
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Plakk.
Telapak tangan Dhara membekas di wajah kiri Rey, meski tak menggunakan kekuatan penuh. Nyatanya wajah Rey nampak memerah akibat ulahnya.
Tak hanya Dhara, Rey juga terkejut akan reaksi Dhara padanya. Satu minggu berlalu, tetapi Rey masih saja meratapi kepergian Clara yang tiba-tiba. Tidak ke kantor, bahkan ia memilih mengurung diri dalam kamarnya.
Memegang pipi kirinya yang terasa memanas, Rey menatap Dhara dengan tatapan penuh tanya. Selama ini Dhara selalu bersikap ketus padanya. Tetapi tak pernah sekalipun berlaku kasar padanya. Hanya ucapan yang menyebalkan.
"Sampai kapan Kau akan seperti ini, hah?" Dhara tak tahan lagi dengan sikap Rey.
"Apa menurutmu dengan menangisi dan meratapinya setiap hari akan mengembalikan keadaan? Apa dengan sikapmu begini akan mengembalikan Clara? Bagaimana dengan Vio? Bukankah Kau ini Papa yang selalu dibanggakan olehny?" lanjutnya.
Dhara mencecarnya dengan berbagai pertanyaan yang justru membawa kesadaran Rey kembali pada kenyataan. Semua yang dikatakan Dhara memang benar, ia harus segera menata hidupnya kembali.
Violet membutuhkannya, satu-satunya kenang-kenangan yang Clara berikan untuknya. Sesuatu yang sangat berharga melebihi apapun.
"Bagaimana Aku menjelaskan padanya?" ucapnya lemah. Kedua netranya kembali mengembun saat mengingat Clara. Sedang ia selalu mendapat pertanyaan yang sama dari Violet. "Dimana Mama Cla? Mengapa tak mengabarinya?"
Selalu bungkam tanpa bisa menjawab pada si ceriwis Violet. Rey sendiri masih belum merelakan kepergian Clara. Hatinya seperti diremas saat mendengar Violet bertanya tentang Mama Clara padanya.
Rey lebih memilih menghindar, dari pada ia harus merasa sakit dengan pertanyaan yang Vio ajukan padanya. Hidup tanpa seorang ayah sejak ia dalam kandungan ibunya. Sekarang ia tak mau Violet juga kehilangan kasih sayang darinya. Yang sudah Violet anggap ayah kandungnya sendiri.
"Dia memang belum mengerti, tetapi cepat atau lambat dia juga harus tahu kebenarannya." ujar Dhara.
__ADS_1
"Kau benar, mungkin Aku memang tak seharusnya bersikap demikian padanya." Rey menatap Dhara dalam, seolah ingin menyampaikan sesuatu padanya. Tetapi Rey terlalu meninggikan harga dirinya.
"Papa... Ihhh lama... Pio caliin dali tadi." suara cempreng si gadis kecil mengalihkan perhatian keduanya.
Dhara merasa iba padanya, ia juga merasakan hal yang sama saat kehilangan ibu dan kakak kandungnya. Seolah ingin menyusul mereka seandainya ia bisa melakukannya.
"Vio, sini, Sayang." Dhara menepuk pangkuannya seraya merentangkan kedua tangannya. Ia sudah mulai terbiasa berinteraksi dengan Violet. Begitu pula sebaliknya.
"Mama Ala, Pio bobok cini boleh ga?" ucapnya pelan. Violet takut jika keinginannya tak disetujui Dhara dan juga Rey.
"Boleh dong. Iya 'kan Papa?" Dhara menatap tajam Rey yang sedari tadi masih bergeming di tempatnya.
"I-iya. Boleh kok, Vio bobok sama Mama Ara, biar Papa di sofa."
"Nooo... Pio mau cama-cama. Dicini aja, biaca juga cama Mama Cla beltiga." ucapnya memelas.
Rey memutar bola matanya, begitu pula Dhara. Sebelum keduanya sama-sama menatap Vio dengan wajah memelas namun sangat menggemaskan. Puppy Eyes.
"Baiklah. Putri cantik." Rey mengusap wajah Vio dengan lembut.
"Maacih, Pio cayang Papa," Vio membalas Rey dengan kecupan di pipi. "Papa, ini atit ya?" tanyanya menunjuk wajah Rey yang masih memerah.
"Ah, itu. Tapi sekarang sudah sembuh. Vio yang sembuhin tadi. Iya 'kan, istriku," wajahnya tersenyum. Tetapi terlihat jelas bahwa Rey sedang marah padanya.
"Hehe.. I-iya," Dhara merasa bersalah karena dirinya adalah penyebab dari wajah Rey yang memerah. Itu karena ulahnya.
Tetapi Rey harus berterima kasih, semua yang Dhara katakan memang benar adanya. Ia tak boleh berlarut-larut. Masih ada Violet yang membutuhkannya.
__ADS_1
Meskipun Aku ingin menyesal, tetapi semuanya sudah terlambat. Kita lewati ini bersama, akan ku pastikan Kau tak merasakan bagaimana diabaikan sepertiku.
Tak mudah baginya melewati hari-hari bersama ayah dan ibu tiri serta kakak tirinya. Rasanya begitu menyedihkan jika diingat kembali. Seperti membuka luka lama.
"Tapi, Pio mau dibacain clita. Pio mau dongeng cindelela, Pio mau jadi inces," rengeknya.
"Baca cerita sama Papa dulu, ya. Mama Ara mau buat susu. Biar Vio boboknya nyenyak."
Dhara meninggalkan keduanya menuju ke dapur. Clara sudah memberitahunya semua kebiasaan Violet. Dan juga semua makanan yang disukai dan tak disukai gadis ceriwis itu.
"Maacih, Mama," Violet sudah mulai terbiasa dan bergantung padanya. Mungkin karena rasa bersalahnya, Dhara bisa dengan mudah menerima Violet. Begitu pula sebaliknya, Violet sudah mulai merasakan kemyamanan saat bedada di dekat Dhara. Mama sambungnya.
...****************...
Mohon maaf, dengan sangat menyesal, thor harus mengakhiri kisah Dhara Rey sampai disini. Dengan berbagai alasan dan pertimbangan yang nggak bisa di jelasin disini.
Terima kasih yang sudah mengikuti setiap rangkaian kata dari thor. Terima kasih atas semua dukungan yang telah diberikan.
Lapak ini akan hiatus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Untuk lebih jelasnya boleh kunjungi IG thor @keynan7127.
Sekali lagi mohon maaf, dan terima kasih. Jika bersedia boleh mampir di lapak kuning, nov***e. Cari nama thor Key nan. Jangan lupa subscribenya.
Kisahnya El remaja juga rencana thor up disana.
Thanks semua. Salam sayang dari thor.
Keynan
__ADS_1