Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Ceroboh


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Sudah tidur?" Clara memalingkan wajahnya saat Rey duduk di sebelahnya. Ia baru saja menemani Vio tidur. Bocah ceriwis itu baru saja terlelap dengan boneka kelincinya.


"Yah, seperti yang Kau lihat." Rey menyandarkan kepalanya pada bagian belakang kursi yang ia duduki. "Sampai kapan Kau akan membohonginya? Ia pasti akan semakin besar dan suatu hari nanti harus tau siapa Papa Kandungnya." Rey memijat pelipisnya yang saling bertatut.


"Aku pasti akan memberitahunya. Tapi tidak sekarang. Aku takut ia tak menginginkannya. Selama ini juga dia sama sekali tak pernah mencariku. Bahkan Aku ragu, entah dia tau keberadaan Vio atau tidak." Wanita itu menundukkan wajahnya, menatap kedua tangannya saling merem*as diatas pangkuannya.


"Aku tak tega melihatnya, Vio butuh Papa untuk menjaganya. Dan Aku tak menjamin itu, meski Aku bisa. Tetapi ia juga harus bertemu dengannya."


Rey menangkup wajah kakak kembarnya. Ia sudah berulang kali memperingatkan Clara, agar ia mempertemukan Vio dengan lelaki itu. Tetapi Clara selalu beralasan. "Jangan egois, Vio ada karena kalian berdua."


"Jangan memgajariku, Aku ini yang lebih tau mana yang terbaik untuk hidupku dan anakku." Clara menepis tangan Rey dari wajahnya. Selama ini memang dirinya tak ingin membuka diri. Belenggu masa lalunya ia tutup dengan rapat. Ia tak ingin beralih dari zona nyaman kehidupannya saat ini. Keyataanya, benar apa yang dikatakan Rey, cepat atau lambat Vio harus bertemu laki-laki itu.


"Bagaiamana denganmu? Istrimu pasti berpikir yang tidak-tidak tentangku."


"Dia tak akan begitu, meskipun Aku belum mengenalnya, pasti dia bisa mengerti keadaan saat ini." Rey tak berniat menjelaskan apapun pada Dhara, istrinya. Bahkan semenjak Dhara terbangun, ia belum menemuinya. Ia terlalu fokus bermain dengan Violet.


"Tapi, jika dia berpikir demikian, bukankah itu bagus. Kita memiliki alasan untuk berpisah."


Sentilan jari lentik Clara mendarat mulus di kening Rey. "Jangan berbicara mengenai perpisahan. Kalian baru menikah beberapa jam. Masih harus banyak mengenal pasangan, jangan sampai menyesal sepertiku."


"Ish Kau ini. Senang banget sama keningku ini." Rey mengusap keningnya bekas sentilan Clara.


"Biarin. Adik nggak ada akhlak begitu. Sana temani istrimu."


"Kau mengusirku."


"Ya, Kau pergi ke kamarmu. Temani istrimu. Jangan lupa proses adik buat Vio." Clara mendorong Rey dengan segenap tenaganya keluar dari kamar yang ia dan Vio tempati.

__ADS_1


"Huhh, awas saja kalau Vio mencariku. Nggak akan Aku bantu." teriak Rey. Pintu kamar sudah sepenuhnya tertutup. Namun tidak dengan pintu kamarnya yang terbuka. Menampakkan Dhara yang berdiri di ambang pintu. Ia mendengar sebagian ucapan Clara padanya.


Mata sembabnya semakin menyipit. Dhara tak memedulikan hal itu, rasa sakitnya kembali menjalar. Bagaimana bisa Rey menganggapnya? Sedangkan kehidupannya sudah bahagia bersama istri dan anaknya.


"Anak kecil, Kau mau kemana?" Rey bertanya seolah tak terjadi apapun.


"Bukan urusanmu." Dhara berlalu ke dapur. Melanjutkan langkahnya untuk mengambil air minum. Tenggorokannya terasa kering. Bahkan suaranya serak karena terlalu banyak menangis.


"Siapa juga yang peduli." Rey mengedikkan bahu, menuju ke kamarnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


"Non, airnya udah penuh." tegur Sumi. Untung saja wanita paruh baya ini melintas, kalau tidak mungkin sudah banjir dapur dibuatnya.


"Ehhh, Maaf, Bi. Dhara tadi nggak sengaja." Gadis itu segera meletakkan air dingin yang tersisa setengahnya. Selebihnya tumpah membasahi meja dan sebagian lagi di dalam gelas yang terisi penuh.


"Nggak papa, Non. Biar Bibi yang bereskan."


"Maaf, biar Saya aja." Tetapi Bibi Sum menolaknya.


"Awww... Pelan-pelan, Bi. Sakit..." Bibi Sum meletakkan perlengkapan tempurnya. Ia segera membantu Nonanya berdiri dan memapahnya ke kursi.


Mendengar keributan di dapur, Rey yang kebetulan melintas segera mendekat. Ia meninggalkan komputer jinjingnya di sofa. Melirik wajah Dhara yang masih terlihat pucat. "Ada apa, Bi?"


"Non Dhara, jatuh terpeleset."


"Ya sudah, Bibi bantu bereskan. Biar Saya yang urus dia." Bibi Sum mengambil kembali peralatannya. Ia membersihkan serpihan gelas dengan hati-hati.


"Kau ini, ceroboh banget sih? Tadi pingsan, sekarang lihat ini!! Kamu nggak sayang sama dirimu sendiri?!" cecar Rey. Namun ia segera mengambil tisu dan kotak p3k yang tak jauh dari sana. Dengan sigap membalut luka di jari tangan Dhara.


"Sshhh..." Dhara mendesis merasa perih saat Rey mengobati lukanya. Tetapi ia enggan menanggapi ucapannya. Hanya sesekali melirik pemuda yang dengan duduk dengan jarak yang begitu dekat dengannya. Aroma parfum begitu menusuk di indera penciuman Dhara.


"Sakit?" Rey mendongakkan wajahnya. Menatap Dhara yang meringis menahan perih. Pemuda itu meniup perlahan pada luka di tangan Dhara.

__ADS_1


"Udah tau nanya." ketusnya. Dhara memalingkan wajahnya kearah lain. Ia tak mau menatap suaminya itu. Ia sempat tertegun dengan sikap Rey padanya. Tetapi jika mengingat kejadian tadi pagi, Dhara tak tahu lagi harus bersikap bagaimana dengan Rey.


Dhara, kendalikan dirimu. Jangan terlena, dia baik karena ada maunya. Ingat!!! Dia sudah punya istri dan juga anak dari wanita lain.


"Ish, bukanya berterima kasih." Rey mendecakkan lidah, tetapi masih mengobati luka di tangan gadis itu. Darah sudah berhenti merembas. Namun lukanya cukup dalam, sehingga harus di tutup dengan kain kasa.


"Kenapa, Ra?" Clara hendak keluar tanpa membawa Vio. Keduanya memalingkan wajahnya kearah suara. "Oh ya, Aku titip Vio. Kalau dia bangun tolong jagain ya." Clara berlalu tanpa menunggu jawaban Rey maupun Dhara yang memang mengunci mulutnya rapat. Setiap kali melihat Clara, rasa bersalah selalu menyelimuti hatinya.


Dhara segera menarik tangannya, ia tak ingin membuat Clara salah paham padanya. Lukanya sudah selesai ditutup kain kasa. "Aku bisa sendiri."


"Hei, Kau mau kemana? Jangan pulang larut." Rey memperingati, Clara selalu lupa waktu jika sudah di luar. Apalagi ada dirinya yang menjaga Violet. "Kau dengar tidak?" Rey harus meninggikan suaranya, karena Clara terlalu jauh dari jangkauannya.


"Iya, Bawel." Clara mengacungkan jempol tangannya dan kembali menlanjutkan lamgkah kakinya.


Dhara malas melihat keakraban keduanya, berusaha berjalan meninggalkan tempat itu, namun langkah kakinya tidak stabil. Sepertinya kaki terkilir akibat terjatuh tadi.


"Anak kecil, punya mulut itu dipakai. Udah tau sakit, masih maksain diri." Rey terus mengomel sembari mengangkat tubuh sang istri ke kamarnya.


"Saya bisa sendiri, ngapain gendong segala?" Dhara memukuli dada bidang Rey. Ia harus segera menghindari Rey. Tak mau bergantung pada orang itu lagi. Tapi apalah dayanya, kakinya memang sakit.


"Nggak usah besar kepala. Saya melakukan ini hanya demi Kakek. Saya nggak mau disalahkan jika sampai Kakek dan ayahmu tau."


"Ngapain bantuin? Biarin aja Saya yang ngerasain. Nggak ada urusannya samamu."


"Kau ini cerewet sekali." Rey menurunkan Dhara dengan kasar diatas ranjang dengan posisi duduk.


"Awww... Bisa pelan nggak sih?" Dhara kembali mengaduh saat kakinya yang terkilir tertindih tubuhnya sendiri.


"Nggak bisa."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2