
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dhara masih enggan beranjak dari duduknya. Rey membuang nafasnya ke udara, sangat kesal dengan tingkah Dhara. Mengetuk kaca mobil, Batas kesabaran Rey sudah mencapai puncaknya. "Masih tak mau turun? Jangan bilang Kau tak tau bagaimana caranya membuka pintu mobil ini?" Rey mencibir, namun masih membantu Khiran.
"Sombong, sopir aja belagu."
"Jangan mengumpatku. Biasanya orang yang mengumpat dibelakangku akan kena sial." Rey menarik tangan Dhara memasuki halaman rumah Kakeknya.
"Bertemu denganmu sudah membuatku kesal. Dan apa ini namanya kalau bukan siyal?" Dhara masih menggerutu, sedikit berlari untuk mensejajari langkah panjang Rey.
"Awww... Sakit." Gadis itu mengaduh saat Rey mengeratkan genggamannya. Gadis cerewet itu tak henti mengomel layaknya penjual yang sedang menjajakan dagangannya. Membuat telinganya terasa sakit.
"Diam, dan patuh sedikit. Ingat, hutangmu tergantung bagaimana usahamu untuk menyenangkan kakek tua itu." ucap Rey pelan, setengah berbisik ditelinga Khiran. Seketika Khiran menjauhkan dirinya.
Apa? Kakek tua? Jangan bilang, Aku benaran akan dijual pada bosnya.
"Hah? Kakek?" Pikirannya traveling, membayangkan dirinya harus dijual untuk menjadi pelayan pribadi Kakek tua bau tanah yang banyak maunya.
Cetakkk.
Dhara mengaduh saat jentikan jari Rey mendarat dikeningnya. "Sakit tau."
"Jangan berfikir macam-macam. Aku tau apa yang sedang Kamu bayangkan."
Awalnya Rey hanya ingin membawa Khiran memutar tanpa tujuan. Namun, ia teringat akan pesan Liam. Bahwa Kakek menunggunya dikediaman. Rey sudah berjanji akan membawa gadis yang ia cintai kehadapannya hari ini. Tapi apa dayanya. Jasmine, gadis yang ia puja telah memilih orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya.
Adellia Jasmine, gadis yang ia harapkan bisa mendampingi sisa hidupnya. Karena kelambatannya sendiri, Rey sudah tak memiliki harapan untuk bersanding dengannya. 3 tahun sudah ia memendam perasaan ini, namun di tahun ketiga ini. Ada suatu kejadian yang membuatnya pergi. Tanpa ia sempat memberitahu isi hatinya. Surat yang ia kira akan mewakili perasaannya. Justru tak sampai pada orang yang dituju.
__ADS_1
5 tahun ia di Berlin, namun rasa itu kian mencuat. Rey tak dapat melupakan kepolosan Jasmine. Dimatanya dia gadis sederhana yang penuh daya tarik. Sekarang saat ia dipertemukan kembali. Semuanya sudah jauh berubah. Bahkan Jasmine telah melupakannya. Ia sudah memiliki kehidupan baru bersama suami dan anak tercintanya.
°•°•°•°
Fash Back 5 tahun yang lalu
Jasmine, tunggu Aku jam 4 sore ini. Ditempat biasa ya. Jangan sampai gak datang. Ada sesuatu yang penting. Yang akan kukatakan padamu.
Begitulah isi tulisan dalam selembar kertas yang diselipkan dalam buku tugasnya. Rey sengaja menulis surat itu dan dititipkan pada teman sekelas Jasmine. Mereka berbeda fakultas, namun pertemuan keduanya pada saat OSPEK. Rey adalah presiden BEM pada waktu itu.
Berawal dari Jasmine, panggilan Rey untuk Adelia Jasmine. Jasmine pingsan saat upacara dilapangan. Saat itulah Rey yang membantu dan menolongnya membawa ke ruang kesehatan."Sudah bangun?" Rey menyingkap tirai yang memisahkan tempat tidur satu dan lainnya. Ia membawa makanan dan minuman hangat ditangannya.
"Terima kasih, Kak. Sudah membantu Saya." Jasmine menunduk malu, di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua dan seorang dokter jaga yang terpisahkan tirai dengan keduanya.
Rey menyunggingkan senyum manisnya. Memperlihatkan lensung pipi yang tertarik saat dirinya tersenyum. "Itu sudah menjadi tugas Saya. Makanlah! Dokter mengatakan asam lambungmu naik. Pasti belum sarapan." Rey memberikan semangkuk bubur ayam yang baru dibelinya dari kantin.
Semenjak itulah hubungan keduanya bisa dibilang dekat. Meski berbeda fakultas yang mereka ambil. Berjalan begitu saja, Rey maupun Jasmine hanya bisa memendam perasaan masing-masing. Tanpa ingin merusak hubungan baik yang telah dibina selama ini. Sampai pada hari itu, Rey mengajak Jasmine bertemu. Mengatakan ada hal penting yang ingin diberitahukan padanya.
"Sudah lewat 1 jam, mungkin ada keperluan lain." Jasmine masih setia menunggu. Cuaca mendung, sebentar lagi hujan. Tetapi, Jasmine masih menunggu. Lagit cerah berubah menjadi gelap, rintik hujan mulai membasahi tubuhnya. Menggigil akibat guyuran hujan tak ia rasakan. Lampu penerangan mulai menyala, ditaman inilah. Yang menjadi saksi bisu perjuangan seorang Adelia Jasmine menanti sosok yang ia kagumi dan telah mengisi kekosngan hatinya.
"Kau, Jasmine? Tuan menitipkan ini untuk Anda." Seorang pria paruh baya menyerahkan selembar kertas yang telah dilipat rapi.
Jangan mengharapkan Aku lagi, jangan pernah temui Aku lagi. Karena ada orang lain yang telah mengisi hatiku.
Bulir matanya mulai membanjiri wajahnya, seiring derasnya air hujan. Bahkan telepon tak diangkat, pesan juga tak dibalas. "Ternyata Aku salah, selama ini sudah menaruh harapan lebih untukmu."
Disisi lain, Rey terpaksa harus terbang ke Berlin. Ayahnya mengalami kecelakaan, dan ia harus berangkat hari itu juga. Ia tak pernah melupakan janjinya pada Jasmine, ia menitipkan surat untuknya melalui asisten yang mengantarnya ke bandara. Di dalam surat ia memberitahukan bahwa tak bisa menemui Jasmine karena harus melihat kondisi ayahnya yang mengalami kecelakaan.
Flash Back Off
__ADS_1
"Kakek, apa kabar?" Rey segera melenggangkan kakinya. Menyapa Kakek yang telah ia rindukan selama ini.
"Li, siapa orang gila ini?" Tuan Besar Anggara mengabaikan Rey, ia kembali menikmati minuman herbal yang di siapkan pengurus rumah.
"Ayolah, Kakek. Masa sama cucu sendiri lupa." Rey mendengus, mendaratkan tubuhnya di seberang kursi kayu yang di duduki Kakek tua itu.
"Masih ingat punya Kakek disini?" ucapnya datar, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Kakek Anggara sangat bahagia melihat cucu ywng dirindukan mengunjunginya. Selama 4 tahun, Rey tak pernah menampakkan batang hidungnya. Bahkan sekedar memberi kabar pun tidak pernah ia lakukan. Kecuali jika Kakek Anggara yang menghubunginya lebih dulu.
"Tentu, kalau gak ingat, mana mungkin Rey ada disini sekarang?" Rey menenggak minuman yang sama dengan Kakek. Ia langsung menyemburkan kembali minuman itu. Aneh rasanya, sedikit pahit seperti teh. Tetapi juga ada rasa asam di dalamnya. "Bbbrrrrrr... Minuman apa ini?" Rey mengelap mulutnya dengan tisu yamg ada di atas meja.
"Itu ramuan khusus." Kakek Anggara berusaha menahan tawanya, melihat raut wajah Rey yang berubah masam. Begitupun Liam, yang sedari tadi berdiri di belakang Tuan Besar Anggara.
"Kenapa gak bilang dari tadi?" Rey telah menghabiskan segelas air putih. Namun lidahnya seperti mati rasa, ramuan itu masih menyisakan rasa pahit di pangkal lidahnya.
"Siapa suruh gak tanya. Gadis cantik, kita bertemu lagi. Jadi Kau gadis yang ingin dikenalkan dengan Kakek?" Kakek Anggara menyunggingkan senyum termanisnya.
"Hehe.. Iya, Kakek. Kakek apa kabar?" Dhara menyapa Kakek Anggara. Rey mengernyitkan keningnya, bagaimana bisa Kakek mengenal Khiran.
"Seperti yang Kau lihat, Nak. Ra, bagaimana? Sudah mengikuti seleksi kerja?" tanya Kakek Anggara, mereka terlibat obrolan hangat, mengabaikan Rey yang dibiarkan menjadi pendengar setia.
Dhara? Jadi nama gadis kecil ini Dhara. Hmm... Bahkan Aku sendiri tak tahu namanya. Dan dimana Kakek mengenal orang ini?
"Jadi, Kakek yang membantuku mengirimkan surat lamaran kerjaku. Terima kasih, Kakek. Saya mengira sudah hilang waktu itu."
Bersambung
Yang mau baca kisahnya Adelia Jasmine ada di lapak saya Ibu Untuk Tuan Muda ya. Boleh kepoin, dan sangat boleh memberi dukungan untuk novel ini dan IUTM.
Terima Kasih
__ADS_1