Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Jangan menyesal!


__ADS_3

Hai hai readers terlope.


Yukkk kepoin ceritanya Reynald & maharani... info terbarunya ada di ig thor @keynan7127


nih thor bagi dikit...


Maharani, memiliki arti ratu, permaisuri. Sesuai dengan namanya, gadis yang memiliki paras cantik, kepintaran di atas rata-rata dan juga dimanjakan oleh ayah dan kakaknya. Bukan anak konglomerat, tetapi bisa di katakan menengah ke atas. Di puja lawan jenis sudah menjadi hal yang biasa baginya. Tetapi tak sedikit yang merasa iri dengan semua yang ada dalam dirinya.


Dikelilingi banyak penggemar dari berbagai fakultas, tak membuat Aran, begitu gadis itu disapa sehari-harinya, mudah berpaling. Ia tetap setia pada satu hati, satu orang, kekasih semenjak masa sekolahnya, Farrel. Meski kini mereka mengambil tempat yang berbeda untuk melanjutkan study, tetapi keduanya masih sempat untuk saling memberi kabar satu sama lain.


Bagi mahasiswa semester akhir yang menempuh pendidikan di bidang Akuntasi, ia tengah disibukan dengan berbagai kegiatan. Tinggal selangkah lagi ia dapat mewujudkan mimpinya. Menjadi seorang Sarjana Akuntansi. Meski bertentangan dengan keinginan orang tuanya, Aran harus bisa menunjukkan bahwa ia bisa melakukan sesuai keinginannya.


"Ran, lho udah nentuin tempat magang?" sapa Kania, teman Aran sejak hari pertama memasuki kampus.


"Belum nih, masih ngambang," ucapnya menghabiskan minuman dingin hingga berbunyi. "Srrrtttt ssrrtttt... seger banget," Aran menggoyangkan gelas yang tersisa bongkahan es batu.


"Ihh pesan lagi sana, kebiasaan deh udah habis gitu juga," Kania hanya bisa menggelengkan kepalanya, terlebih saat Aran menguyah es batu, membuat giginya ngilu. "Ya ampun, nih anak nggak berubah."


"Apaan sih, mau? nih," Aran menyodorkan gelas kosong di tangannya.


"Ogah, ngilu gue lihatin lho,"


Bukannya marah, Aran hanya terkekeh menanggapi Kania. " Eh, tadi ada yang ini buat lho katanya," Kania memberikan sebatang coklat yang diikat pita berwarna merah muda.


Mengernyitkan keningnya dalam, Aran menatap Kania dan coklat itu bergantian. "Dari siapa?"


"Siapa lagi, the most wanted-nya kampus sini," Kania memutar bola matanya pada sosok yang tengah duduk membelakangi mereka. "Tuh, orangnya."


"Aelah, nggak nyerah juga dia," Aran mendecak sebal. Sudah berulang kali ia menolak, baik secara halus maupun terang-terangan. Tetapi ia tak pernah menyarah. "Buat lho aja," lanjutnya.


"Benaran? Nanti nyesel lagi," Kania kegirangan.


"Hmm... Gue bisa minta sama Farrel. Kasihan sahabatku satu ini. Nggak ada yang ngasih coklat, hahaha..."

__ADS_1


"Sialan lho, Ran. Bukan nggak ada, tapi semuanya gue tolak," ujar Kania membela diri.


Seperti hari biasa, mereka menghabiskan banyak waktu di perpustakaan. Bagaimanapun juga, mereka akan menghadapi puncak segala kesulitan selama semester akhir. Skripsi, magang dan tugas akhir sudah menanti.


Meski terkesan manja, Aran tetap berusaha yang terbaik untuk masa depannya kelak. Ia harus menunjukkan pada Papa dan kakak-nya bahwa ia bisa. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang telah susah payah ia dapatkan.


Papanya seorang dokter, begitu pula kakak sulungnya. Mereka berdua menginginkan Aran mengikuti jejaknya. Tetapi gadis itu memiliki mimpinya sendiri. Ia berjuang mati-matian untuk menolak keinginan sang papa. Dengan syarat harus berprestasi pada bidang yang ditekuninya.


"Ran," Kania masih belum puas atas jawaban Aran di kantin`


"Hmm."


"Ihh, jawab dong!"


Menutup buku yang baru selesai di bacanya, Aran menatap Kania intens. "Jangan berisik, nggak lihat gue lagi fokus?"


"Lho 'kan belum dapat tempat magang. Kenapa nggak minta bantuan Farrel. Bokapnya kan pemilik perusahaan ternama. Jadi nggak usah pusing lagi tentanng tempat magang," ucap Kania panjang lebar.


"Gue mau usaha sendiri, kalau udah nggak ada tempat yang mau terima gue, itu pilihan terakhir."


"Nggak usah ngaco. Yang ada gue mati berdiri. Pasti bakal canggung banget," Aran pasti merasa tak nyaman. Terlebih jika ia melakukan kesalahan. Lebih baik ia mencari tempat lain. "Gue udah kirim lamaran ke beberapa tempat. Kali aja mereka butuh pegawai baru."


"Benar juga yang lho bilang."


"Haish, udahlah. Kita masih ada kelas, si dosen killer. Lho mau disuruh ulang lagi?"


Membayangkan saja sudah membuat Kania bergidik ngeri. Jangan sampai berurusan sama dosen killer. Ganteng sih, tapi nggak ada ramah-ramahnya sama sekali. Bukan takut, hanya saja malas berurusan dengan orang itu. Dingin melebihi dingin-nya freezer lemari pendingin. Beku dong.


Beruntung hari ini si dosen killer hanya memberikan setumpuk tugas, pulang lebih awal dan merupakan kelas terakhir. Aran dan Kania memutuskan untuk pergi ke cafe favorit mereka.


"Ka, ke rumah gue aja, yukk. Kayaknya tamuku datang nih."


Mengusap perutnya yang terasa keram, Gadis itu bisa memastikan bahwa tamu bulanan pasti datang. Menyebalkan.

__ADS_1


"Tamu siapa?" tanya Kania, menelengkan kepalanya, melirik Aran yang meringis kesakitan. "Lho sakit, Ran." Kania menepikan mobilnya.


"Nggak papa, tamu bulanan gue, dah tanggalnya."


"Oh, gue kira apaan," Kania bernapas lega, ia mengira Aran sedang sakit.


Memutar arah, mereka menuju rumah Aran. Padahal sudah setengah perjalanan menuju cafe. Tetapi Kania juga tak bisa membiarkan Aran kesakitan.


Sesampainya di rumah Aran, mobil papa Halim sudah terparkir di carport. "Tumben, jam segini Papa udah pulang," gumamnya pelan.


"Papa kamu ada di rumah, Ran?"


"Maybe," gadis itu mengedikkan bahu, melenggangkan kaki masuk ke dalam rumah.


Disana Aran dapat melihat Papa Halim sedang menerima tamu. "Pa," sapa Aran. Tak lupa mencium punggung tangan lelaki paru baya yang telah membesarkannya. Begitupun Kania, melakukan hal yang sama dengan Aran.


"Sayang, kenalkan. Kakek Anggara. Mungkin kamu sudah lupa padanya," kekeh Papa Halim.


"Maharani? Wah, ternyata putrimu sangat cantik. Nggak nyangka, ya. Dulu Kamu masih segini," ujar Kakek mengulurkan tangannya.


"I-iya."


Aran menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal. Ia sendiri tak mengenal siapa lelaki tua yang sedang bersama papa. Tak ingin berlama-lama, Aran menyeret Kania ke kamarnya.


Merasa segar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Aran menuju ke dapur. Mengambil minum dan makanan ringan untuk teman nge-drakor. Papa Halim masih terlibat pembicaraan dengan kakek yang mengaku bernama Anggara.


Tak ingin turut campur, Aran memutar melalui tangga darurat di samping dapur. Jadwal mereka untuk mengurangi bosan, menonton film kesukaan bersama Kania sudah biasa mereka lewati bersama.


"Ya ampun, nih anak, Katanya mau mandi malah tidur, Ka, bangun. Woy, jorok banget jadi orang," mengguncang tubuh Kania. Bahkan masih mengenakan pakaian yang sama tanpa melepas kaos kaki.


"Iya, bentar lagi," sahut Kania, ia masih enggan membuka matanya.


"Buruan, udah mulai nih film nya."

__ADS_1


"Iya-iya. Sisain cemilan buat gue," Kania terpaksa harus menuruti perkataan Aran. Atau ia akan melewatkan film yang sudah lama ia nantikan.


Tugas menumpuk sudah terlupakan, mereka pasti lupa waktu jika sudah begini. Tertawa, menangis, menguras emosi bersama.


__ADS_2