
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dhara sangat bersyukur karena meeting sore tadi ditunda dari jadwal. Dewi sudah di depan pintu hendak menyusul Dhara ketika melihat gadis itu membawa setumpuk dokumen yang baru selesai ia kerjakan. "Anak magang, lama banget sih? Untung aja meeting ditunda. Kalau nggak, Ses nggak tau lagi harus ngomong apa ke Pak Doni." Pak Doni adalah Manager Keuangan, pimpinan mereka bekerja.
"Maaf, Mba..." Dhara menabok mulutnya sendiri saat menyadari salah pada ucapannya. "Maksudku Ses, tadi antre di tempat foto copy." Dhara memperbaiki panggilannya untuk Dewi.
"Ya sudah, lain kali Kamu pakai aja mesin foto copy dekat pantry." ujarnya, Dewi mengambil dokumen dari tangan Dhara, cukup pegal, karena dokumen itu masing-masing memiliki 15 halaman.
Kenapa nggak dari tadi. Tau gitu kan nggak perlu nungguin lama.
Dhara hanya bisa menggerutu dalam hatinya,. Ia kembali ke mejanya. "Sabar, Ra. Omongan Ses jangan dimasukin ke hati." Nisa menghibur Dhara. Ia mengira Dhara marah karena ucapan Dewi.
"Nggak apa apa kok. Aku cuma kesal, tadi nabrak orang jadi lama." Nisa mengernyitkan keningnya, pantas saja Dhara lama, Nisa mengira Dhara memang lelet.
"Siapa?"
"Nggak kenal. Hehehe..." Dhara lebih baik tidak memberi tahu Nisa. Lagi pula Dhara tak yakin siapa Farel di perusahaan ini.
Sisa waktu yang ada, Dhara gunakan untuk mempelajari file-file yang diberikan Nisa. Ia harus secepatnya menyesuaikan diri pada lingkungan kantor. Hingga waktu menunjukkan jam pulang kantor, Dhara sudah merapikan meja kerjanya beserta semua peralatan yang ada di mejanya.
"Ra, duluan ya." Pamit Nisa, meski baru pertama kali bertemu, perbedaan usia yang hanya terpaut satu tahun menjadikan keduanya cepat akrab. Dan juga, meja kerja mereka bersebelahan satu sama lain.
"Iya, Aku juga udah selesai." Dhara mengambil tas jinjingnya. Ia menyusul yang lain, di ruangan itu tampak lengang padahal baru 5 menit dari bel berakhirnya jam kantor.
Seperti pagi hari, lift harus bergantian. Tetapi saat ini tak terlalu banyak yang mengantre karena hanya ada beberapa divisi dilantai ini. Dhara kembali melirik lift kosong yang tak berani ada yang menggunakannya. Entah tak ada yang berani atau memang dilarang. Karena tak ada keterangan atau petunjuk apapun yang tertera di pintu lift.
__ADS_1
Lebih baik Aku menunggu, dari pada ketemu manusia menyebalkan itu lagi.
"Ra, mau pulang nggak?" tepukan di lengan Dhara menyadarkan bahwa hanya tinggal dirinya yang terakhir. Menengok ke kiri dan kanan. Ternyata memang sudah sepi. Hanya mereka berempat yang tersisa.
"Hehe... Iya, Na. Kok Kamu ada disini?" Dhara mengikuti Ayna dan dua orang lain memasuki lift.
"Tadi ada tugas mengantar dokumen, sekalian aja pulang. Udah mepet pulang sih." Ayna mencibir, ia tak henti menggerutu. Mendapat tugas diakhir menuju jam pulang.
Seperti sebelumnya, mereka berpisah di depan gerbang masuk. "Ra duluan, ya." Ayna sudah dijemput oleh seseorang. Dhara harus berjalan kaki untuk bisa sampai di halte bus. Tetapi tujuannya tak langsung pulang ke rumah kontrakan. Dhara harus menjenguk ayahnya di rumah sakit.
Dhara memilih menunggu bus berikutnya, ia tak mau berdesakan, karena terlalu penuh. Langit mulai mendung, tak lama rintik hujan pun membasahi sekitar. "Kok hujan sih? Mana besok harus pakai baju ini lagi." Gerutunya. Kemeja putihnya hanya tersisa satu yang dipakai saat ini. Masih ada yang lain tetapi sudah terlalu sempit. Karena sudah 3 tahun yang lalu semenjak acara kelulusannya.
Sebuah mobil mewah melintas, genangan air bercampur lumpur memercik ke arah Dhara yang kala itu duduk di halte bus. Hujan semakin deras, namun bus yang ditunggu tak kunjung datang. Sekalinya datang pasti sudah penuh.
Mengibaskan baju putih yang yang kini bercorak kecoklatan. "Aaaaaaaa... Dasar orang kaya, bisa pelan sedikit nggak sih? Bajuku kotor semua." umpatnya, Dhara mengelap wajahnya yang juga terkena air kotor dwngan punggung tangannya. Sehingga menampakkan pakaian dalamnya yang berwarna biru cerah.
"Hei, anak kecil." suara bariton seseorang yang dikenalnya. Kaca mobil dibuka sebagian, memperlihatkan wajah menyebalkan yang sayangnya tampan.
"Kau lagi! Tuan, belum puas Kau membuatku sengsara?" Dhara menuding dengan telunjutknya. Kepalanya menunduk supaya dapat melihat si pengemudi mobil. Tanpa sengaja Rey melihat pemandangan yang membuat jiwa nurani nya bangkit. Glukk. Dengan susah payah ia menelan ludahnya.
Rey segera melemparkan jas yang ia kenakan tepat mengenai wajah Dhara. "Kau sengaja ingin menggodaku? Hah, cepat pakai." Rey segera memalimgkan wajahnya.
"Dasar menyebalkan, memangnya siapa yang mengotori bajuku? Dan ini semua karena ulahmu, Tuan Yang Menyebalkan." Dhara melirik pakaiannya yang menampakkan **********. Ia terpaksa mengambil benda yang dilemparkan Rey untuknya. Untuk menutupi pakaiannya yang basah dan menerawang. Aroma maskulin menguar di indera penciumannya. Wangi parfum Rey masih menempel pada jas yang ia kenakan.
"Dasar mesum, dia pasti sengaja melakukan ini."
"Kau ini cerewet sekali." Rey memelototkan matanya. "Cepat naik." Dhara masih mematung, Tetpaksa Rey harus turun, menarik tangan Dhara yang memakai jasnya, tangannya menghilang, bahkan juga menutupi sebagian roknya. Jas yang Rey berikan terlihat kebesaran ditubuh mungil Dhara. Karena tingginya hanya sebatas bahu Rey.
__ADS_1
"Tuan, jangan sembarangan. Kau mau membawaku kemana lagi?" Dhara meronta, namun percuma. Tangannya terasa sakit jika ia terus berusaha melepaskan. Rey semakin erat memegangnya.
Rey menyeretnya masuk ke dalam mobil. Ia memutar dan duduk di belakang setir. Perlahan Rey mendekat, semakin mendekat. Mengikis jarak diantara keduanya. Dhara semakin mundur, membentur pintu mobil. Tetapi Rey semakin maju, nafas hangatmya menyapu sebagian wajahnya. Dhara memejamkan matanya dengan tangan terkepal diatas pangkuannya.
Ini orang mau apa? Huaaa... Jangan-jangan mau berbuat tak senonoh.
Cetakkk.
Sebuah sentilan mendarat dikening Dhara. Seketika membuka matanya dan mengusap dahinya yang pasti memerah. "Jangan berfikir macam-macam, atau Kau berfikir..." Rey meraih safety belt dibelakangnya dan memasangkan padanya.
"Hahaha... Lihat wajahmu. Seperti tomat rebus." Rey terkekeh melihat wajah Dhara yang memerah. Ia yakin saat ini Dhara sedang menahan malu.
Tomat rebus katanya? Yang ada udang rebus tuh baru berubah warna.
Dhara justru terpana, menatap Rey yang terkekeh. Lesung pipi menghiasi wajah yang biasanya kaku. "Ternyata lumayan juga kalau lagi senyum gini. Nggak nyebelin." gumam Dhara sangat pelan, sehingga hanya dirinya yang mendengarnya.
"Kau bilang apa? Apa Kau sudah mulai terpesona dengan ketampananku?" Rey menaik turunkan alisnya. Ia begitu percaya diri. Lebih tepatnya narsis.
"Tuan, nggak usah kepedean. Narsis. Narsis itu penyakit tau." Dhara memalingkan wajahnya menatap tetesan air hujan yang mengalir dikaca jendela mobil.
Rey melepas rem tangan, kemudian menginjak pedal gas. Sesekali ia melirik gadis disampingnya. Sesekali Dhara membetulkan pakaiannya. Dan merapatkan jas kebesaran yang ia kenakan. Rey mengecilkan ac mobil. Ia kembali melirik gadis itu. Rey akhirnya mematikan ac mobil, Dhara hanya diam saja melihat hal itu. Baju yang basah tentu dingin diterpa pendingin. Meski sudah memakai jas yang menutupi tubuh atasnya.
Bersambung
Jangan lupa berikan like, komen, vote dan gift untu bayar author. Agar lebih semangat lagi ngetiknya.
Terima kasih
__ADS_1