
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Sesuai janji, hari ini Dhara menemui Farel sepulang kerja. Kebetulan ia memang menemani Rey untuk bertemu klien di liar kantor. "Saya masih ada urusan." ujarnya saat Rey mengajaknya pulang bersama.
Tetapi nasib baik memang tak memihaknya. Semuanya tak mulus sesuai rencana. Berita miring tentang dirinya lagi-lagi bersliweran. Bahkan ada seseorang yang sengaja mengekspos dirinya sedang berdua bersama Farel. Padahal jelas-jelas ia berempat bersama ibu dan juga adik Farel disana.
Jangan menilai orang dari luarnya. Ia terlihat polos dan lembut, ternyata ia wanita penggoda yang menjajakan dirinya kepada laki-laki kaya dan berkuasa.
Hal itu justru membuat Dhara terasa mendidih menahan emosi. Siapa sebenarnya yang selalu memberitakan tentang dirinya? Meski ia berusaha mengabaikannya, tetapi semakin dibiarkan semakin membuatnya jengah.
Tak cukup sampai disana, hal itu juga sampai ditelinga Rey. Ia sangat marah mendengarnya, ia merasa tak dihargai sebagai suami. Meski hanya diatas kertas, setidaknya Dhara saat ini masih berstatus istrinya.
"Anak kecil, sepertinya Aku terlalu membebaskanmu. Tunggu saja hukuman dariku." Rey sangat geram dengan tingkah Dhara yang tak ada habisnya membuatnya pusing.
Belum lagi kedatangan orang tuanya yang tiba-tiba. Menambah beban dalam pikirannya. Semalam Rey memang membiarkan Dhara tak pulang kerumah, karena kedatangan orang tuanya tak diundang.
"Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa Saya bantu." sapa Dhara dengan ramah. Seolah tak ada yang terjadi apapun.
"Kamu tahu kenapa Saya memanggilmu sekarang?" Dhara menggeleng.
"Bapak belum kasih tau Saya." jawabnya enteng.
"Sejak kapan Saya ini nikah sama Ibumu? Jangan panggil Saya Bapak. Memangnya Saya setua itu?" sentaknya. Rey mulai kehilangan kesabarannya, menghadapi Dhara yang selalu bertingkah.
"Please deh. Tuan, Suami. Ini dikantor. Jadi sah-sah saja Saya memanggil Anda Bapak. Memang benarkan?"
"Sudahlah!!" Rey malas menanggapi ucapan Dhara. Pasti tak akan ada ujungnya. "Jelaskan tentang berita ini." Rey melempatkan gawainya yang tertera berita miring tentang Dhara yang sedang hot dikalangan para karyawan.
"Untuk apa? Toh Saya juga nggak merasa seperti yang mereka tuduhkan."
"Saya juga nggak akan peduli. Jika..." Rey menggantungkan kalimatnya. Memangnya kenapa jika dia istrinya, Dhara sendiri juga tak peduli. Mengapa dia harus peduli? Pikirnya.
"Jika apa?" Dhara mengernyitkan keningnya.
"Sudahlah. Nanti pulang bareng. Ada yang ingin bertemu denganmu." Rey mengalihkan pembicaraan. Tak ingin lagi membahas tentang Dhara. Tetapi ia akan mengusut siapa yang telah menyebarkan hal buruk tentang istri kecilnya.
"Siapa?"
__ADS_1
"Nanti juga tau."
"Ish, main rahasia-rahasiaan segala." Dhara berdecak sebal. "Ya sudah, Saya permisi, Tuan."
"Ehm. Tuan lagi." gumam Rey pelan.
"Bye. Tuan Suami." Dhara melambaikan tangan sembari mengulas senyum dikedua sudut bibirnya.
Jam istirahat sudah berlalu 10 menit yang lalu. Tetapi Dhara masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Rasanya ia begitu malas bertemu dengan orang-orang yang menatapnya penuh kebencian.Ia memilih memesan makanan melalui jasa online.
"Temani Saya makan." ucap Rey, mencondongkan tubuhnya didepan meja yang Dhara tempati saat ini.
"Nggak mau. Saya dah pesan makanan." Dhara menolak keinginan Rey untuk makan siang bersama. Apa kata orang-orang nanti jika ada yang melihat dirinya bersama dirut mereka. Pasti akan menambah buruk citranya dimata para pegawai lain. Terutama bagi mereka yang mengidolakan Rey.
"Ikut aja." Rey menarik tangan Dhara, gadis itu terpaksa harus menurut. Ia sedang malas berdebat sekarang. Tatapan karyawan lain membuatnya risih dan juga ucapan mereka yang menusuk.
"Duhh. Pelan-pelan dong, sakit nih." gerutunya, ia memegangi pergelangan tangannya yang sedikit memerah.
"Hmm. Makanya nurut."
Mereka berdua menaiki lift khusus sampai di basement. Ruang parkir khusus para petinggi perusahaan. Liam sudah bersiap dan membukakan pintu mobil untuk tuan dan nyonya mudanya. "Silahkan, Tuan."
"Hmm." Rey hanya berdehem, dan mengangguk.
"Nggak usah sok akrab." Rey mendengus kesal, melihat senyum Dhara pada orang kepercayaannya.
Hahaha... Bilang aja ngiri.
Awas Kau Li. Sudah berani mengejekku.
Tatapan tajam Rey padanya menyurutkan niatnya . Ia menarik persneling dan segera melajukan kendaraanya meninggalkan gedung RA Gruop.
Anak kecil genit, lihat dirimu yang seperti tusuk gigi. Berani sekali mengumbar senyuman untuk Liam si manusia batu.
"Jadi, kemana tujuan kita, Tuan."
"Ke tempat biasa." ujarnya tanpa memalingkan wajahnya dari layar gadget yang masih menyala. Rey hanya memeriksa isi pesan dari Kakek Anggara. Beliau mengingatkan bahwa Rey harus membawa Dhara pada kedua tamunya.
Sedangkan Dhara, gadis itu juga fokus pada benda persegi pipih ditangannya. Ia sibuk berbalas pesan dengan Sheena, sahabat sekolahnya. Sheena mengatakan akan pulang saat sidang skripsinya selesai.
__ADS_1
Ia terkikik sembari terus menggerakkan kedua jempol tangannya yang menari dengan lincah dilayar. Tanpa memgindahkan tatapan menusuk dari orang disebelahnya yang merasa diabaikan.
Liam menginjak pedal rem tiba-tiba, padahal dalam kecepatan tinggi sebelumnya. Ponsel Dhara terlempar dan keningnya menyentuh belakang kursi yang Liam duduki.
"Li, sudah bosan bekerja, hmm?"
"Maaf, Tuan. Ada yang menyeberang tiba-tiba." Liam berdalih, tetapi memang benar. Jalanan yang semula lengang, tetapi ada yang tiba-tiba menyeberang jalan. Membuat Liam harus menghentikan mobil yang ia kendarai.
"Nggak ada orang. Jangan membual." suaranya meninggi melihat kening Dhara yang memerah.
Rey hendak memungut ponsel Dhara. Begitu pula Dhara, ia membungkuk untuk meraih benda persegi pipih miliknya yang terlempar ke bawah dihadalan Rey.
Kening keduanya menyatu.
"Aduh." Dhara kembali mengaduh. Ia memundurkan kepalanya. Rasanya keningnya seperti mencium tembok. Sakit.
"Makanya jangan main ponsel terus." Rey menggerutu, tetapi masih membantu mengambilkan ponsel milik Dhara yang retak dibagian layarnya.
"Hmm."
Dhara merebut ponsel miliknya. Layarnya terlihat hitam, mungkin kehabisan baterai. Tetapi ia ingat pagi tadi sudah mengisi daya baterai penuh.
"Yah, mati." Dhara mengibaskan benda pipih persegi panjang itu beberapa kali. Mengabaikan keningnya yang memerah. Tetapi masih tak ada hasilnya.
"Makanya, benda jadul begitu masih dipakai." sindir Rey.
"Apa sih. Nggak jelas." Dhara mencebik, terus beeusaha menyalakan ponselnya. Apalagi ia belum sempat membaca pesan terakhir yang Sheena kirimkan padanya.
"Turun."
Ucapnya tanpa mau dibantah. Rey memerintahkan Dhara turun. Mereka sudah sampai di resto tempatnya biasa singgah.
Dhara menatap sekeliling. Resto mewah yang ia tahu hanya dikunjungi kalangan menengah keatas. Bukan hal yang menakjubkan bagi Dhara. Sebelum hari itu, Dhara masih bisa merasakan lezatnya olahan resto sejenis ini. Yang kebanyakan adalah menu asning.
"Kita, mau ngapain kesini?"
"Beli bahan bangunan." ujar Rey kesal.
"Ini bukan tempatnya, Tuan. Maksudku, suami." Dhara menabok mulutnya yang selalu tak terbiasa memanggil Rey dengan sebutan suami.
__ADS_1
Tetapi Dhara tetap mengekori Rey bersama Liam dibelakangnya.
Bersambungf