Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Reynald


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Ra, tunggu. Aku bisa jelaskan, ini gak seperti yang Kamu pikirkan." Bian mencekal pergelangan tangan Dhara. Pemuda itu adalah Bian. Kekasih Dhara. Lebih tepatnya, MANTAN kekasih Dhara sejak awal kuliah dulu.


"Lepas, gak ada yang perlu dijelaskan. Lagi pula hubungan kita sudah berakhir." Dhara menepis tangan Bian. Ia tak ingin lagi terlibat masalah dengan orang itu.


Bian ingin menggapai Dhara kembali, namun ia menarik tangannya. Semua memang kesalahannya, ia tak menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada gadis itu. Dan memilih menuruti keinginan orang tuannya.


Ra, maaf. Seandainya Aku tahu dari awal. Bahwa orang yang akan dijodohkan denganku adalah Kamila, Aku pasti sudah menolaknya sejak awal.


"Bi, ayo kita masuk. Acara masih belum selesai." Bian menepis tangan Mila, ia meninggalkan Mila seorang diri.


"Loh, dimana Dhara? Bi, La, Kakak sudah bawakan minum untuknya." Nia terlihat kecewa, saat mendapati Dhara tak lagi berada ditempatnya semula. Ia tak sengaja mendengar percakapan mereka bertiga. Pantas saja Dhara sangat terkejut saat dirinya mengatakan tentang tunangan.


"Pulang." Jawab Mila singkat. Ia meletakkan bungkusan yang diberikan Dhara padanya. Bian tak menjawab apapun, ia lebih memilih bergabung dengan keluarganya.


°•°•°•°•°


Dhara melangkah gontai, air mata yang semula ia tahan, kini tak terbendung lagi. Buliran bening itu meluruh, menganak sungai, membasahi wajah cantiknya. Dari sekian rasa sakit yang telah ia rasakan, rasa sakit dihianati yang paling membekas dihatinya.


"Bagaimana kalian berdua bisa menusukku dari belakang. Kalau saja Aku tahu, pasti Aku lebih memilih tak mengenal mereka." Tatapannya kosong, Dhara sudah lelah berjalan. Tetapi Ia terus berjalan, sampai di persimpangan yang terbilang sepi.


Dhara seperti kehilangan dirinya, ia memikirkan ucapan kakaknya. Apa benar bahwa dirinya pembawa sial? Kejadian demi kejadian yang pernah dia alami, tak mungkin hanya kebetulan semata. Apakah memang ia tak pantas untuk disayangi? Keluarganya terpuruk, dan selalu dihantui hutang. Kekasihnya meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Dan, sekarang sahabatnya juga menikungnya dari belakang.


Aaaaaa... Apa salahku? Apa dosa yang ku perbuat sebelumnya. Khiran menjerit dalam hati, air matanya mewakili perasaannya saat ini.


Phimmmm phimmmm. Suara klakson mobil menggema di jalanan yang cukup lengang. Suara rem berdecit, sang pengemudi membanting setir ke arah kiri. Menghindari Khiran yang berjalan tanpa melihat datangnya kendaraan yang sedang melaju.


Membanting pintu mobil, orang itu mencekal kedua tangan Dhara. Sehingga, Dhara yang tak dalam keadaan siap terhuyung dalam dekapannya. Pemuda itu segera menjauhkan Dhara. "Hey, apa yang Kau lakukan? Kau ingin mati, Hah." bentak pemuda yang sebelumnya mengendarai mobil sport.

__ADS_1


"Ya, Kalau Aku ingin mati. Kenapa Kau tak menabrakku sampai mati tadi?" Air matanya kembali turun, belum cukup kesakitan yang ia rasakan hari ini. Sekarang ia harus kembali dihadapkan dengan masalah baru. "Kenapa diam? Bunuh Aku sekarang." Dharamenarik tangan pemuda itu. Namun dengan sekuat tenanga ia mempertahankan tangannya yang mengepal erat.


Tidak, Aku meralat ucapanku tadi. Jika Aku mati sekarang, siapa yang akan merawat ayah nanti?


"Sudah, cukup. Jangan mencoba menipuku dengan air mata buayamu itu." Rey, pemuda yang mengemudikan mobil sport itu adalah Reynald. "Cepat ganti rugi, Kau harus membayar biaya perbaikan mobilku."


"Tuan, yang sangat menyebalkan. Ganti rugi apanya? Anda yang menyetir gak hati-hati. Masih menyalahkan Saya." Dhara menghapus kasar air matanya. Kesedihannya serasa lenyap begitu saja, sekarang ia hanya ingin memaki orang di depannya. Untuk meluapkan semuanya.


"Kalau Kamu nggak berdiri ditengah jalan, Saya nggak akan mengalami kejadian ini. Bayar sekarang juga, atau Saya lapor polisi." Rey menggertak, siapa sangka bahwa gadia itu masih melawan.


"Oke, Saya tidak takut. Karena Saya merasa tidak bersalah." Dhara melangkah maju, dengan kedua tangan dipinggangnya. Tas selempang yang semula ia pakai di bahunya, sekarang ia tenteng dan siap digunakan sebagai alat tempur.


"Saya nggak mau tau, Kamu harus ganti rugi. 500 juta, ingat 500 juta." Rey memperlihatkan kelima jari tangan kanannya.


"Whattt? 500 juta? Eh, Tuan yang menyebalkan. 500 juta itu bisa beli mobil baru, kenapa hanya biaya perbaikan. Anda ini lucu, tahu harga mobil nggak sih?" Dhara mencibir, ia meneliti mobil sport dengan warna methalic itu berkeliling. Terdapat goresan panjang akibat menabrak pembatas jalan. Dan cukup dalam.


"Saya yang lebih mengerti, Kau ini anak perempuan. Mana tau hal begituan? Dan lagi, mana sanggup Kamu membeli mobil seperti ini." Rey tak mau kalah. Ia membuntuti Khiran yang memperhatikan goresan di sisi kiri mobilnya.


Hah, palingan bulepotan yang nyasar. Dia pakai softlens dan rambutnya dicat buat gaya-gayaan.


Rey mengetatkan rahangnya, baru kali ini ada gadis yang begitu terang-terangan mengatainya. Terlebih mengatainya sopir, apa penampilan ku hari ini tak sebaik biasanya? Rey sangat geram, ingin sekali menelan gadis itu saat ini juga.


Dasar anak kecil, berani sekali mengataiku sopir.


"Siapapun Saya. Kamu nggak perlu tau, Saya hanya minta Kamu ganti rugi." Rey menarik tangan Dhara, memaksanya masuk ke dalam mobilnya.


Aaaaa... Bagaiman ini? Jangankan 500 juta, untuk biaya berobat ayah juga masih ngutang. Aku harus kabur, cari alasan yang tepat. Berfikir, ayo Ra berfikir.


"Tuan, Saya hanya gadis miskin. Tak mempunyai apapun yang berharga."


Kecuali diri saya yang tak dapat dinilai dengan berapapun harganya.

__ADS_1


"Apa iya, Anda tega memeras gadis lemah seperti Saya?" Khiran memelas, memang benar yang diucapkan. Saat ini hanya tersisa satu lembar uang di dalam tas selempangnya. Itu juga harus cukup untuk besok ia pergi tes seleksi.


Rey hanya melirik sekilas, ia tak menjawab ocehan Khiran. Rey masih fokus pada setir kemudinya. "Bisa diam nggak?" Rey sangat pusing mendengar suara bising Khiran yang tiada henti.


"Tuan yang menyebalkan. Anda mau membawa Saya kemana? Turunkan Saya disini. Atau Saya teriak."


"Teriak? Coba saja."


Dhara kesal, ternyata usahanya hanya sia-sia. Memaki orang tak tahu malu seperti Rey menguras energinya. Lebih baik diam, dan tunggu saat yang tepat. "Menyebalkan, sopir aja belagu. Apalagi jadi anak sultan." gumam Khiran, tetapi masih terdengar oleh Rey.


Dhara mengernyitkan keningnya dalam. Saat menyadari ia dibawa ke sebuah tempat yang benar-benar persis dengan istana raja. "Kenapa bawa Saya kesini?" Hening. Tak ada jawaban dari pemuda yang duduk di kursi kemudi.


"Tuan yang menyebalkan. Jangan bilang, Anda mau menjual Saya pada bos mu itu?" Khiran bergidik ngeri, membayangkan dirinya akan dijual pada bos dari pemuda itu. Bosnya adalah kakek tua yang menggunakan tongkat untuk berjalan.


Seringai muncul di wajah Rey, ia mendapatkan ide dari praduga Dhara padanya. "Yah, karena Kamu misquenn nggak bisa bayar biaya untuk perbaikan mobil. Jadi, Saya...."


"Sudah tau Saya miskin. Tetap saja minta ganti rugi. Udah gitu nggak kira-kira lagi."


"Kau ini banyak omong."


"Tuan, Saya mohon. Jangan jual Saya. Saya masih punya keluarga yang menunggu di rumah." Dhara memelas, mengguncang lengan Rey yang berotot. Hasil latihannya selama bertahun-tahun.


"Saya janji, Saya akan membayar. Tapi Saya harus kerja dulu. Saya akan membayar biaya perbaikan mobil ini. Tapi kasih Saya waktu untuk mengumpulkan uang."


"Hmm... Boleh juga. Saya akan memberimu keringanan. Kalau hari ini usahamu berhasil, Saya akan memberikan keringanan 50%." Rey membanting pintu mobil pelan. Menunggu gadis itu yang tak kunjung menyusulnya.


Bersambung


Jangan lupa dukung novel ini ya. Vote voucher atau hadiah yang bisa ditukarkan dengan poin atau koin. Dan jangan lupa balik ke sampul dan kasih rate, bintang 5.


Terima Kasih

__ADS_1


__ADS_2