
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Rey mengarahkan sinar ponsel ke arah Dhara. Gadis itu tampak sangat ketakutan, menelungkupkan kepalanya pada dua lututnya yang dilipat.
Dhara menggigit bibir bawahnya mengurangi rasa gelisah yang mendera. Ia juga berusaha menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengurangi sesak yang dirasakannya.
"Hei, tenanglah."
Dhara perlahan mengangkat wajahnya, mengintip cahaya terang yang menyorotnya. Matanya memerah dan siap menumpahkan genangan yang sejak tadi ia tahan. Keringat dingin sebesar biji jagung memenuhi wajahnya.
Tanpa menunggu, Dhara segera menghambur pada Rey. Mendekapnya begitu erat, ia menghirup aroma maskulin yang menguar dan terasa sangat menenangkan untuknya.
"Jangan pergi, Aku takut." ujarnya saat Rey mengurai pelukan diantara mereka. Tetapi Dhara justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku hanya ingin memgambil ponselku." Rey terkekeh dengan tingkah Dhara yang ketakutan, justru ia menganggapnya lucu. Benda pipih itu terlempar saat Dhara tiba-tiba menerkamnya.
Ia sedikit menjauh, tetapi tak ingin melepaskan Rey. Begitulah Dhara, ia sangat takut dengan kegelapan. Padahal selama 15 tahun hidupnya, ia sudah hidup dalam kegelapan yang selalu menemaninya. Tetapi sejak hari itu, Dhara selalu merasa sesak dan ketakutan saat mengingatnya.
"Anak kecil, ternyata ada juga hal bisa membuatmu takut."
Mereka duduk bersebelahan diatas ranjang. Tetapi masih ada bantal guling yang memisahkan mereka. Beruntungnya ada lampu darurat yang bisa digunakan. Tetapi rasa takut masih menghantui Dhara jika tiba-tiba saja lampu kembali padam.
"Jangan meledekku." ucapnya dengan memalingkan wajahnya.
Ia sangat malu dan juga kesal. Karena Rey mengetahui kelemahannya. Namun, ia juga berterima kasih, jika tak ada Rey entah apa yang akan terjadi padanya.
"Mau kemana?" Dhara menarik ujung kaos yang dikenakan Rey.
"Mau pipis, ikut?"
Dhara menggeleng dengan cepat. Wajahnya bersemu, ia segera melepaskan tangannya dari kaos yang Rey kenakan.
__ADS_1
"Ng-nggak." jawabnya singkat.
Beranjak dari tempatnya, Rey meneruskan langkahnya untuk menunaikan hajat yang ia tahan sejak memasuki kamar. Ia juga masih terus berpikir, dirumah ini tak pernah yang namanya mati listrik. Mengapa sekarang bisa terjadi?
Rumah ini sudah dilengkapi sistem otomatis, pasti ada yang sengaja melakukan hal ini. Begitulah yang terlintas dalam pikirannya.
Terlebih lagi, Violet juga tak terdengar menangis atau ketakutan. Ah ya, dia lupa bahwa Violet sudah tertidur saat ia meninggalkannya tadi.
"Kenapa belum tidur? Menungguku?" goda Rey, ia sengaja menggoda istri kecilnya. Entahlah, melihat Dhara kesal justru membuatnya bahagia dan merasa terhibur.
"Mana ada? Aku sudah tidur sejak tadi. Sekarang nggak ngantuk." elaknya.
Tetapi kedua matanya yang terlihat berair dan sayu menghianatinya. Begitupun dirinya yang menggigit bibir bawahnya menahan agar tak menguap.
"Jangan menggodaku seperti itu. Kau tak akan tahu apa yang bisa ku lakukan padamu."
Rey berbaring membelakangi Dhara, ia justru menganggap Dhara sedang menggodanya. Bagaimana tidak? Bibir yang digigitnya terlihat seksi dan begitu menggoda untuk segera dilahapnya.
"Ish, siapa yang menggodamu."
Baru saja Rey hampir mencapai alam mimpinya, suara teriakan Dhara membuatnya kembali terjaga. Ia berbalik dan mendapati Dhara masih membelakanginya dengan mata terpejam.
"Ibu, jangan tinggalin Dhara, Bu. Dhara kesepian." Tangannya mendekap bantal guling sangat erat. Seolah sedang memeluk seseorang. Rey hanya mengabaikannya, ia memilih kembali memejamkan matanya.
"Ibu, jangan bawa Kak Ray. Dhara nggak mau sendirian. Dhara mau ikut sama Ibu juga."
Gadis itu masih merancau dalam tidurnya. Bahkan Rey dapat melihat air mata yang mengalir dari kedua netra istrinya yang masih terpejam.
"Kakak, mengapa kalian begitu jahat? Mengapa kalian meninggalkan Dhara sendirian?"
Dhara terus berteriak, merancau tentang Ibu dan Kakak dalam mimpinya. Seperti sebelumnya, Rey membawa Dhara dalam pelukan hangat seperti yang pernah ia lakukan. Meski awalnya ragu, tetapi ia juga tak tega mendengar teriakan gadis itu yang terdengar sangat pilu.
"Huuuhuuu... Ibuuu... Kakakkkk... Tungguuu.. Dhara mau ikut kalian."
__ADS_1
Bahkan saat ini Dhara benar-benar terisak dengan mata yang tak kunjung terbuka. Rey merasa aneh, ia turut merasakan kesedihan yang Dhara rasakan saat ini. Relung hatinya terdalam berdenyut saat mengingat sang mama yang juga telah meminggalkannya untuk selamanya.
Sebagian air matanya mengenai piyama yang Rey kenakan saat ini. Yah, saat ke kamar mandi tadi, Rey juga mengganti pakaiannya dengan piyama tidur.
"Ada Aku." Rey mengusap punggung Dhara yang masih bergetar karena tangisnya.
"Jangan tinggalin Dhara." Dhara mendekap Rey sangat erat. Benda kenyal mirip squisy itu menempel padanya, membuat celananya terasa sesak.
"Iya, tapi jangan banyak bergerak. Atau Aku akan memakanmu." suaranya serak menahan sesuatu yang bangkit disana.
Beruntungnya Dhara menurut, ia benar-benar merasa nyaman. Sangat nyaman, hingga ia bisa tertidur seperti yang pernah ia alami saat menginap dirumah Ayah Yahya.
Rey hanya bisa mengumpat dalam hati, mengapa ia terjebak dalam situasi ini. Lagi? Ia bahkan tak dapat melampiaskan hasratnya yang mulai memercik.
Siyal. Mengapa Kau selalu membuatku tersiksa? Bahkan saat Kau berada dalam alam bawah sadarmu sekalipun. Oh, God. Ini benar-benar menyiksa.
Sebelah tangannya terulur untuk menghapus jejak air mata yang mulai mengering. Disingkirkannya helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya. Ia membelainya lembut, seolah tak ingin Dhara terbangun dan kembali menjadi gadis menyebalkan yang selalu membantahnya.
"Kau sebenarnya boleh juga. Apa yang sebenarnya sudah Kau alami, huh?"
Tangan Rey terhenti saat menyadari hal yang dilakukan ini tak benar. Ia harus membiarkan Dhara salah paham padanya dan Clara, agar gadis itu tak benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga ini dengan hati. Ia memilih bungkam dan tak menjelaskan apapun.
Rey juga tak ingin jika Dhara terluka karenanya yang serakah. Ia bahkan masih menginginkan wanita lain yang sekarang telah bersuami.
"Maaf, Aku nggak bisa memberimu harapan. Jadi jangan berharap apapun padaku. Aku melakukan ini murni karena ingin membalas budimu. Kau telah membantuku menyenangkan Kakek. Orang terpenting dalam hidupku." gumamnya pelan, sangat pelan. Sehingga hanya ia yang dapat mendengarnya.
"Kau boleh pergi, Kau kejarlah impianmu. Aku yakin, diantara kita masih banyak yang bisa dilalui tanpa adanya satu dengan yang lain."
Rey mendaratkan bibirnya pada kening sang istri, membuatnya terusik dan semakin mengeratkan pekukannya padanya.
Aroma shampo dan sabun yang tersisa pada tubuh gadis ini benar-benar membuatnya candu. Ingin berlama-lama mendekapnya, meski ia harus menekan erat-erat si adik.
Mengarungi indahnya mimpi, saling mendekap, berbagi tempat tidur, saling bertukar udara bersama pasangan halal. Sungguh, ini adalah kenyamanan yang tak bisa Dhara maupun Rey dapatkan sebelumnya.
__ADS_1
Bersambung