
Happy Reading
🌸🌸🌸🌸🌸🌸
"Saya berubah pikiran. Saya hanya tidak ingin bergantung pada orang lain. Saya tidak ingin memiliki hutang pada orang lain." ujarnya tegas. Dhara memberanikan diri menatap Rey yang perlahan menegakkan posisinya berdiri.
"Jadi Kamu menganggap Saya orang lain?" nampak kekecewaan dari nada bicaranya. Terlebih semenjak pembicaraan mereka berdua semalam. "Apa Kamu benar-benar tak seujung kuku pun tak memiliki harapan?"
"Harapan?" Dhara membuang wajahnya kearah lain. Sudah cukup tatapan mereka bertemu. Hanya sekilas, namun dapat mengobrak-abrik keteguhannya.
"Apa masih bisa Saya berharap?" Gadis itu tersenyum masam. Jika kembali mengingat kisah tragis dalam hidupnya. "Harapan Saya sudah pupus, seiring berakhirnya hidup Saya bersamamu." Setetes cairan bening membasahi wajah cantiknya. Hatinya terlalu sakit, Dhara tak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Tetapi ia segera menghapusnya dengan punggung tangannya.
Apa bersamaku begitu menyakitkan untukmu?
"Ya, ya. Saya ini memang penjahat. Hahaha..."
"Dasar gila. Ada orang sedih malah tertawa kegirangan."
"Saya memang gila, Kamu yang membuat Saya gila. Tergila-gila padamu." Rey menampilkan senyum peps*dent, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Blush. Seketika wajah Dhara terasa panas, dia sudah sering mendengar banyak orang menggombal. Tetapi seorang Rey, manusia menyebalkan yang selama ini bersikap angkuh, tiba-tiba bersikap seperti orang waras.
Dhara, ingat!!! Dia suami orang. Nggak seharusnya Kamu seperti ini.
"Simpan gombalanmu untuk istrimu." ketus Dhara, seketika kesedihannya menghilang. Ada rasa nyaman saat Rey menggodanya.
Rey kembali mendekat, mencondongkan tubuhnya tepat dihadapan Dhara. Aroma maskulin menguar di indera penciuman gadis itu. "Kau 'kan istriku."
"Istri cadangan?"
Mengedipkan sebelah matanya, Rey sangat senang menggoda istri kecilnya. "Boleh juga, Saya akan cari istri benaran kalau begitu." Ia kemudian berlalu dari ruangan Dhara.
"Kenapa Aku bisa berbicara seperti tadi? Padahal hanya ingin menggodanya. Tapi, lucu juga kalau dia tersipu begitu." kekehan kecil menyadarkannya. Bahwa masih ada Liam di ruangan itu. Rey kembali dalam mode datar, seolah tak terjadi apapun padanya.
Haih, otaknya geser kali. Tadi marah-marah nggak jelas, sekarang senyum-senyum sendiri.
"Li, jangan mengumpatku." ujarnya, seolah dapat membaca apa yang dipikirkan Liam padanya.
Heh. Liam menautkan kedua alisnya hingga menyatu. Haddeh, kepekaan Rey terlalu tajam padanya. "Ti-tidak, Tuan. Saya mana berani." Liam memaksakan senyumnya.
"Hmmm."
__ADS_1
"Tuan, Saya permisi." Liam melenggangkan kakinya membawa dokumen yang sudah Rey tanda tangani. Namun baru menyentuh gagang pintu, Rey sudah memanggilnya kembali.
"Li, tolong selidiki apa yang terjadi hari ini pada wanita itu."
"Maksud Anda, Nyonya Muda?"
"Hmm. Kumpulkan informasi apa yang dia lakukan hari ini, dengan siapa bertemu dan melakukan apa saja."
"Baik, Tuan. Segera Saya laksanakan."
Ada apalagi ini? Katanya nggak peduli tapi menyuruhku jadi penguntit. Tuan Besar, sebenarnya Anda menggaji Saya untuk jadi baby sitter atau jadi sekertaris?
"Tunggu apalagi?" Rey menatap tajam Liam yang masih belum beralih dari tempatnya.
"I-iya." Liam segera meninggalkan ruangan itu, rasanya ia selalu kekurangan oksigen jika berada diruangan yang sama dengan Rey.
...*****...
Jam pulang telah berlalu 10 menit yang lalu, gedung RA Group mulai sepi ditinggalkan para karyawan yang menggantungkan nasibnya pada perusahaan ini.
"Aku harus mencari alasan untuk pergi dari rumah Kakek." Dhara mondar-mandir di ruangannya dengan menggigit kuku jarinya. Ia harus mencari alasan yang tepat untuk meninggalkan rumah istana yang serasa bagai neraka baginya.
Bagaimana tidak? Ia harus menyaksikan kemesraan Rey dan Clara serta Violet disana. Lebih baik Dhara menemani sang Ayah dirumah. Karena ia sendiri tak tahu harus kemana lagi jika bukan kembali ke sana.
"Ng-nggak usah, Tuan. Saya masih ada perlu diluar." Dhara mengibaskan kedua tangannya. Ia harus kabur secepatnya. "Saya duluan, Tuan. Bye." Saat bersamaan, ojek online yang dipesannya sampai ditempat.
"Awas Kau, berani mengabaikanku." Rey sangat geram diabaikan oleh istri kecilnya. "Li, ikuti dia." Ia masih menggerutu sepanjang jalan. Dan nasib baik tak memihaknya, lampu lalu lintas berubah merah tepat saat motor yang Dhara kendarai lolos.
"Kenapa berhenti? Aku tak memintamu berhenti. Kejar dia." bentak Rey.
"Tuan, lampunya merah. Anda nggak ingin kita celaka bukan?" Rey melirik lampu lalu lintas yang berdiam ditempatnya.
"Kenapa Kau ini jadi merah nggak disaat yang tepat." makinya. Ia sangat kesal, lagi-lagi harus mengutuk benda mati yang tak mengerti apapun.
Seberapa keras Kau mengutuknya, dia itu hanya benda mati, Tuan.
Liam hanya bisa membatin, melirik pantulan sang majikan dari kaca tengah mobil yang tergantung diatas dashboard.
"Berani sekali Kau, Gadis Kecil." Rey mengetatkan rahangnya. Dhara sedang bersama seorang pemuda di teras rumahnya. Yah, pemuda yang saat itu mendapat hadiah kepalan tangannya.
"Li, pulang ke rumah." Liam mengangguk, tak menunggu lama lagi. Ia tahu susasana hati orang yang duduk dibelakangnya sedang kacau, tetapi tak mau mengakuinya.
__ADS_1
"Awas saja kalau masih berani pulang. Akan ku ikat dan ku kurung didalam kastilku." umpatnya, dengan memjerit. Untung saja Liam tak mendengarnya. Karena ia hanya bisa mengumpat di dalam hati.
...******...
"Ra, Aku sudah menunggumu. Kau dari mana?" tanya seorang pemuda yang telah menantinya di kursi depan rumahnya.
"Nggak usah bercanda, ngapain disini?" Dhara mendaratkan tubuhnya di kursi seberang.
"Hehe... Aku mau minta tolong. Dan hanya Kamu yang bisa bantu."
"Apa?"
"Ketemu Mamiku. Ya, Please Ra. Selama ini teman cewekku bisa dihitung. Dan Kamu satu-satunya yang dekat denganku." Dhara membuka matanya lebar-lebar, haruskah ia menerima permintaan Farel? Sedangkan saat ini dia sudah menjadi istri orang. Meski hanya diatas kertas. Tetapi jika teringat Clara, mungkin ini kesempatan untuknya meminta bercerai pada Rey.
"Haddeh, Kau ini. Kamu 'kan tau...."
"Ra, please. Kali ini aja, Aku jarang minta apapun darimu." Melihat wajah memelas Farel membuatnya tak tega. Selama ini Farel sudah banyak membantunya disaat dirinya dalam kesulitan.
"Hmm."
"Benaran?" Dhara mengangguk pelan, wajah pemuda itu seketika berbinar, menggenggam erat tangan Dhara dan mengguncangnya. "Makasih, Ra. Kamu emang yang paling baik."
"Iya iya, lepas dulu dong!"
Kalau boleh Aku berharap, bukan hanya pura-pura. Tapi juga dalam kehidupan yang sebenarnya, Ra. Aku sangat menantikan hari itu.
"Ya sudah Aku lelah, Kamu pulang sana."
"Yah kok ngusir sih? Ayah Kamu juga udah ngizinin Aku kok."
"Aku mau lihat Ayah. Sekarang dah petang. Atau kubatalkan saja yang tadi." Dhara beranjak dari duduknya, bersiap masuk kedalam rumah.
"Iya, Aku pulang. Aku pulang sekarang. Jangan lupa besok. Aku jemput Kamu di kantor." Farel dengan berat hati meninggalkan rumah itu. Padahal ia masih ingin berlama-lama bersama Dhara.
"Hah?! Jangan!! Maksudku, besok Aku ada urusan diluar. Kita bertemu ditempat biasa aja."
"Ya sudahlah. Ikuti tuan putri."
"Iya, Sana." Dhara mendorong Farel dari belakang. Namun pantofelnya tergelincir sehingga menabrak Farel dari belakang.
Bersambung
__ADS_1
Makasih yang sudah memberikan like komen vote and gift juga Rate.