Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Ibu


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Mentari telah menyapa jutaan umat manusia untuk kembali pada rutinitasnya. Tak terkecuali Dhara, gadis itu mengerjap merasakan beban berat yang menimpanya. Dilihatnya wajah tampan dengan garis lembut nan teduh dihadapannya. Tak ada raut menyebalkan seperti biasanya.


Memandangi pahatan hasil karya Tuhan yang begitu menakjubkan. Alis tebal sejajar, bulu mata panjang meski tak begitu lentik, hidung mancung dan bibir tebal serta rahang kokok yang mempertegas wujud rupawan dari seorang Reynald.


Sungguh, Dhara tak ingin berpaling, ia ingin lebih lama lagi menikmati pemandangan indah itu sebelum manusia menyebalkan itu terbangun dan bersikap arogan seperti sebelumnya.


"Nah kalau begini terlihat manis."


Dhara mendaratkan telunjuknya pada hidung mancung yang mirip prosotan itu. Sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Ia berpuaa diri berlama-lama dalam posisinya saat ini.


Dialah yang membuatnya merasa tenang, merasa kenyamanan yang sulit ia dapatkan saat rasa takut itu menderanya. Ia yang dengan sadar mau menurunkan egonya untuk mendekapnya yang gemetaran. Ah, Dhara ingin waktu berhenti di detik ini. Geleyar aneh menjalar dalam lubuk hatinya terdalam.


"Nggak, nggak boleh begini."


Segera menepis semua kekagumannya untuk lelaki yang masih setia memejamkan matanya. Tanpa ada rasa terusik sedikitpun atas tingkahnya.


Dhara tak ingin waktu berputar, dan mengembalikan semua kenyataan pahit dalam hidupnya. Ingatannya menerawang jauh pada kejadian 6 tahun silam.


Dimana ia dan juga dua wanita tersayangnya menghabiskan waktu untuk bercengkerama, saling melempar candaan. Tak jarang juga berakhir mengerjai dirinya, dan membuatnya jengkel dengan tingkah konyol dua orang wanita yang lebih tua darinya. Tetapi itulah moment hangat yang selalu ia rindukan sekarang.


Meskipin hidupnya hanya mengenal satu warna, yaitu hitam sejak ia dilahirkan kedunia ini, tetapi mereka selalu memberikan warna dalam hidup Dhara. Namun, semua itu berakhir sejak hari itu. Hari yang paling tak ingin Dhara ingat dalam sejarah hidupnya. Ia bahkan belum sempat melihat wajah wanita yang telah melahirkannya secara tatap muka.


Tuhan begitu kejam padanya, ia mengambil semua yang Dhara miliki. Semuanya, orang-orang tercintanya mulai meninggalkannya satu per satu.


Flash Back On


"Ray, tolong belikan Ibu garam di warung seberang jalan." ujar wanita paruh baya yang tengah sibuk dengan peralatan tempurnya di dapur.


"Biar Dhara yang belikan, Bu. Kak Ray bilang mau ke rumah teman. Mengerjakan tugas sekolah."


Gadis itu mengambil tongkat lipat yang selama ini membantunya menuntun setiap langkahnya. Menyusuri ruangan sempit yang menghubungkan dapur. Ia menggapai sekitar, meski ia sudah sangat hafal tata letak di rumah ini.


"Jangan!!! Biar Ibu sendiri saja."

__ADS_1


Klek. Terdengar bunyi kenop yang dimatikan. Ibu berjalan mendekati gadis itu dan membantunya duduk di kursi.


"Bu, biarkan Dhara berguna untuk Ibu. Selama ini, Dhara sudah banyak menyusahkan Ibu dan Kak Ray. Dhara juga ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk Ibu dan Kakak Ray."


"Sayang, Dhara, anak Ibu yang insya Alloh sholeha. Ibu dan kakakmu tak pernah menganggapmu beban. Ibu bersyukur, Ibu sangat bersyukur memiliki kalian. Dua malaikat Ibu."


Wanita itu mendekap sang gadis yang terus saja meminta ingin membelikan garam dapur.


"Ini hanya hal kecil, Bu. Lagi pula, Kak Ray sering mengajak Dhara ke warung Koh Liong. Dhara bisa hati-hati, Bu. Jam segini jalanan pasti sepi."


"Baiklah. Ibu akan mengantarmu."


"Ibu di rumah aja. Lanjut masak, biar Aku yang ke warung. Dekat kok, Bu."


Merasa terus dipojokkan, wanita itu akhirnya mengiyakan dengan berat hati. Ia juga harus mempercayai putri bungsunya. Memang benar, Raya, anak sulungnya, sering membawa Dhara keliling untuk mengenal sekitar rumahnya. Dengan begitu Dhara bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar.


Bahkan gadis itu selalu menebalkan telinga saat ada yang menggunjingnya. Ia memiliki semangat yang tinggi. Layaknya orang normal pada umumnya.


"Ini uangnya. Ibu antar, ya." bujuknya lagi. Ia meletakkan uang berwarna ungu di telapak tang gadisnya.


Gadis itu berlalu, menyusuri jalan yang sudah sangat ia hafal tata letaknya. Bahkan persimpamgan juga adanya jalan rusak. Kak Raya yang menjelaskan detailnya, bahkan dengan sekali ucap Dhara bisa mengingatnya.


10 menit Dhara meninggalkan rumah, Ibu lupa memberikan uang untuk membeli garam. Tetapi Dhara pergi begitu saja. "Semoga belum terlambat."


"Ada apa ini? tumben jalanan rame benget." gumamnya dalam hati. wanita yang telah melahirkan dua orang anak itu mendatangi adanya banyak orang yang berkerumun.


"Dhara, ya ampun. Mana yang sakit?"


Ia segera memeluk putrinya yang sedang dikerumuni warga. Lututnya berdarah, tetapi gadis itu masih bisa tersenyum tanpa merasa sakit sedikitpun.


"Ibu, Dhara nggak apa-apa. Hanya luka kecil, maaf Dhara nggak hati-hati saat menyeberang." tangannya meraba wajah sang ibu yang menitikkan buliran bening dari kedua sufut matanya. Ia menghapus jejaknya. Tanpa sedikitpun mengeluh akan perih dikedua lututnya yang tergores.


"Maaf, Nak. Seharusnya Ibu tak membiarkanmu pergi."


"Nggak, Bu. Dhara yang salah. Jangan sedih lagi."


Kerumunan itu membubarkan diri, dibantu seorang lagi, Dhara dipapah ke teras warung. "Ibu belikan plester dulu. Kamu tunggu disini sebentar, Ra."

__ADS_1


"Ibu, jangan pergi. Dhara nggak apa-apa."


Dhara memegangi lengan sang ibu, tak ingin berpisah darinya. Meski mulutnya mengatakan tidak apa-apa, tetapi sebenarnya ia ketakutan. Tetapi gadis belia itu berusaha keras agar sang ibu tidak kuatir padanya.


"Sebentar saja."


"Baiklah."


Setelah menemukan apa yang dicarinya, wanita dua anak itu kembali menemui Dhara. Namun sebelum itu terjadi, sebuah mobil sedan melaju kencang dan hilang kendali.


Terdengar suara debaman cukup keras, bahkan membuat Dhara terlonjak. "Ada apa?" tanyanya segera berdiri, meraih tongkat yang ia letakkan disampingnya.


Dhara melupakan rasa perih di lututnya, ia bertanya pada setiap orang yang ditemuinya. "Ada apa ini?"


"Ada ibu-ibu ketabrak mobil." ucap seorang lelaki.


Orang-orang kembali berkerumun, darah segar mengalir begitu saja dari tubuh wanita yang tergeletak di aspal. "Ibu, apa dia ibuku?" gadis itu berusaha mendekat, menggapai apapun yang dapat ditemuinya.


"Dia ibumu, Nak."


"Ibuuu... Tidakkk... Ibuuu dimana Ibu?"


Seseorang membantu mendekatkan Dhara pada tubuh sang ibu yang telah terkulai lemas. Warga berbondong-bomdong membawanya ke rumah sakit. Tetapi takdir berkata lain, nyawanya tak dapat diselamatkan.


"Ibuuu... Maafin Dhara. Seharusnya Dhara nggak perlu pergi. Pasti Ibu nggak akan mengalami kejadian ini." tangisnya pecah.


Sekuat apapun ia menangis, tetap tak mengubah apapun. Tangisan pilunya sungguh menyayat hati setiap yang mendengarnya.


"Dek, jangan begini. Ibu pasti akan sedih, Kakak juga sedih. Kita doakan yang terbaik untuk Ibu, ya." Raya, sang kakak berusaha menenangkan sang adik, meski ia sendiri begitu terpukul atas kepergian orang tua satu-satunya.


"Maafin Dhara, Kak. Ini salahku. Semua ini salahku." Dhara masih terus menyalahkan dirinya. Hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.


Flash Back Off


Bersambung


Mohon maaf slow update, ada beberapa kendala.

__ADS_1


__ADS_2