Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Tanggung jawab


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Bagaimana keadaan Ayah, Dok." Dhara segera berdiri dari duduknya. Ia mencecar dokter tentang keadaan ayahnya di dalam sana. Setelah hampir satu jam, tim medis bolak balik bergantian keluar masuk ruangan ayahnya dirawat. Akhirnya, Dhara bisa bernafas lega saat melihat kepala tim medis keluar dari ruangan itu.


"Pasien sudah berhasil ditangani, ia sudah melewati masa kritisnya. Tetapi...."


"Tetapi apa, Dok?" Dhara memotong ucapan dokter sebelum selesai mengatakan penjelasannya.


"Mari bicarakan di ruangan Saya." Dhara mengekor dibelakang dokter wanita yang masih cantik, meski sudah terkikis usia.


Rey masih setia menemani Dhara, tetapi ia lebih memilih menemani lelaki paruh baya yang baru saja melewati kondisi menegangkan itu. Rey menutup pintu dengan perlahan, agar tak membangunkan seorang yang terbaring di atas bed rumah sakit.


Matanya terpejam, namun ia masih bisa mendengar ada yang mendekatinya. Yahnya, Ayah Dhara masih memejamkan matanya, ia enggan melihat siapa yang datang padanya. Jangan-jangan dua wanita rubah licik itu lagi.


Lama Rey terdiam, membiarkan Ayah Yahya beristirahat. Hanya keheningan yang ada di ruangan itu. Rey duduk di sofa dan memilih fokus pada gawainya.


Setelah 30 menit menunggu, akhirnya Rey memberanikan diri mendekati ranjang pasien.


"Apa kabar, Tuan Yahya. Saya Reynald, teman putri Anda. Saya tidak tahu apa yang sudah terjadi, tetapi Saya bisa bisa pastikan bahwa Anda memiliki putri yang sangat tangguh. Dia rela melakukan apapun untuk kesehatan Anda." Rey mendesahkan nafasnya sebentar, sebelum ia melanjukan ucapannya.


"Dia hebat, dan juga pintar. Masih bisa memilih bekerja dari pada menerima bantuan Saya. Jarang sekali Saya menemukan gadia sepertinya, dengan keadaan ekonominya saat ini. Ia masih berusaha mempertahankan harga dirinya."

__ADS_1


"Tapi, Anda tenang saja. Saya akan membuat putri Anda keluar dari jurang penderitaan ini. Dengan dia bersama Saya. Saya pastikan semuanya akan baik-baik saja." Rey mengulas senyum dibalik tatapan nanarnya akan seorang ayah. Rey tahu, lelaki paruh baya itu sangat menyayangi putrinya. Pikirannya berkelana, membandingkan dirinya dan juga hubungan keluarganya.


"Dengan apa Kau bisa membahagiakannya?" suara pelan dan sedikit serak Tuan Yahya menyadarkan Rey akan lamunannya. Rey mendongakkan wajahnya yang semula menunduk. Tatapan keduanya bertemu, tatapan seorang ayah yang selalu Rey rindukan. Namun Rey segera menepis perasaan hangat yang mulai menjalar padanya.


"Saya ingin menikah dengannya dan Saya ingin meminta doa restu Anda." Rey megatupkan kedua tangannya didepan dada. Membuat permohonan pada orang yang baru dua kali ia temui ini.


"Ja-jadi, ka-kalian sudah... Apa yang sudah Kau lakukan pada putriku?" Rey mengernyitkan keningnya dalam. Pasti ada kesalah pahaman yang perlu diluruskan disini.


"Anda tenang saja, Dhara bukan gadis seperti itu, tetapi saya rasa dengan menikahinya akan membuat Saya lebih bisa mewujudkan keinginan Anda." Tuan Yahya berpikir sejenak, mungkin usianya sudah tak lama lagi. Dan ia akan peegi dengan tenang jika ada yang benar-benar menjaga putri bungsunya.


"Tapi ingat, jika Kau berniat menyakitinya, lebih baik Kau urungkan niatmu itu."


"Niat apa?" Dhara sudah kembali dari ruangan dokter. Ia segera menemui ayah yang sangat ia rindukan. Keadaan ayahnya sudah lebih baik. Tetapi masih harus dibantu selang oksigen untuk bernapas.


"Me-menikah?"


"Kenapa Kamu terkejut, Nak. Atau dia memang ingin mempermainkanmu saja?"


Rey melirik Dhara tajam, memberi isyarat agar ia setuju dengan ide gilanya. Dhara menurut saja, atau lebih tepatnya terpaksa setuju. "Ti-tidak, Ayah. Hanya saja, Dhara masih belum lulus kuliah." ucapnya beralasan.


Ayah Yahya sedikit menarik sudut bibirnya keatas. Membentuk lengkungan, sebuah senyum yang menghiasi wajahnya. Ia nampak sangat bahagia mendengar jawaban Dhara. "Ayah nggak melarang, selama kalian memang sudah mantap dan yakin akan hubungan ini."


Menghela nafas sejenak, Ayah Yahya menatap putrinya nanar. Tangannya perlahan terulur menyentuh jemari lentik Dhara. "Ayah bisa pergi dengan tenang. Setelah melihatmu ada yang menjagamu. Ada yang bersedia memikul tanggung jawab menggantikan Ayah. Ayah sangat bahagia , Nak."

__ADS_1


Rasa sesak di dada semakin mencekik pernapasan Dhara. Terlebih setelah ia mendengar penjelasan dokter. Bahwa keadaan Ayah Yahya harus benar-benar di awasi dan dibatasi segala aktifitasnya. Tak boleh memikirkan semua yang terlalu membebani pikirannya.


Air matanya meluruh, menganak sungai. Dhara tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Ia memeluk Ayahnya dari samping. "Ayah... Jangan berkata seperti itu. Ayah akan menemani Dhara, Ayah sudah janji akan sembuh, melihat Dhara bahagia, dan Ayah bisa melihat keluarga kecil Dhara disisa hidup Ayah. Ayah tak boleh bicara seperti itu lagi. Dhara mohon, Ayah harus baik-baik saja. Dhara akan melakukan apapun agar Dhara sembuh."


"Tapi, biaya pengobatan Ayah mahal. Ayah tak ingin membebani Kamu, Nak." Ayah Yahya mengusap surai panjang putrinya. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali. Ia juga menangis haru, merasa bangga akan putri bungsunya.


"Anda tenang saja, semua biaya pengobatan sudah ditanggung. Dhara sudah berkerja di perusahaan Saya. Dan ia mendapat bonus dari pekerjaannya yang sangat bagus." Rey terpaksa berbohong, ia tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Meski ia sangat ingin.


"Putri Bapak bukan seperti yang mereka tuduhkan. Dia adalah wanita pekerja keras, untuk itulah Saya sangat kagum padanya." Dhara tercengang mendengar penjelasan Rey. Ia tak menyangka bahwa Rey akan membantunya berbicara di depan Ayahnya.


"Syukurlah, Nak. Ingatlah! Bahwa wanita yang paling berhaga adalah mahkota. Jadi Ayah mohon, jagalah dirimu sendiri, karena Ayah sudah tak bisa lagi menjagamu." Ayah Yahya tetap menampilkan senyumannya. Meski derai air mata tak ada henti membasahi wajahnya.


Menyatukan tangan Rey dengan putrinya. Ayah Yahya memberikan izin, doa restu sebagai orang tua untuk mereka berdua. "Nak, tolong jaga putri Ayah dengan baik. Jangan pernah menyakitinya. Jika seandainya tak sanggup mendidiknya, tolong jangan sakiti dia. Ayah dengan tangan terbuka akan menerimanya kembali. Jangan menghadiknya meskipun ia bersalah. Tegurlah kesalahannya sehingga ia merasa jera."


Tanpa terasa, genangan di kedua sudut mata Rey turut mengalir, mendengarkan permintaan Ayah Yahya padanya. "Terima kasih, Bapak sudah mempercayakan putri Anda pada Saya. Saya akan berusaha membuatnya tetap merasa nyaman bersama Saya."


Ayah Yahya menganggukkan kepalanya. Ia sudah lega sekarang. Harapannya, harapan semua orang tua, adalah melihat putra dan putrinya hidup dengan bahagia. "Ingatlah! Seorang lelaki harus memegang teguh janjinya. Kau berhutang kebahagiaan untuk putriku."


Namun secepat kilat, Rey segera mengutuki kebodohannya yang begitu mudah mengucapkan janji pada Ayah dari wanita yang sama sekali tidak dicintainya. Entah bagaimana dia akan menjalaninya nanti. Semua yang diucapkan Ayah Yahya adalah benar adanya. Ia secara tidak langsung telah menerima tanggung jawab untuk membahagiakan Dhara. Menggantikan tanggung jawab seorang Ayah.


Bersambung


Jangan lupa like komen vote and giftnya kakak... Supaya thornya lebih semangat lagi.

__ADS_1


TERIMA KASIH


__ADS_2