Terjerat Cinta Semu

Terjerat Cinta Semu
Anak kecil yang cerewet


__ADS_3

Happy Reading


🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Hei, Tuan. Mau apa lagi?" Dhara berusaha menjauh saat Rey duduk di sebelahnya. Ia berangsur mundur, tanpa menyadari is sudah di tepi ranjang.


"Kau ini, dasar anak kecil yang cerewet." Rey memegangi kaki Dhara dengan kedua tangannya. Dhara terus meronta sehingga ia hampir saja terjatuh jika Rey tak segera membantunya.


"Ehm..." Clara tak sengaja masuk, karena pintu kamar tak terkunci dan masih terbuka sebagian. "Opss, maaf." Clara menutup pintu dengan rapat. Ia terkekeh karena berhasil menggoda pasangan baru itu.


Dhara segera mendorong Rey dengan sekuat tenaganya. Menyisakan jarak antara mereka berdua. "Dia bisa salah paham." Dhara membenarkan posisi duduknya. Kakinya menggantung di ujung ranjang.


"Ya, nanti Aku bisa jelaskan yang sebenarnya."


Kau memang harus menjelaskan padanya. Kalau tidak, Aku akan semakin merasa bersalah pada mereka. Aku memang tak seharusnya ada disini. Aku akan bicara pada Ayah dan Kakek. Agar mereka segera mengurus perceraian kita.


"Bagaimana kakimu?" tanya Rey, ia duduk di sofa tak ingin lagi berdekatan dengan istri kecilnya.


"Sudah bisa jalan."


"Bagus." Rey menarik sudut bibirnya keatas membentuk sebuah lengkungan. "Jangan salah paham. Kalau kakimu sudah sembuh, berarti besok sudah bisa bekerja. Pekerjaanmu menanti, jangan lupakan itu."

__ADS_1


Kenapa Aku merasa kecewa, padahal seharusnya memang lebih baik begini. Jadi Aku tak perlu melanjutkan sandiwara rumah-rumahan dengannya. Jangan pernah menaruh harapan apapun, Dhara.


Tapi, menjadi janda juga hal yang baik di mata orang lain. Jika dibandingkan dengan pelakor, itu terdengar lebih jahat dan lebih kejam. Dhara, kuatkan hatimu.


"Hei, Kau dengar tidak, Anak Kecil?"


"Hmm."


Suasana kembali hening, mereka masih harus beradaptasi untuk berbagi udara dalam ruangan yang sama.


"Aku minta pisah, tidak seharusnya kita bersama. Hanya untuk menyenangkan Kakek dan Ayahku." ujar Dhara setelah keheningan cukup lama. Rey yang baru akan memejamkan matanya kembali membukanya lebar-lebar.


"Bukankah memang begitu? Seharusnya Saya menolaknya sejak awal. Jika saja..."


"Mau menyesal? Sudah terlambat. Jika Kau merasa dirugikan seharusnya sejak awal. Bukan sekarang, semuanya sudah seperti ini. Ibarat Nasi sudah menjadi bubur. Kau hanya perlu menambahkan garam, ayam suir, serta taburan bawang goreng dan pelengkap lainnya supaya rasanya tidak hambar. Seperti hidupmu."


Rey membanting pintu kamarnya, ia memilih menenangkan diri di ruang kerjanya. Daripada harus menghadapi Dhara yang kekanakan.


Kau kira hanya dirimu saja yang tersiksa? Kau tak tau bagaimana pengorbananku. Aku harus merelakan wanita yang kucintai bahagia bersama orang lain demi menuruti Kakek. Karena dia satu-satunya orang yang memperlakukan Aku sebagai keluarga. Hanya dia yang ku miliki sebagai orang yang ku hormati.


Rey mengacak rambutnya kasar, membuatnya tak beraturan. Belum lagi ia juga harus menjadi wali untuk Violet. Semua itu membuatnya pusing. Ditambah urusan perusahaan, yang menambah pening kepala seakan ingin meledak.

__ADS_1


"Papaaa..."


"Hei, Vio Sayang. Kemarilah!" Rey menepuk pangkuannya. Kehadiran si ceriwis tentu saja menjadi obat dari segala masalah yang ia hadapi. Tingkah lucu gadis kecil ini bagaikan moodboster untuk mengisi daya semangatnya. " Kenapa belum bobok, hmm?"


"Vio mau bobok cama Papa aja." Bocah itu mengerucutkan bibirnya. Ia juga memalimgkan wajahnya saat Rey hendak menciumnya.


"Kalian ini, kalau udah berdua, Mama pasti dilupain." Clara besandar di didinding, melihat keakraban keduanya.


"Mama, cana. Pio mau cama Papa aja." Violet mengibaskan tangannya. Menyuruh Clara untuk pergi.


"Owh gitu. Jangan cari Mama lagi ya. Kalau Vio mau susu Mama nggak kasih."


"Bialin, cama Papa ajaaa." Vio meminggikan suaranya. Matanya berkaca-kaca mendengar ancaman Clara.


"Hssttt... Kalian ini, nggak bisa apa nggak berdebat didepanku." tegas Rey. Begitulah Clara, ia selalu merasa diabaikan jika ada Rey. Violet tak akan mau bersama dirinya. Terlebih jika ia bekerja, sangat jarang bisa bertemu Violet.


"Sini, peluk Papa. Jangan dengarkan mulut berbisa itu."


"Kau ini nggak ada akhlak emang. Ngatain mulutku berbisa sendirinya beracun." Clara terus menggerutu, tetapi ia merasa lega. Rey tak mengabaikan Violet dan dirinya meski dirinya sudah memiliki kehidupan sendiri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2