Zevanya.
Zevanya paham perasaan Zion. Pasti menjadi wanita ini tidak lah mudah. Apalagi Zion melewati masa-masa sulitnya sendirian. Untung ada Felix yang selalu setia menemani nya.
"Maaf Kak. Aku tidak bisa," tolak Zion.
Zevanya dan Zie menghembus nafas kasar. Ternyata tidak mudah merayu Zion. Wanita ini ternyata sangat keras kepala sekali.
"Zion, ini demi Riley Zion," Zevanya menangkup kedua tangannya didada. "Kasihanilah anakmu," sambungnya.
.
.
"Mommy, ini rumah siapa?" tanya Riley heran.
"Ray, mulai sekarang ini rumah Ray juga yaaa," seru Zie. "Nanti Riley bisa bermain dengan Kak Gerald, Kak triple L," ucap nya.
Felix dan Ariana juga ikut pindah, seperti yang Zevanya katakan kemungkinan akan ada serangan yang terjadi pada mereka. Bisa saja munsuh Zoalava menyerang mereka.
"Ayo masuk,"
Mereka masuk kedalam. Mansion mewah ini milik Fillipo. Mansion yang terdiri dari 2 ha persegi ini terlihat mencolok dari bangunan lainnya. Tidak hanya mewah dan besar tapi juga memiliki tatanan yang rapi serta taman indah didepannya.
Riley tersenyum senang melihat mansion mewah itu. Ini sangat mewah dari rumahnya. Taman bermainnya juga luas.
"Sayang,"
Myron dan Grabielle langsung menyambut para istri mereka. Seharian keduanya uring-uringan menunggu kedatangan para istri mereka.
__ADS_1
"Kau baik-baik saja?" Grabielle mengusap perut rata istrinya. "Aku baik-baik saja Bby," jawab Zie tersenyum simpul.
Zion ikut tersenyum melihat betapa cintanya Myron dan Grabielle pada istri mereka. Sedangkan dia, miris sekali hidupnya. Ia tak pernah dicintai. Hidupnya selalu menjadi incaran balas dendam. Tidak dianggap dan dikatakan pembawa sial.
"Kak, ini Zion," ucap Zevanya
"Zion Kak," Zion menyalami kedua pria itu. "Ini putraku, Riley," ucap Zion memperkenalkan Riley pada Myron dan Grabielle.
"Riley, Uncle," ucap Filek memperkenalkan dirinya.
"Selamat datang ya Son," Myron mengusap kepala Riley.
"Ayo masuk," ajak Myron
Suasana mansion Fillipo menjadi ramai. Ketiga anak kembar Zevanya menyambut dengan girang kedatangan Riley. Begitu juga dengan Gerald yang berusia tujuh tahun. Ia tampak senang mendapatkan kawan baru.
"Felix," panggil Grabielle.
"Iya Tuan," Felix sedikit canggung saat lelaki ini mengenal nya.
"Mari ikut kami," ajak Grabielle.
Zion tersenyum senang ketika anaknya disambut dengan suka cita. Selama ini, Riley tidak memiliki satu teman pun kecuali Dicky dan Rino, itu pun disekolah.
"Kak, terima kasih yaaa," ucap Zion.
"Sama-sama Zion. Kita adalah keluarga," sahut Zevanya. "Kau tak ingin bertemu Al?" Zevanya menatap Zion dengan selidik.
Zion malah terdiam. Wanita itu mengigit bibir bawahnya. Ia merasa hatinya tak baik-baik saja saat menyebut nama pria itu.
"Kak, maaf," Zion menunduk. "Aku belum siap Kak. Aku, aku takut," ungkap Zion.
Zevanya tersenyum. "Jangan takut Zion. Al tidak seperti yang kau pikirkan. Tapi jika kau belum siap tidak apa-apa. Jangan khawatir disini kau akan aman," ujar Zevanya mengusap lengan Zion.
"Iya Zion. Anggap saja ini rumah sendiri yaaa. Jangan sungkan yaaa,"
Bersambung...
__ADS_1