
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Selamat siang, Tuan." ucap seorang paruh baya yang begitu Dhara kenali.
Setelah makan siang, Rey mengajaknya bertemu partner yang akan bekerja sama dengan RA Fashion. Salah satu anak cabanng RA Group dibidang fashion and desain.
"Siang." Rey mengangguk dan menerima uluran tangan lelaki itu.
"Loh, Dhara..." Pak Hendra, lelaki yang Dhara kenali sebagai ayah Kamila mengernyitkan keningnya dalam.
"Oh, perkenalkan. Ini sekertaris baru Saya. Bapak sudah mengenalnya?" ujar Rey basa basi.
"Ya. Dhara ini teman putri Saya, sudah lama Dhara nggak ke rumah. Kapan mau main lagi?" Pak Hendra tak mengetahui jika saat ini Dhara dan putrinya sudah tak lagi berteman.
"Hehe.. Iya, Dhara sibuk." ucapnya beralasa. Tak mungkin jika dirinya mengatakan bahwa ia dan Kamila sedang ada masalah.
Pak Hendra menganggukan kepalanya. Mempersilahkan Rey dan dua orang kepercayaannya duduk di tempat yang telah ia pesan sebelumnya.
Mereka akan membahas rencana kerja sama yang akan dijalin oleh kedua belah pihak. Pak Hendra, sebagai perwakilan dari perusahaan textile yang akan menyuplai kebutuhan kain untuk digunakan.
Beliau dengan rinci menjelaskan satu persatu produk yang akan ditawarkan. Dan juga menjawab berbagai pertanyaan yang Rey ajukan.
Tak perlu waktu lama, perusahaan mereka memang pernah bekerja sama sebelumnya. Terlebih lagi, performa Pak Hendra tak diragukan lagi dalam meyakinkan klien besar seperti Rey.
"Baik, Saya akan mempelajari kembali dokumen penawaran Anda. Tunggu kabar selanjutnya melalui Sekertaris Saya."
"Terima kasih, Tuan." Kini giliran Pak Hendra yang membungkuk serta mengucapakan terima kasih yang tiada hentinya.
Jika berhasil menjalankan kerja sama ini. Tentunya ia juga akan meraup keuntungan yang cukup besar. RA Group sebagai perusahaan raksasa tentu sangat menggiurkan bagi para pengusaha kecil seperti Pak Hendra.
Rey sudah meninggalkan tempat itu, beserta dua antek-anteknya. Pak Hendra masih tersenyum senang. Membayangkan keuntungan yang akan mereka dapatkan melalui kerja sama ini.
"Bagaimana, Ndra?"
Suara bariton milik seseorang berhasil membuyarkan kesenangan Pak Hendra. Dia adalah Baskoro, calon besan yang juga ikut andil dalam kerja sama kali ini. Hanya saja, saat ini Baskoro bermain dibelakang layar.
"Ok." Pak Hendra menyatukan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf O.
"Bagus, setelah ini perusahaan kita akan semakin pesat. Dan perusahaanmu bisa terselamatkan."
"Ku harap begitu." Senyum tak memudar dari wajah lelaki yang telah berusia kepala 5 itu.
"Tuan, maksudku. Suamiku." Dhara menabok mulutnya sendiri yang selalu tak terbiasa dengan panggilan untuk Rey.
__ADS_1
"Hmm." Rey hanya berdehem. Masih fokus pada bemda persegi pipih ditangannya.
"Kenapa setuju dengan kerja sama ini begitu saja? Masih belum melihat dokumen ini. Kenapa sudah mengiyakan."
"Kau dengar sendiri tadi. Dia begitu meyakinkan." Rey menyimpan benda iki di saku jas berwarna silver yang dikenakannya.
"Tapi..."
"Tapi apa? Kau tidak setuju?"
"Bukan begitu."
"Lalu? Apa karena dia ayah dari Kamila?" Dhara mengernyitkan keningnya. Dari mana Rey tahu Kamila? Sedangkan ia tak pernah membicarakan tentangnya pada lelaki yang duduk disampingnya saat ini.
"Bu-bukan. Hanya saja...."
"Hanya apa? Kalau Kamu keberatan, Saya akan membatalkan saat ini juga."
"Ini tidak ada hubungannya denganku. Ini masalah bisnis."
"Sekarang Kau sekertaris ku di kantor. Semua hal harus melewatimu terlebih dulu sebelum sampai ditanganku. Benar tidak, Li?"
Liam yang sedari tadi hanya diam dan memperhatikan interaksi keduanya hanya bisa mengiyakan.
Dih, masih ingat samaku? Dari tadi Kalian hanya menganggapku benda tak kasta mata.
...*****...
"Kenapa masih belum turun juga? Apa perlu digendong?" Rey sudah jengah, Dhara masih betah berlama-lama di dalam mobil. Padahal saat ini sudah ditunggu keluarganya di dalam.
"Gimana ya? Saya takut."
"Ada Saya. Nggak ada yang perlu Kamu takutkan."
"Benar begitu?"
"Iya, Buruan."
Dhara dan Rey berjalan beriringan. Mereka memasuki mansion mewah Kakek Anggara yang sudah dua hari ini mereka tinggalkan.
Sepasang manusia duduk membelakangi arah datangnya mereka. Terlihat hening saat langkah kaki keduanya mendekat.
"Beraninya Kau menikah tanpa memberitahu Kami." sembur lelaki paruh baya yang begitu mirip dengan Rey.
"Sekarang kalian sudah tahu." ujarnya dengan wajah datar. Ia tampak tidak senang bertemu kedua orang itu.
__ADS_1
"Jadi ini istrimu?" cibir wanita yang sedari tadi tak mengalihkan perhatiannya dari Dhara. Wanita berbalut dress selutut dengan warna maroon itu adalah wanita yang paling tak ingin Rey temui. Ia bahkan mengabaikannya saat berbicara.
"Rey, beri salam pada Mami."
"Heh, Mami? Mamiku sudah nggak ada."
"Rey, jaga sikapmu." Tuan Royland mengepalkan tangannya erat. Rahangnya mengeras melihat sikap Rey yang tak pernah berubah sedikitpun.
"Aku lelah, ayo ke kamar." Rey menggenggam tangan Dhara dan membawanya naik ke lantai dua.
Berbeda dengan Rey, Dhara tetap menyapa kedua orang itu. Ia menatap heran pada Rey yang membawanya pergi tanpa mengatakan apapun.
"Om, tante. Saya permisi."
"Nggak usah sok akrab." Rey menghempaskan tangannya dengan kasar.
Ada apa dengan manusia menyebalkan ini? Sikapnya mudah sekali berubah.
"Rey, jadi begitu sikapmu pada orang yang lebih tua. Jangan lupa---"
Rey masih bisa mendengar umpatan kasar tentang dirinya. Tetapi ia mengabaikannya dqn lebih memilih mengurung diri.
"Kalau Kau ingin dihargai, buatlah dirimu menghargai dirimu sendiri. Dia memang tak pernah diajari sopan santun. Karena orang yang seharusnya mendidiknya sopan santun juga tak mengerti tentang sopan santun." ujar Kakek Anggara. Ia menudingkan jari telunjuknya di dada Roland. Kemudian berbalik meninggalkan Roland dan Indi, istrinya.
"Aaarrgghh... Kakek tua. Kau lihat saja nanti."
"Jangan berharap orang lain akan mengubah sikapnya padamu. Tapi mulai dari dirimu sendiri, Kau yang mulai, Kau juga yang mengajarkannya, dia seperti itu juga mengikutimu. Sikap Rey saat ini, buah dari ketidak pedulianmu selama ini."
"Pa, maaf semuanya salahku." Indi berusaha menenangkan sang suami. Tetapi justru hal lain yang ia dapatkan.
"Ya, semua memang salahmu. Seharusnya Aku tak pernah menikah denganmu." bentak Roland, ia pergi dari sana untuk menenangkan diri.
Tujuannya datang kesini untuk memperbaiki hubungannya dengan Rey. Tetapi apa yang di dapatkan? Semuanya kacau, ia tak pernah sekalipun berniat untuk mengubah sifatnya sejak dulu.
Sementara itu, di dalam kamar Rey. Dhara sudah selesai membersihkan diri. Sedangkan Rey, pemuda itu masih diam ditempatnya semula. Tatapannya menerawang jauh ke atas sana.
"Emm, sua---"
Dhara tersentak saat Rey tiba-tiba berbalik dan mendekapnya erat. Sangat erat, sampai ia keaulitan bernapas karena Rey membenamkan wajahnya pada dada bidang pemuda itu.
Dhara berusaha melepaskan diri, tetapi tenaganya tak akan bisa melawan. Percuma saja ia melawan, Dhara lebih memilih membiarkan apa yang Rey lakukan sekarang.
Anggap saja sedang dipeluk orang gila.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja."
__ADS_1
Bersambung