
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Jadi, kalian saling mengenal?" Dhara begitu terkesiap saat ia tak sengaja melintas ruang tengah. Gadis itu mendengar semua percakapan antara Kakek Anggara dan Ayah Yahya.
"Ra, kebetulan Kamu disini. Ayahmu dulu adalah karyawan ditempat Kakek. Iya 'kan, Yahya?"
"Ayah punya janji apa sama Kakek? Jadi Aku ini hanya penebus hutang untuk Ayah?" Dhara merasa sakit hati, pantas saja ayahnya begitu mudahnya menyetujui pernikahan ini.
Dhara terus berlari, ia bahkan mengabaikan rasa sakit akibat bertabrakan dengan tubuh tegap Rey. Hatinya lebih sakit mendengar penuturan sang ayah pada Kakek Anggara. Ia tak menyangka Ayahnya akan setega itu padanya. Ia juga mengabaikan Rey yang berusaha mengejarnya.
"Anak kecil, tunggu. Kau mau kemana?" teriak Rey. Tetapi gadis itu terus berlari menjauh. Menghiraukan orang-orang yang terus berusaha menghentikannya. Termasuk Kakek Anggara dan Ayah Yahya.
"Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Rey meminta penjelasan atas semua yang terjadi. Ia memang sudah biasa menghadapi sikap ketus Dhara. Tetapi hari ini, ia melihat orang lain dalam diri istri kecilnya. Meski ia bisa menutupi semuanya, tetapi Rey bisa mengetahui melalui sorot matanya. Ada kehampaan dan kepedihan mendalam yang terus Dhara simpan sendiri.
"Kejar Dia. Semua ini salah paham. Ini nggak seperti yang Dhara pikirkan." ujar Kakek Anggara tegas. Ia memerintahkan Rey segera menyusul istrinya.
"Tolong bawa Dhara kembali, Benar kata Kakekmu. Ini semua nggak seperti yang dia pikirkan." Ayah Yahya memohon.
"Jelaskan dulu apa yang sebenarnya terjadi, Kek?"
"Kejar dia sebelum jauh. Nanti Kakek jelaskan." Rey menuruti perkataan Kakek. Terlebih cuaca diluar mulai mendung, sepertinya akan turun hujan lebat. Rey memakai motor sprort yang telah terparkir di halaman depan. Ia memang sengaja mengeluarkan kuda besinya, ingin berkeliling menggunakannya.
*Dhara pikir Ayah berbeda dengan yang lain. Aku selalu berpikir Ayah menyayangiku dengan tulus meskipun Aku hanyalah anak yang diinginkan. Tetapi nyatanya Aku salah. Kalian semua sama saja.
Tuhan, mengapa dunia ini begitu kejam padaku? Salahkah Aku yang mengharap cinta dan kasih sayang yang tulus dari makhlukmu*?
Jeritan kepedihan Dhara tertahan dalam hatinya, hanya air mata yang mewakili seluruh perasaannya saat ini. Mengapa ia harus terjatuh bertubi-tubi dalam kesedihan yang tiada ujung?
Langit seolah mendukung kepedihan yang Dhara alami, langit cerah tertutup awan gelap dan guyuran air dari langit membasahi tubuhnya yang berjalan tanpa tujuan.
__ADS_1
Derasnya air hujan menghalangi padangan, Dhara berhenti di tengah jalan dengan merentangkan kedua tangannya. Ia sangat lelah menjalani semuanya seorang diri. Tanpa ada seorangpun yang mengerti dirinya. Bahkan satu-satunya orang yang ia harapkan ternyata hanya ingin menjadikannya alat balas budi pada orang lain.
"Aaaa... Mama... Ada olang." teriak seorang bocah perempuan yang duduk di pangkuan seoramg wanita yang tengah fokus pada benda pipih ditangannya.
"Pak, awassss..." Wanita itu ikut berteriak setelah samar-samar melihat seseorang berdiri di depan sana.
Decitan rem kampas terdengar ditengar riuhnya guyuran hujan. Pengemudi mobil beserta penumpangnya mengelus dada. Merasa lega karena bisa menghentikan kendaraan dengan tepat waktu.
"Bagaimana, Pak? Dia nggak apa-apa 'kan?" wanita itu adalah Clara, ibu dari gadis kecil di sampingnya.
"Saya lihat dulu, Non." ucap Pak sopir. Lelaki paruh baya itu mengambil payung yang ada. Dia memutari mobil dan mendapati seorang gadis tengah terduduk di aspal.
"Kenapa Bapak nggak tabrak aja? Biar Saya mati aja."
"Nona, Anda ada yang luka tidak?" Pak supir menjawab pertanyaan Dhara dengan pertanyaan. Ia juga memayungi Dhara yang duduk disampingnya.
"Anak kecil, Kamu bodoh ya. Kalau mau mati jangan disini." Rey datang dengan setengah berlari, ia melepas sweater hangat yang dikenakannya dan memakaikan pada gadis itu. Ia juga memberikan mantel yang ia kenakan untuk memghangatkan tubuh Dhara yang semakin menggigil karena detasnya hujan dan terpaan angin.
"Papa Ley. Pio tangen Papa." gadis kecil dengan dua kucir yang digendong Clara begitu antusias ketika melihat lelaki yang dikenalnya.
"Violet, Clara." ucap Rey pelan, tetapj masih terdengar oleh Dhara.
Dhara dan Rey saling melempar pandangan. Mereka mematung ditempatnya. Cobaan apalagi ini? Belum usai masalahnya dengan ayahnya. Sekarang datang lagi wanita yang membawa seorang anak kecil. Bahkan anak itu memanggil Rey dengan sebutan Papa. Begitu banyak kejutan yang Dhara terima hari ini.
Pandangan Dhara semakin buram, dan semuanya menjadi gelap. Setelahnya ia tak mengingat apapun. Beruntunglah Rey dengan sigap menangkap tubuh gadis itu.
"Jangan bertanya apapun. Cepat bawa masuk." Clara membukakan pintu mobil untuk memudahkan Rey yang membawa Dhara dalam gendongannya.
"Biar Aku yang menjaganya. Vio, duduk di depan ya." Bocah itu hanya menurut. Tak mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Emm... Aku akan menyusul." Rey kembali mengendarai motor sportnya. Mengikuti mobil yang Clara tumpangi dari belakang. Jaraknya tak jauh dari rumah, hanya beberapa ratus meter. Tetapi mereka harus memutar karena ada perbaikan jalan.
__ADS_1
"Mama, ciapa itu?" tanya bocah kecil itu. Ia sedari tadi tak mengalihkan pandangannya dari tubuh pucat Dhara.
"Panggil Mama Dhara, oke."
"Mama Pio ada dua?" tanyanya dengan mengajungkan kedua jari telunjuknya.
"Iya, sekarang Vio punya Mama baru. Mama Dhara namanya. Senang nggak punya mama lagi?"
"Emm... Mama Ala." Gadis kecil itu mengangguk antusias. Meski ia tak mengerti mengapa ia mempunyai dua mama dan satu papa.
Rey sudah sampai terlebih dulu. Ia mengangkat tubuh pucat istrinya ala bridal style dan membawanya ke kamarnya. Kakek Anggara dan Ayah Yahya sudah cemas menanti kedatangan mereka.
"Clara, Kau datang?" ucap Kakek Anggara, wajahnya berbinar melihat siapa yang ada di belakang Rey.
"Tatek buyut." Violet menyapa Kakek Anggara dengan suara cadelnya. Ia belum fasih berbicara, meski kosakatanya mulai banyak.
"Haish, panggil Kakek Buyut, bukan tatek."
"Nda mau, maunya tatek uyut. Tatek uyut, tatek uyut...." Vio mengerututkan bibirnya, tak terima dengan Kakek Anggara yang secara tidak langsung mengkritiknya.
"Terserah Kau saja. Sini peluk Kakek Buyut." Kakek Anggara berjongkok dengan merentangkan kedua tangannya. Siap menangkap Violet yang berlari ke arahnya.
Keharuan mereka harus tertuda melihat kondisi Dhara yang masih belum sadarkan diri.Tetapi mereka juga tak dapat berbuat apapun. Kakek Anggara segera meminta Dokter Abas untuk datang ke mansion. "Kau gantilah pakaianmu. Aku akan menggantikan pakaiannya." ujar Clara. Tak ada bantahan, Rey dengan sigap berlalu ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower.
Bersambung...
Nah, siapa Violet? Siapa Clara? Apa hubungan mereka dengan Rey?
Yukk dukung Violet si bocah ceriwis.... Like komen vote and gift.
Terima kasih
__ADS_1