
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Rey mengetatkan pelukannya. Ia dapat merasakan degub jantung Dhara yang seirama dengan jantungnya yang juga memompa lebih cepat dari biasanya. Begitupun Dhara, ia dapat mendengar dengan jelas suara jantung Rey yang memompa lebih cepat.
Rey merasa lebih baik, entahlah. Hal apa yang membuatnya betah berlama-lama merekatkan diri dengan sang istri. Yang pasti, ia merasakan perasaan lain yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dengan Jasmine sekalipun.
Serta aroma shampo dari rambut basah Dhara, membuatnya ingin lebih lama lagi dalam posisi ini. Namun hati kecilnya memberontak, ia menjauhkan Dhara dengan wajah kembali datar.
Seolah tak terjadi apapun, Rey meninggalkan Dhara dan mengunci diri di dalam kamar mandi. Ia mengutuki dirinya yang memeluk Dhara dengan tiba-tiba. Entah angin dari mana yang membawanya melakukan hal itu.
"Ish, dasar menyebalkan. Main peluk-peluk." Dhara mengibaskan kedua tangannya seperti membersihkan debu dari tubuhnya.
Hingga malam menjelang, Rey tetap mengurung diri. Bahkan Dhara tak diizinkan keluar dari kamar jika tak bersamanya. Makan malam ia meminta untuk diantarkan ke kamar. Dhara sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan. Tetapi sikap Rey membuatnya mengurungkan semuanya.
"Kenapa nggak makan dibawah aja seperti biasa?" tanya gadis itu.
Rey tak menjawab, ia masih fokus pada makanan yang ada dipiringnya. Saat ini mereka sedang menikmati makan malam di balkon kamar. Cuaca cerah malam ini, memperlihatkan gugusan bintang dilangit yang tampak berkelap-kelip.
"Bukankah lebih romantis dinner disini?" Rey meletakkan sendoknya. Setelah semua makanan dipiring berpindah ke perutnya.
"Dinner?" Dhara mengernyitkan keningnya.
"Yah, makan berdua dibawah naungan langit malam dengan cahaya bintang-bintang." Tangannya terulur, seolah sedang menggapai cahaya terang yang terlihat sangat kecil dari kejauhan.
"Ish, bisa juga bicara begitu."
Sudut bibir Dhara terangkat, membentuk sebuah lengkungan. Cantik, satu kata yang Rey pikirkan saat ini. Wanita dengan kulit putih bersih, tinggi semampai dengan bagian yang berisi sesuai tempatnya. Serta rambut panjang yang tergerai bebas hingga diatas pinggul.
Rey turut menyunggingkan senyumannya. Tetapi tatapannya fokus pada gadis yang tengah berdiri dengan tatapan tertuju pada ramainya langit malam akan cahaya bintang.
"Cantik." tanpa sadar ia bergumam.
Dhara segera menelengkan kepala, dan menautkan kedua alisnya hingga menyatu. Rey yang tersadar pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Apanya yang cantik?"
"Langit malam ini."
Dan juga Ka---.
Rey menggelengkan kepalanya, ini nggak benar. Harus segera diakhiri sebelum semuanya terlambat. Nggak boleh terjadi.
__ADS_1
Rey memilih menemui Violet, dua hari tak bertemu dengannya membuatnya tak sabar ingin mengganggunya. Biasanya Violet sedang berada di dalam kamarnya setelah makan malam.
"Papaaa..." Suara cempreng si gadis kecil menyambutnya dengan antusias.
"Vioooo... Sayang... Kangen nggak sama Papa?"
"Huuh, Papa kelja telus nda pulang-pulang."
Voilet mengerucutkan bibir mungilnya, Clara hanya bisa tersenyum senang menatap keakraban keduanya.
"Maaf, Sayang. Papa harus kerja, Papa juga harus temani Mama Dhara."
"Pio nda mau Papa cama Mama Dhara. Pio mau Papa sama Mama aja." Ia semakin merajuk, berpikir bahwa Dhara akan mengambil Papa Rey darinya.
"Sayang, Papa sama Mama Dhara 'kan kerjanya bareng. Satu kantor. Mama Dhara sekarang sekertarisnya Papa di tempat kerja." ujar Rey, ia berusaha menjelaskan tentang Dhara.
"Benar, Vio nggak boleh begitu. Mama Dhara juga istrinya Papa sekarang."
"Emang Mama Cla butan istli Papa?" tanyanya polos.
Clara menggeleng pelan, Vio tampak kecewa. Tetapi Rey berhasil membujuknya. " Vio, enak loh punya Mama dua. Nanti Vio mau apa aja ada yang temani."
"Benel ya, Papa. Mama Ala nda natal."
"Janji."
"Janji."
Rey mengikuti Violet menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking mungil milik Violet.
"Oh, iya. Aku titip Vio ya. Besok Aku harus kembali ke Berlin. Dan mungkin sekarang agak lama." Clara terpaksa harus menitipkan Violet pada Rey. Ia tak mungkin membawa putrinya, terlebih orang tuanya juga ada di Jakarta sekarang.
"Kamu tahu pekerjaanku seperti apa sekarang. Kamu yakin mau ninggalin dia?" Rey menengadahkan kepalanya dengan bersandar pada sofa. Tugasnya bertambah lagi, padahal ia ingin istirahat sebentar saja untuk meregangkan otaknya yang kaku karena terlalu banyak berpikir.
"Aku nggak punya pilihan lain. Please, cuma Kalian yang Vio punya saat ini." suaranya serak menahan tangis.
Rey megalihkan pandangannya, gadis kecil yang sedang sibuk dengan boneka barbie kesukaanya. Sejak kecil ia sudah banyak menderita, Clara sering sibuk dengan pekerjaannya. Tak jarang Rey mengalah demi menjaganya.
Meski ada baby sitter yang selalu standby, tetapi Vio kecil pasti akan rewel jika tak ada Rey ataupun Clara.
"Hmm. Aku tanya Dhara dulu."
"Thanks, Bro. You're my best brother."
__ADS_1
Wajahnya berbinar, ia bisa pergi dengan tenang. Vio sudah ada ditangan yang tepat. Tak perlu lagi cemas akan banyak hal.
"Aku yakin, istrimu pasti setuju. Anggap Vio pancingan. Siapa tahu setelah ini Vio punya saudara." Clara tertawa senang, memperlihatkan deretan giginya yang putih.
"Hmm."
"Vio, bobok dulu ya, Sayang."
"Tapi maunya cama Papa. Pio mau baca clita cama Papa."
"Siap, Tuan Putri." Rey memberi hormat pada gadis kecilnya. Ia kemudian menggendong Vio dengan sebelah tangannya membawanya ke tempat tidur.
"Mau cerita apa?"
"Mau inces aja. Pio mau jadi putli tantik."
"Iya, bawel." Rey mencubit gemas pipi gadis ceriwis itu.
"Papa, atit. Nanti Pio nda jadi inces agi."
Setiap tingkah laku Violet selalu membuat Rey terhibur. Apalagi saat sedang kesal, malah semakin imut dan lucu dimatanya. Sama seperti istri kecilnya.
"Iya, iya. Sekarang kita baca cerita. Tapi bobok, ya."
"Emm, ini udah pejam." Violet memejamkan matanya dengan paksa, bahkan masih terlihat sebagian terbuka.
Rey membacakan satu cerita yang ada di buku dongeng. Tak menunggu lama, Violet sudah terlelap menuju alam mimpi.
Setelah Violet tertidur, Rey kembali ke kamarnya. Namun baru beberapa lamgkah, semuanya menjadi gelap gulita. Hanya cahaya temaram dari bulan dan bintang dilangit yang memantul.
Dhara merasa sesak, ia kesulitan bernapas dan terbangun dari tidurnya. Gelap, semuanya gelap i tak dapat melihat apapun.
"Aaaaaa... Gelaaaapp... Cepat nyalain lampunya." teriaknya, gadis itu semakin merasa sesak di dadanya. Seolah paru-parunya tak teraliri oksigen.
"Tuan, tolong jangan bercanda. Cepat nyalakan." suaranya bergetar, Dhara benar-benar ketakutan.
Beruntung Rey menyalakan senter dari layar gadgetnya. Terlihat Dhara membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya yang ditekuk. Ia benar-benar ketakutan.
Rey yang semula ingin mengerjainya menjadi merasa iba. Ia berjalan memdekat dengan ponsel masih menyala.
"Hei, Kamu nggak mempermainkanku 'kan?"
Bersambung
__ADS_1