
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dhara tak tahu lagi harus bagaimana menyembunyikan muka jika teringat hal memalukam beberapa hari yang lalu. Kalau bisa ingin sekali rasanya masuk ke lubang semut dan tak mau lagi bertemu dengan Rey. Tetapi jika menghadapi Rey, darahnya terasa mendidih sampai ke ubun-ubun. Selalu saja Rey membuatnya kesal dan menyiksanya dengan pekerjaan yang tiada habisnya. Seketika menghilangkan rasa malu yang Dhara alami.
Sialan, ternyata selama ini dia mengerjaiku. Aaaa... Malu banget. Semoga hari ini dia nggak masuk lagi. Supaya Aku bisa bebas bernapas tanpa siksaan darinya.
Gadis itu masih termenung dimejanya, layar komputer sudah menyala. Dokumen yang harus ia kerjakan masih segunung bertumpuk di sebelahnya. Tetapi rasanya malas harus memulai dari yang mana dulu.
"Baru sehari nggak ketemu, dah ngelamunin Saya. Kangen ya." ujarnya dengan penuh percaya diri Rey meletakkan kedua tangannya keatas meja dihadapan Dhara.
"Tuh 'kan. Pasti Aku sedang berhalusinasi. Haish, Dhara jangan membayangkan yang tidak-tidak. Mana mungkin Tuan menyebalkan itu datang sepagi ini." gumamnya, namun masih terdengar oleh orang yang ada di seberang mejanya.
"Siapa Tuan yang menyebalkan? Dan, apa yang Kamu bayangkan tentang Saya?" Rey melemparkan dokumen yang dibawanya sehingga Dhara terjingkat dan mengembalikan kesadarannya.
"Tu-tuan, Anda...."
"Apa? Tuan Memyebalkan itu Saya?" Rey menyipitkan kedua matanya. Menatap Dhara intens, rasanya sehari tak menjahili Dhara ada yang kurang dalam hidupnya. "Kamu pasti membayangkan hal mesum dengan Saya. Ya, Saya memang tampan. Jadi wajar kalau Kamu mengagumi ketampanan Saya." Rey menyugar rambutnya kebelakang, sehingga terlihat sedikit berantakan. Tetapi hal itu memang membuatnya terlihat lebih tampan.
"Tuan, Kau ini dari mana datangnya percaya dirimu yang overdosis itu. Siapa juga yang tertarik dengan bos menyebalkan dan arogan sepertimu." ketus Dhara, ia yang semula ingin mengubah sikapnya lebih sopan, justru selalu terpancing dengam ucapan Rey.
"Overdosis? Hey, Kau kira Saya ini apa?"
"Entah, Saya mau kerja. Tolong jangan ganggu Saya." Dhara mengabaikan Rey dengan fokus pada layar dihadapannya. Tetapi bos menyebalkan itu malah duduk berhadapan dengannya. Dengan kedua tangan dilipat diatas perutnya.
"Tuan Presdir yang terhormat, sepertinya waktu Anda sangat senggang ya." ujarnya tanpa melihat orang yang dibicarakan.
"Saya Bos disini. Suka-suka Saya dong!!"
__ADS_1
"Kalau begitu Anda harus memberi contoh yang baik. Jangan sampai menimbulkan gosip murahan untuk orang lain."
"Gosip apa?" Rey kembali duduk dihadapan sekertarisnya itu. Ia tak mengerti dengan maksud ucapan Dhara padanya.
Dhara menatap punggung Rey yang semakin menghilang dibalik pintu. Mulutnya komat kamit menlontarkan kalimat hujatan untuk Rey. Liam seperti penyelamat untuknya, karena ia datang disaat yang tepat sehingga menghentikan perdebatan keduanya.
Terus aja pura-pura, semua ini karenamu, Tuan Menyebalkan. Kalau bukan karena Anda setiap hari datang ke ruangan Saya dan berbuat semena-mena, pasti para wanita itu tidak akan membicarakanku dibelakang.
Siang hari setelah jam makan siang.
"Tuan, tolong jaga sikap Anda. Ini di kantor, bagaimana jika ada yang masuk?" Dhara berusaha melepaskan diri, Rey berhasil menyudutkannya. Saat ini dirinya menempel di dinding seperti cicak dengan kedua tangan dipegang keatas oleh tangan kekar Rey.
"Bukankah itu yang Kamu inginkan?"
"Anda salah. Justru Saya sangat membenci Anda. Kalau bisa Saya ingin menjauh sejauh mungkin. Tetapi ini semua tuntutan pekerjaan." Elaknya, Dhara masih meronta, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Rey dikedua pergelangan tangannya. Ia sangat yakin pasti saat ini pergelangan tangannya sudah memerah akibat ulah Rey.
"Lepas, Saya bilang Lepas. Atau Saya teriak." Dhara mengancam. Ia meninggikan suaranya, berharap ada yang datang menolongnya.
"Pffttt... Hahaha..." Rey melepas kungkungannya. Perutnya terasa sakit karena terlalu banyak tertawa. Wajah Dhara yang ketakutan terasa lucu baginya.
"Orang gila, tadi marah-marah. Sekarang tiba-tiba tertawa sendiri." gumamnya. Namun masih terdengar oleh Rey.
"Kau yang gila. Membuatku jadi tertawa nggak jelas." wajahnya kembali datar. Dalam sedetik ia kembali memasang wajah garangnya. "Besok bersiaplah! Akan ada yang menjemputmu." Setelah berkata demikian, Rey meninggalkan Dhara dengan setuja pertanyaan. Ucapan Rey terlalu ambigu, terlalu banyak menyisakan tanya.
"Sekertaris Dhara, apa Anda mendengar Saya?" Liam menarik ujung lengan baju Dhara. Sejak tadi Liam berbicara panjang lebar padanya. Tetapi tak ada tanggapan dari orang yang diajaknya bicara.
"Li, maksudku sekertaris Li. Ada perlu apa?" Lagi-lagi Dhara termenung di meja kerjanya. Pikirannya kacau setelah semua yang terjadi dalam hidupnya. Semuanya tanpa terasa terjadi begitu saja. Membuatnya sering melamun dan tak fokus dalam bekerja.
"Lebih baik Anda istirahat, Tuan Rey mengatakan Anda diizinkan bekerja sampai ham makan siang. Untuk bersiap diri."
__ADS_1
"Bersiap untuk apa?"
"Anda bisa menanyakan langsung kepada Tuan Rey." Dhara terlalu malas untuk bertanya, ia lebih baik menyimpan tenaganya. Dan lebih baik lagi jika ia segera meninggalkan tempat ini.
Ia segera membereskan meja kerjanya, bahkan ia juga meninggalkan begitu saja pekerjaannya yang masih menumpuk disamping meja komputer. "Nggak perlu. Oke, Saya akan pergi sekarang. Bye."
Nona, Anda senang sekali. Saya yang harus menderita menyelesaikan seluruh berkas yang menggunung ini.
Liam terus menggerutu, menatap gunungan dokumen yang seharusnya menjadi tanggung jawab Dhara. Semua dilimpahkan padanya. Dan harus selesai hari ini juga.
Dhara melenggangkan kakinya dengan riang, ia sangat senang bisa terbebas dari Rey untuk saat ini. Meski ucapan Liam terdengar ambigu, tetapi Dhara tak memikirkannya. Ia pulang ke rumah dengan membawa makanan kesukaan Ayah Yahya yang ia beli sebelumnya.
"Ra, sudah pulang?" tanya sang ayah.
"Iya, Yah. Hari ini Dhara kerja setengah hari. Bagaimana keadaan Ayah? Sudah lebih baik?" Dhara bersimpuh dihadapan ayahnya. Setelah menaruh barang bawaannya di atas meja makan.
"Ya sudah, sana istirahat lebih awal."
"Ayah, Dhara bawain makanan kesukaan Ayah tuh. Tapi jangan banyak-banyak ya. Hehe..." Ayah Yahya mengusap puncak kepala putri bungsunya. Ia sangat bersyukur memiliki Dhara sebagai putrinya.
"Iya, terima kasih, Sayang." Matanya berkaca-kaca, menatap nanar gadis yang bermanja dipangkuannya.
Semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri, Sayang. Ayah hanya bisa mendampingimu sampai disini.
"Ayah kenapa nangis?" Dhara mendongakkan wajahnya, mendapati netra sang ayah yang mengembun.
"Ayah bahagia, Nak. Ayah sangat bahagia bisa memilikimu." Keduanya saling mengingat masalalu. Dimana Dhara sering bermanja dengan sang ayah diwaktu senggang. Namun hal itu sudah lama sekali tak ia lakukan. Karena kesibukan masing-masing. Terlebih Dhara yang aktif dalam organisani di kampus membuatnya lebih sering berada di tempatnya menimba ilmu.
Bersambung
__ADS_1