Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Jaga Violet


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Tangan hangat pemuda itu menyentuh wajah Dhara yang berlinang air mata. Entah sudah berapa lama ia menangis hingga wajahnya sembab. Rey dengan sabar mendengar kisah masa lalu istri kecilnya. Hatinya bergemuruh, ia juga pernah merasa kehilangan yang sama.


"Benar yang dikatakan Kakakmu, kita harus mendoakannya. Sekarang pasti Ibu sudah bahagia disurga sana." Entah sejak kapan Rey bisa bersikap lembut. Tetapi dimata Dhara, dia merasa sangat nyaman akan kelembutan yang Rey curahkan padanya.


Perasaan lega bisa mengurangi sedikit beban dalam hidupnya. Ia juga heran, mengapa bisa percaya bahwa Rey akan mendengarkan kisah kehidupannya yang lalu.


Awalnya Dhara sedang berpuas diri memandangi wajah tampan Rey. Tetapi ia tiba-tiba menangis. Rey yang merasa terusik akhirnya mengerjap, mendapati Dhara yang tengah terisak. Ia kembali mendekap Dhara, menanyakan apa yang salah padanya.


"Jangan dipendam sendiri. Anggaplah Aku ini hanya bantal guling. Kau bisa berbicara sesukamu. Agar perasaanmu menjadi lebih baik."


Dhara dibuat tercengang akan perkataan Rey. Tetapi benar juga, ia butuh melampiaskan ganjalan dalam hatinya.


Ia menatap Rey, berpikir sejenak. Sebelum ia benar-benar menceritakan kisah pedih atas kepergian sang ibu.


Ajaib, sungguh ajaib. Sekarang Dhara merasa sedikit lebih baik. Meski ia harus menanggung malu karena mengitori pakaian Rey.


...*****...


Dhara menyiapkan pakaian kerja untuk suaminya. Ini pertama kalinya ia menjalankan tugasnya sebagai seorang istri.


"Anggaplah sebagai rasa terima kasih, dia sudah membuatku merasa lebih baik." gumamnya dalam hati.


Mulai membiasakan diri berbagi ruangan dengan Rey, bahkan berbagi ranjang yang sama. Sekarang ia mulai berani membagikan beban hidupnya.


"Cepat mandi, atau Kamu akan terlambat." tegur Rey. Seperti biasa, ia hanya menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya hingga menutupi lutut.


"Nggak papa terlambat juga. Kan bosnya Tuan Suami." candanya. Dhara memalingkan wajah, meninggalkan kamar sesegera mungkin.


"Sudah mengakui Aku suamimu?"


Namun Dhara tak lagi mendengar ucapan terakhir Rey. Ia sudah menutup pintu dengan keras. Menimbulkan suara debaman.


Rey melirik pakaian yang tergeletak diatas ranjang. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah lengkungan. "Tidak buruk juga seleranya." Ia segera meraih pakaian yang disiapkan Dhara untuknya. Kemeja warna maroon, dipadukan dengan celana bahan hitam dan jas dengan warna senada, juga dasi bergaris.


Tak menunggu lama, Dhara juga sudah bersiap. Setelah berpakaian rapi, ia menata rambutnya. Digulung keatas, dan membiarkan beberapa helai menghiasi wajahnya. Memperlihatkan leher jenjangnya.


Rey cukuo tertegun untuk beberapa waktu. Sebelum ia menarik jepit rambut Dhara beserta pengaitnya. "Jelek, kayak ibu-ibu."


Melihat rambutnya kembali terurai berantakan, Dhara mendecakan lidahnya. Ia sudah susah payah menata rambutnya, tetapi Rey malah seenaknya membuatnya kembali berantakan.

__ADS_1


"Cukup diikat, seperti biasa."


Tetapi saat Dhara menguncir rambutnya mirip ekor kuda, Rey kembali menarik pengikat rambutnya. "Tuan, apa sih maumu? ini salah, begitu salah."


Waktu semakin berkurang, Dhara menggertakkan giginya merasa dipermainkan. Ia hanya membiarkan rambutnya terurai, tanpa menatanya kembali.


Dasar menyebalkan. Maunya apa sih? Nggak tau apa udah siang begini? Dia enak nggak akan dimarahin. Nah, Aku. Pasti dijadiin alesan buat menindasku.


Baru hendak memutar gagang pintu, suara ketukan terdengar dari luar. Datanglah si ceriwis bersama Clara. "Papaaaa... Lama ih." Violet sudah memanyunkan birbirnya.


"Rey, ingat janjimu semalam." ujar Clara mengingatkan.


"Hmm." ia hanya menanggapi dengan deheman. Membawa Violet dalam dekapannya. "Vio, mau ikut Papa?" tanyanya mencolek hidung sang gadis kecil.


"Emm.. Emang boleh?"


"Tentu, iya 'kan, Mama Dhara?"


Merasa dirinya disebut, Dhara mengerutkan kedua alisnya. Ia tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Rey memberi isyarat untuk mengiyakan. Dhara terpaksa menurut saja.


"Iya." jawabnya singkat.


"Pasti dia belum memberitahumu , 'kan?" Clara menunjuk wajah Rey yang tengah sibuk bersama Violet.


"Tapi..."


"Nggak ada tapi-tapian. Udah ya, Aku hampir terlambat. Titip jaga Vio." Clara menarik Dhara untuk cipika cipiki. Ia juga mengecup Vio cukup lama.


"Loh, ini nggak?" protes Rey. Karena hanya dirinya yang tak mendapat ciuman sayang.


"Minta sama yang disebelahmu. Bye. Bye Sayang." Clara sudah berlalu. Melambaikan tangannya pada ketiga orang itu begantian. Menyisakan keheningan diantara Rey dan Dhara. Begitupun Violet, ia lebih memilih diam dan melingkarkan tangannya di leher Papa Rey.


Rey benar-benar membawa Violet ke kantornya. Hari ini tak ada pekerjaan yang mendesak, hanya rapat pagi ini. Setelahnya, ia hanya perlu menandatangani beberapa dokumen penting.


"Kalian nggak sarapan?" sapa Kakek Anggara.


"Udah kesiangan, Kek. Bye."


"Maaf, Kakek. Kami berangkat dulu." Dhara mencium punggung tangan Kakek Anggara. Berpamitan untuk menyusul Rey yang lebih duu meninggalkannya bersama Violet.


"Bawalah. Ini bekal untukmu dan Vio." Ia menyerahkan paperbag berisi dua kotak makanan dengan menu yang berbeda.


"Terima kasih, Kek." ujar gadis itu seraya tersenyum. Melirik sebentar ke meja makan, kosong. Tetapi Dhara lebih baik menyimpan peetanyaan yang berkeliaran dalam benaknya. Atau dia akan benar-benar terlambat.

__ADS_1


Rey sudah memarkirkan mobilnya di depan pintu utama. Bersama Violet yang duduk disebelahnya sedang memaimkan boneka kesayangannya. Dhara mengernyit saat pintu belakang terkunci.


"Siapa yang menyuruhmu duduk dibelakang?"


"Heh?"


Menggaruk tengkuk lehernya seraya menelengkan kepala. Dhara akhirnya membuka pintu depan. Ia tak mungkin duduk bersama Violet. Juga tak mungkin duduk dibelakang. Lebih memilih kembali menutup pintu tetapi Rey menatapnya tajam. "Duduk."


"Vio, duduk sama Mama, ya, Sayang. Takut jatuh." dengan suara dibuat selembut mungkin. Bahkan senyuman kecil terukir disana.


"Nda ah. Mau cama Papa aja."


"Sayang, Papa mau nyetir. Sama Tante, yuk." bujuknya. Dhara tak memiliki pilihan lain. Lebih cepat lebih baik. Pikirnya.


Dengan sedikit takut, Violet akhirnya menurut. Duduk dipangkuan Dhara dengan memeluk erat boneka kesayangannya.


"Mau apa?" Dhara beringsut saat Rey mendekat kearahnya. Semakin dekat, bahkan hangatnya napas Rey menyapu diwajah Dhara. Mengabaikan si ceriwis yang masih terdiam ditengah mereka.


"Jangan bergerak."


Klik. Rey memasangkan sabuk pengaman untuk Dhara. Ia tahu bahwa Dhara kerepotan memgangi Violet yang duduk dipangkuannya.


Wajahnya terasa panas, ia yakin pasti sudah semerah tomat matang saat ini. Dhara memanlingkan wajahnya kearah luar jendela. Mengamati pepohohan dipinggir jalan yang mulai berkejaran.


"Hahaha... Kau ini. Jangan ke-ge-er-an deh."


"Papa, ge-el itu apa?" tanya si ceriwis. Ia memang selalu kritis. Selalu ingin tahu tentang banyak hal.


Dhara menahan tawanya. Ingin sekali menertawakan kebingungan yang Rey tunjukkan.


"Vio, tadi dibawain ini sama Kakek. Vio mau nggak?" Dhara sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia mengeluarkan kotak makan dengan bentuk hati berwarna merah muda dari paper bag.


Gadis itu mendongak, menatap kesungguhan diwajah orang yang memangkunya. Dhara menyunggingkan senyumannya. Ia memang jarang berinteraksi dengan anak kecil. Hanya bisa mencoba sebisanya.


Menganggukan kepalanya dengan malu-malu. Dhara menyuapinya dengan telaten. Sesekali menyeka sisa makanan dengan tisu. "Vio suka makan ini?" gadis kecil itu lagi-lagi mengangguk.


"Mau susu?" tawarnya lagi.


"No."


Rey sesekali melirik kesamping. Menatap lucu pada interaksi keduanya. Mungkin karena belum terbiasa. Mereka baru mengenal beberapa hari. Mungkin masih perlu penyesuaian. Terlihat mereka sangat canggung dan merasa tak nyaman. Tetapi baik Dhara maupun Violet lebih memilih diam.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2