
Happy Reading
πΈπΈπΈπΈπΈπΈ
"Clara, Kamu datang kesini nggak bilang-bilang." ujar Rey. Mereka tengah berbincang sambil menunggu Dhara terbangun. Dokter Abas sudah selesai memeriksanya, ia juga meninggalkan obat penurun demam untuk menurunkan suhu tubuh Dhara yang meningkat drastis.
"Memangnya kenapa? Vio nanyain Kamu terus. Aku bisa apa?" Clara mengedikkan bahu, ia sudah tak tahan lagi jika bocah kecil itu merengek padanya. "Lagi pula Aku nggak bisa datang pas hari H pernikahanmu. Jadi Aku ucapkan selamat." Clara mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Rey.
"Haish, mana ada istri yang memberi selamat untuk suaminya nikah lagi." cibirnya diiringi kekehan keduanya.
"Jaga ucapanmu, nanti istrimu dengar. Bisa salah paham nanti." tegur Clara, kedatangannya memang untuk mengantar Violet menemui Rey.
"Biarkan dia berpikir apapun yang dia inginkan."
"Kau ini, nggak pernah berubah. Aku juga wanita, pasti akan merasa sakit hati jika melihat suaminya berdua wanita lain. Terlebih dia punya anak dan memanggilmu Papa. Apa Kamu sudah membicarakan hal ini padanya?"
Rey menggelengkan kepalanya, kedua tangannya terkatup dia gunakan untuk menyangga dagu runcingnya. "Hubungan ini nggak seperti yang kamu bayangkan, dan tidak sedekat itu untuk memberitahu kehidupan masing-masing." Tatapannya menerawang jauh pada tanaman hias yang masih menyisakan buliran air hujan.
"Terserah Kau saja, yang terpenting Violet masih tetap bisa merasakan kasih sayang ayah yang selalu ia dambakan darimu selama ini." Clara menepuk bahu Rey dan meninggalkannya seorang diri. "Jangan sampai menyesal kemudian hari sepertiku. Ketika semuanya sudah pergi, tak akan mungkin bisa kembali seperti semula." Clara memaksakan senyumnya. Sebelum air matanya tumpah karena rasa panas yang menjalar di kedua netranya.
Semoga Kamu nggak melakukan kesalahan yang sama sepertiku. Jaga dia selagi masih ada dalam genggamanmu.
Dhara sudah bangun, tetapi ia tetap memejamkan matanya. Tentu saja ia mendengarkan semua percakapan Rey dan Clara yang menganggapnya masih tak sadarkan diri.
Ia sudah pernah merasakan seperti Violet saat dirinya masih kecil dulu. Tentu saja sebagai seorang anak ia sangat ingin memiliki orang tua yang lengkap. Hujatan bahkan ejekan teman-temannya, terkadang membuatnya minder. Tetapi Dhara anak yang kuat, ia bisa melewati semuanya berkat sang ayah. Dan Kakak yang selalu menyayanginya.
Tetapi saat ini, dirinya dihadapkan pada posisi yang sulit, ia tak tahu harus berbuat apa untuk membantu sigadis ceriwis yang begitu menggemaskan ini. Ia tak ingin merenggut kebahagiaannya. Ia tak mau menjadi duri dalam kehidupan Rey dan keluarganya.
Apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah harus pergi sebelum semuanya terlambat? Tetapi kemana Aku pergi?
__ADS_1
Dhara berpura-pura mengerjap saat Kakek Anggara dan Ayah Yahya datang. Ia memalingkan wajahnya, tak ingin menatap mereka. Tuhan serasa tak adil padanya, tetapi Dhara bisa apa? Semuanya telah terjadi.
"Nak, Kamu sudah bangun. Maafkan Ayah, Nak." Tangannya terulur untuk mengusap punggung tangan sang putri, tetapi Dhara segera menghindar. "Maafkan Ayah, semua ini salah Ayah." masih tak ada respon. Dhara menggigit bibir bawahnya agar tak terdengar mulutnya yang mulai bergetar menahan tangis.
"Benar yang dikatakan Ayahmu, Dhara. Kakek dan Ayahmu sama sekali tak memiliki maksud apapun. Kamu sudah salah paham, Ayahmu memang pernah bekerja untuk Kakek. Tetapi masalah balas budi, Kakek sama sekali tak mengharapkannya. Ini murni kebetulan, bisa bertemu Yahya dan juga putrinya yang baik sepertimu."
Kakek Anggara menarik kursi untuk duduk disamping ranjang, tempat Dhara berbaring. Mereka berdua harus membujuk Dhara. Karena memang terjadi salah paham, salah persepsi mengenai hubungan mereka berdua.
Gadis itu masih bungkam, hanya isakan kecil yang terdengar begitu menyayat hati. "Ayah memang salah. Tapi jangan hukum Ayah seperti ini. Jika Dhara membenci Ayah, Ayah akan pergi. Tapi bicaralah pada Ayah." Tuan Yahya tak mampu lagi membendung air matanya. Buliran bening itu jatuh mengenai punggung tangan Dhara.
"Ayah hanya ingin yang terbaik untukmu. Umur Ayah sudah tak lama lagi, setidaknya dengan menyerahkanmu pada orang tepat, Ayah bisa pergi dengan tenang nantinya."
Yang terbaik? Apa ini yang dimaksud Ayah yang terbaik? Menjadikanku duri dalam hubungan orang lain. Apakah ini kebahagiaan yang Ayah maksud?
Dhara hanya bisa menjerit dalam hati. Lidahnya kelu, tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.
"Maafkan Kakek juga, Kakek sudah menyelidiki latar belakangmu diam-diam. Kakek juga tau Kau berusaha membuat Kakek membencimu. Tetapi Kakek semakin menyukaimu." Kakek Anggara menjeda kalimatnya. Ia harus mengisi pasukan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya.
Panti asuhan yang Dhara kunjungi atas nama Kakek Anggara berterima kasih dwngan berbagai cara pada keluarga Kakek Anggara. Awalnya keluarga Anggata begitu terkejut, tetapi setelah diteliti lebih lanjut. Mereka baru mengerti bahwa Dhara menggunakan uang itu untuk mendonasikam pada yang membutuhkan.
"Baiklah. Mungkin Dhara masih memerlukan waktu untuk sendiri. Kita biarkan dia beristirahat." Kakek Anggara bersama-sama Ayah Yahya meninggalkan Dhara yang masih tak merespon setiap ucapan mereka.
*****
γ
"Mama, Mama angis?" gadis kecil berusia hampir tiga tahun ini menatap intens sang mama yang duduk termenung diujung ranjang.
"Ng-nggak, Sayang. Mama cuma kelilipan tadi, jadi mata Mama perih." Clara menghapus jejak air mata dengan kasar, mengibaskan kedua tangannya dan berusaha untuk tetap tersenyum di depan putrinya.
__ADS_1
"Tapi, Mama ada ail mata. Tuh, tan mata Mama bacah." Anak ini sangat kritis, dan Clara tak bisa berbohong padanya.
"Sayang, ada apa kesini, hmm..?" Clara mensejajarkan dirinya dengan Violet. Ia sengaja mengganti topik pembicaraan, atau si bocah ceriwis akan terus bertanya. Bocah itu diantar ke kamar Mama Clara oleh pelayan yang menjaganya setelah bermain bersama Kakek Anggara.
"Pio mau cama Papa. Mau main cama Papa." Rengeknya, tujuannya kemari untuk bertemu Rey. Tetapi Rey sibuk mengurus Dhara yang tak sadarkan diri.
"Iya, Sayang. Papa masih sibuk, nanti main sama Vio. Mama Dhara lagi sakit, nanti kalau sudah sembuh, Papa pasti main sama Vio." Sebagai seorang ibu, hatinya mencelos mendengar rengekan putri kecilnya. Tetapi saat ini dia harus memberikan pengertian pada putri kecilnya.
Matanya kembali mengembun, dan siap menumpahkan genangan dikedua sudut matanya. Namun, Clara sebisa mungkin menahannya meski sesak di dadanya semakin membuatnya kesulitan untuk bernapas dan melanjutkan kata-katanya.
Maafin Mama, Sayang. Semua ini salah Mama. Maaf telah membuatmu merasa haus akan kasih sayang seorang Papa. Dimana seusiamu, seharusnya ada orang tua yang selalu membimbing dan mengajarimu.
"Sepertinya ada yang mencariku?" Rey berdiri diambang pintu dengan memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
"Papaaa..." wajah Vio berbinar melihat siapa yang datang. Bocah itu segera berlari kearah lelaki yang begitu ia rindukan selama ini.
"Tantap Aku Papa... Tantap Pio." ucapnya sembari terus berlari.
Rey membenamkan wajah imut anak kecil itu dalam pelukannya. Tak hanya bocah itu, dirinya juga sangat merindukannya. Bocah ceriwis yang telah tumbuh menjadi gadis kecil dalam sekejap.
"Papa juga kangen, Vio. Ayo kita main." Clara datang jauh-jauh dari Berlin hanya untuk mempertemukan dua orang saling memendam rindu. Satu bulan tak bersama Rey, Violet selalu terlihat murung dan merengek menyebut Rey setiap saat.
Clara bisa tersenyum lega, Rey masih menyayangi Violet meski sudah ada Dhara disisinya. "Kau disini? Bagaimana Dhara?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Ada Kakek dan Ayahnya."
Bersambung..
Gimana? Gimana? Thor kasih lihat Violet, boneka barbie yang ceriwis itu. Jangan lupa Like, komen, vote and gift. Untuk menghibur Dhara yang sedang galau tingkat Dewa.
__ADS_1
Terima kasih.