Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Mengigau


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Ra, Kamu pulang? Dimana suamimu?" Ayah Yahya celingukan mencari Rey dibelakangnya.


"Emm... Dhara sendiri, Yah. Dhara kangen Ayah. Dia... Dia masih ada pekerjaan, jadi harus lembur." Dhara berusaha menutupi kebohongannya dengan menambah kebohongan lain.


"Duduk sini, Nak. Ayah ingin bicara sebentar." Lelaki yang telah berusia lebih dari setengah abad ini menepuk tempat kosong di sebelahnya. Tetapi Dhara memilih duduk di sofa single diujung.


"Bagaimana kesehatan Ayah?" Dhara sengaja menanyakan keadaan sang ayah untuk mencari alasan saja.


"Ra, maafkan Ayah. Maaf jika keputusan Ayah membuatmu menderita." Ia terdiam sejenak, menatap putrinya lekat. Sedang yang ditatap berusaha menunduk. Menghindari kontak mata dengannya. "Dhara masih marah sama Ayah? Memang Ayah pantas mendapatkannya. Ayah benar-benar tak bermaksud menjerumuskanmu, Nak."


Kedua netranya tampak berkaca-kaca, ia sudah menduga akan hal ini. Tetapi ia juga merasa sangat bersalah jika belum mendengar langsung bahwa Dhara telah memaafkannya. Meski kedatangan Dhara saat ini sudah bisa membuktikan bahwa kerenggangan antara ayah dan anak itu sudah mulai mereda.


"Dhara sudah memaafkan Ayah. Ayah tak perlu merasa bersalah. Ini sudah menjadi kehendak Yang Maha Kuasa." Dhara memaksakan senyumannya. Ia memang kecewa, tapi mau bagaimanapun juga, semuanya sudah terjadi. Tak ada gunanya menyalahkan orang lain sebagai pembenaran.


"Ayah sangat lega. Ayah hanya berdoa untuk kehidupan keluargamu kelak. Semoga kalian bisa melewati ini semua bersama-sama sampai akhir hayat." ujarnya sendu.


Dhara, Ayah yakin Tuan Muda Rey bisa membahagiakanmu. Ayah percaya suatu hari nanti kalian bisa membuka hati masing-masing.


Dhara hanya menganggukan kepalanya, ia tak tahu harus menjawab aapa sekarang. "Ayah, Dhara boleh menginap disini? Dhara kangen kamar."


"Tentu, pintu rumah ini akan selalu terbuka kapanpun. Tetapi Kamu harus izin suamimu, sekarang mau kemanapun, Kamu harus meminta ridho suami." Ayah Yahya memperingati putrinya. Ia tak ingin kehidupan rumah tangga yang baru dibangun beberapa terjadi masalah karena salah paham.

__ADS_1


"Makasih, Ayah. Dhara istirahat dulu."


"Jangan lupa pesan Ayah. Hubungi suamimu."


"Iya."


Dhara melenggangkan kakinya ke kamar yang sebelumnya ia tempati. Tak ada yang berubah, hanya warna spreinya yang sepertinya baru diganti baru. Rumah ini sudah menjadi hak miliknya, siapa lagi kalau bukan Kakek Anggara. Awalnya Dhara menolak, tetapi ia tak memiliki pilihan lain. Rumah ini meski sederhana tetapi penuh makna.


Selama setahun ini, ia telah menyewa rumah ini. Suka duka menjalani hidup dengan segala keterbatasan. Untuk itulah Dhara lebih memilih menempati rumah ini ketimbang dibeeikan yang lebih bagus. Belum tentu nyaman. Bahkan beberapa bagian rumah sudah direnovasi. Serta semua perabotan baru.


Dhara tertidur dengan kaki menggantung diujung ranjang. Bahkan ia masih mengenakan pakaian kerjanya. Hanya blazer berwarna merah muda yang ia lepaskan. Kaos kaki masih membungkus kakinya. Tetapi ia bisa dengan mudah terlelap.


"Dasar anak kecil, Kau bisa tertidur dalam keadaan begini." Suara berat seorang pemuda terasa tidak asing ditelinga Dhara. Namun rasa kantuk lebih mendominasi. Kedua matanya serasa diberi lem, sangat susah untuk dibuka.


"Kamu ngapain? Tuan yang menyebalkan. Bahkan di dalam mimpiku Kau datang? Benar-benar menyusahkan orang saja. Pergi, Aku lelah." Dalam mimpinya, Dhara mengibaskan kakinya yang dipegang Rey. Ia merancau apapun isi hatinya, semua yang ada dalam pikirannya ia keluarkan bersama umpatan kasarnya.


Rey menggelengkan kepalanya, istri lecilnya sedang merancau. Ia terlintas ide untuk mengerjainya. Ia mengeluarkan benda persegi pipih dari saku celananya. "Anak kecil, Kau berani mengumpatku, bahkan memukulku. Hukumanmu akan ku tambah. Kita lihat saja saat Kau bangun nanti."


Rey mencubit hidung minimalis sang istri, ia berbaring disebelahnya. Memperhatikan wajah polos yang tengah terlelap. "Kau lucu juga kalau diam begini." Rey terkekeh menatap wajah polos itu. Tangannya hendak terulur untuk membelai wajah istri kecilnya, namun ia segera mengurungkan niatnya.


Rey, apa yang sudah Kau lakukan? Jangan berbuat macam-macam. Jangan sampai Kau hilang kendali. Ingat tujuanmu menikahinya hanya demi Kakek.


Rey mengurungkan niatnya untuk kembali ke mansion. Ia mendapat panggilan dari Tuan Yahya, ayah mertuanya. "Dhara dirumah Ayah, maaf Ayah yang mengabarimu. Ayah tahu bahwa anak itu tak akan memberitahumu."


Rey segera meminta Liam memutar arah, kembali ke rumah sederhana yang saat ini juga rumah mertuanya. Kakek Anggara juga memintanya menemani Dhara. Dengan alasan untuk mendekatkan hubungan mereka berdua.

__ADS_1


"Jangan sekalipun berusaha membohongi Kakek. Mata Kakek ada dimanapun, dan bisa menemukanmu kapanpun." ucap Kakek tegas. Tanpa mau dibantah sedikitpun. Akhirnya Rey menyusul Dhara, setelah berbasa-basi dengan ayah mertuanya.


Rey dipersilahkan istirahat, dan yang lebih menyebalkan lagi. Disana hanya ada dua kamar. Nggak mungkin kalau dia tidur diruang tamu, apalagi bersama ayah mertuanya. Lebih nggak mungkin lagi.


...*****...


Malam semakin larut, Rey terpaksa harus tidur diranjang yang sama. Ia tak memiliki pilihan lain, disana hanya ada satu ranjang. Kursi kecil dan hanya menyisakan sedikit ruang.


Pemuda itu baru saja terlelap, suhu ruangan sangat panas. Ia juga terpaksa harus melepas pakaian atasnya. Hingga kini bertelan*ng dada, memperlihatkan otot bisep hasil latihannya selama bertahun-tahun. "Ibu, jangan pergi!!" Dhara terus mengigau, memanggil ibunya. Tetapi matanya tetap terpejam. Kedua tangannya berusaha menggapai sesuatu, seperti hendak menggapai seseorang.


Rey yang baru saja terlelap harus kembali terjaga. Dhara kembali mengigau, bahkan sekarang semakin kencang. Diiringi isakan darinya. "Ibu, Dhara mau ikut. Jangan tinggalin Dhara sendiri, Dhara sedih, Bu. Dhara sendirian, Bu."


Seberapa sulit hari yang telah Kamu lalui selama ini? Jadi beginikah dirimu yang sebenarnya? Kau hanya pura-pura tegar. Tetapi sebenarnya hatimu sangat rapuh.


Grebb.


Dhara memeluknya sangat erat, Rey tak dapat lagi mengelak. Benda kenyal itu menempel padanya, membuatnya semakin gelisah. "Aku bukan ibumu. Lepas." Rey berusaha melepaskan tangan Dhara yang melilitnya erat.


"Ibu, Dhara mohon. Biarkan Dhara memelukmu." rengeknya dengan kedua mata tetap terpejam.


"Baiklah. Aku izinkan kali ini saja." Rey membiarkan Dhara memeluknya seperti bantal guling. Meski hal itu membuatnya tersiksa setengah mati menahan si junior. Rey terjaga hampir semalaman mendapat perlakuan Dhara yang seenaknya.


Anak kecil, Kau sudah menyiksaku. Tunggu saja nanti saat Kau terbangun. Aku harus meminta pertanggung jawaban darimu.


Rey baru terlelap ketika hari menjelang pagi, ia membiarkan Dhara melakukan hal sesuka hatinya. Bahkan saat ini, sebelah tangan Rey ia gunakan untuk bantalan tidur. Juga kepalanya yang tak bisa diam seperti anak kecil mencari kenyamanan.

__ADS_1


Bersambung


Terima kasih yang sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mengikuti kisah mereka. Dan juga atas dukungan kalian berupa like, komen, vote, and gift.


__ADS_2