
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Jadi, Kakek yang membantuku mengirimkan surat lamaran kerjaku. Terima kasih, Kakek. Saya mengira sudah hilang waktu itu."
"Kakek hanya tak sengaja menemukannya setelah Kau pergi waktu itu. Seharusnya Kakek yang berterima kasih. Karenamu, berkas penting Kakek terselamatkan." Kakek memegangi tangan Dhara, ia sangat memuji keberanian Dhara mengalahkan dua orang preman yang berusaha merebut tas Kakek Anggara.
Pembicaraan berlanjut, Dhara dan Kakek Anggara terlihat sangat akrab. Rey bisa melihat kehangatan itu. Sudah lama Kakek Anggara murung. Bahkan sering melamun diwaktu-waktu tertentu. Tentu saja Rey tahu mengenai setiap keadaan Kakek melalui Liam. Tanpa Kakek ketahui, Rey selalu mengawasinya.
"Li, antarkan dia pulang." Rey meminta Liam, sekertaris pribadinya untuk mengantar Dhara pulang ke rumahnya. Tugasnya sudah selesai, ia tak harus lagi berbohong mengenai kekasihnya.
Liam hanya bisa mengiyakan, menuruti keinginan Rey untuk mengantarkan Dhara pulang. Tetapi, Kakek Anggara sudah lebih dulu mencegahnya. "Biarkan dia yang mengantar sendiri, Li. Saya masih ada perlu denganmu." Kakek mereput kunci mobil dari tangan Liam. Melemparkannya tepat dihadapan Rey, hampir saja mengenai wajahnya jika Rey tak sigap menangkapnya.
"Haih, Kakek. Aku masih harus kembali ke kantor." ucap Rey beralasan. Ia sangat malas berurusan dengan gadis kecil yang dibawanya. Dan sekarang ia menyesal, karena harus mengembalikan gadis itu ke rumahnya.
"Jangan banyak alasan. Liam akan menangani semuanya." ucap Kakek Anggara tegas. Tak ingin dibantah lagi.
Rey mendengus pelan, lagi-lagi harus menuruti keinginan si rubah tua. "Cepat, Kau ini jalan lelet banget." Rey menarik tangan Dhara yang jauh tertinggal. Dhara sudah berusaha mensejajari langkah Rey yang panjang. Namun kaki kecilnya tak mampu menyamai langkah Rey.
"Dasar menyebalkan, siapa suruh kakimu panjang. Jalan seperti kuda berlari." Rey menghempaskan tangan Dhara kasar. Telunjuk tangannya menunjuk gadis itu, tepat di depan wajahnya.
"Kau, lagi...."
"Hey, cucu tengik. Jangan menyakiti perempuan.. Apalagi dihadapan Kakek. Dia itu calon istrimu, belajar menghargai wanita." Kakek Anggara menghentakkan tongkatnya ke lantai. Sehingga Rey mengurungkan niatnya.
Tangan Rey terulur, membelai wajah Dhara. Ia tak ingin Kakeknya curiga, atau dirinya benar-benar akan di jodohkan dengan wanita pilihannya. "Kau beruntung kali ini." Rey menyelipkan anak rambut Dhara yang jatuh mengenai wajahnya. Memaksakan senyuman yang terlihat sangat kaku.
Tuan, Kau ini ya. Siapa yang menyuruhmu membawaku kesini? Dan sekarang Aku yang disalahkan. Dasar Tuan Menyebalkan.
Rey membawa Dhara pergi, semakin menjauh dari rumah Kakek Anggara. Niat hati ingin membujuk sang kakek, ia tak menyangka bahwa Khiran benar-benar pandai bersandiwara. Entah apa yang mereka berdua bicarakan. Sampai bisa membuat hati kakek luluh.
__ADS_1
Flash Back On
"Jadi, Kapan kalian akan menikah?" Kakek anggara meletakkan cangkir minuman setelah menyesap sebagian isinya.
"Hah? Menikah?"
"Iya, memangnya dia belum memberitahumu?" Kakek Anggara menunjuk dengan dagunya. Dhara hanya menggelengkan kepalanya, ia sama sekali tak mengetahui tentang alasan ia dibawa kemari.
"Bagaimana kalian ini? Seharusnya kalian membicarakan hal ini sebelum menemuiku." Nampak wajah tak suka dari Kakek, ia sudah mencium bau kecurangan yang Rey sengaja tutupi darinya.
"Aduh, Kakek. Kami baru bertemu setelah sekian lama. Jadi belum sempat membicarakan apapun. Iya kan, Sayang." Rey mengulas senyum tipis diwajahnya. Dibawah meja, Rey menginjak kaki Dhara dengan ujung sepatunya.
Apa maksudnya ini sih? Kita ini sedang memainkan drama apa?
"I-iya. Benar Kek." Dhara tergagap, ia tak tahu harus menjawab apa.
"Baiklah! Kakek yang putuskan. Bagaiman kalau kalian menikah minggu depan."
"Kalian ini, mau membuat Kakek buta ya?"
"Tuli, Kakek tua. Bukan buta." Rey membenarkan posisi duduknya, setelah bersama Dhara mengutarakan rasa terkejutnya.
"Haih, Dasar Cucu Tengik. Kau ini selalu saja membantah Kakek."
"Emm.. Kakek, Saya masih harus kuliah. Dan juga, masih harus merawat ayah. Jadi, mungkin bisa memberi waktu lagi." Dhara menolak dengan halus. Ia juga tak ingin menyakiti hati Kakek Anggara yang telah membantunya.
"Itu bisa diatur. Banyak yang sudah menikah mereka melanjutkan sekolah. Itu tidak masalah."
"Tapi..."
"Kakek... Pernikahan itu bukan untuk main-main. Mana bisa diputuskan secepat itu?"
__ADS_1
"Bukankah Kamu yang bilang, hubungan kalian sudah lama di jalin. Atau kalian sedang berusaha menipu Kakek? Iya?!"
Wajah Rey menegang seketika, ia lupa bahwa kakeknya adalah orang yang paling peka. Sangat susah untuk dibohongi.
Flash Back Off
Rey menghentikan mobilnya ditepi jalan, cukup ramai. Mereka saat ini ada di tempat yang tak jauh dari tempat mereka bertemu sebelumnya. "Turun." ucapnya dingin.
"Hah? Katanya mau mengantarku pulang."
"Banyak bicara, cepat turun. Dan, karena usahamu untuk menyenangkan Kakek berhasil. Aku tepati janjiku. 50% lagi, hutangmu tinggal 50 % sekarang."
"Bukannya terima kasih, udah dibantuin. Masih aja inget uang ganti rugi. Jangan harap Aku bersedia membantumu lagi." Dhara sudah meraih pintu mobil untuk segera turun. Tetapi Rey mencegahnya, ia sendiri tak tahu harus beebuat apa sekarang.
"Tolong, bantu Aku. Akan kupastikan Kamu tak lagi harus membayar ganti rugi." Baru kali ini Rey memohon. Demi kakeknya, orang yang sudah merawatnya sejak kecil. Rey rela merendahkan harga dirinya didepan gadis yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu.
"Bersandiwaralah denganku!! Aku akan menanggung semua biaya pengobatan ayahmu. Dan Kamu bisa terus melanjutkan kuliahmu." Pemuda tampan dengan mata hazel yang menyerupai titisan dewa Yunani itu sudah membulatkan tekadnya. Untuk membawa Dhara melanjutkan kebohongan demi sang kakek.
"Aku harus menjual diriku? Jangan harap itu terjadi, Tuan." Dhara berdecih, menatap nyalang pemuda yang begitu ia benci karena kesombongannya. Namun sayangnya dia memang tampan. Dhara tak bisa memungkiri hal itu.
Membanting pintu mobil dengan keras. Rey sampai terjengkit karenanya. Ia menatap kepergian gadis yang sudah membantunya bersandiwara di depan kakeknya. Namun, entah mengapa Rey bisa begitu percaya padanya meski baru sekali ini bertemu. "Kita lihat saja nanti, Kau akan memohon padaku suatu hari nanti." Rey mencengkeram setir kemudi. Giginya gemeletuk menahan marah saat mengingat ucapan gadis itu.
"Ra, tunggu. Kita perlu bicara." seorang pemuda turun dari mobil silver. Menarik paksa tangan Dhara. Gadis itu segera menepisnya dengan kasar. Sangat memuakkan bertemu lagi dengan Bian.
"Lepas. Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan. Kita sudah end." Dhara menyilangkan kedua tangannya di depan. Rey masih belum beranjak dari tempatnya. Memperhatikan dua orang yang sepertinya sedang bertengkar.
"Ra, Aku terpaksa melakukan ini. Aku nggak cinta sama Mila. Please, percaya padaku." Bian berusaha meraih tangan Dhara. Lagi-lagi ditepis oleh gadis itu.
Bersambung
Jangan lupa tambahkan favorit. Like dan vote ya, suapaya lebih semangat ngetiknya.
__ADS_1
Terima kasih