
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Dihari pertamanya bekerja, Dhara hampir saja terlambat. Padahal ia sudah berusaha berangkat lebih awal dari perkiraan. Tetapi jarak dari rumahnya ke tempatnya bekerja cukup jauh. Terlebih, ia harus menaiki kendaraan umum sebanyak dua kali. Dhara harus pandai berhemat, uang tabungannya semakin menipis dan ia juga harus mengantar ayahnya berobat rutin dua minggu sekali.
Dhara berjalan dengan sedikit berlari, ia tak mau jika hari pertamanya bekerja juga menjadi hari dimana dia harus dipecat. Gak lucu kan? "Aku harus melapor dulu ke bagian HRD. Tapi lift ini kenapa ramai sekali?" Gadis berpakaian kemeja putih dan rok hitam selutut itu menggerutu tiada henti. Melihat antrian lift para karyawan.
Dhara melirik lift yang berlawanan dengan lift yang ia tunggu. Lengang, tak ada satupun karyawan yang mengantre. "Tak apalah, Aku akan menggunakan lift yang itu. Daripada Aku terlambat sampai di lantai atas." Dhara menekan tombol dilift, tak lama pintu lift terbuka. Disana ada dua orang yang menaiki lift dari basement.
"Kau lagi! Tuan, Anda bekerja disini juga?" Dhara memutar bola matanya, ia sangat malas melihat laki-laki itu. Apalagi harus berbagi udara dengannya di dalam lift yang sempit. Dhara menghentikan langkah kakinya, tetapi jika tak naik lift ini dia akan terlambat. Ah, itu masalah belakangan.
"Hei, Nona. Anda mau masuk atau tidak?" ucap seorang dibelakangnya. Dengan tatapan menghunus, seolah ingin menerkamnya.
"I-iya, Tuan." Dhara terpaksa masuk, ia masih diam. Dan menekan lantai tujuannya. Hening. Di dalam lift tak ada yang bersuara, hanya sesekali mencuri pandang mereka berdua.
Yah, mereka adalah Liam dan Rey. sengaja datang lebih awal karena ada meeting dengan seluruh staff penting. Lantai yang Dhara tuju sudah sampai, ia menunggu pintu lift terbuka. Namun sebelum itu, Rey menahan tangannya. "Tuan, jangan macam-macam. Ini ditempat umum, Atau Saya teriak."
"Ya sudah, tunggu apalagi." ucap Rey datar. Ia memberi kode pada Liam untuk meninggalkan mereka berdua. Liam menurut, ia keluar lift membiarkan Rey dan gadis itu berbicara.
"Tolommmmmmpppttt...." Tangan Rey berhasil membekap mulut Dhara, tak hanya itu, tangannya yang besar juga menutup hidungnya. Dhara meronta namun tenaganya kalah besar. Ia menggigit tangan besar itu hingga pemiliknya mengaduh kesakitan.
"Kau ini, cari mati ya." Rey mengibaskan tangannya ke udara yang membekas gigi Dhara disana.
"Siapa suruh tak melepaskanku. Aku hampir mati olehmu, Tuan." Dhara menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Memberi pasokan udara untuk paru-parunya. "Ada apa? Nanti Saya terlambat." ucapnya setelah nafasnya kembali normal.
"Kakek memintamu datang. Ingat! Kau masih punya hutang 250 juta." Rey menggerakkan jari tangannya membentuk angka dua lima. Sebenarnya Dhara sudah sangat malas berurusan dengan orang ini. Tetapi apa boleh buat, kemarin Rey sudah membantunya menghadapi Bian. Dan juga membawa ayahnya ke rumah sakit.
"Iya, bawel. Udah sana. Saya mau ketemu HRD. Nanti kita berdua bisa dipecat." Dhara segera keluar dari lift, terus berjalan tanpa sekalipun menengok ke belakang.
__ADS_1
Rey terkekeh renyah mendengar ucapan Dhara, bagaimana bisa dia dipecat. Yang ada dia yang memecat orang.
Sepertinya Anda menikmati momen bersama gadis itu. Sampai menaikkan mood Anda yang kacau.
Dhara berjalan lebih cepat menuju ruangan HRD. Disana sudah ada Ayna dan seorang lain yang juga akan menerima tugas dihari pertama bekerja. "Huffftt... Hampir aja." Dhara mengibaskan tangannya untuk mengusir rasa tak nyaman karena keringat.
"Ra, Kamu dari mana aja? Aku udah bilang datang lebih awal." bisik Ayna padanya.
"Panjang ceritanya, Na. Nanti aja ceritanya." Pihak perwakilan HRD memberikan lembaran kertas pada masing-masing pegawai magang baru mulai hari ini. "Tolong periksa kembali data diri kalian, jika ada kesalahan penulisan atau ketikan bisa berikan kepada Saya untuk diperbaiki sebelum tanda tangan." ucap wanita berambut pendek itu.
Mereka bertiga melakukan apa yang diperintahkan. Dalam surat tersebut, Dhara ditempatkan di departemen keuangan. Sebagai asisten magang di bagian Akuntansi Keuangan. Dhara harus bersyukur karena memang sesuai dengan apa yang dipelajarinya selama menimba ilmu. Ia hanya sendiri. Sedangkan Ayna dan satu orang lain ditempatkan ditempat yang sama. Administrasi perkantoran, bagian pembukuan.
Pekerjaan Dhara masih tergolong ringan, setengah hari ia hanya berputar-putar. Mendapat penjelasan setiap sudut ruangan dan garis besar bagian masing-masing. Serta tugas utama karyawan magang. "Ra, kita duluan ya." Ayna melambaikan tangannya. Mereka berpisah menuju bagian masing-masing.
Dhara mendapat tugas pertamanya, foto copy dokumen yang akan digunakan untuk rapat dua jam lagi. "Hei, anak magang. Tolong foto copy ya. 10 lembar masing-masing halaman." Dewi namanya, karyawan senior yang sudah lebih dari 5 tahun bekerja.
"Baik, Mbak." Dhara mengangguk seraya menerima dokumen tersebut.
"Baik, Ses Dewi." Mulut Dhara mendesis mengucapkan kata 'Ses'.
"Jangan ditanggapin, Dia memang begitu orangnya." Nisa, karyawan yang baru diangkat sebulan lalu memberitahu Dhara. Tetapi pada dasarnya bagian mereka memang terkesan kompak dalam berbagai hal.
Dhara hanya menanggapi dengan senyuman. Ia melakukan apa yang diperintahkan Ses Dewi padanya. Ternyata tak hanya dirinya yang membutuhkan mesin foto copy. Dhara harus mengantre menunggu gilirannya.
Dhara berjalan dengan tergesa-gesa, membawa dokumen yang akan digunakan untuk meeting nanti. Waktunya semakin mendesak, ia harus segera menyerahkan dokumen yang diminta Ibu Dewi untuknya.
Dhara menabrak seseorang, karena saat berjalan sambil merapikan tumpukan kertas yang baru selesai di foto copy. Kertas-kertas itu berhamburan, melayang di sekitar Dhara dan orang yang ditabraknya.
"Aduh, berantakan deh, bisa hati-hati nggak sih?"
__ADS_1
"Kamu itu yang nggak hati-hati masih nyalahin orang?" bentak orang itu. Dhara memunguti lembaran kertas yang berantakan. Ia harus menyusun ulang kertas-kertas tersebut.
Sial banget, baru hari pertama sudah melakukan kesalahan. Siap-siap kena semprot nih.
"Loh, Dhara. Kamu Dhara 'kan?" seseorang itu berjongkok, memastikan bahwa orang yang bertabrakan dengannya adalah Dhara.
Mendengar namanya disebut, Dhara menghentikan kegiatannya. Ia mendongak untuk melihat siapa orang itu. "Iya, Anda siap-a?" Dhara tertegun melihat siapa orang yang ditabraknya tadi. "Rel, ngapain disini?" Farel, dia baru lulus tahun ini. Satu tingkat lebih awal dibanding Dhara.
"Ada rapat disini. Mewakili Papaku. Biarku bantu." Mereka berdua sibuk memunguti kertas yang berhamburan di lantai.
"Harus cepat, kalau tidak bisa kena semprot nih." gumamnya pelan. Dhara menyusun ulang dokumen tersebut. Dibantu farel tentunya. Melirik jam dinding, Dhara semakin gugup. Meeting tinggal 15 menit lagi. "Duhh, gimana nih? Coba kalau meeting bisa ditunda." gerutunya.
Farel mendengar semua keluh kesah Dhara. Dia hanya berniat ke toilet yang ada diujung lorong. Tetapi malah menabrak seseorang karena fokus pada ponselnya.
Mungkin yang dia maksud meeting itu.
Farel melirik sekilas dokumen itu, memang benar. Meeting yang akan dia hadiri akan membahas masalah keuangan dan penjualan. "Aku bisa membantumu." ujarnya.
"Membantu apa? Habis sudah, ini hari pertamaku magang dan sudah melakukan kesalahan." Dhara terus menggerutu sambil menyusun dokumen itu satu per satu sesuai halaman.
Farel terlihat berbicara dengan seseorang diseberang sana. Dhara tak dapat mendengar dengan pasti karena terlalu fokus dengan lembaran kertas ditangannya. "Ok. Meeting ditunda 1 jam lagi." Farel sudah selesai membantu Dhara.
Mungkin papanya pemilik perusahaan ini. batin Dhara.
Dhara bisa bernapas lega, ia meninggalkan pemuda itu setelah mengucapkan maaf dan terima kasih.
Bersambung
Ayo dukung Dhara dengan like komen dan vote serta gift. Supaya lebih semangat lagi.
__ADS_1
TERIMA KASIH