
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dhara berjalan mengekori Liam sampai di ruangan Rey. Dhara diantar ke ruangan dimana Kakek Anggara sedang beristirahat. Tetapi ia tidak langsung masuk saat terdengar ada orang lain berada di dalam sana.
"Kakek sudah bisa menilai Dhara, Rey. Dia gadis yang baik, dan tidak mata duitan seperti gadis lain yang mendekatimu hanya demi uang dan kekayaan." Terdengar percakapan Rey dan Kakek dari luar, pintu tak sepenuhnya tertutup, menyisakan sebagian celah untuk Dhara mendengar semua yang Kakek Anggara katakan.
"Tapi menikah nggak semudah itu, Kakek." Elak Rey.
"Anggap saja ini permintaan Kakek yang terakhir. Umur Kakek sudah tak akan lama lagi, mungkin esok lusa atau bahkan nanti malam malaikat maut akan datang menjemput Kakek." ujar Kakek Anggara sendu. Tentu saja hal itu membuat Rey tak dapat berkutik.
"Kalau dia menolak, terus Aku bisa apa, Kek?"
"Dia pasti setuju."
"Kakek sangat menyukainya, sikapnya sopan dan lembut."
"Kenapa nggak Kakek aja yang nikahin dia." gumam Rey, tetapi masih bisa terdengar oleh Kakek.
"Kamu ini, pantas saja sampai saat ini masih tak memiliki wanita manapun. Mau punya Nenek Muda? Kalau bisa sih nggak masalah, dia bisa mewarisi semua usaha Kakek. Dari pada Cucu kandungku yang menganggapku orang lain."
"Ya kali dia mau sama Kakek, si rubah tua."
"Emang dasar Kamu ini rubah licik. Kakek nggak mau tau. Kamu harus menikah dengannya, titik. Nggak pake koma."
"Terserah Kakek aja." Rey sudah malas berdebat dengan kakeknya. Tetapi jika dipikirkan kembali, Kakek Anggara hanya memilikinya sebagai satu-satunya keluarga.
Rey keluar menuju meja kerjanya. Tetapi ia mendapati Dhara sedang termenung di depan pintu. Bersandar pada tembok, dengan kedua tangan dilipat di dada. Sentilan di keningnya menyadarkan Dhara akan lamunannya. "Awwwss... Kenapa hobi banget nyentil kening?" gerutunya.
"Kau, ngapain disini? Nguping ya?" cecar Rey. Ia menatap tampilan Dhara dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Tuan, jangan menatapku seperti itu." Dhara menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jawab dulu pertanyaanku. Ngapain nguping disimi?"
__ADS_1
"Nggak. Buat apa Saya nguping. Bosmu yang suruh Saya kesini."
"Bos?" Rey mengernyitkan keningnya dalam.
"Kakek Anggara bosmu, 'kan? Buktinya sekarang Tuan ada di ruangan CEO. Jadi siapa lagi bosnya? Nggak mungkin kalau...."
"Iya, bawel. Sudah sana." Rey kembali ke singgasananya. Dan menghubungi Liam untuk melanjutkan jadwal rapatnya yang tertunda.
Kakek ini, malah lebih sayang sopirnya daripada cucu sendiri. Memaksa menikah denganku, siapa juga yang mau dengan orang yang menyebalkan sepertinya. Arogan, mendominasi, suka menindas orang.
"Kakek." Dhara duduk di tepi ranjang, ia tahu Kakek Anggara hanya pura-pura tidur. Sebab ia mendengarnya berbicara dengan Rey. Meski hanya beberapa patah kata saja. Namun ia bisa menyimpulkan maksud Kakek.
"Kakek, Dhara bukan orang yang baik. Kalaupun Dhara menyetujui keinginan Kakek, itu semua hanya demi uang. Sekarang ini semuanya membutuhkan uang dan kekuasaan. Kalau ada kesempatan kenapa tidak? Lagi pula Dhara memang membutuhkan itu semua. Jadi nggak bisa mengelak lagi bahwa tujuanku sama seperti tang lainnya." Gumamnya pelan, Dhara tersenyum masam. Tak dipungkiri, bahwa Rey sudah banyak membantunya. Dhara mengira bahwa itu semua memang keinginan Kakek Anggara.
Mana ada orang jahat mengaku? Kalau iya, penjara penuh dengan orang sepertimu.
"Kakek, apa sudah lebih baik?"
"Emm... Masing pusing." Dhara membantu Kakek Anggara duduk bersandar dengan bantal yang ditumpuk. Cukup lama mereka membicarakan banyak hal.
Sampai akhirnya Kakek mengutarakan keinginannya. Supaya Dhara memenuhi permintaannya. "Dhara, tolong bantu Kakek, ya."
Kakek Anggara meminta Dhara menyetujui pernikahan dirinya dan Rey. Meski Dhara sendiri bingung, apa alasan sebenarnya Kakek begitu memohon padanya. Tetapi ia mengiyakan saja, tak tega melihat wajah sendu Kakek Anggara yang terus memohon padanya.
"Baiklah, Dhara. Ambil ini sebagai uang terima kasih." Kakek memberinya selembar cek yang telah ia tanda tangani. Nominal yang tertera cukup menggiurkan, 9 digit angka yang tertera dalam cek tersebut.
Mungkin ini saatnya membuat Kakek ilfil. Dengan begitu, Kakek akan membenciku dan membatalkan rencanya.
"Terima kasih, Kakek. Kakek memang paling mengerti." Dhara menampakkan wajah sangat bahagia, meski ia sendiri tak tahu mau diapakan uang sebanyak itu. Dhara mengambil cek tersebut dan menyimpannya dalam saku blazer yang ia kenakan.
"Ini baru uang muka. Jika Kau bersedia memenuhi keinginan Kakek. Kakek akan memberimu lebih dari itu."
"Dhara tunggu kabar baik dari Kakek. Kalau begini, Dhara tak akan sungkan lagi." Dhara tak ingin membuat Kakek Anggara curiga padanya. Ia harus bisa membuat Kakek Anggara tak menyukainya. "Oh iya, Dhara berarti tak usah lagi bersusah payah kerja disini. Dan juga, Dhara bisa kembali ke kehidupan Dhara yang sebelumnya. Bisa jalan-jalan, shopping, liburan. Hah, senangnya."
"Yah, Kau bisa melakukan itu semua. Maka menurutlah!" tegas Kakek Anggara.
__ADS_1
"Baik, sepertinya Dhara harus kembali, Kek."
"Mengapa harus kembali? Kau bisa menemani Kakek selama Kau mau? Tak ada yang melarangmu selama Kakek yang meminta." Dhara masih bersikeras untuk kembali berkerja. Ia merasa tak enak dengan karyawan lain. Apalagi Dhara masih karyawan magang dan baru seminggu ini bekerja.
Kakek Anggara akhirnya menyetujuinya. Setelah Dhara pergi, ia sudah tak perlu lagi berakting. Kakek Anggara memilih berkeliling sebentar dan pulang ke rumah setelahnya.
Dhara termenung, menopang dagu dengan sebelah tangannya. Ia tak tahu harus diapakan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Tetapi Dhara enggan menggunakan uang tersebut untuk keperluan pribadinya.
Tiba-tiba tercetus sebuah ide brilian yang ia pikirkan. "Aku harus bergegas, sepulang kerja akan ku habiskan uang ini. Dengan begitu, Aku akan dibenci dan pernikahan ini dibatalkan." Sebuah seringai menghiasi wajah cantiknya. Dhara harus membuat Kakek Anggara tak menyukainya.
"Ra, Kamu ini kenapa? Dari tadi senyum-senyum sendiri." ujar Nisa. Ia sedari dari memperhatikan Dhara yang melamun dan sesekali tersenyum, bahkan menyeringai.
"Eng-enggak kenapa-napa. Hanya senang, ayahku sudah membaik. Dan sudah boleh pulang dari rumah sakit." elak Dhara, ia tak mungkin menceritakan tentang rencanya pada Nisa.
"Yakin? Jangan sampai Kamu setres karena masalah pekerjaan."
"Benaran, suer." Dhara mengacungkan dua jarinya ke udara.
"Ya udah, yuk siap-siap. Bentar lagi pulang."
"Emm. Iya juga." Dhara melirik arloji yang melekat dipergelangan tangannya. Jam pulang kerja masih 10 menit lagi. Semua tugas sudah ia kerjakan. Pasti sudah tak ada pekerjaan lagi. Pikirnya.
"Anak magang, besok pagi ke ruang HRD." Dewi berdiri di samping kubikel yang Dhara tempati.
"Ada apa, Sis?" Dhara mengernyitkan keningnya dalam. Ia tak merasa memiliki kesalahan. Terlambat juga tidak, absen apalagi.
"Kamu tanya langsung ke bagian HRD besok." Dewi berbalik menuju ruangannya. Namun langkahnya terhenti saat dirinya mengingat kejadian siang tadi. "Ra, Kamu nggak menyinggung Pak Liam, 'kan? Atau jangan-jangan Kamu meninggung Presdir kita?"
"Hah? Menyinggung? Mana ada, Sis. Tadi itu hanya dipanggil untuk... untuk..."
Aduh, gima jelasinnya? Nggak mungkin Aku bilang kalau Aku mengenal Kakek Anggara. Bisa-bisa mereka berpikir yang tidak-tidak.
"Kamu dipanggil ke ruang Pak Liam, Ra?" Nisa yang mendengar percakapan mereka ikut bicara.
"Untuk apa?" tanya Dewi penuh selidik.
__ADS_1
"Ah itu, hanya disuruh membantu merapikan dokumen. Yah, hanya itu." Dhara terpaksa berbohong pada kedua rekannya.
Bersambung