Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Dipecat


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Sesuai rencana awal, Dhara menghabiskan 200 juta yang ada dalam rekeningnya dalam waktu dua jam saja. Sungguh pemborosan yang tak pernah Dhara bayangkan sebelumnya. Dhara menyeringai penuh kemenangan. Pasti rencanya akan berhasil, besok ia tinggal memberitahu Kakek Anggara bahwa ia sudha berhasil menghabiskan seluruh uang pemberiannya hanya dalam waktu satu malam.


Dhara terlelap dengan begitu mudahnya. Ia sampai di rumah pukul 9 malam. Bahkan Ayah Yahya sudah tertidur tanpa menunggunya. Beliau sudah pulang dari rumah sakit tiga hari setelah menjalani operasi. Dan saat ini, ada perawat yang menemani Ayahnya saat Dhara tidak ada dirumah.


Gadis itu terbangun mendengar suara berisik dari ponselnya. Ternyata Shena, sahabatnya yang kini mengikuti Ayah dan Kakaknya ke luar negeri. Karena kesibukan keduanya, sudah lama mereka tak mengirim kabar satu sama lain. "Berisik banget sih." Dhara menggeser ikon hijau di layar gadget tanpa melihat siapa yang menghubunginya sepagi ini.


"Ya ampun, Ra. Lama banget sih, jangan bilang Kamu masih muka bantal." suara cempreng Shena membuat Dhara menjauhkan benda pipih ditangannya sejauh mungkin. Ia sudah sangat hafal dengan kelakuan Shena. Dhara melirik jam dindimg di kamarnya. Masih pagi, ini terlalu pagi untuk Dhara bangun. Meski ia memang selalu bangun sebelum subuh.


"Shen, bisa nggak kecilin volume suaramu. Berisik tau." ucap Dhara kesal, ia terduduk sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Ya kali, ini udah siang, Ra."


"Ya disitu, disini masih gelap." Shena ada di Australia, perbedaan waktu 3 jam lebih cepat di sana. Untuk itulah, sekarang di Australia tempat Shena tinggal matahari sudah mulai meninggi kurang lebih jam 07.30 waktu Australia.


"Owh, iya. Aku lupa, hehe..."


"Ngapain telpon?"


"Ya ampun, Ra. Apa Kamu sudah lupa dengan Aku yang imut yahut kayak marmut ini." Dhara terkekeh, ia dapat melihat wajah kesal Shena dari layar gadgetnya. Dhara sangat merindukan Shena, meski sedikit konyol. Tetapi Shena yang selalu mengerti dirinya. "Idih, ketawa. Senang banget menindas orang."


"Hahaha... Shena. Kangen nih, Kamu nggak ada rencana liburan kesini?" Dhara mengungkapkan kerinduannya pada sahabat yang sudah 6 tahun mereka lalui bersama. Keduanya sampai lupa waktu jika sudah mengobrol. Pasti ada saja topik yang mereka bicarakan.


"Ra, udah dulu ya. Aku ada jam kuliah sebentar lagi." Pamit Shena, ia memang sedang menunggu jam kuliah dimulai. Dan ia memanfaatkan waktu senggangnya untuk menghubungi Dhara.

__ADS_1


"Iya, Aku juga harus bersiap-siap ke kantor."


"Kantor?" Shena menyipitkan kedua matanya, ia belum tahu jika Dhara saat ini berhenti kuliah dan sudah bekerja di salah satu perusahaan ternama.


"Udah ya, Shen. Maksudku ke kampus. Bye." Dhara segera mengakhiri panggilan video tersebut. Ia mengutuki dirinya sendiri yang keceplosan saat bicara tadi.


Semoga aja dia nggak menyadarinya. Semua yang sudah terjadi disini, lebih baik Aku simpan dulu.


Dhara melakukan ritual paginya, tak lupa menyiapkan sarapan untuk ia dan juga ayahnya. Suster yang menjaga ayah hanya disiang hari sampai jam 19.00. Selebihnya, Dhara yang mengurus semuanya sendiri.


"Pagi, Putri Ayah yang cantik. Masak apa pagi ini?" Ayah Yahya sudah terlihat lebih baik sekarang. Wajahnya tak lagi sepucat sebelumnya. Ia juga sudah bisa beraktifitas ringan.


"Pagi, Yah. Dhara cuma beliin bubur buat Ayah. Tapi Dhara sudah bilang Mbak Yem buat belikan makanan Ayah nanti. Ini uangnya." Dhara menyodorkan selembar uang kertas berwarna merah di atas meja. Ayah Yahya masih harus menjaga makan dan pola hidup sehat. Agar keadaannya bisa pulih lagi.


"Nak, maafkan Ayah. Ayah sudah membuatmu susah." Ayah Yahya berkaca-kaca, melihat sikap Dhara yang mengambil alih tugasnya. Seharusnya ia yang memberikan uang dan mencukupi semua keperluannya. Bukan malah sebaliknya.


"Ayah, nggak boleh bicara seperti itu lagi. Dhara ikhlas, yang penting Ayah cepat sembuh ya." Dhara merangkul tubuh renta lelaki paruh baya yang dipanggil Ayah tersebut.


"Ayah, nggak ada yang namanya beban. Dhara nghak keberatan, dan Dhara juga banyak belajar. Ayah sendiri yang bilang supaya Dhara nggak mudah menyerah." Dhara mengurai pelukan, menggenggam erat tangan yang mulai keriput. "Ayah hanya harus sembuh, terus semangat untuk sehat. Itu sudah cukup, karena hanya satu-satunya keluarga Dhara sekarang."


"Iya, Ayah akan berusaha sehat. Suapaya Kamu nggak perlu lagi banting tulang untuk kita. Tapi Ayah yang akan menghidupimu, Nak."


"Aish, Ayah ini. Riasan Dhara jadi berantakan nih, Dhara berangkat dulu,Yah. Jangan lupa dimakan sarapannya." Dhara mencium punggung tangan Ayahnya. Ia sudah harus berangkat ke kantor saat itu juga. Atau dia akan terlambat.


Matahari mulai megintip dari peraduannya, saat Dhara meninggalkan rumah sederhana yang ia kontrak untuk 6 bulan kedepan. Sebenarnya rumah ini tidak terlalu luas, hanya ada dua kamar tidur ukuran 2×3 meter yag sangat minimalis. Dan ruang tamu yang hanya disekat sebagai pembatas dapur yang bergabung dengan ruang makan, juga kamar mandi di sudut belakang.


Tetapi Dhara masih bersyukur, seliruh tabungannya ia gunakan untuk biaya pengobatan sang ayah. Asalkan ayahnya sehat, Dhara bisa melakukan apapun untuk kebahagiaanya.

__ADS_1


"Duh, kenapa macet segala sih? Nggak tau orang lagi kejar waktu apa?" Dhara menggerutu sepanjang jalan. Jarak masih 1 km lagi, Dhara terpaksa harus jalan kaki dari pada harus menunggu macet yang entah kapan akan berakhir.


"5 menit lagi. Nggak boleh terlambat." Dhara sedikit berlari, ia harus segera tiba sebelum jam kantor dimulai. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang begitu familiar untuknya. "Mila." gumamnya.


"Ngapain masih disini?" suara berat seseorang membuat Dhara terjingkat. Rey sudah berdiri di hadapannya. Untung saja rem kaki Dhara bisa bekerja dengan baik, kalau tidak, ia pasti sudah menabrak dada beton Rey.


"Maaf, Saya buru-buru." Dhara enggan meladeni Rey. Atau dia akan benar-benar terlambat.


"Siapa yang menyuruhmu pergi?" Dhara mengabaikan Rey, ia memilih menaiki lift karyawan dan menuju ke ruangannya.


Awas saja Kau nanti. Berani mengabaikanku.


Rey sangat geram mendapat perlakuan dari Dhara, gadis menyebalkan yang selalu membuatnya dalam keadaan tak beruntung.


"Ra, Kamu baru datang? Tadi Sis Dewi cariin Kamu." ujar Nisa.


"Ada apa nyariin Aku sepagi ini?" Nisa hanya mengedikkan bahu. Pertanda bahwa dirinya tak tahu alasan Dewi mencari Dhara.


"Gih sono temui dulu." Nisa mendorong tubuh Dhara yang baru saja meletakkan tas diatas meja.


"Iya, iya." Dhara segera menemui Dewi di ruangannya. Dan memberitahu bahwa Dhara sudah ditungguk Pak Yan di ruangannya. Dhara tak ingat jika ia harus ke ruang HRD pagi ini.


"Selamat pagi, Pak." ucap Dhara dengan sopan. Ia membuka pintu setelah dipersilahkan masuk.


"Selamat pagi, silahkan duduk!" Dhara duduk saling berhadapan dengan sekat meja kaca.


"Ada apa Bapak mencari Saya?!" tanyanya, Dhara sedikit gugup. Perasaannya menjadi tidak enak.Apa mungkin karena ia membuat kesalahan? Tapi dimana salahnya. Dhara berpikir keras, tetapi tak menemukan apapun.

__ADS_1


"Ini surat pemecatan untukmu." Dhara tersentak, ia benar-benat dipecat?


Bersambung


__ADS_2