Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Pewaris


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Tuan, ini dokumen yang Anda minta." Liam menyodorkan map berwarna merah yang berisi dokumen yang Rey minta sebelumnya. Sudah tiga kali ia mengetuk pintu, namun tak kunjung ada jawaban.


Liam mendapati Rey sedang berinteraksi dengan dunianya sendiri. Duduk termenung dengan secangkir kopi yang hanya ia putar beberapa kali. Liam berjalan mendekat, menepuk bahu sang atasan. "Tuan."


Rey terjingkat, hingga sebagian kopi yang dipegangnya menyiprat mengenai pakaiannya. "Li, tidak bisakah Kau mengetuk pintu?" Rey membersihkan cairan hitam yang membekas di kemeja putihnya dengan tisu. Namun malah semakin melebar. "Haish, lihat! ini semua ulahmu." cecar Rey.


Selalu Aku yang disalahkan. Siapa suruh melamun.


"Li, Kau dengar tidak?" Liam hanya membuang napasnya melalui mulut. Ia tak mungkin membantah Rey yang akhir-akhir ini emosinya naik turun seperti roller coaster.


"I-iya, Tuan. Saya sudah mengetuk pintu. Dan ini dokumen yang Anda minta." Rey kembali menyodorkan map berwarna merah tersebut di atas meja kerja Rey.


Dasar bos labil, sebentar sedih, sebentar senang, sebentar lagi pemarah. Tuan Besar, tugasmu sungguh memberetkanku. Gerutu Liam dalam hati.


"Hmm... Bagaimana? Kau sudah menemukan hasilnya?"


"Semua datanya ada disana, Tuan." Liam melirik map merah di atas meja. Ia segera undur diri, tak ingin menjadi pelampiasan kekesalan Rey.


Rey sudah berganti pakaian, dengan pakaian yang tersedia di ruangan khusus untuknya. Disaat waktu-waktu tertentu, Rey memilih berdiam diri di ruangannya. Di dalam kamar khusus yang memang sengaja dipersiapkan untuknya. Rey lebih memilih menghidari Kakek Anggara seperti saat ini. Ia malas terus dicecar pertanyaan kapan menikah.


Rey lebih memilih dipusingkan dengan masalah pekerjaan daripada tentang satu hal itu. Kepalanya serasa ingin pecah jika memikirkan kata pernikahan.


J**asmine, mungkin ini saatnya melepaskanmu. Sudah tak ada harapan lagi, Kau pasti sudah bahagia dengan keluargamu. Bersama anak dan suamimu.


Rey kembali teringat pertemuan tak sengaja saat itu. Rey datang untuk menemui klien. Tanpa sengaja ia melihat sosok wanita yang sangat familiar untuknya. Wanita yang selalu mengusik pikirannya sejak ia pergi ke Berlin beberapa tahun yang lalu.

__ADS_1


"Secepat itukah Kau melupakan kenangan diantara kita? Kenapa Kau tak bersedia menungguku. Aku sangat berharap bahwa Kita bisa bersama." Rey mengusap bingkai foto dirinya dan Jasmine. Yang diambil seminggu sebelum keberangkatan Rey yang mendadak. Namun, saat ini Rey juga harus mempertanggung jawabkan ucapannya.


Rey mengerjapkan matanya beberapa kali, memijat pelipisnya yang terasa pening. Dan juga desakan dari sang kakek untuk segera menikah, jika ia ingin menjadi ahli waris dari RA Group. Syaratnya harus menikah. "Bodoh, kenapa Aku begitu bodoh." Rey mengutuki kebodohannya yang begitu mudah berucap hari itu.


"Bagaimana perusahaanku akan berjalan jika kamu tak becus bekerja?" ujar Kakek Anggara. Rey tersentak, hampir menjatuhkan bingkai foto yang dipegangnya. Rey buru-buru menyimpan benda tersebut ke dalam laci meja kerjanya dan menguncinya.


"Ayolah, Kakek. Siapa yang tidak becus? Rey sedang fokus meneliti pekerjaan ini. Lagi pula, Rey tak tertarik dengan 'pewaris' yang Kakek banggakan itu." Rey menunjuk dokumen yang tadi diantarkan Liam. Kebetulan Rey belum menutup dokumen tersebut.


"Sekali lagi Kamu berbicara seperti itu, Kakek cabut semua fasilitasmu." geram Kakek Anggara.


"Cabut ya cabut aja. Rey masih bisa hidup meski tanpa fasilitas dari Kakek." ucapnya datar.


"Kau... Dasar cucu tengik." Kakek mendudukkan dirinya di kursi yang berada di hadapan Rey. Sehingga tampak terlihat Kakek Anggara yang sedang kesakitan dengan nafas tak beraturan.


"Kakek, jangan bercanda. Trikmu tak akan berhasil padaku." Kakek Anggara tak menjawab, keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di wajah Kakek Anggara. Memejamkan matanya sejenak dengan bersandar pada sandaran kursi.


"Jangan, biarkan Kakek mati. Kakek sudah lelah menasehatimu. Biarkan Kakek mati seperti ini."


"Li, kenapa masih diam. Cepat hubungi dokter Abas. Atau Kau sudah tak menginginkan pekerjaanmu?" ujar Rey panik. Ia memberikan air putih yang selalu tersedia di mejanya. Mengelap keringat yang mulai bercucuran.


"Kakek, jangan bicara seperti itu. Rey sudah tak memiliki siapapun disini. Jadi Kakek jangan tinggalin Rey juga." ucapnya sendu. Rey memapah Kakek Anggara dan merebahkannya di atas sofa yang tak jauh dari mejanya.


"Untuk apa Kakek hidup. Kalau cucuku sendiri tak mendengarkan Kakek." Matanya berkaca-kaca, menatap nanar cucu pembangkangnya. Selama ini Rey memang sering membatah keinginan Kakek Anggara. Ia berada diruangan ini juga karena desakan sang kakek yang sudah mulai lemah. Tak lagi seperti sebelumnya.


Menghembuskan napas kasar, Rey menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Rey beberapa kali mengerjapkan matanya. Sebelum akhirnya menuruti keinginan si rubah tua. "Oke. Oke. Rey akan turuti apa kata Kakek." ucapnya sembari melonggarkan dasi yang meletak di baju Kakek Anggara.


"Hah, Kakek sudah bosan mendengar kalimat itu. Tapi Kamu tetap saja mengulanginya lagi."


"Tidak, Kek. Kali ini Rey serius dengan ucapan Rey."

__ADS_1


"Hmm..."


Dokter Abas sudah selesai memeriksa keadaan Kakek Anggara. Saat ini, Kakek sedang istirahat di dalam kamar khusus yang ada di ruangan itu. Rey masih menunggu kepastian akan penyakit Kakek. Ia duduk menoang dagu di ataa meja. Liam juga masih setia menemani Rey. Mereka terpaksa mengundur jadwal meeting karena kejadian Kakek Anggara. "Bagaimana keadaan Kakek?"


"Tuan Muda, Kakek harus banyak istirahat. Kadar gulanya tinggi, begitu juga tensi darah itu sangat berpengaruh pada kesehatannya. Dan juga ia jangan sampai memikirkan hal yang terlalu berat. Atau penyakitnya akan kambuh."


"Kakek tidak boleh terlalu lelah, harus menjaga emosinya. Tidak boleh meledak-ledak. Dan menjaga makanan yang dikonsumsi. Saran Saya, ikuti saja semua permintaannya. Semakin bertambah usia, maka sikapnya juga semakin kembali seperti anak kecil."


Sialan Kau, Abas. Aku menyuruhmu berbohong. Tapi tidak mengataiku anak kecil juga. Awas saja Kau, sudah tak menginginkan gajimu lagi ya.


Kakek Anggara mengumpat dalam hati, ia hanya pura-pura tertidur. Jadi bisa mendengar percakapan Rey dan Dokter Abas.


"Li, antar Dokter Abas."


"Baik. Silahkan, Dokter Abas." Liam berjalan beriringan bersama Dokter Abas. Liam mengantar sampai di lift lantai satu. Ia berpapasan dengan Dhara yang baru selesai istirahat makan siang.


"Nona, Anda sedang sibuk?"


"Haih, Kau ini, Tuan. Mengagetkanku saja. Sekarang ini nggak begitu sih. Ada apa?"


"Mari ikut Saya. Ada hal penting yang harus disampaikan."


"Tapi, tunggu sebentar." Dhara menemui Dewi dan meminta izin padanya.


"Saya pinjam Nona Dhara sebentar." Liam menganggukkan kepala saat Dewi melihat kearahnya.


"Si-silahkan, Tuan."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2