Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Istri Kecil


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Disinilah Dhara saat ini, Ia menatap pantulan dirinya yang masih menggunakan gaun dan mahkota kecil yang menghiasi rambut sanggulnya. Polesan make up dari MUA ternama juga masih menghiasi wajahnya. Matanya sembab karena lelah dan terlalu banyak menangis. Meski make up bisa menutupi mata pandanya, tetapi tidak dengan hatinya. Perasaannya tak karuan, ia hanya bisa menerima semua yang telah digariskan Tuhan untuknya.


"Ibu, seandainya Ibu masih ada. Dhara pasti bisa melalui ini semua bersama Ibu." Netranya mengembun, menatap nanar dirinya yang telah menjadi istri orang yang begitu tak ia harapkan.


Suara pintu terbuka membuat Dhara melirik pemuda tegap yang kini berjalan mendekat kearahnya. "Belum ganti baju?" Namun masih tak ada tanggapan dari gadis itu. Ia masih membisu, merasa canggung hanya berdua di dalam ruangan bersama orang lain, meski orang itu telah resmi menjadi suaminya.


Pagi tadi, disaat sang fajar masih menghiasi langit gelap, orang suruhan Kakek Anggara datang menjemput Dhara dan Ayah Yahya. Dhara begitu terkejut acara yang dimaksud adalah hari pernikahan yang dijanjikan Kakek Anggara sebelumnya.


Acara dibuat sederhana, hanya akad nikah. Setelahnya jamuan makan yang dihadiri tamu penting dan petinggi perusahaan serta rekan kerja Kakek Anggara. Dhara sama sekali tak mengundang siapapun. Termasuk sahabatnya, ralat, mantan sahabat. Tetapi hal yang tak disangka, kehadiran Bian yang mewakili orang tuanya membuatnya begitu terkejut.


Percuma semua usaha yang Dhara lakukan untuk membuat Kakek tua itu menyerah dan membencinya. Nyatanya ia masih harus memenuhi keinginan sang kakek dan mewujudkan keinginan sang ayah. "Kau saja dulu, Tuan. Aku masih lelah." elaknya. Dhara masih enggan beranjak dari tempatmya saat ini. Terlalu malas untuk melakukan apapun.


Saat ini gadis itu hanya ingin merebahkan tubuhnya. Meluruskan tulang punggungnya yang terasa nyeri seharian berdiri dengan heels yang tinggi. Tumitnya memerah dan terasa nyeri dibagian mata kaki padahal ukuran sepatunya pas dan nyaman digunakan. Tetapi Dhara tak terbiasa menggunakan heels setinggi itu, ini pertama dan terakhir kalinya.


Rey, pemuda itu telah menyelesaikan ritual mandinya dan memakai pakaian santai di walk in closet di kamarnya. Ia tak mendapati Dhara ditempatnya semula. "Bisa-bisanya tertidur dengan pakaian seperti ini." Rey membetulkan posisi tidurnya, ia juga menyelimuti Dhara setelah menggantikan pakaiannya.


Tahan, Rey. Ini cobaan.


"Kau harus meningkatkan kewaspadaanmu, bagaimanapun Aku ini laki-laki normal pada umumnya yang memiliki nafsu. Terlebih sudah tak ada larangan apapun. Jadi jangan salahkan Aku jika terjadi sesuatu padamu." Gerutunya. Ia mengambil selimut baru dari lemari, dan juga membawa bantal untuk tidur di sofa.

__ADS_1


Rey lebih baik menghindar, ia tak ingin khilaf meskipun dengan istrinya sendiri. Ia tahu bahwa pernikahan ini hanya terpaksa dan tak ada cinta sedikitpun. Lebih baik memberi waktu dan menjaga jarak sebelum semuanya jelas. Ia hanya ingin menjalani terlebih dahulu, bagaimana kedepannya itu urusan nanti.


Dhara tidur seperti diberi obat tidur, kasur empuk yang nyaman dan juga suasana yang membuatnya nyaman berlama-lama bergelung dibawah selimut. Hingga sang mentari membangunkannya melalui sinarnya yang menembus dari sela-sela horden yang tersingkap. Kamar yang didominasi dengan warna abu dan cream ini menghadap langsung ke arah timur. Arah datangnya matahari.


"Hei, putri tidur. Kau sudah siuman?" cibir Rey. Ia sedang menikmati cairan hitam pekat yang ada di cangkirnya. Komputer jinjing masih menyala, Rey sedang fokus pada papan ketik dengan kacamata anti radiasi bertengger di hidung mancungnya.


"Ish, siapa putri tidur? Sepertinya Aku masih bermimpi. Kenapa ada manusia menyebalkan itu disini." Dhara kembali memejamkan matanya, kembali menutup wajahnya dengan selimut dan membelakangi jendela.


"Siapa manusia menyebalkan itu?" Rey berjalan ke samping ranjang. Dan duduk tepat di samping Dhara. Meninggalkan pekerjaanya yang belum ia selesaikan.


"Eh, kenapa terasa begitu nyata. Suaranya bahkan terdengar sangat nyaring." Dhara mengernyitkan keningnya. Memutar memory otaknya pada kejadian sebelum ia tertidur semalam. "Aaa... Kenapa juga mimpinya married sama si Bos Angkuh dan Menyebalkan itu." Dhara mencubit lengan kirinya.


"Aaa.. Sakit. Jadi ini bukan mimpi? Oh God, cobaan apalagi ini?" Gadis itu masih terus menggerutu, ia melirik pemuda menyebalkan dan angkuh yang sayangnya telah menjadi suaminya. "Ngapain Anda disini?" Dhara meninggikan suaranya. Ia menarik selimut untuk menutupi bagian depannya yang sedikit terbuka.


Dhara melihat sekeliling, benar juga. Kamar ini terasa asing, dari desain interior kamar, bisa ditebak bahwa pemilik kamar ini adalah seorang laki-laki. "Jadi, ini benaran? Bukan mimpi?"


Rey kembali mendaratkan telunjuknya, sekarang dengan tenaga lebih. Sehingga kepala Dhara turut terhuyung ke belakang. "Hey, nggak sopan tau." Dhara menepis tangan Rey dari keningnya. "Dan... Bajuku? Kenapa bajuku ganti sendiri? Memangnya ada aplikasi yang bisa gantiin baju orang saat tidur?"


"Nggak usah berkhayal. Saya sudah lihat semuanya, Saya yang gantiin bajumu. Kecil. 34B." Rey mempraktekan tangannya didepan dada. Wajah Dhara langsung memerah, udara tiba-tiba terasa panas padahal pendingin ruangan masih menyala. Gadis itu melirik tubuhnya, bahkan pakaiannya saat ini cukup terbuka dan tak pantas dilihat orang lain.


"Aaa... Mesumm... Cab*lll... Pasti sengaja 'kan memanfaatkanku yang tertidur." Dhara melempari Rey dengan bantal guling yang ada, namun Rey berhasil menghindar. "Kau bilang apa tadi? 34B? Hah, Aku nggak terima. Itu ukuran waktu SMP." Dhara kembali melempar bantal pada Rey. Dan terakhir hanya tersisa selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Ayo, lempar lagi. Tapi jangan salahkan Saya kalau setelahnya..." Rey tak melanjutkan kalimatnya. Ia hanya memainkan kedua alisnya naik turun serta matanya tak berkedip menatap intens pada Dhara.

__ADS_1


"Jangan harap." ketusnya, Dhara membungkus tubuhnya dengan selimut. Ia berjalan tergesa-gesa ke kamar mandi.


"Ahahaha.... Dasar anak kecil. Siapa juga yang tertarik dengan tubuhmu yang seperti tusuk gigi itu." Rey memegangi perutnya yang terasa keram. Terlalu bersemangat tertawa karena tingkah Dhara yang menurutnya lucu. Ia akan mempunyai kebiasaan baru, menjahili istri kecilnya setiap saat.


Rey kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Hari ini memang sengaja ia mengambil cuti, begitupula Dhara yang telah diizinkan untuk dua hari kedepan. Dua hari sudah cukup baginya. Kalau bisa besok ia ingin kembali bekerja. Tetapi Si Rubah Tua yang telah mengatur semuanya. Mereka hanya bisa menurut saja.


"Dhara, Kau ini kenapa begitu ceroboh? Masa iya harus keluar seperti ini?" Dhara mondar mandir di dalam kamar mandi. Ia mengutuki kebodohannya yang tak membawa pakaian ganti. Saat ini hanya selembar handuk putih yang melilih menutupi dada hingga atas lututnya. "Ini semua karena si manusia menyebalkan itu." gerutunya.


Dhara berjalan mengendap-endap dan perlahan. Untung saja Rey tak ada di kamar. Ia mengambil pakaian ganti dan langsung memakai pakaian yang ada tanpa membawanya ke kamar mandi. Ia pikir Rey tak ada di kamar, jadi aman. Entah dari mana datangnya pakaian wanita beserta dalaman itu datang. Bahkan ukurannya sangat pas ditubuhnya. Dhara tak lagi memedulikan hal itu, yang terpenting saat ini, ia harus segera mengganti pakaiannya sebelum Rey datang.


"Kau berniat menggodaku?" Suara berat pemuda yang paling ingin Dhara hindari menggema di ruangan itu. Dhara terpaku ditempatnya, tubuhnya terasa kaku untuk bergerak.


Sejak kapan dia ada disini? Aaaaa malu banget, jangan-jangan dia melihat semuanya.


"Se-sejak kapan Kau disini?" Suaranya tercekat ditenggorokan. Ia begitu malu untuk membalikkan badan. Air matanya menggenang dan siap ditumpahkan.


Rey yang melihat itu ingin sekali menjahilinya, tetapi melihat pantulan istri kecilnya yang sudah hampir menangis membuatnya mengurungkan niatnya. Ia sedang menerima telepon di balkon kamarnya, dan mendapati Dhara yang baru saja selesai berganti pakaian.


"Lain kali lihat dulu, ada orang apa nggak. Untung cuma Saya yang masuk. Kalau oranga lain Saya nggak bisa bayangin lagi. Nggak usah ngambek begitu, jelek. Ayo turun, Kakek dan Ayahmu sudah menunggu untuk sarapan." Rey memasukkan telepon genggamnya ke dalam saku celana dan meninggalkan Dhara yang masih berdiri ditempatnya dengan membelakanginya.


Bersambung


Jangan lupa like komen vote and gift untuk mendukung Kak Rey.

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2