Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Membicarakan diri sendiri


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Menatap megahnya gedung RA Group yang menjulang, Dhara mendesahkan napasnya ke dengan berat. Ia harus kembali pada pekerjaannya, meski sudah dilarang, tetapi ia masih ingin menyelesaikan tugasnya. Tak ingin bergantung pada Kakek Anggara juga Rey. Dhara tak mau berhutang lebih banyak lagi.


Gadis itu memasang wajah ceria seperti biasanya, meski begitu berat beban yang ia rasakan. Melenggangkan kakinya menuju ruangan teratas gedung ini. Dhara, menyapa setiap orang yang ditemuinya. Entah ada hal apa, setiap orang menatap aneh padanya. Abaikan saja, Dhara sudah biasa menghadapi mereka. Semenjak dirinya menjadi sekertaris direktur.


Tak hanya itu, Meli, kepala sekertaris juga menatapnya seperti orang asing. "Pagi, semua." Dalam ruangan itu ada tiga sekertaris dengan tugasnya masing-masing. Meli semakin tak menyukai Dhara, ia merasa tersingkirkan semenjak adanya Dhara.


Tak ada yang menjawab salamnya. Bahkan hingga jam makan siang, Dhara benar-benar tak bertegur sapa dengan yang lainnya karena banyaknya pekerjaan yang harus ia selesaikan.


"Sekertaris Li, Kau pasti ingin dendam padaku. Karena sebelumnya Kau yang mengerjakan ini." Gerutunya, Dhara merebahkan kepalanya diatas tumpukan kertas yang ia kerjakan. Beruntungnya ia, Rey dan Liam ada bertemu klien diluar. Kadi ia bisa dengan leluasa mengerjakan tugasnya.


Diruang lain, Liam merasa telinganya terasa pamas. "Siapa yang sedang mengumpatku?" gumamnya.


Jam makan siang. Dhara seorang diri, tak seperti biasanya ia bersama sekertaris yang lain bersama-sama. Rasanya sangat malas untuk pergi ke kantin. Tetapi perutnya meminta diisi, tadi pagi hanya melahap selembar roti dan juga susu hangat yang masih ia sisakan separuhnya.


"Butuh asupan untuk menghadapi kenyataan. Semangat Dhara." Ia hanya bisa menyemangati dirinya sendiri.


Seperti halnya pagi tadi, tatapan orang-orang serasa ingin mengulitinya hidup-hidup. "Ada apa dengan mereka?" ucap Dhara dalam hati, ia melihat sekeliling tak ada yang dikenalnya sama sekali.


"Ra, ikut Aku." Nisa menarik tangan mantan rekan kerjanya menuju ruangan sepi yang jarang dilalui karyawan lain.


"Ada apa sih, Nis?" Dhara mengikuti langkah kaki Nisa yang berjalan seperti sedang berlari.


Mengerutkan keningnya dalam. Saatendapati Dewi sudah ada disana. Dhara benar-benar tak tahu apa hal yang membuat Nisa dan Dewi membawanya kemari. "Loh, Mbak... Maksudku Ses. Ada apa sih?"


"Lihat ini, apa benar yang dikatakan di grup kantor ini?" Nisa menunjukkan layar persegi pipihnya. Disana terpampang jelas penyebab tatapan mematikan dari karyawan lain untuknya.

__ADS_1


"I-ini, si-siapa yang membuat berita ini?" Dhara begitu terkejut melihat pemberitaan tentang dirinya.


Anak Magang Menggoda Presdir. Bahkan mereka sudah "..."


Foto itu diambil saat Dhara menuju hotel, memang dirinya berjalan bersisian dengan Rey saat acara pernikahannya yang tertutup untuk umum. Semua itu sudah Kakek Anggara persiapkan sebelumnya. Mereka membicarakan acara dadakan yang membuat mereka tak bisa berkutik sedikitpun.


"Dhara, kita memang belum lama kenal, tapi Aku rasa Kamu harus menjelaskan ini pada Kami." Dewu dan Nisa saling melempar pandangan. Mereka butuh kepastian tentang berita miring yang menyangkut Dhara dan orang nomor satu di gedung ini.


"Ng-nggak. Ini nggak benar." Dhara berusaha menyangkal. Ia menggelengkan wajahnya, tetapi mereka seolah tak pernah puas dengan jawaban yang Dhara berikan.


"Ra, Kita percaya Kamu bukan orang seperti itu. Kamu juga sekertarisnya. Tapi kenapa pakaian kalian tidak formal?" tanya Nisa. Ia masih ingin mengorek informasi lebih dari yang bersangkutan langsung.


Maaf, tapi Aku terpaksa berbohong. Hanya segelintir orang yang mengetahui hubungan Kami. Dan tak lama lagi semua ini juga akan berakhir. Lebih baik kalian tak tahu mengenai hal ini.


"I-iya. Waktu itu ada meeting di luar. Dan diluar jam kantor." Elaknya.


Begitupun Dewi, ia sebenarnya sudah mengetahuinya dari salah satu orang yang menghadiri pernikahan Dhara dan Rey. Tetapi ia memilih bungkam. Mungkin Dhara punya alasan tersendiri merahasiakan hal sebesar ini dari yang lain.


"Ayo lanjutkan makan." Dewi mengajak Dhara kemeja yang semula ditempatinya bersama Nisa. Mereka menghabiskan waktu makan siang bertiga dengan diselingi gurauan.


Selesai makan, Dhara kembali ke ruangannya. mereka berpisah di koridor, Dhara harus menaiki lift untuk sampai di ruangannya. Tetapi dirinya tak dapat menahan lagi, ia mencari toilet terdekat. Sambil memunggu antrian. Masih ada waktu sebelum jam mulai kerja.


"Nggak nyangka, selama ini Kamu hanya pura-pura polos. Tetapi kenyataannya diam-diam menghanyutkan." cibir seorang karyawan yang sama-sama sedang berada di toilet wanita lantai itu.


Dhara mendongakkan wajahnya. Ia menyimpan gawainya di saku blazer yang dikenakannya. "Mila, apa maksud ucapanmu?"


"Jangan sok nggak tau. Dasar wanita murahan, jadi begini kelakuanmu yang sebenarnya. Pantas aja Bian lebih memilihku." Kamila tersenyum smrik, senyum penuh ejekan.


"Aku benaran nggak tau apa yang Kamu bicarakan."

__ADS_1


"Owh ya? Biar ku beri tau. Demi mendapatkan jabatanmu, Kau gunakan tubuh ja*a*gmu untuk menggoda petinggi perusahaan. Sudah berapa banyak orang yang Kau goda, hmm?"


Makjleb. Bagaikan tertusuk ribuan duri salak, seorang yang selama ini ia anggap sahabat. Ternyata bisa mengatakan hal yang begitu menyakitkan untuknya. Apa kesalahan yang pernah ia lakukan? Bukankah seharusnya ia yang merasa sakit hati atas penghianatannya dengan Bian?


"Jaga ucapanmu. Kau ini tak tau apapun mengenai hal ini. Aku nggak sehina yang Kamu bicarakan. Atau Kau memang iri dengan apa yang ku raih saat ini." Kedua tangannya terkepal, meremas ujung blazer hingga kusut. Ia meninggalkan toilet dengan langkah tergesa-gesa. Kebetulan saat itu pintu lift terbuka.


"Sepertinya ada yang membicarakan tentang dirinya sendiri. Menggoda kekasih orang lain. Bukankah itu keahlianmu." Dhara tersenyum masam dan segera menutup pintu lift tanpa menunggu Kamila.


Dadanya terasa sesak, sepertinya pasokan udara terhenti mengaliri paru-parunya. Dhara bersandar di dinding lift. Beruntung saat ini hanya dirinya di dalam lift. "Apa Aku sehina itu dimata kalian? Aku juga tak menginginkan hal ini terjadi padaku. Kalau boleh memilih, Aku lebih baik menjadi menjadi orang yang biasa saja."


Ting. Pintu lift terbuka, Dhara sudah sampai di lantai atas. Dimana ruangannya berada, bersebelahan dengan ruangan Liam. Dhara memang merasa tak nyaman jika ia harus berada satu ruangan yang sama dengan Rey. Ia lebih memilih ruangan ujung menjadi ruang pribadinya untuk bekerja.


Ia berjalan menunduk, menghiraukan pemuda tampan yang sedari tadi memperhatikannya dari jauh. Matanya yang masih memerah tak luput dari pengamatan kedua netra Rey.


"Darimana saja Kau ini?" Dhara terjingkat. Suara berat itu datang dari belakangnya. Dan dengan jarak yang cukup dekat.


"Bisa nggak sih, nggak usah ngagetin?" ketusnya. Dhara menarik kursi diruangannya. Dan mendaratkan tubuhnya di sana.


"Nggak bisa." Rey mengungkung Dhara di bawah tubuhnya. "Kau ini, sekarang sudah hebat ya. Disini dikantor, Kau tetap sekertarisku. Jangan mentang-mentang sudah jadi istri presdir jadi seenaknya datang terlambat."


"Terserah Anda, Tuan Presdir. Permisi, Saya mau kerja." Dhara mendorong Rey agar menjauh. Ia terlalu malas untuk berdebat dengan Rey saat ini.


"Sepertinya Saya pernah dengar. Kalau ada yang akan berhenti kerja kalau sudah menikah dengan Tuan Presdir."


"Itu dulu sekarang Saya berubah pikiran."


Bersambung...


Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2