Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Saya Mohon


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Farel, Kamu nggak apa-apa?"


Dhara membantu Farel berdiri tegak. Setelahnya ia berjalan mendekat Rey, pemuda itu mundur beberapa langkah. Dhara semakin mendekat, ia berbisik ditelinganya. "Tuan, Kau akan dalam masalah, jika tahu siapa dia yang sebenarnya." Rey menautkan kedua alis tebalnya. Hingga terlihat menyatu.


"Memangnya siapa orang ini?"


"Dia itu anak pengusaha terkaya di kota ini."


"Hmm..." Rey melirik penampilan Farel dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ia seperti pernah melihat orang itu, tapi dimana? Rey berusaha mengingat wajah Farel yang tak asing baginya. Tapi sudahlah, nggak penting juga siapa Farel itu sebenarnya.


"Jangan lupa, Ayahmu menunggu." Rey menghentak tangan Dhara hingga kepelukannya. Rey sengaja melingkarkan tangannya di pinggul ramping Dhara. Seketika Dhara menepisnya, merasa tak terima dengan perlakuan Rey padanya. Sudah kedua kalinya, Rey bersikap tidak solan padanya.


"Dasar mesum, jauhkan tangan kotormu." Bukannya menjauh, Rey semakin mengeratkan pelukannya. Seolah ingin menunjukkan pada pemuda tadi, bahwa Dhara sudah menjadi miliknya.


Rey tak mendengarkan setiap lontaran kata kasar dari gadis itu. Ia memilih menulikan pendengarannya. Rey baru melepaskan setelah mereka menyeberang jalan. Seolah tak terjadi apapun. Rey memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan dengan penuh percaya diri.


Farel tertegun melihat hal itu, selama ia mengenal Dhara, gadis itu selalu menjaga jarak dengannya. Bersentuhan tanganpun bisa dihitung jari, itupin Dhara selalu mengelak lebih dulu.


Dhara memasang senyum cerianya, ia tak mungkin membuat penyakit ayahnya semakin parah. "Ayah Ak-ku...." Wajah cerianya seketika memucat. Yahya Halim, satu-satunya orang yang dekat dengannya menatapnya dengan tatapan nanar. Matanya merah, melotot seperti hendak keluar dari tempatnya.


"Kau, masih berani memanggilku Ayah?" suaranya lirih, dan nafasnya tersengal.


"Ayah, apa yang terjadi denganmu? Tadi pagi masih baik-baik saja." Dhara mendekat ingin membantu sang ayah. Sekuat tenaga, Ayah Yahya menepisnya, beringsut dari posisinya, berusaha menjauhi Dhara.

__ADS_1


"Menjauh dariku. Kau bukan anakku. Aku tak memiliki anak durhaka sepertimu." ucapannya semakin lirih, nafasnya terdengar sangat berat. Ayah Yahya terus mengerang menahan sakit.


"Dokter, cepat panggil dokter." Dhara berteriak, saat kondisi sang ayah semakin memprihatinkan. Rey baru diambang pintu saat Dhara berteriak. Ia baru bertemu dokter yang merawat Tuan Yahya.


"Ada apa ini?" Rey berlari keluar memanggil dokter dan suster yang hendak menuju ruangannya.


"Ayah, bangun, Yah. Maafin Dhara, maafin Dhara baru datang jenguk Ayah." Dhara memeluk tubuh lelaki paruh baya yang sedang kesakitan. Memegangi bagian dada yang seperti dihunus pedang. Nafasnya memburu, sangat cepat, seperti tertimpa beban berat.


Matanya merah dan melotot padanya. Buliran air mata mulai mengalir. Begitupun tangis Dhara kian pecah. Ia sangat ketakutan, sesuatu yang buruk terjadi pada ayahnya. "Dokter, tolong ayah Saya. Saya mohon." Dhara segera berlari, menarik tangan dokter yang baru saja membuka pintu.


"Saya mohon selamatkan Ayah Saya, Dok." Rey menenangkan Dhara, membawanya keluar ruangan seperti permintaan tim medis. Air matanya mengalir, menganak sungai. Membanjiri kemeja yang dikenakan Rey. Perlahan tangannya terulur, memgusap surai hitam sang gadis. Hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.


"Anak kecil, dokter pasti akan melakukan yang terbaik untuk ayahmu." Dhara masih terbuai dengan tangisannya. Tanpa menyadari posisinya saat ini. Mendekap Rey dengan eratnya, hal itu bisa memberikan kenyamanan untuk hatinya yang gundah.


"Dasar anak nggak tahu diuntung. Ja***lang, apa yang sudah Kamu lakukan pada ayah, Hah?" Sebuah tamparan membekas diwajah Dhara saat ia baru saja ingin memalingkan wajahnya saat menyadari posisinya saat itu.


"Jangan pura-pura. Dasar pembawa siial. Kau itu memang pembawa petaka di keluarga kita. Nggak cukup Kamu membuat ibumu pergi? Sekarang Kau juga ingin ayah meninggalkanmu? Dimana hati nuranimu? Masih berani bilang Kau bukan pembawa siial?" cecar Karina, Kakak tiri Dhara.


"Yah, Kau seharusnya sadar diri. Semenjak Kau hadir, Kau itu sudah membuat ibumu meninggal. Usaha ayahmu bangkrut. Dan Kau masih sempat membuat ayahmu sekarat? Anak macam apa Kau ini." Risa, istri Yahya Halim turut menghujani Dhara dengan perkataan buruk.


Rey tak tinggal diam, ia berdiri menghalau tangan Ibu Risa yang terangkat hendak memukul Dhara. "Ini Rumah Sakit. Tolong jaga sikap Anda. Jangan membuat keributan disini." ucapanya lantang dan tegas.


"Siapa Kamu? Pasti Kamu sugar daddynya si pembawa siial ini ya. Hah, kasihan sekali, tampan sih. Tapi sayang, hanya dimanfaatkan saja. Berani bayar berapa Kamu gadis kotor ini?" Karina seperti tak ada takutnya. Ia terus mengatakan hal buruk tentang Dhara.


"Kau, jaga ucapanmu." Rahangnya mengeras, bunyi gemeletuk dari giginya dan kepalan tangan yang siap Rey hujankan diwajah orang yang telah menghina harga dirinya.


"Sudahlah! Jangan meladeni mereka." Dhara mencekal pergelangan tangan Rey yang hendak maju untuk menyerang dua mangsa dihadapannya. "Katamu tadi ini rumah sakit. Biarkan anj*ng menggonggong. Kapilah berlalu. Sebagai orang waras kita harus mengalah." ucapan Dhara tenang namun menusuk.

__ADS_1


"Kau, ja**lang kecil, Kau mengataiku anj*ng gila?" Karina terpancing emosi. Ia hendak meraih Dhara, namun Rey kembali menghadangnya. Dengan sekali suitan, petugas keamanan segera datang dan membawa Karina dan ibunya pergi dari sana. "Kalian tunggu saja. Kau pasti akan menyesal sudah melakukan ini padaku." Karina terus mengumpat kata-kata kasar.


"Yah, Aku tunggu hari itu." ucap Dhara dengan sinis. Ia sudah lelah dengan sikap mereka berdua selama ini. Dan untuk apa mereka datang ke rumah sakit? Pasti hanya meminta uang.


Kedua tangannya ditekuk kebelakang, mereka berdua berusaha meronta, namun percuma saja. Dua orang yang memegangi mereka tenaganya cukup kuat, terlebih hanya membawa dua wanita seperti mereka.


Dhara sudah mulai sedikit tenang, ia terus mengusap wajahnya yang memerah. Perih, namun lebih perih lagi perasaanya saat ini. Ada apa dengan ayah? Mengapa begitu melihat Dhara seperti melihat hantu?


*Ayah, jangan membenciku seperti yang lain. Aku juga tak menginginkan semua ini terjadi padaku. Aku bukan pembawa sial seperti yang mereka tuduhkan padaku.


Aku juga tak minta dilahirkan jika harus membuat orang lain menderita. Sungguh, Ayah. Apa yang terjadi padamu? Jangan tinggalkan Dhara sendiri. Dhara tak memiliki siapapun selain dirimu, Ayah*.


"Awss, sakit." Dhara mendesis saat Rey menempelkan handuk beserta es yang dia minta dari pegawai rumah sakit.


"Tahan sebentar, atau wajahmu akan bertambah jelek seperti obesitas." Rey menggembungkan wajahnya, menirukan orang yang gemuk dengan pipi bengkak di semua sisi.


Dhara malas meladeni Rey, ia tahu bahwa Rey yang menyebalkan sedang berusaha menghiburnya. Tetapi ia segera menepisnya. "Mana mungkin orang yang menyebalkan sepertinya menghiburku. Yang ada dia sedang mengejekmu. Dhara sadarlah! Bangun. Wake up!!!" gumamnya dalam hati.


Perlahan Rey mengompres wajah Dhara yang memar dengan sangat pelan. Sesekali meniuonya jika Dhara mendesis. Pasti sangat menyakitkan, apalagi orang yang membuatnya seperti itu adalah keluarganya sendiri. "Diam, bisa diam nggak sih?" Rey sengaja menekan sedikit. Membuat Dhara mengaduh kesakitan.


"Kau sengaja?" Dhara menatap Rey nyalang. Seolah ingin mengulitinya hidup-hidup. "Berika padaku." Dhara merebut handuk itu dan memijat wajahnya sendiri, tentu ia bisa menyesuaikan sendiri seberapa harus dia menekan atau tidak.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan like komen vote and gift untuk bayar author supaya lebih semangat.


TERIMA KASIH

__ADS_1


__ADS_2