Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Mencari pekerjaan


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Selamat Pagi, Saya Khirani Dhara Maharani. Peserta interview yang akan mengikuti seleksi." ucapnya sopan. Dhara membungkukkan badan menyapa dua orang resepsionis yang berjaga.


Resepsionis cantik, Sasmita. Begitulah nama yang tertulis dalam name tag yang menggantung dibagian depan bajunya. "Mari, Saya antarkan ke ruangan interview." mempersilahkan Dhara untuk mengikutinya. Ia membawanya ke lantai 3, memberi arahan untuknya menemukan tempat seleksi diadakan.


"Terima kasih." Dhara menundukkan kepalanya sedikit, berterima kasih, sebagai orang asing, ia diperlakukan dengan sopan dan hormat. Sasmita hanya tersenyum, kembali ketempatnya berkerja.


"Ternyata banyak sekali orang yang melamar pekerjaan disini." gumam Dhara. Sambil menunggu giliran, ia mendaratkan tubuhnya dikursi tunggu. Dimana peserta lain juga sedang menunggu giliran mereka.


Sekitar 25 orang yang mengikuti seleksi. Kini giliran Dhara untuk memasuki ruangan. Ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti seleksi kerja yang begitu formal. Nervous, tentu saja. Tetapi ia melangkah dengan percaya diri. Ia harus yakin akan kemampuannya sendiri.


Mengetuk pintu tiga kali, Dhara memasuki ruangan yang berhawa dingin. Ia dihadapkan pada tiga orang penyeleksi di dalam ruangan itu. "Selamat Pagi, Saya Khiran." ucapnya tegas, namun masih terdengar sopan.


"Silahkan duduk." Khiran menurut, ia meletakkan kedua tangannya dipangkuannya. Duduk tegap dengan pandangan kedepan. Sesuai yang dipelajari semalam.


"Perkenalkan nama kamu."


"Nama Saya, Dhara."


"Dhara? nama yang bagus. Tetapi kepanjangannya bukan Dhara mudaaa... Dahanya para remaja 'kan?" Pertanyaan itu membuat Lhiran mengernyitkan keningnya.


Ini interview atau audisi lawak sih? Dia itu bisa baca nggak? Kan ada nama lengkapku di CV yang dipegangnya.


Mengulas senyum terbaiknya, meski di dalam hatinya menyimpan banyak pertanyaan. Namun ia hanya bisa meneriakkan dalam hati. "Nama Saya, Khirani Dhara Maharani, Pak. Tetapi biasa dipanggil Dhara."


"Oke. Khiran. Boleh Saya panggil seperti itu?" Dhara menganggukkan kepalanya. Tidak mungkin ia menggeleng. Khiran memang nama yang diberikan kedua irang tuanya.


Dhara hanya bisa menatap heran interview yang di dapatkan seperti orang yang sedang main tebak-tebakan. Ia juga heran, mengapa pertanyaan yang didapatkan tak sesuai dengan CV yang ia kirimkan sebelumnya.


Dari 25 orang yang mengikuti seleksi, Dhara adalah salah satu yang beruntung. Tiga orang dinyatakan lulus seleksi. "Selamat, kalian bertiga sudah berhasil mengikuti seleksi tahap pertama. Besok pagi, diharapkan kehadirannya untuk mengikuti seleksi selanjutnya." Seorang wanita dengan rambut sebahu dan menggunakan kaca mata memberikan selamat untuk mereka bertiga. "Apa ada pertanyaan lain?"

__ADS_1


"Tidak." ucap ketiga orang itu serempak. Dhara dan dua orang lain undur diri, ia sangat senang bisa menjadi salah satu yang beruntung dalam tahap ini. Meski ia sempat minder, saingannya hampir semuanya sudah memiliki gelar sarjana. Tidak seperti dirinya.


Tetapi ia juga berharap, akan lulus dalam seleksi selanjutnya. Agar ia bisa membantu keuangan keluarganya. Dan menabung untuk melanjutkan kuliahnya. Karena gaji ditempat ini lumayan menggiurkan. Itulah mengapa banyak diantara mereka berlomba-lomba untuk masuk RA Gruop. Meski hanya terhitung karyawan magang.


"Namaku, Dhara." gadis mengulurkan tangannya, menyapa gadis seumuran yang berdiri disampingnya.


"Ayna." ucapnya, membalas uluran tangan Khiran.


"Kalian berdua, jangan senang dulu. Masih ada seleksi besok." ucap seorang lain, rambut bergelombang yang dibiarkan tergerai sebagian. Ia terlihat lebih dewasa dan lebih berpengalaman dari mereka berdua. Namun sikapnya sangat angkuh.


Mendahului Dhara dan Ayna, mereka berdua hanya mengangkat bahunya. Ia tak memusingkan sikap orang itu padanya. Selama ia tak melakukan kesalahan sebelumnya. "Dhara, sampai bertemu besok pagi." Ayna melambaikan tangannya. Mereka berpisah karena arah yang mereka tuju berlawanan.


"Bye, sampai bertemu besok." Dhara membalas lambaian tangan Ayna. Ia duduk dihalte bus yang tak jauh dari pelataran gedung RA Gruop. Ia masih belum tahu kemana tujuannya saat ini. Sekarang masih cukup terik, matahari tepat diatas ubun-ubun.


Dhara termenung, ia menjentikan jemarinya setelah terdiam sepersekian detik. Ia tahu kemana tujuannya saat ini. Dhara akan menemui sahabatnya, semalam sahabatnya mengatakan bahwa ia sedang tidak enak badan dan tak pergi ke kampus.


Dhara memesan ojek online untuknya pergi ke rumah Kamila, sahabatnya sejak SMA. Persahabatan mereka masih berlanjut, meski berbeda jurusan yang mereka tempuh. Namun masih satu kampus, tetapi akhir-akhir ini, Dhara sibuk membantu keluarganya. Sehingga mereka jarang bertemu. Hanya sesekali saling mengirim pesan. Terlebih sebulan ini, Dhara tak lagi datang ke kampus.


"Maaf menunggu lama, Pak." Dhara membawa tentengan berisi makanan kesukaan sahabatnya. Menuju rumah yang lama tak ia kunjungi. Dhara memberikan tips lebih untuk pengemudi ojol karena bersedia menunggunya cukup lama.


"Terima kasih, Non." Pengemudi ojol yang sudah paruh baya sangat senang mendapat uang lebih. Hampir setengah dari ongkos yang tertera di tarif. Dhara masih memiliki sedikit tabungan dari gajinya kerja paruh waktu. Namun tak dapat mencukupi kebutuhannya dan biaya berobat sang ayah. Itulah sebabnya mengapa Dhara memilih mengirim lamaran ke tempat lain. Dan nasib baik masih memihaknya. Sebuah panggikan kerja yang tak mungkin ia abaikan. Terlebih dari perusahaan terkemuka di Negeri Awan.


"Kembali, Pak." Dhara mengangguk, ia melirik halaman rumah Kamila. Beberapa mobil berjajar dihalam rumah yang terbilang mewah itu. Ia bertanya pada security yang berjaga. Kebetulan ia mengenal dirinya, karena sering datang sebelumnya.


"Non."


"Iya, Pak. Ada acara apa ya?"


"Sedang ada acara lamaran, Non. Masa Non gak tahu sih?" Dhara menggelengkan kepalanya. Semalam, Mila, begitu sahabatnya dilanggil. Tak memberitahukan apapun padanya.


"Ooo..."


Mungkin ini acara Kak Kania, ingin meresmikan hubungan mereka. batin Khiran.

__ADS_1


Pak satpam mengantar Dhara kedalam, kebetulan Kania, Kakak Kamila sedang berada diluar untuk menerima telepon. "Ra, Kamu datang? Ayo masuk, Aku kenalkan pada tuangan Mila."


Ucapan Kania seketika menghentikan langkah Dhara, ia berusaha mencerna ucapan Kania. "Maksud, Kakak, Kamila yang tunangan?"


"Iya. Jangan bilang, Kamu gak tahu soal ini?" Dhara menggeleng, ia benar-benar tak mengetahui apapun. Padahal sebelumnya Kamila selalu mengatakan apapun tanpa ada yang ditutupi darinya.


"Keterlaluan, Mila. Sahabat sendiri gak dikasih tau."


"Hehe.. Sebenarnya, ini Saya yang salah. Hari ini, Saya ada interview kerja." Kania melirik pakaian yang dikenakan sahabat adiknya ini. Pantas saja, Dhara berpakaian formal.


"Ya sudah, tunggu disini. Kakak panggil Mila." Dhara menunggu Mila di ruangan lain. Ia tak ingin.mengganggu acara yang sedang berlangsung. Terlebih ia masih mengenakan pakaian kerja. Dan juga, ia datang di saat yang tidak tepat. Meski kecewa karena Mila tak memberitahunya. Ia yakin, Mila mempunyai alasan tersendiri.


Mendengar langkah kaki mendekat, Dhara membalikkan badan dengan makanan yang ia bawa. "Mila, Aku bawa...." Dhara kehabisan kata-kata. Tubuhnya membisu, jantungnya bergemuruh layaknya diterjang badai. Pemuda yang berdiri didepannya, membuatnya mematung.


"Sayang, siapa yang da-tang...." Mila ikut terdiam, menatap kedua orang yang saling berhadapan dalam diam.


Dhara melirik jari keduanya, ia sudah bisa menebak tanpa harus bertanya terlebih dahulu. Apa yang sudah ia pikirkan? Pasti ini hanya mimpi. Dhara mencubit lengan sebelahnya hingga memerah. Ternyata ini bukan mimpi, semuanya nyata.


"Selamat ya, Mila. Maaf, Aku hanya ingin mengantarkan ini." Dhara menabrakkan bahunya pada pemuda itu, menyerahkan tentengan yang ia bawa sebelumnya. Ia memaksakan senyumannya. Meski hatinya bagai tercabik-cabik ribuan duri.


"Selamat, atas per-tu-na-ngan kalian berdua." Dhara menekankan disetiap kalimatnya. "Permisi."


Tanpa banyak bicara lagi, Dhara melenggangkan kakinya meminggalkan ruangan yang serasa menyesakkan itu. Rasanya ia kehabisan oksigen jika berlama-lama dalam ruangan yang sama bersama mereka berdua.


"Ra, tunggu. Aku bisa jelaskan, ini gak seperti yang Kamu pikirkan."


Bersambung


Jangan lupa dukung Kak Rey dan Dhara ya. Bisa dengan vote voucher atau hadiah yang bisa ditukar dengan poin.


Setelah melewati banyak pertimbangan, akhirnya thor memutuskan untuk mengubah alur ceritanya. Dan jadilah seperti sekarang ini.


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2