
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Ini surat pemecatan untukmu." Dhara tersentak, ia benar-benar dipecat? Apa kesalahan yanh sudah ia lakukan sampai ia harus dipecat? Apa karena uang yang kemarin Kakek Anggara berikan padanya.
"Ba-Bapak nggak salah 'kan?" Pak Yan menggelengkan kepalanya mantap. ia sendiri juga bingung dan sulit untuk memulai dari mana menjelaskannya. "Dan disana juga ada keputusan perekrutan barumu. Silahkan dibaca dan dicermati."
Dhara membaca kalimat demi kalimat yang tertera dalam kertas tersebut. Bukan hanya sekali, ia meneliti dengan seksama. Memastikan bahwa dirinya tak salah membaca. "Bapak nggak salah 'kan?"
"Ya, sesuai yang tertulis disana. Bahwa Anda akan dipindahkan ke bagian administrasi. Bekerja di bawah asisten direktur langsung." Dhara membulatkan matanya mendengar penjelasan Pak Yan. Bagaimana mungkin ia bekerja diluar job desc.
Dhara terus menggerutu sepanjang ia meninggalkan ruang HRD. Ia segera berkemas untuk meninggalkan kubikelnya. "Ra, ada apa dipanggil HRD? Dapat bonus?" ledek Nisa.
"Dipecat."
"Hah? Dipecat." teriak Nisa. Sehingga semua mata tertuju pada Dhara yang sedang mengemasi barang-barangnya.
"Sstt.. Bisa pelankan suaramu nggak. Nih, lihat sendiri." Dhara menunjukkan selembar kertas yang ia dapat dari kepala HRD.
"Whattt...." Dhara segera membekap mulut Nisa. Mereka kembali menjadi pusat perhatian diantara teman-teman yang lain.
Dhara meminta Nisa agar merahasiakan tentang promosi yang ia terima. Biarlah semua orang tahu dengan sendirinya. Ia tak ingin orang lain berprasangka padanya.
Dhara meninggalkan departement keuangan dengan langkah gontai, ia tak tau harus bagaimana menghadapi orang nomor satu ditempatnya bekerja saat ini. "Apa mungkin ini hukuman dari Kakek, karena Aku telah menghabiskan uangnya dalam waktu singkat. Cobaan apalagi ini?" gumamnya pelan.
"Mau kemana?"
"Lantai 7." jawabnya tanpa memperhatikan siapa yang bertanya padanya.
"Ada perlu apa? Bawa barang segala?" tanya orang itu lagi.
"Hufftt... Tuan. Saya juga bingung, tapi kepala HRD bilang Saya dipromosikan. Saya juga masih nggak percaya. Padahal Saya hanya karyawan magang dan belum lama bekerja disini." ucap Dhara dengan wajah lesu.
"Sepertinya orang yang merekomendasikan Saya salah makan obat kali. Bisa-bisanya memilih Saya, nggak ada pengalaman sama sekali." Dhara terus menggerutu, dan orang yang ada di belakangnya hanya bisa jadi pendengar.
"Kenapa bisa begitu?"
"Yah, sepertinya matanya kelilipan sendal jepit kali. Nggak bisa lihat karyawan yang berkompeten dan tidak."
"Berarti Kamu merasa nggak berkompeten?"
__ADS_1
"Ya nggak juga. Tapi masih banyak orang lain yang pantas menempati posisi itu."
"Kamu merasa nggak pantas. Kenapa nggak ditolak."
"Bukan nggak pantas, tapi masih belum. Masih harus banyak belajar. Dan lagi, gajinya lumayan. Hehehe..." Wajahnya berbinar saat mengingat gajinya 3 kali lipat dibanding dengan sebelumnya.
"Syukurlah kalau Kamu menyadari kekuranganmu."
"Ini orang ngeselin banget deh. Pengin ku tampol pake tumpukan kertas ini rasanya." gumamnya, namun sialnya masih terdengar oleh orang yang berdiri dibelakangnya.
"Coba aja." Dhara membalikkan badan, dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui siapa orang yang berdiri dibelakangnya. Dhara berjalan mundur, hingga membentur dinding lift.
Sebelah tangan Rey mengungkung Dhara, jarak mereka begitu dekat. Bahkan Dhara dapat merasakan hangatnya hembusan nafas Rey. Ia tak berkutik, hanya bisa menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. "Ja-jangan mendekat." Dhara mendorong dada beton Rey, tetapi tak berkutik sedikitpun.
Saat bersamaan terdengar bunyi bahwa lift sudah sampai ditujuan. Dhara segera menekan tombol untuk membuka pintu. Dan berlari untuk memghindari Rey.
"Ahahaha... Kau ini lucu sekali. Baru segitu wajahmu sudah memerah." Rey terkekeh, membuntuti Dhara. Niat hati hanya ingin membuatnya takut malah ia sendiri yang melakukan hal konyol.
Dhara segera menemui sekertaris Rey, ia tak memperhatikan kemana perginya orang yang menyebalkan itu. Dhara diantar masuk ke ruangan CEO yang berada di sisi kanan lift. Disana hanya ada dua pintu yang saling bersebelahan.
"Masuk aja, Pak Presdir ada di dalam. Nanti akan di jelaskan lebih detail job descnya." Dhara sudah berada di dalam ruangan yang mirip sebuah apartement dan begitu luas. Meski sebelumnya sudah pernah masuk, tetapi Dhara baru memperhatikan betapa luas dan nyaman ruangan ini. Pantas saja jika di sebut sebagai ruangan orang nomor satu di RA Group.
"Bagaimana hadiah yabg Kakek berikan? Kamu menyukainya?" ucap Kakek Anggara. Yah, Rey sedang menerima panggilan dari Kakek Anggara.
"Hadiah apa?" Rey menyipitkan kedua matanya.
"Hadiah spesial dari Kakek. Pasti sekarang sudah ada di ruanganmu, kan?" Rey melihat sekeliling. Seketikan pandangannya saling bertemu dengan Dhara yang sedaru tadi memperhatikan punggungnya.
"Kamu, ngapain disini?" Seru keduanya bersamaan. Rey mengangkat sebelah tangannya, ini nggak mungkin seperti yang dia pikirkan, bukan?! Rey kembali berbicara dengan Kakek Anggara mengabaikan Dhara yang mulai kesal.
"Kakek, jangan bilang hadiah yang Kakek berikan itu..."
"Terkadang Kau memang bisa berpikir jernih. Itu hadiah dari Kakek, Dhara. Apa dia sudah ada di sana? Kalian akan segera menikah, jadi lebih baik sering menghabiskan waktu bersama untuk lebih mengenal satu sama lain." Rey memijat pelipisnya yang terasa pening. Si Rubah tua ini sedang merencanakan hal apa lagi.
"Tapi, Kakek, nggak harus gini juga...." Rey merasa keberatan dengan keputusan Kakek Anggara. Tanpa berbicara dulu dengannya, Kakek sudah memindahkan Dhara untuk bekerja dengannya sebagai asisten pribadinya.
"Nggak ada tapi tapi lagi. Suka nggak suka, mau tak mau. Keputusan Kakek sudah bulat." ucapnya tegas, tanpa ingin dibantah lagi.
"Liam dikemanakan, Kek?" Rey masih berusaha menolak dengan halus. Ia enggan berada dalam satu ruangan yang sama dengan Dhara.
"Tugas Liam untuk masalah kantor, Dhara mengurus semua keperluan pribadimu. Kemanapun Kamu pergi, dia akan selalu bersamamu."
__ADS_1
"Haish, masa iya mandi juga harus ikut." gerutunya.
"Ide bagus. Kalau perlu mandi bersama." Kakek Anggara terkekeh membayangkan kedua orang ini dalam satu ruangan yang sama. Pasti seru, pikirnya.
"Kakek."
"Ya. Sudah sana, Kakek masih banyak pekerjaan." Telepon dimatikan sepihak, tanpa menunggu Rey yang hendak melayangkan protes padanya.
"Siapa yang mengizinkanmu duduk." ucap Rey dengan wajah tak suka. Ia duduk di singgasananya. Membiarkan Dhara tetap berdiri di hadapannya. Dhara memberanikan diri duduk berseberwngan dengan Rey tanpa menunggu di persilahkan. Kakinya terasa pegal sejak tadi berdiri dengan barang yang dibawanya.
"Nggak ada, habisnya nggak dipersilahkan. Lagipula kakiku pegal. Dimana Kakek Anggara? Saya harus menemuinya. Untuk menanyakan tugas yang akan beliau berikan." ujarnya tanpa basa basi.
"Untuk apa mencari Kakek?"
"Nggak usah mutar muter deh, kata Mbak yang di depan. Saya harus menemui Pak Direktur langsung."
"Saya?"
"Saya nyari Pak Direktur, bukan Anda."
"Coba baca kembali surat kontrak yang Kamu terima." Rey mengambil kertas yang sedari tadi dibawa Dhara. Ia menunjuk di pojok kiri bawah lembar terakhir.
"Nggak perlu, Saya sudah membacanya dengan teliti." Tetapi Dhara tetap merasa penasaran dengan surat tersebut. Terlebih bagian yang ditunjuk Rey. Ia terbelalak saat menemukan nama yang tertera dalam surat kontrak tersebut.
"Ini pasti salah ketik." Sanggah Dhara, ia masih belum mempercayai kenyataan meski sudah berulang kali membacanya.
"Dan Kamu lihat ini." Rey menunjuk papan nama yang ada di mejanya.
Reynald Anggara
________________
Presiden Direktur
"Sekarang sudah paham siapa Saya?" tegas Rey. Ia menautkan jemarinya di atas meja. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah seringai.
Aduh, tamatlah riwayatmu, Ra. Kamu pasti akan memenuhi rekor. Dipecat dua kali dalam satu hari.
Dhara mengutuki kebodohannya yang tak mengetahui siapa Rey sebenarnya. Terlebih ia sudah mengatainya di lift tadi.
Bersambung
__ADS_1