Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Pakaianku basah


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Dhara mengerjap, ia merasa sesak seperti tertimpa benda berat di tubuhnya. Hal pertama yang ia lihat adalah benda kenyal namun berotot yang ada dihadapannya. Jari telunjuknya terulur, ia sangat tergoda dengan pemandangan indah itu. "Ini mimpi nggak ya?" ucapnya dalam hati.


"Vio, jangan nakal. Papa masih ngantuk." Sebuah tangan kekar mencekal pergelangan tangannya. Dhara baru menyadari posisinya saat ini. Ternyata tangan kekar itu yang menindih tubuhnya. Pantas saja ia merasa sesak.


Dhara mendongak, menatap wajah tampan yang sangat ingin dihindarinya. "Aaaaa.... Ngapain Kamu disini? Dan... Aaaaa... Dasar mesum." Dhara berteriak, refleks mendorong Rey dengan sekuat tenaganya. Ia juga menutupi tubuhnya dengan selimut.


Jadi, semalam itu bukan mimpi? Aaaaa... Bagaimana ini? Apa dia melihat semuanya?


Dhara menggigit kuku jarinya. Semalam ia terbangun seperti mimpi. Hanya mencuci wajah lalu tidur lagi. Ia juga melepas B*a, seperti kebiasaannya saat tidur sendirian. Juga pakaian yang dikenakan cukup terbuka dibagian atas dan hanya menutupi sebagian kakinya.


Bugg. Rey terjatuh dari ranjang. Membuatnya segera terbangun dari tidurnya yang baru beberapa jam. "Aduh. Sakit." Rey mengaduh, memegangi siku tangannya mencium ujung nakas. Juga badannya yang terasa pegal karena Dhara tidur terus menyusup padanya. Sebelah tangannya kebas digunakan Dhara sebagai bantal semalaman.


"Kenapa Kau mendorongku?" suaranya serak khas orang bangun tidur. Ia juga masih sangat mengantuk. Hendak mendaratkan tubuhnya di tempat semula.


"Kau, Tuan. Kau ini pasti sengaja. Iya 'kan? Kau pasti segaja memanfaatkanku." Dhara meninggikan suaranya. Ia tak terima, padahal jelas-jelas ia juga yang mendekap Rey dengan erat. Pantas saja tidurnya semalam sangat nyaman.


"Hei, jaga ucapanmu. Kau sudah lupa? Semalam Kau mengigau, dan Kau juga yang menempel padaku. Kau bahkan tak membiarkanku bergerak sedikitpun. Melilitku, bahkan tubuhkan serasa sakit semua sekarang." Rey meraih kemeja yang ia gantungkan di ujung ranjang dan memakainya.


"Kau pasti bohong." Jelas-jelas semalam ia teringat sudah mengunci kamarnya. Darimana datangnya orang ini? Aaaa malu banget.


"Terserah." Rey melenggangkan kakinya. Rasa kantuk tak membuatnya menyerah, harus ia paksakan. Pemuda itu memilih membasuh wajahnya untuk mengurangi rasa kantuk yang terus menyerangnya.


Dhara berjalan mondar mandir sambil sesekali menggigit bibir bawahnya. Sekarang ia telah berpakaian dengan benar. "Bagaimana ini? Bagaimana ini? Kenapa Kamu begitu ceroboh?" Dhara mengutuki kebodohannya sendiri yang tak mengenali Rey semalam. Ia hanya menganggapnya mimpi.


Ia sempat curiga saat dirinya mimpi buruk, pasti akan sampai pagi ia tak dapat tidur. Tidak dengan malam tadi, ia justru merasa tenang dan nyaman dalam pelukan suaminya.


"Dhara, tenangkan dirimu. Ini hanya ketidak sengajaan. Violet, maaf ya. Semalam Papa Vio dipinjam dulu." gummnya sangat pelan. Rasa bersalah kembali menghantuinya, terutama saat Rey memanggil namanya. Bahkan dibawah alam sadarnya, ia pasti sangat menyayangi gadis kecil itu.

__ADS_1


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Dhara. Ternyata wanita paruh baya yang membantu membersihkan rumahnya sudsh datang. Sarapan pagi juga sudsh disiapkan. Hanya saja ia tak menginap, lagipula rumah mereka hanya berjarak beberapa meter saja. Dan kamar di rumah ini juga terbatas. "Budhe." Begitu Dhara memanggilnya. Usianya hampir sama dengan ayahnya.


Dan wanita itulah yang menemani keseharian ayahnya ketika Dhara tak ada dirumah. Meski usianya sepantar dengan sang ayah, namun fisik dan juga tenaganya seperti 10 tahun lebih muda. Budhe Wati, begitu ia disapa.


"Itu, Mbak. Sarapan sudah siap, Bapak menunggu di ruang makan." ucapnya dengan sopan.


"Baik, Budhe. Saya ganti pakaian dulu."


"Oh, iya. Ini kopi untuk suami, Mbak." Budhe Wati menyodorkan secangkir kopi hitam kepadanya.


"Terima kasih."


Dhara segera menutup pintu perlahan, dan mendapati Rey hanya mengenakan handuk miliknya yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Handuk berwarna merah muda yang hanya menutupi dari pinggang hingga di atas lutut. "Aaaa... Apa yang Kau lakukan, Tuan. Dimana pakaianmu?" ia segera membalikkan badan menghadap pintu yang baru saja ditutupnya.


"Disini sangat panas, dan pakaianku basah. Jadi Aku mandi sekalian." ujarnya dengan wajah tanpa dosa. Seolah ia sudah terbiasa melakukannya dihadapan wanita lain. Rey duduk ditepi ranjang membelakangi Dhara. Ia mencari benda persegi pipih di saku celananya.


"Tapi nggak harus pakai handuk itu juga." gerutunya.


"Jadi, lebih baik ku buka semua. Biar Kamu puas melihatnya?" Seringai jahil muncul diwajah Rey. Ia ingin menggoda istri kecilnya.


"Tapi apa?" ujarnya setengah berbisik ditelinga Dhara. Ia sudah mencondongkan tubuhnya pada Dhara dari belakang. Hingga gadis itu benar-benar menempel pada pintu.


"Tuan, jangan macam-macam. Atau Saya teriak." Dhara sudah ketakutan, wajahnya memerah saat mengingat kejadian semalam.


"Bukankah hal yang wajar kalau suami macam-macam dengan istri sendiri?"


Dhara hanya bisa menelan kata-katanya. Memang benar apa yang dikatakan Rey. Dia adalah istrinya, istri diatas kertas. Meski status mereka sah dimata hukum dan agama. Tetapi Dhara tak pernah menganggap pernikahan ini nyata.


"Dan kalau Kau teriak, pikirkan apa yang akan Ayah Kamu pikirkan tentang kita? Mungkin akan membuatnya senang, hanya membayangkan apa yang sudah kita lakukan. Seperti semalam." Rey berusaha menahan tawanya melihat wajah Dhara yang sudah semerah udang rebus.


"Cepat pakai pakaianmu."

__ADS_1


"Sudah ku bilang. Pakaianku basah, dan nggak ada pakaian ganti untukku disini."


"Pegang ini." Dhara menyodorkan cangkir berisi cairan hitam pekat ketangan Rey dengan kasar. Sehingga sebagian isinya menggenang dibawahnya. Ia bergegas keluar dari kamarnya tanpa memandang wajah Rey sedetikpun. "Tunggu disini, jangan kemana-mana."


Gadis itu menemui Ayah Yahya dengan segera. Ia meminjamkan pakaian ganti untuk Rey kenakan. Dhara kembali ke kamar dengan satu set pakaian ditangannya. "Semoga baju ini cukup ditubuhnya yang seperti raksasa itu." gumamnya.


"Aaaa... bisa nggak sih sopan sedikit." Dhara kembali berteriak, dan segera menutup matanya dengan sebelah tangannya saat melihat Rey tengah duduk santai hanya menggunakan handuk.


"Cepat pakai ini." Dhara memberikan pakaian ganti dengan mata terturup. Ia tak ingin matanya kembali ternoda dengan menatap tubuh enam kotak milik Rey. Serta tubuhnya yang.... Sudah sudah jangan dikatakan lagi. Nanti ada yang ngiler.


"Untukku?"


"Hmm... Ini milik Ayah. Tapi bersih kok, meskipun nggak semahal pakaianmu."


Rey mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi. Awalnya ia ingin mengerjai Dhara dengan memakainya disana. Tetapi ia juga harus memburu waktu, bisa terlambat kalau terus berdebat dengannya.


Rey keluar dengan mengenakan satu set pakaian yang Dhara berikan.


"Gimana? Masih tampan 'kan suamimu ini?" Dhara menatapnya tak berkedip. Sesuai dugaan, ukurannya dibawah yang biasa ia kenakan. Bahkan dada bidangnya seolah meronta ingin keluar. Kemeja yang membalut tubuhnya serasa sangat menyiksanya. Bahkan sebagian kancing kemeja hendak terlepas dari kaitannya.


"Ng-nggak. Maksudku kenapa dipaksain? Kasian bajunya." Dhara hampir saja mengangguk, namunia segera menggeleng dengan cepat.


"Nggak ada baju lagi. Nanti bisa sakit kalau kedinginan. Lagi pula ini warisan."


"Warisan?" Dhara mengernyitkan keningnya dalam. Ia juga melihat Rey tak nyaman dengan pakaian yang dia gunakan. Tetapi masih memaksakan diri. "Kalau nggak nyaman lepas aja deh." Ia juga merasa kasihan, pasti susah bergerak dengan pakaian yang kekecilan.


"Jadi, Kau lebih suka melihatku tanpa pakaian seperti tadi? Apa belum puas memelukku se..." Rey menaik turunkan alisnya, sengaja mempermainkan Dhara.


"Diam. Jangan diteruskan." Dhara membekap mulut Rey, ia juga harus berjinjit untuk mengimbangi tingginya yang hanya sebahu Rey.


Rey memegang tangan Dhara perlahan, mengalihkannya dari mulutnya. "Jadi Kau sudah berinisiatif sekarang?"

__ADS_1


Dhara meronta, meminta dilepaskan. Tentu saja Rey menahannya. Tetapi perhatiannya teralihkan oleh gawainya yang berdering. Itu pasti Liam, membawa pesanan untuknya.


Bersambung


__ADS_2