Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Butik


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Berhenti disini!" Dhara melirik pemuda di sampingnya. Memintanya berhenti di depan rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Rey hanya bisa mengiyakan, ia sudah tahu tujuan Dhara meminta turun disana.


Hujan sudah sepenuhnya berhenti. Namun terpaaan angin sore menusuk di kulit Dhara dengan baju yang masih basah di bagian depan. Dhara tak memperdulikan pandangan orang lain terhadapnya.


"Kau akan menemui ayahmu dengan keadaan seperti ini?" Rey berusaha mensejajarkan langkanya mengejar gadis itu. "Kau yakin? tak akan membuat penyakitkan semakin parah?" Perkataan Rey berhasil menghentikan langkah kaki Dhara. Benar yang dikatakan Rey, pasti ada banyak pertanyaan yang ayahnya cecarkan untuknya.


"Untuk apa Kau peduli padaku?" jawab Dhara sinis.


"Aku hanya peduli dengan jas yang Kau pakai." ujar Rey, wajah datar yang menyebalkan kembali Dhara temui.


"Dasar sok kaya, menyebalkan." Dhara ingin melepas jas yang menempel pada tubuhnya. Tetapi Rey menahannya.


"Hei, itu sudah kotor. Pasti baumu juga menempel disana. Jauhkan dariku!!" Rey menjepit hidungnya dengan kedua jari telunjuk dan jempolnya. Ia melangkah mundur menjauh darinya.


"Hah, sudahlah!" Dhara sudah lelah. Enggan meladeni Rey yang menurutnya cerewet hari ini. Dhara kembali menyusuri jalan Raya, ia harus pulang dulu ke rumah. Nanti akan kembali setelah mandi dan berganti pakaian.


Anak kecil, Kau selalu saja ceroboh. Bagaimana jika ada yang berniat jahat padamu.


Rey kembali memaksa Dhara kembali ke mobilnya yang terparkir di halaman rumah sakit. "Apalagi sih? Aku malas meladenimu. Pergi dari sini!!"


"Wow, Anak Kecil. Aku takut." Namun Rey malah menyeringai. "Diam disana, Saya hanya ingin menebus kesalahanku tadi." Rey melajukan kendaraannya menuju sebuah butik tak jauh dari rumah sakit. Bahkan hanya ada di seberang rimah sakit Ia membiarkan Dhara tetap dimobil.Setelah berbicara pada pegawai butik, ia kembali dan mengajak Dhara turun.


"Ayo masuk."


"Tunggu, disini pasti mahal. Satu potong pakaian disini bisa membeli sepuluh di toko langgananku." Dhara mengibaskan tangannya. Enggan menerima niat baik Rey.

__ADS_1


Rey mendesahkan nafasnya ke udara, hari semakin petang. Ia juga sudah lelah dengan aktifitas seharian di kantor. Malas berdebat, Rey mengangkat tubuh Dhara seperti karung beras. "Tuan, turunkan Aku. Cepat turunkan." Dhara memukuli punggung Dhara dengan sekuat tenaganya, begitupun kakinya yang terus meronta.


Rey geram tanpa sengaja ia menabok bokong Dhara yang ada di bahunya. Membuat sang pemilik langsung terdiam. Bukan menyerah. Tetapi Dhara merasa dilecehkan. Matanya sudah berkaca-kaca. Rey dapat melihat bahwa gadis itu hendak menangis saat ia mendudukkan pada sofa yang ada di dslam butik.


"Cepat layani dia, atau Tuan kalian akan marah." Rey menatap nyalang pada pegawai yang ada. Bahkan manajer butik datang langsung untuk melayani gadis itu.


"Anak kecil, ikut mereka. Kau tak usah memikirkan uang. Butik ini milik bosku." Dhara masih mengira bahwa Rey adalah sopir pribadi keluarga Anggara. Bahkan setelah ia bertemu Kakek Anggara yang menyebutkan Rey cucu. Dhara mengira Liam adalah cucu Kakek Anggara. Karena saat mengatakan cucu, tatapannya tertuju pada Liam waktu itu. Dan juga sikap Liam yang sopan dan lebih irit bicara, lebih cocok memerankan Tuan Muda dari Kakek Anggara yang baik hati.


Dasar mesum, Kau mencuri kesempatan padaku. Awas saja. Tunggu pembalasanku. Akan kubuat Kau dimarahi, kalau perlu dipecat dari pekerjaanmu.


"Silahkan, Nona pilih pakaian yang Anda sukai." ucap pegawai butik. Dhara menyeringai penuh maksud. Ini saatnya pembalasan.


"Berikan padaku baju terbaru dan teemahal di sini. Dan juga, berikan satu set pakaian kantor sesuai ukuranku." Dhara sengaja meminta pakaian yang paling mahal disini. Ia berharap bahwa Rey akan marah padanya karena telah menghabiskan banyak uang.


"Rasain, siapa suruh Kau tadi bersikap tak sopan padaku." Dhara melirik Rey yang sedang menelepon seseorang. Ia mengikuti pegawai butik. Tak lupa, Dhara membersihkan dirinya di salon yang memang bersebelahan dengan butik.


"Bagaimana, Om?" Dhara bergaya dihadapan Rey, otomatis Rey mendongakkan wajahnya, menatap penampilan Dhara yang lebih fresh. Dresh selutut berwarna peach yang pas di tubuhnya, Dan memperlihatkan kaki jenjangnya. Serta menenteng dua buah paper bag ditangan kirinya. Satu baju kotor dan satu set pakaian kerja baru untuknya. "Lumayan punya baju ganti." pikir Dhara.


Rey berjalan menuju kasir, membelakangi Dhara yang sedang bersorak karena berhasil mengerjai Rey. "Berapa semuanya?" Rey mengeluarkan kartu kreditnya.


"50 juta." Rey tak terkejut sama sekali. Pegawai butik banyak yang membicarakan mereka.


"Tolong tagihan ini berikan atas nama Tuan Muda Anggara. Kirimkan tagihannya kesana." Rey sengaja mengeraskan suaranya.


Heih, Anak kecil. Kau kira Aku tak mampu hanya membayar sejumlah uang? Bagiku uang itu tak ada artinya.


"Udah ganteng, tajir pula. Nggak pelit belanjain ceweknya. Tapi sayang kayaknya tuh cewek matre."


"Iya, buktinya dia sengaja memanfaatkan keadaan. Mentang-mentang pacarnya kaya. Doi ngambil baju termahal dan terbaru."

__ADS_1


"Tapi, Aku juga mau kalau jadi ceweknya sih."


Pembicaraan para pegawai tentu sampai di telinga Rey. Ia hanya mengedikkan bahu, ia mengabaikan ucapan para pegawai yang menggunjingnya. Toh itu tak merugikan mereka. Justru menguntungkan bukan?


"Sudah, cukup itu aja? Mau nambah lagi?"


"Nggak perlu, ini sudah cukup."


Cukup menguras tabunganmu. Cukup membuatmu dimarahi bos pemilik butik. Kalau perlu, cukup membuatmiu dipecat.


Dhara menyeringai penuh makna. Di dalam hatinya sangat puas bisa mengerjai Rey. "Terima kasih, Tuan yang baik hati. Tak perlu mengantarku. Hanya tinggal menyeberang." Dhara menunjuk rumah sakit yang ada di seberangnya.


"Hmm." Rey hanya menjawabnya dengan deheman ringan.


Melangkahkan kakinya dengan riang, Dhara menenteng kedua paper bag beserta tas jinjingnya. Dhara melenggakan kakinya setelah memastikan jalanan aman untuk diseberangi. Namun sebuah motor beekecepatan tinggi hampir menyambar tubuhnya jika Rey tak menarik Dhara ke dalam pelukannya.


Dhara bisa mendengar degup jantung Rey, pelukan hangatnya. Membuatnya merasa nayman. "Sampai kapan Kau akan memelukku seperti ini?" Dhara segera menjauhkan tubuhnya, ia kembali memunguti paper bag yang berjatuhan.


"Maaf, Anda tidak apa-apa, Nona?"


"Tidak, Saya tidak apa-apa."


Bugh. Rey menghadiahkan tinju diwajah orang itu. " Bisa nyetir nggak sih? Kau hampir menabraknya. Dan masih sempat mengatakan itu?" Dada Rey naik turun seiring dengan emosinya.


"Sudahlah, Aku juga tak apa-apa."


"Terserah." Dhara membantu pemuda itu berdiri. Ia tak dalam keadaan siap saat Rey memukulnya. Sehingga terhuyung kebelakang.


"Nggak apa-apa. Maaf." pemuda itu mengelap darah segar dari sudut bibirnya.

__ADS_1


"Farel."


Bersambung


__ADS_2