Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Nggak boleh pergi


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Disinilah Rey sekarang, bersama Violet.Tak lupa Dhara yang sedari tadi mengekor dibelakangnya. Pemuda tampan itu kembali melajukan kendaraannya setelah mendapat telepon dari seseorang diseberang sana.


Padahal mereka sudah sampai dipelataran RA Group. Membuat Dhara bertanya-tanya, apa yang membuat suaminya mengurungkan niatnya memasuki gedung megah percakar langit miliknya. Ia juga meminta Dhara memberitahu Liam, untuk membatalkan rapat direksi.


"Kita mau kemana?" tanya Dhara dengan nada pelan. Ia ketakutan karena Rey memacukan kendaraannya dengan kecepatan penuh. Terlebih ada Violet dalam pangkuannya.


Tak ada jawaban dari pemuda yang sedang fokus pada jalanan di depannya. Ia hanya melirik sekilas, dan kembali fokus pada setir kemudi.


"Papa, Pio tatut." gadis kecil itu memegangi ujung blazer yang Dhara kenakan.


"Nggak apa apa. Kita akan baik-baik saja." ujar Dhara menenangkan gadia kecil dalam pangkuannya.


Violet mendongakkan wajahnya. Dhara menyunggingkan senyumannya. Meski ia sendiri juga ketakutan saat ini. Ia mendekap Violet erat, membeli kepala gadis itu dengan sayang.


Violet tak mau melihat jalanan, ia memilih menyembunyikan wajahnya di dalam dekapan Dhara.


Sebuah rumah sakit yang menjadi tempat mereka kunjungi saat ini. Dhara enggan bertanya lagi. Meskipun rasa penasaran terus berputar di kepalanya. Siapa yang dirawat di rumah sakit.


Tanpa bertanya mereka menuju ruang ICU. Bahkan ruangan itu terlihat berbeda dengan ruangan lainnya. Dhara semakin yakin, bahwa yang dirawat adalah orang terdekat Rey. Tapi siapa?


"Tuan, silahkan tunggu di sini." suster mencegah Rey untuk masuk.


"Tapi, Sus. Saya harus melihat keadaannya." Rey bersikeras untuk masuk.


"Mohon kerja sama Anda, Tuan. Pasien sedang kritis. Kami sedang berusaha melakukan penanganan."


Pintu ditutup dan dikunci dari dalam. Hanya ada bisa melihat dari jendela kaca yang ada di luar ruangan.


"Clara."


Clara? Apa yang terjadi padanya?


Setetes air mata membasahi wajah tampannya. Rey segera menghapusnya, tetapi Dhara sudah melihatnya. Seberapapun Rey berusaha menyembunyikan rasa sedihnya. Dhara masih bisa melihatnya.


Sikap Rey yang demikian membuat Dhara bertambah yakin. Bahwa Rey pasti sangat memcintai Clara dan juga Violet.


Ada apa ini? Mengapa sesakit ini? Dia memang bukan milikmu, Ra. Dia sudah ada yang memiliki.

__ADS_1


"Pa, Mama mana?" tanya Violet yang kini dalam dekapan Rey.


"Sayang, Mama..." Rey tak sanggup mengucapkan apapun. Hatinya teriris saat menatap Violet dengan wajah polosnya. Pikirannya berkelana jauh, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Clara? Bagaimana ia harus menjelaskannya pada Violet?


Suaranya tercekat ditenggorokkan. Rey menatap Violet semakin dalam dengan mata berkaca-kaca. Ia tak tahu bagaimana caranya menjelaskan pada si ceriwis.


"Bagaimana keadaannya, Rey?" Kakek Anggara datang bersama dua manusia yang paling ingin dia hindari. Tetapi saat ini bukan saat yang tepat untuk melakukan itu.


Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia sendiri baru saja datang. Dan tak diperbolehkan melihat keadaan Clara.


"Vio, cucuku. Main sama Kakek, yukk." ujar lelaki yang berdiri dibelakang Kakek Anggara. Dia yang tak lain adalah Kakek kandung Violet.


Violet malah semakin mengeratkan pelukannya pada Rey. Ia tak mau ikut dengan Kakek apalagi wanita rubah yang ada di sebelahnya.


"Ra, tolong tenangkan Vio. Dia sepertinya ketakutan." ujar Kakek Anggara.


Dengan ragu ragu, Dhara mendekat. Ia mengulurkan kedua tangannya seraya mengangguk pada gadis kecil itu. Ia membalas uluran tangan Dhara setelah mendapat anggukan dari Rey.


"Siapa keluarga pasien?"


"Saya." sahut Rey dan ketiga orang lain bersamaan.


"Baiklah. Salah satu perwakilan keluarga ikut Saya."


"Baik, Tuan. Silahkan duduk."


Mempersilahkan Rey untuk duduk. Dan kembali melanjutkan uacpannya. "Ada hal serius yang harus Saya sampaikan."


Menghela napas panjang, sebelum kembali melanjutkan penjelasannya yang terjeda. "Saat ini pasien berhasil melewati masa kritisnya. Tetapi, pasien mengalami luka serius dibagian kepala. Dan juga beberapa tulang patah. Saya sarankan untuk membawanya berobat ke rumah sakit di luar negeri setelah keadaannya stabil."


"Dok, pasien kejang." seseorang menerobos masuk tanpa permisi.


"Maaf, Saya harus kembali."


Rey masih terpaku ditempatnya. Ia sudah menduga hal ini. Dari penjelasan yang Liam katakan sebelumnya, bahwa mobil yang Clara tumpangi mengalami kecelakaan serius saat menuju bandara.


Kembali disibukkan dengan peralatan medis, mereka bekerja keras untuk melakukan tindakan yang terbaik.


Semua sudah melakukan yang terbaik, tetapi Tihan berkehendak lain. Clara telah menutup mata untuk selama-lamanya.


Rey menerobos masuk, wajah pucat dengan luka lebam serta darah yang mulai mengering disebagian tubuhnya. Clara telah tertidur, tertidur untuk selamanya.

__ADS_1


"Clara, bangun." Rey mengguncang tubuh saudara kembarnya. Tetapi tetap sama, ia tak merespon apapun.


"Clara, bangun Cla. Bagaimana Aku harus menjelaskan pada Violet. Bagaimana Aku harus hidup tanpamu dengan adanya Violet? Aku nggak mengizinkanmu pergi."


"Clara, buka matamu. Clara." Rey begitu terpukul. Seharusnya ia sendiri yang mengantarkan Clara ke bandara pagi tadi.


"Papa, Mama bobok, ya?" tanya gadis itu dengan wajah polosnya. Membuat Rey semakin terpukul.


"Vio, Sayang. Mama nggak mau bangun." ujarnya kembali mengguncang tubuh Clara.


"Mama, jangan bobok lagi. Pio mau cama Mama. Mama atit, ya?"


"Sudahlah. Ini yang terbaik untuk Clara."


Kakek Anggara harus membesarkan hati, menerima kenyataan pahit bahwa Cĺara, cucu tersayangnya telah lebih dulu meninggalkannya.


"Nggak. Clara nggak boleh pergi."


Melihat Rey menangisi wanita lain dihadapannya memang menyakitkan. Tapi ia juga harus memikirkan gadis kecil yang kini memeluknya dengan sangat erat.


Pasti ia lebih merasa kehilangan, apalagi Dhara bisa melihat cinta yang tulus dari suaminya. Pasti ia sangat kehilangan sosok Clara.


...*****...


Timbunan tanah perlahan mengubur jasad Clara. Hingga kini menyisakan gundukan tanah basah dengan taburan berbagai macam bunga diatasnya. Gadis kecil itu masih belum mengerti, mungkin saja ia masih berpikir bahwa Mama Clara sedang pergi bekerja. Tapi, suatu saat nanti gadis berusia 2 tahun lebih itu pasti akan mengerti.


"Kita pulang, ya, Vio." Dhara membujuk Violet untuk meninggalkan pemakaman.


"Cama Papa juga."


Rey masih enggan beranjak dari tempatnya. Ia tak peduli lagi dikatai apapun. Saat ini ia hanya sedang kalut, atas kepergian Clara. Tangannya masih memegangi papan nisan. Sama sekali tak ingin melepaskannya.


Mendapat usapan dibahu kirinya, Rey menelengkan wajahnya. Menatap dua wanita yang saat ini harus dijaga dengan segenap hatinya. Seperti permintaan Clara semalam.


"Aku minta Kau jaga Violet dengan baik. Juga Dhara, dia istrimu. Kalian harus saling menjaga. Mungkin sekarang ini Aku akan pergi untuk waktu yang lama."


Kalimat itu selalu terngiang ditelinganya. Serta senyum perpisahan pagi tadi. Yang seolah sangat berat untuk meninggalkan Violet. Tetapi Rey baru menyadarinya sekarang.


Aku akan berusaha membahagiakan mereka berdua. Untukmu, Aku melakukan ini untukmu. Sesuai janjiku padamu.


Didekapnya dua wanita itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2